
"Sayang, kamu kenapa?"
"Aa, kita baliknya nanti aja ya," pinta Lala penuh harap.
"Kenapa?"
"Lala malu, nanti kalau teman-teman Lala udah balik. Baru kita balik."
"Kenapa begitu?"
Lala kembali mengingat saat-saat ia mengecup pipi Dimas tanpa sadar, bahkan sampai membuat yang lainnya tercengang dengan penuh rasa terkejut.
"Lala malu Aa," jawab Lala.
"Aa, harus segera ke kantor," Dimas bangun dari duduknya dan mengambil ponselnya, perlahan ia memasukkan nya kedalam saku kemejanya, "Aa, ada pekerjaan," Dimas menenarik lengan Lala.
Sementara di depan pintu gerbang Sandy dan Rika tengah berjalan bersama, dengan saling berpegangan tangan. Namun, tiba-tiba seorang wanita datang dan langsung mendorong tubuh Rika, hingga terhuyung ke belakang.
"Sssstttt....." Rika meringis, dan sangat terkejut saat tiba-tiba tubuhnya di dorong oleh orang yang tidak ia kenali sama sekali.
Sandy dengan cepat menahan tubuh Rika, hingga tidak terhempas. Kemudian matanya melihat siapa wanita yang barusan mendorong Rika.
"Apa yang kau lakukan!" geram Sandy dengan pandangan yang tajam.
Azela mengibaskan tangannya, seolah itu bukan sesuatu hal yang sangat penting. Menurut Azela saat ini Rika adalah wanita yang sudah membuatnya berjauhan dengan Sandy.
"Dasar perempuan gatal!" teriak Azela.
Banyak para mahasiswa yang akhirnya melihat kearah tiga orang yang tengah terlibat ketegangan, bahkan mereka mulai menonton sambil berbisik-bisik dengan rasa penasaran.
"Kau itu hanya orang ketiga di antara kami!" kata Azela lagi masih dengan suara meninggi, agar semua orang di sana mendengar dan membuat Rika merasa malu.
Rika menatap Sandy dengan penuh tanya, kemudian ia kembali melihat wanita yang berdiri di hadapan nya. Pakaian yang terlihat mini dengan dada yang setengah menyembul keluar, Rika bertanya-tanya dan merasa wanita di hadapan nya sedang salah melabrak seseorang.
__ADS_1
"Maaf Mbak," Rika tetap tersenyum ramah, karena ia terbiasa dengan kesopanan yang di ajarkan oleh Mama Yeni. Dan kali ini pun Rika tetap tenang dan terus berperilaku sopan pada wanita yang tengah marah, bahkan sempat mendorong dirinya, "Anda siapa ya?" tanya Rika.
Azela tetap termakan emosi, ia sangat tidak suka pada Rika. Rasanya ingin sekali Azela melakukan hal di luar batas pada Rika saat ini juga.
"Cukup!" sergah Sandy penuh amarah.
Azela langsung melihat Sandy, kemudian ia kembali melihat Rika penuh amarah dengan nafas yang naik turun, "Kau tau aku siapa?" teriak Azela, "Aku adalah calon istrinya, bahkan aku sudah mengandung anak nya. Sampai aku keguguran dia tidak juga menikahi aku!" teriak Azela, "Dan itu karena kau!!" jari telunjuk Azela mengarah pada wajah Rika, karena ia ingin membuat Rika untuk menjauhi Sandy.
"Azela!" Sandy langsung menepis tangan Azela, "Kita berdua tidak pernah berbuat itu, dan kau jangan mengarang cerita bahwa kau pernah mengandung anak ku!" tegas Sandy.
"Mbak, tolong suaranya," Rika meminta Azela untuk tidak berteriak, karena ia sangat malu banyak pasang mata yang menatap mereka, "Kita cari tempat duduk, lalu kita bicara dari hati-kehati untuk meluruskan ini semua," kata Rika yang terus ingin membuat Azela tenang. Namun, siapa sangka yang terjadi justru sebaliknya. Sebab tangan Azela yang tiba-tiba melayang dengan begitu saja, dan mendarat di pipinya.
Plak.
Wajah Rika terbawa ke samping, hingga tangannya dengan refleks memegang sebelah pipi. Karena rasa sakit yang perlahan begitu terasa.
Seorang pria melihat dengan jelas apa yang barusan terjadi, seorang wanita yang barusan melayangkan tangannya pada adiknya. Dengan langkah kaki yang lebar Dimas langsung memegang lengan Rika, "Kau baik-baik saja?" tanya Dimas dengan wajah geramnya.
Rika mengangguk lemah, ia merasa cukup sakit dan matanya menatap wanita yang barusan melayangkan tangannya. Sampai akhirnya tangannya di tarik Dimas, membawanya pada Lala yang langsung memeluk Rika.
Buk.
"Aaaaaa......" semua orang yang melihat langsung berteriak.
"Dimas," Sandy kembali berdiri setelah sempat terjatuh, ingin melawan rasanya tidak mungkin mengingat Rika adalah adik dari Dimas. Apa lagi ia sangat membutuhkan restu dari Dimas.
Dengan amarah yang semakin berkabut Dimas menarik kerah kemeja Sandy, "Sudah aku peringatkan, jangan dekati adik ku!"
Buk!
Dimas kembali melayangkan bogem mentah pada bagian perut Sandy.
"Kak Dimas sudah," Rika berlari ke arah Sandy dan menolong Sandy untuk berdiri, "Yang melakukan hal kasar tadi wanita ini," Rika menunjuk Azela, "Kenapa Kakak mukul Mas Sandy?" tanya Rika bingung.
__ADS_1
"Karena wanita ini adalah kekasih nya, dan itu terjadi karena kesalahannya! Jadi dia yang harus bertanggung jawab!" Dimas berbicara dengan pelan. Namun, dengan penuh penekanan bahkan rahang yang mengeras karena geram pada Sandy dan Azela, "Dan kau!" Dimas menunjuk wajah Azela, "Adik ku bukan siapa-siapa dari kekasih mu Sandy, aku pun tidak pernah suka jika mereka berdekatan. Jadi, jangan pernah kau menjadikan adik ku sebagai sasaran kemarahan mu. Aku tidak biasa kasar pada wanita, tapi jika kau mengulangi ini lagi, kau orang pertama yang akan merasakannya!" dengan cepat tangan Dimas menarik Rika agar menjauh dari Sandy.
"Dimas, aku tidak ada hubungannya dengan wanita ini!" kata Sandy berusaha untuk membela diri.
"Sandy, aku ini calon istri mu!" kata Azela dengan cepat.
Dimas tersenyum miring, "Jangan pernah kau dekati adik ku lagi!" kata Dimas memberikan peringatan.
"Tapi aku mencintainya," jawab Sandy.
"Dia calon istri mu!" Dimas menunjuk Azela.
"Kak Dimas, Rika yakin ini cuman salah paham," kata Rika yang ikut bicara, sebab ia juga tidak bisa bila harus berakhir begitu saja dengan Sandy.
"Diam!" bentak Dimas, pertama kali nya Dimas membentak Rika dengan begitu marah, "Ayo pergi!" Dimas langsung menarik lengan Lala.
"Dimas tunggu," Sandy dengan cepat memegang lengan Rika, "Ini salah paham, semua bisa di jelaskan," pinta Sandy penuh harap.
Dimas langsung berjalan ke arah Sandy, ia menghempaskan tangan Sandy yang memegang tangan Rika. Sedangkan matanya terus menata Sandy dengan tatapan permusuhan.
"Dimas aku mohon."
"Kita bukan sahabat lagi!" kata Dimas dengan pasti.
Azela juga tidak ingin jika Sandy terus berusaha menahan Rika yang akan di bawa pergi, dengan cepat ia memegang lengan Sandy, "Sandy cukup! Biarkan dia pergi!"
"Rika!!!" teriak Sandy dengan perasaan yang terasa begitu menyakitkan, cairan merah yang keluar dari sudut bibirnya seakan tidak terasa karena yang lebih terasa adalah perasaan yang semakin menyakitkan.
"Sandy!" Azela terus berusaha memegang lengan Sandy.
"Diam!"
Sandy mendorong Azela, hingga terjatuh di lantai bahkan sampai tidak sadarkan diri.
__ADS_1
*
Tolong di like dan Vote ya Kakak, buat yang vote tertinggi nanti di akhir novel akan dapat pulsa sebesar 100 ribu.