
"Keluar!" Dimas langsung mendorong Rika keluar dari ruangan nya, karena ia sangat kesal pada Rika.
"Ish.... enggak usah dorong-dorongan lu bisa kan Kak!" kesal Rika saat ia berada di depan pintu.
Dengan cepat Dimas menutup pintu, karena kesal akhirnya Rika menendang pintu tersebut dengan kakinya.
Plak!!
"Auu....." Rika meringis kesakitan.
"Selamat pagi calon istri?" sapa Sandy.
Suasana hati Rika semakin rusak setelah melihat wajah Sandy yang sangat menjengkelkan itu. Tanpa memperdulikan Sandy Rika langsung pergi, namun tiba-tiba lengannya di tarik dan ia hampir terjatuh ke belakang. Namun dengan cepat Sandy menangkapnya.
"Ish.....mau lu apasih!" geram Rika yang kini melepaskan di dari Sandy.
"Menikahi mu," jawab Sandy dengan santai.
"Dasar gila! Baru ketemu kemarin udah ngajak nikah! Aneh!" Rika langsung melenggang pergi dan meninggalkan Sandy yang menatap dirinya.
"Kau akan aku dapatkan," ujar Sandy, ia masih menatap Rika yang sudah cukup jauh. Dan tiba-tiba Rika berbalik, Sandy mengkedipkan sebelah matanya.
"Gila!" gumam Rika dan ia benar-benar pergi.
Clek!
Sandy memutar gagang pintu, dan matanya menyapu ruangan tersebut. Ia melihat Dimas dan Lala yang hanya berdua saja di sana.
"Boleh masuk?" tanya Sandy.
"Kita belum selesai berbicara," kata Dimas pada Lala, "Nanti aku akan memberikan beberapa peraturan pada mu!"
"Peraturan apa Pak?" tanya Lala bingung.
"Nanti, ayo keluar dulu," kata Dimas meminta Lala untuk keluar.
Lala mulai keluar dari ruangan Dimas, ia sangat bingung dengan peraturan yang di maksud oleh Dimas.
"Lala," panggil Bimo lagi, dosen killer yang banyak di gilai mahasiswi nya.
Lala berhenti melangkah dan menatap Pak Bimo, "Pak Bimo."
"Kamu dari ruangan Pak Dimas."
"Iya Pak."
"Sudah lama sekali kamu tidak ke kampus? Kita ngobrol di kantin yuk, saya traktir," ajak Bimo.
__ADS_1
Lala sejenak diam dan menimbang, Lala berpikir tidak ada salahnya. Lagi pula ia harus belajar untuk bisa kembali berbaur dengan orang-orang di sekitarnya, "Apa lagi yang harus kau takuti Lala, sekarang kau harus kembali menata hidup. Mengapa harus takut, kau kuat," batin Lala, "Boleh Pak," Lala mengangguk dan setuju, lagi pula ia juga sangat lapar. Dan ia tidak memiliki uang untuk makan di kantin.
Keduanya jalan dengan beriringan, sesekali Pak Bimo melirik Lala. Hingga keduanya duduk di kursi dengan posisi paling ujung, sebab terlihat cukup nyaman.
"Kamu mau makan apa?" tanya Pak Bimo.
"Samain aja Pak," jawab Lala.
"Ok," Pak Bimo mengangguk dan ia bangun untuk memesan dua mangkuk bakso dan juga dua gelas teh botol, "Ayo di makan."
"Terima kasih Pak," Lala mengangguk dan ia mulai makan dengan hati-hati, karena tadi pagi ia hanya sarapan sedikit jadi ia merasa sedikit lapar.
"Tadi kamu belum jawab pertanyaan saya, kamu kemana saja, kenapa tidak pernah ke kampus?" tanya pak Bimo lagi, sebab tadi Lala belum menjawab dengan jelas.
"Saya sakit Pak, dan istirahat di rumah," jawab Lala yang tidak mungkin menjawab dengan jelas pada Pak Bimo.
Bimo mengangguk mengerti, tapi entah mengapa ia memang cukup tertarik pada Lala sejak awal Lala mulai kuliah.
"Bapak kok ngeliat saya gitu banget?" tanya Lala yang melihat tatapan Bimo cukup dalam.
"Enggak papa, tapi lain kali kita jalan yuk," ajak Pak Bimo.
"Jalan?" tanya Lala balik.
Banyak mahasiswi yang terlihat iri pada Lala, sebab mereka juga sudah lama sekali ingin bisa lebih dekat dengan pak Bimo. Tapi apalah yang bisa mereka lakukan karena Pak Bimo cukup sulit untuk bisa di dekati.
"Pak, kita bicara lain waktu ya. Soalnya saya ada kelas," kata Lala yang mulai berdiri.
"Tunggu," Pak Bimo memegang lengan Lala, agar Lala tidak segera pergi.
"Ada apa Pak?"
"Bisa saya minta nomer ponsel mu?"
"Maaf Pak, tapi saya tidak punya ponsel," jawab Lala lalu ia pergi, karena semenjak Dimitri menyita ponselnya ia memang tidak memiliki ponsel lagi.
"Kenapa pergi?" tanya Dimas yang berdiri di depan pintu masuk kantin, awalnya Dimas ingin mengajak Lala untuk makan bersama di kantin. Tapi ia tidak tahu di mana keberadaan Lala, sampai akhirnya Dimas memutuskan untuk ke kantin sendiri ternyata ia melihat Lala dan Bimo tengah asik berbincang.
Lala terkejut melihat Dimas yang berada di sana, "Bapak di sini?" tanya Lala.
"Saya bertanya pada mu, kenapa kamu malah bertanya kembali!" geram Dimas.
"Permisi Pak," entah mengapa Lala sangat kesal pada Dimas, karena sikap Dimas yang terlihat aneh.
Lala langsung masuk ke dalam ruangannya, dan ia duduk di samping Rika.
"Dari mana?" tanya Rika.
__ADS_1
"Dari kantin," jawab Lala.
"O," Rika mengangguk dan terlihat seorang dosen mulai masuk.
Pukul 01:00 mata kuliah selesai Rika dan Lala juga bersiap-siap untuk pulang.
"Saya antar pulang ya," tawar pak Bimo yang dari tadi menunggu Lala di depan kampus.
Rika yang berada di sebelah Lala langsung terkejut, kemudian ia berbisik pada Lala, "Makin anggun begini, makin mempesona ya La," bisik Rika sambil terkekeh.
"Ada aja," jawab Lala yang terlihat biasa saja.
"Bagaimana?" tanya Pak Bimo lagi, ia masih menunggu jawaban dari Lala.
"Saya pulang bareng Rika aja Pak, maaf dan mungkin lain waktu," tolak Lala dengan tidak enak hati.
"Baiklah, besok tidak boleh menolak ya," ujar Pak Bimo lalu ia pergi.
"Kenapa menolak?!" terdengar suara berat dan tertahan Dimas yang berdiri di belakang Lala.
Lala berbalik dan melihat Dimas dengan bingung, "Memangnya kenapa Pak?" tanya Lama dengan polosnya.
"Mmmmfffffpp...." Rika menutup mulutnya karena menahan tawa melihat wajah Dimas tapi Lala sama sekali tidak mengerti.
"Pulang dengan nya saja, kenapa menolak niat pria itu kan baik!" geram Dimas.
Lala mengangguk, "Iya juga ya Pak, ya udah Lala pulang sama Pak Bimo aja, saya pamit ya Pak Dimas!" seru Lala karena ia harus buru-buru agar Pak Bimo tidak meninggalkan dirinya, "Pak Bimo!!" seru Lala.
"Ya," pak Bimo yang tengah membuka pintu mobilnya kini berbalik menatap Lala, "Ada apa?" tanya Pak Bimo.
"Saya pulang dengan bapak boleh?"
Pak Bimo mengangguk, "Silahkan masuk," pak Bimo membuka pintu untuk Lala.
"Terima kasih Pak," Lala langsung masuk, dan duduk dengan manis.
Sementara Dimas semakin geram saat melihat Lala yang langsung pergi dengan Pak Bimo, karena tadi maksudnya tidak begitu.
"Ahahahhaha......saingan mu banyak Kak," celetuk Rika yang bahagia melihat wajah Dimas.
"Pulang sendiri sana!"
"Kak kok gitu sih?" kesal Rika.
"Pulang sendiri!"
"Ish!" Rika menghentakkan kakinya di lantai, karena Dimas yang sangat menyebalkan.
__ADS_1