Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Maaf


__ADS_3

Rika duduk di sisi jalanan, ia terisak dengan hujan yang semakin mengguyur tubuhnya. Sampai akhirnya hujan seakan berhenti membasahi dirinya, Rika bingung dengan cepat ia menatap ke langit. Ada sebuah benda berwarna hitam di atasnya, sebuah payung hingga hujan tidak terus mengguyur tubuhnya. Setelah itu Rika melihat siapa orang yang membawa payung untuk dirinya.


"Tante."


Rika terkejut saat melihat Bunda Jihan yang ternyata memayungi dirinya. Seketika Rika bingung dan bertanya-tanya, sebab tadi tanpaknya Bunda Jihan tidak suka padanya.


"Maaf."


Bunda Jihan tersentuh hatinya, saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Rika. Bahkan ia merasa Rika tidak sama dengan wanita yang selama ini selalu di bawa Sandy ke rumah, ada sedikit perasaan bersalah saat ia berkata kasar pada Rika. Namun, semua itu ia katakan karena sudah sangat muak dengan kelakuan Sandy selama ini.


Suara petir yang bersahut-sahutan menciptakan suara yang cukup kencang. Namun, Rika merasa mendengar dengan jelas kata maaf yang keluar dari mulut Bunda Jihan. Akan tetapi Rika masih menepisnya, ia merasa salah mendengar.


"Rika, kamu mendengar saya?" suara Bunda Jihan terdengar sedikit meninggi, sebab suara hujan yang semakin deras membuat lawan bicara tidak mendengar dengan baik.


Rika mengangguk. Namun, tidak sepenuhnya Rika mengerti. Ia hanya berusaha untuk tetap tenang dan menahan hati yang terasa begitu sakit.


"Kita masuk dulu yuk," Bunda Jihan memegang lengan Rika, ia membawa Rika masuk kembali kedalam rumah nya.


Sandy melihat dari kejauhan, sebenarnya Sandy ingin mengejar Rika. Hanya saja ia ingin melihat Bunda Jihan yang mengejar Rika, karena ia tahu Bunda Jihan bukan wanita kejam dan juga tega. Saat setelah Rika keluar Sandy langsung menatap Bunda Jihan, ia memohon agar Bunda Jihan tidak berpikir buruk tentang Rika.


"Bunda, yang salah itu Sandy. Rika tidak salah, jangan Bunda lampiaskan kekesalan pada Rika," lirih Sandy.


Bunda Jihan menatap Sandy, "Nikahi Azela, sebelum orang-orang tahu kau menghamilinya, kau harus bertanggung jawab pada perbuatan bejat mu itu!"


"Sudah berapa kali Sandy katakan, itu bukan anak Sandy! Sandy akan berubah bila Rika tetap bersama Sandy, kalau tidak Sandy tidak akan pernah berubah!"


Bunda Jihan terdiam, "Lalu anak siapa yang ada di kandungan Azela?"


"Anaknya bersama kekasihnya yang lain!" tegas Sandy, "Apa ada wanita seperti Rika barusan Bunda, apa pernah wanita yang Sandy bawa sebelumnya bertingkah sopan pada Bunda?"


Hati Bunda Jihan langsung merasa tergerak, rasa bersalah seketika membuat dirinya menjemput Rika yang kini berada di depan gerbang yang sudah basah karena hujan.


"Kamu duduk dulu ya."


Rika dengan tubuh menggigil lansung duduk, tangannya menyilang di dada dengan bibir bergetar karena kedinginan.


Secangkir teh hangat di letakan oleh seorang Art, kemudian Bunda Jihan membawakan sebuah handuk untuk Rika.

__ADS_1


"Kamu pakai ini," Bunda Jihan memberikan handuk di tangannya pada Rika.


Rika mengambil tanpa berpikir panjang, "Terima kasih tante."


Bunda Jihan duduk dengan saling berhadapan dengan Rika, "Saya minta maaf, hanya saja saya muak dengan wanita-wanita yang selalu di bawa Sandy ke rumah ini, dan mereka tidak pernah menghargai saya," jelas Bunda Jihan.


Rika mengangguk tanpa berbicara, tidak tahu harus berbicara apa. Tapi Rika sedikit mengambil kesimpulan jika Sandy selalu membuat Bunda Jihan kecewa.


"Apa kamu mau memaafkan saya?"


"Iya Tante, saya yang minta maaf. Karena sudah mengganggu Tante."


Bunda Jihan benar-benar tersentuh, saat Rika yang terlihat begitu cantik dan sopan pada dirinya.


"Rumah kamu di mana?" Bunda Jihan mulai penasaran pada Rika, mungkin dengan sedikit bertanya bisa membuat suasana tidak lagi canggung.


"Dia adik nya Dimas Bun."


Sandy yang dari tadi hanya mengawasi dari kejauhan mulai ikut bergabung, bahkan ia langsung menjawab pertanyaan Bunda Jihan.


"Dimas?"


"Iya Tante," Rika mengangguk.


Bunda Jihan mangguk-mangguk, dan tidak tahu lagi harus berkata apa, "Kamu ganti pakaian kamu, di kamar tamu," Bunda Jihan menunjuk arah kamar tamu.


"Tidak usah Tante," Rika menolak, karena memang ia tidak memiliki baju ganti.


"Bu, bajunya sudah di siapkan," seorang Art langsung memberitahukan kepada Bunda Jihan, sebab itu lah yang di perintahkan Bunda Jihan barusan.


"Ada baju milik Tante, kebetulan sudah tidak bisa di pakai."


Rika tidak menolak ia memang merasa dingin, "Hatcii," berulang kali Rika menggosok hidung karena bersin yang terus saja ia rasakan. Perlahan ia bangun dari duduknya dan segera menuju kamar tamu, Sandy mengikuti Rika hingga membuatnya bingung, "Mas ngapain?"


"Itu kamar nya di situ," Sandy menunjuk sebuah kamar tamu, "Atau di kamar Mas di sana," Sandy menunjuk arah kamarnya.


Rika memiringkan senyumnya, lalu masuk ke kamar tamu. Namun, tanpa di duga Sandy juga ikut masuk.

__ADS_1


"Mas ngapain?"


"Masuk," Sandy menunjuk ke dalam.


"Enggak usah aneh-aneh ya Mas!"


"Kenapa?" Sandy bingung dengan Rika yang tidak mengijinkan nya masuk.


"Ngapain Mas masuk?" tanya Rika lagi, "Mau liatin Rika ganti baju?!"


"Memangnya kenapa?" Sandy merasa tidak masalah.


Bunda Jihan melihat dari kejauhan, ia memang menyusul Rika dan Sandy sambil melihat apakah Sandy dan Rika masuk kedalam kamar bersama.


"Enggak usah macam-macam ya Mas, kita ini belum menikah! Rika enggak suka!" geram Rika memberikan peringatan, kemudian ia langsung mendorong Sandy keluar dan menutup pintu.


Bunda Jihan dapat menyimpulkan jika Rika bukan wanita yang bisa di ajak oleh kekasihnya ke dalam kamar begitu saja, dan ada sedikit penyesalan mengingat sebelumnya ia sudah berpikir buruk tentang Rika. Bunda Jihan memutuskan untuk kembali ke sofa dan duduk di sana.


Rika yang sudah memakai dress milik Bunda Jihan juga menyusul, bersama Sandy yang berjalan di belakangnya, "Tante terima kasih ya."


Bunda Jihan melihat bajunya yang sudah kekecilan terlihat pas di badan Rika, "Tante harap kamu tidak menyimpan omongan Tante barusan di hati."


"Enggak Kok Tante."


Bunda Jihan tersenyum lembut, "Sering-sering main ke sini ya, panggil Bunda," pinta Bunda Jihan dengan senyum lembut.


Rika mengangguk, "Bunda Rika langsung pulang ya, takutnya nanti kemalaman," hari memang semakin gelap, dan Rika takut jika mendapat masalah.


"Lho.... enggak makan malam dulu."


"Rika takut Kak Dimas marah kalau pulang malam Bunda," tolak Rika dengan halus, tapi apa yang dikatakan oleh Rika memang benar. Dimas pasti akan menjemput dirinya bila malam tidak juga pulang.


"Em," Bunda Jihan mengangguk, "Sandy, kamu antar Rika pulang ya."


"Rika pamit ya Bunda, Assalamualaikum."


*

__ADS_1


Teman-teman tolong like dan Vote dan apakah yang akan terjadi selanjutnya?


__ADS_2