
Saat Rika dan Sandy tengah berbicara serius tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, sekalipun pintu kamar terbuka tanpaknya Bunda Jihan tetap ingin mendapatkan ijin terlebih dahulu sebelum masuk.
Tok tok tok.
Rika dan Sandy segera menatap pintu, keduanya melihat Bunda Jihan dan Mama Yeni yang berdiri di ambang pintu.
"Sandy, Tiara kembali dari LA, tolong jemput di bandara," pinta Bunda Jihan.
"Tiara Bunda?" Tanya Sandy lagi sedikit terkejut.
Bunda Jihan mengangguk pasti.
"Tolong jemput ya, Bunda sudah rindu sekali dengan dia," kata Bunda Jihan lagi.
"Iya," Sandy kembali menatap Rika, "Mas berikan waktu untuk beberapa hari ini, setelah keputusan yang kamu ambil apapun itu tidak boleh ada penyesalan dan tidak ada kesempatan ke-dua!"
Setelah mengatakan hal demikian Sandy berlalu pergi meninggalkan Rika berdiri mematung di tempatnya.
"Jeng, saya juga pulang dulu ya, saya tidak sabar ingin bertemu Tiara," pamit Bunda Jihan penuh senyum bahagia.
"Iya Jeng, hati-hati," Mama Yeni mengangguk lemah.
Setelah Bunda Jihan dan Sandy pergi Mama Yeni kembali melihat Rika yang kini duduk di sisi ranjang.
"Jangan menyesal kalau ada wanita lain yang akan menggantikan posisi kamu," kata Mama Yeni.
"Wanita lain?" Tanya Rika.
***
"Rika, berangkat ke kampus dulu ya Ma," Rika mencium punggung tangan Mama Yeni setelah berpamitan.
"Kamu hati-hati di jalan ya."
"Lala mana Ma?"
"Tadi dia istirahat di kamar, dari pagi tadi dia muntah-muntah dan sepertinya sedang tidak enak badan."
Rika mengangguk mengerti, mengingat sahabatnya itu kini tengah berbadan dua.
"Ya udah, Rika pergi ya Ma."
Dengan segera Rika menunju garasi mengeluarkan sepeda motor matic kesayangannya yang sudah cukup lama tidak di pakainya.
"Ya ampun, Jesslin aku sangat merindukanmu," Rika sampai memeluk motornya yang di beri nama Jesslin.
Dengan segera mengeluarkan nya dari garasi, setelah memakai helm segera menarik gas dan motor pun melaju dengan kecepatan sedang.
Sampai di lampu merah ia menghentikan laju kendaraannya dan matanya melihat sebuah mobil yang cukup di kenalinya.
Rika tidak perduli sama sekali, terserah pada pria itu saja.
Bahkan matanya melihat suaminya itu sedang bersama seorang wanita, Rika tidak ingin perduli mungkin saja Sandy ke bandara menjemput wanita itu.
Terserah mereka mau memiliki hubungan apa Rika benar-benar tidak ingin perduli sama sekali.
__ADS_1
Setelah lampu merah berubah menjadi lampu hijau tangannya kembali menarik gas dan motor kembali melaju hingga membawanya ke kampus.
Rika segera mencari tempat parkir, kemudian memarkirkan motor nya dengan rapi.
"Hay beib," suara seorang pria mengejutkan nya.
Rika tersentak dan langsung memukul punggung pria tersebut.
"Dino, bisa enggak sih lu jangan bikin gue jantungan!" Geram Rika.
Pria bernama Dino tersebut malah cengengesan tidak jelas melihat sahabatnya yang emosi padanya.
"Dari dulu sampai sekarang lu masih galak banget ya!" Seloroh Dino.
Rika semakin berapi-api kata-kata Dino sungguh membuat tekanan darah tinggi.
"Sialan lu ya!"
"Udahlah, kita ke kanti yuk!" Dino langsung merangkul pundak Rika dan berjalan beriringan, "eh, tunggu!"
"Apa lagi sih?!"
"Laptop gue ketinggalan di mobil," Dino baru mengingatnya.
"Dari dulu sampai sekarang lu emang enggak pernah berubah ya!"
Rika dan Dino sudah bersahabat sejak duduk di bangku SMA bahkan sampai sekarang pun masih tetap terjalin dengan baik.
"Kita ambil yuk beib," Dino segera menarik Rika menuju parkiran mobil.
Rika tidak membantah, ia mengikuti langkah kaki Dino.
Rika mengangguk, dan berdiri tidak jauh dari Dino.
Tiba-tiba ada mobil yang parkir tepat berada di samping mobil Dino, Rika yang tengah asik dengan ponselnya tidak menyadari.
Saat pintu mobil terbuka tanpa sengaja tubuhnya terdorong dan ia langsung tersungkur.
"Aaaa," Rika meringis.
"Rika," Dino segera menolong sahabat nya, "lu enggak papa?" Tanya Dino.
Rika perlahan berdiri dan menepuk-nepuk bagian lutut dan lengannya.
"Maaf ya," seorang wanita langsung meminta maaf kepada Rika.
Rika menatap wanita tersebut dan merasa pernah melihat nya, seketika itu juga ia teringat seorang wanita yang barusan bersama Sandy tepat berada di lampu merah.
Tidak lama kemudian Sandy keluar dari mobilnya.
"Tiara, Mas langsung ke rumah sakit ya, nanti Mas jemput," pamit Sandy kemudian ia kembali masuk kedalam mobilnya.
"Iya, hati-hati ya," Tiara tersenyum dan melambaikan tangannya.
Rika langsung pergi tanpa berpamitan sama sekali, perduli apa dengan Sandy.
__ADS_1
"Mbak tunggu," Tiara langsung mengejar Rika yang sudah berjalan cukup jauh darinya, "Mbak tunggu!"
Dengan terpaksa Rika berhenti berjalan dan menatap Tiara.
"Kenalin, aku Tiara," Tiara mengulurkan tangannya pada Rika.
Rika menatap tangan tersebut dan membalas uluran tangan Tiara.
"Rika."
Tiara mengangguk dan menatap pria di sampingnya.
"Tiara," Tiara kembali mengulurkan tangannya.
"Dino," jawab Dino sambil membalas uluran tangan Tiara.
"Sekali lagi maaf ya Rika, tadi aku terlalu bersemangat karena hari ini adalah hari pertama aku menjadi dosen di sini," jelas Tiara, "kamu mahasiswa di sini?"
"Iya Bu," Rika mengangguk.
"Baiklah kita berteman saja, ya, saya sudah cukup lama kuliah di luar negeri dan setelah beberapa tahun akhirnya saya kembali," Tiara tersenyum dengan ramah.
"Bu, saya masuk duluan ya," pamit Rika.
"Iya, sekali lagi maaf ya Rika."
Rika mengangguk lalu berjalan beriringan bersama Dino menuju kantin.
"Hay ayang Bebeb," Mentari mengejutkan dua sahabatnya, sekalipun sudah memiliki suami dan anak ia terlihat masih begitu pecicilan.
Dino dan Rika langsung menatap sahabatnya, setelah sekian lama tidak datang ke kampus akhirnya kini muncul juga.
"Tari!!! Hampir aja jantung aku copot!" Rika langsung mengetuk kepala sahabatnya.
"Hehe....maaf," Mentari cengengesan dan memutar tubuhnya menatap suami tampannya, "Bye, Kakak," Mentari tersenyum penuh cinta.
"Bye sayang, jangan nakal ya," Arka langsung pergi setelah memastikan istrinya sudah bersama dengan Rika.
"Lala mana?" Tanya Mentari yang tidak melihat sahabatnya satu lagi.
"Yang enggak ada, di cariin, gue di sini kagak di sapa sama sekali," ujar Dino geram merasa tidak di anggap ada.
"Hehehe, masih hidup lu Din?" Celetuk Mentari.
"Din, Din, Dino bego!" Geram Dino.
"Ya, iya, Dino, masuk yuk."
Ketiga sahabat itu berjalan dengan beriringan menuju kantin, ketiganya duduk di salah satu kursi dan mulai memesan makanan.
Rika masih mengusap lututnya yang terasa perih.
"Kenapa?" Tanya Rika menyadari gerakan tangan sahabatnya.
"Tadi, enggak sengaja jatuh," jawab Rika, "sakit banget tau," Rika menatap ke bawah melihat lututnya sedikit membiru karena terkena batu.
__ADS_1
"Ya ampun, biru gini ya," Mentari juga melihatnya dan menatap iba, "kok bisa?"
Rika tidak ingin membahasnya, buktinya Sandy sama sekali tidak perduli padanya.