
Emak-emak cakep selamat membaca, budayakan like dan Vote.
***
Dimas duduk bersama Arka dan Radit, mereka tengah membicarakan perihal apa yang terjadi pada Rika dan Sandy.
Setelah selesai berbuka puasa mereka langsung masuk keruang kerja Dimas.
"Memangnya seperti apa saat kejadian nya, apa mereka sedang-?" Arka tahu tanpa di perjelas pun Dimas tahu maksud pertanyaan nya.
"Enggak, dan aku yakin ini hanya akal-akalan Sandy saja," jawab Dimas.
"Terus, keputusan kamu gimana?" Radit menimpali.
"Nikahkan saja," papar Dimas.
Arka mengangguk begitu juga dengan Radit, mengingat Sandy memang sangat mencintai Rika dan begitu juga dengan sebaliknya.
"Tapi aku bingung," kata Dimas lagi.
Sejenak terdiam sambil memikirkan hal-hal yang sedikit mengganggu pikirannya, membuat nya merasa ingin juga menunda pernikahan adiknya.
"Maksud?"
"Aku tahu, Rika punya mimpi menjadi seorang putri di lamar oleh pangeran dengan gaun yang indah dan resepsi yang sederhana tetapi berkesan, kalau begini bagaimana jadinya?"
Dimas memijat dahinya memikirkan semua impian adiknya yang tidak mungkin bisa terwujud bila begini.
Arka mengerti dengan keadaan Dimas, tahu bertapa sangat sayangnya pada Rika.
"Menurutku, nikahkan saja. Setelah itu terserah pada Sandy, kalau dia punya otak pasti dia bisa menjadikan semua mimpi itu jadi nyata," kata Arka memberikan pendapat.
"Aku juga begitu, Arka juga begitu, kami mengadakan resepsi bahkan setelah anak lahir," ujar Radit.
"Kau yang belum membuat resepsi pernikahan, apa kau tidak kasihan pada istri mu?" Tanya Arka.
"Bukan tidak kasihan, hanya saja kemarin-kemarin tidak seperti sekarang. Keselamatan istri ku jauh lebih berharga, setelah bulan puasa ini selesai. Dimitri di jatuhkan hukuman mati. Barulah aku menggelar resepsi pernikahan sesuai keinginan istri ku," papar Dimas.
Setelah semua berbicara dengan serius akhirnya keputusan yang tepat adalah menikahkan Sandy dan Rika.
Tidak ada yang salah dengan keputusan tersebut, bahkan mereka tahu jika siang tadi hanyalah akal-akalan Sandy saja agar lebih cepat menikahi Rika.
"Tapi, aku tidak menyangka dia bisa begini," Arka terkekeh geli, bagaimana bisa Sandy seakan menjebak dirinya sendiri dalam jurang memalukan ini.
Radit juga tertawa kecil, menurutnya Sandy masih belum seberapa dibandingkan dirinya. Bahkan Radit ingat saat menjebak Rembulan dulu, apapun yang di lakukan demi bisa bersama.
"Kau kenapa?" Arka bergidik menatap wajah Radit.
"Ahahahhaha......" Tawa Radit pecah saat melihat Dimas dan Arka menatapnya bingung, "Sandy sih, belum seberapa!" Kata Radit lagi.
__ADS_1
Seketika Arka dan Dimas mengerti.
"Iya, dari pada kau lebih gila!" Ejek Arka.
"Apapun demi cinta!" Tegas Radit.
"Dasar gila!" Kesal Dimas.
Arka dan Radit seketika menatap Dimas, suami dari Lala itu berucap gila seakan ia sangat waras.
"Siapa yang kepergok di apartemen, mau eng ing eng!" Kata Arka dengan nada sedikit meninggi.
"Mmmmfffffp, itu masa-masa jahiliah," celetuk Dimas.
"Ahahahhaha......." Ketiga tertawa lepas mengingat bertapa bodohnya kelakuan mereka.
Hanya Arka menikah karena di jodohkan, selebihnya karena jebakan. Lalu ada yang akan segera menyusul juga.
Sandy, dengan gilanya memfitnah diri sendiri sungguh di luar akal sehat.
"Kadang cinta membuat orang gila," Arka mengusap wajahnya mengingat bertapa ia dulu sangat membenci Mentari.
Bahkan setiap bertemu keduanya selalu berkelahi, tidak pernah sekalipun berdamai.
Sampai akhirnya ranjang mampu mendamaikan dan membuatnya candu.
"Tapi malam ini Sandy harus dapat hukuman dong," kata Radit dengan senyuman.
"Iya dong, masa iya mau eng ing eng langsung," tambah Arka dengan ide konyol nya, semenjak menyandang suami Mentari kini otak jail nya lebih baik.
"Itu pasti," Dimas tersenyum dengan seribu ide gila yang sudah tersusun rapi di otaknya.
"Tapi bokap lu aman Dim?" Tanya Radit.
Mengingat Dimas masih memilik Ayah, walaupun jarang berada di rumah.
"Iya, mau gimana juga tetap Papa gue kan," jawab Dimas.
"Iya sih, udah di telpon."
"Ya udah gue telpon dulu," Dimas mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang di sebrang sana.
"Assalamualaikum," jawab seseorang di seberang sana.
"Waalaikumusalam salam," sejenak Dimas terdiam, jika sudah berbicara dengan sang Papa rasanya perasaan mulai campur aduk.
"Ada apa Dimas?" Tanyanya di seberang sana.
"Rika harus di nikahkan malam ini juga Pa," Dimas mulai mengatakan penyebabnya, keputusan nya sudah bulat untuk menikahkan adiknya.
__ADS_1
"Dimas, tidak bisakah menunggu sampai selesai Ramadan saja?" Tawar nya lagi di sebrang sana, "lagi pula apa mungkin adik mu menikah di usia yang masih sangat muda," tanya nya lagi.
"Sandy adalah orang yang tepat Pa, bahkan karena Sandy lah Rika masih bernapas sampai sekarang, biarkan Rika menjadi miliknya, kita justru bersyukur masih bisa melihat Rika," jelas Dimas.
"Ya sudah, keputusan ada pada mu, Papa belum bisa kembali malam ini, kamu pasti mengerti."
"Ya Pa."
Panggilan terputus dan berakhir dengan sebuah keputusan yang tepat, menikahkan Rika dan Sandy sekalipun tanpa sang Papa.
"Apa Mama tahu alasan Papa mu menikahi mantan kekasihnya?" Tanya Arka.
"Papa tidak mengijinkan untuk memberitahu, karena Mama pasti lebih memilih mati dari pada menerima bantuan dari istri gelap Papa," Dimas mendesus dan bisa bersedih jika berbicara mengenai pernikahan kedua Papa nya.
Arka mengusap pundak Dimas, "Papa itu baik, dia hanya ingin membuat Mama Yeni tetap hidup, cintanya luar biasa," kata Arka memberikan semangat.
"Lagi pula sekarang Mama Yeni sudah ikhlas menjalani ini semua, jangan di ungkit lagi," Radit juga ikut menimpali.
Tok tok tok.
Terdengar suara ketukan pintu, tidak lama kemudian pintunya terbuka dan Lala yang masuk.
"Aa, Sandy sama Bunda udah datang," kata Lala sambil berjalan ke arah Dimas.
"Apa yang dia bawa?" seloroh Dimas.
"Bawa cinta," celetuk Lala sambil duduk di samping suaminya, dan bersandar pada dada suaminya saat Dimas melingkar tangannya di pundak Lala.
"Sialan dia, tapi wajah kita harus serius. Biar saja dia merasa kita membenci nya," kata Radit dengan ide gila di otaknya.
"Kayaknya ada yang udah punya ide nih," Arka menyenggol pundak Radit.
"Pak Arka, Kak Radit, enggak boleh begitu lho,," kata Lala juga merasa ada bau-bau yang akan mendapatkan kejutan karena ide gila tiga lelaki aneh.
"Biarkan saja, hanya ini waktunya kapan lagi?" Tanya Dimas sambil menghimpit kepala Lala.
"Aa, ish!!!" Lala kesal dan ingin melepaskan diri.
"Mau mesra-mesraan jangan di sini, kita juga punya bini!" Kesal Arka, menurutnya Dimas tidak sopan.
"Ahahahhaha...." Radit dan Dimas seketika tertawa terbahak-bahak.
Arka yang terlebih dahulu menikah dengan kelakuan anehnya bermesraan tanpa tahu tempat kini mendadak menasehati orang lain.
"CK! Keluar!" Arka tahu kedua sahabatnya tengah menertawakan diri nya, dan memang benar apa yang dua orang itu pikirkan, Arka juga geli mengingat kekonyolan nya sendiri.
***
Emak-emak cakep nan baik hati, tolong like dan Vote, terimakasih sampai berjumpa lagi.
__ADS_1