Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 109


__ADS_3

"Kau pikir semudah itu?" Dimitri tersenyum miring.


"Kau gila!"


"Aku memang gila Sarika, kau sudah tahu aku sangat mencintai Sinara tapi Atmaja merebutnya dari ku!"


"Dia tidak merebutnya! Tetapi mereka berdua memang saling mencintai, bukan karena obsesi seperti mu!" Seru Sarika dengan nada yang tinggi hingga urat-uratnya terlihat, menahan kemarahan yang sudah di tahan bertahun lamanya.


Berjuang demi melindungi Lala agar tidak lenyap di tangan Dimitri, terlahir dari keluarga miskin membuatnya tidak bisa membayar sebuah kemenangan.


Sedangkan kemenangan harus dengan uang, lantas apa yang di lakukan Sarika?


Mengorbankan diri dan harga dirinya di injak-injak oleh lelaki tidak berhati nurani, lelaki yang sudah tega menghabisi nyawa Kakak nya sendiri.


Hal yang sangat mengerikan adalah setiap kali Sarika memuaskan Dimitri bayangan saat Sinara kehilangan setiap denyut napasnya terus terngiang-ngiang di kepala Sarika.


Bahkan sampai Zira lahir kadang Sarika tidak sanggup menatap wajah putrinya yang tidak bersalah, Zira lahir dari anak seorang pria brengsek tidak berkemanusiaan.


"Kau sangat tidak waras, itu obsesi. Itu obsesi Dimitri!" Sarika berkali-kali mengulangi kata Obsesi agar Dimitri tersadar.


"Terserah pada mu, kau pun akan habis di tangan ku, penghianat!"


Matanya mulai menatap wajah-wajah yang kini tengah menatap dirinya, hingga manik mata Dimitri menatap seorang wanita yang tengah berdiri sendiri.


Senyum samar penuh kemenangan, otaknya memang tidak pernah lemah dalam mencari jalan menyelamatkan dirinya. Begitu pun dengan saat ini juga.


Dengan gerakan cepat Dimitri meloncat dan menarik Rika menjadikan sandra.


Rika berdiri di balik pohon hanya melihat saja dengan wajah takut dan tidak menyangka jika dirinya juga menjadi tawanan Dimitri, mengingat Rika tidak memiliki masalah.


"Aaaaaaa!!!!" Teriak Rika dengan peluh yang semakin bercucuran.


Semua wajah mulai panik, takut jika Dimitri melukai Rika.


"Lepaskan dia Dimitri, dia tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah kita!!!!" Seru Sarika.


Dimitri tersenyum penuh kemenangan, "Tentu saja ada, karena dia adalah adik Dimas lelaki yang sudah menolong mu bukan?" Dimitri menatap Dimas penuh kebencian.


Jika bisa menghancurkan sekaligus mengapa tidak, atau mereka hancur bersama. Jika Dimitri tidak bisa menang paling tidak ia pun tidak hancur sendirian.


"Lepaskan adik ku!"


Suara Dimas terdengar pelan akan tetapi ada kemarahan yang tertahan, kedua tangannya menggantung dan mengepal dengan erat.


"Kak Dimas......" suara Rika semakin tertahan tak kala Dimitri semakin mencengkram erat leher nya, bahkan ada senjata api yang mulai di arahkan oleh Dimitri di bagian kepalanya Rika.

__ADS_1


"Dasar gila!!!!" Seru Sarika.


"Ahahahhaha......" Tawa Dimitri menggelar melihat semua wajah musuh-musuh nya mulai panik, "Ayo pilih salah satunya!"


Dimitri menatap wajah Dimas, rasanya Rika bisa menjadi alat nya saat ini. Pikirannya Dimitri kali inipun kemenangan masih berpihak padanya.


"Kau memilih adik mu, atau istri mu?!" Tanya Dimitri dengan senyuman kemenangan.


Pertanyaan Dimitri seakan bom waktu yang kini meledak menggelegar menghancurkan segala nya hingga meninggalkan puing-puing, lantas bagaimana bisa Dimas memilih di antara salah satunya.


Jika Lala ada nafas baginya maka Rika adalah jantungnya, lantas bagaimana bisa Dimas kehilangan salah satu dari mereka.


Justru Dimas tidak akan bisa berdiri jika tidak dengan keduanya.


"Lepaskan dia Dimitri!!!" Seru Sarika.


"Ahahahhaha......kenapa panik? Kalaupun aku kalah dan dilenyapkan maka harus ada yang menjadi korban juga sehingga semua selesai!"


Dimitri menarik pelatuk senjata api nya, dan bersiap untuk menembus tengkorak sandranya.


"Aku masih memberikan mu waktu untuk berpikir beberapa detik, berikan dia atau?" Dimitri semakin mempererat tangannya hingga Rika sulit bernafas.


Lala tidak lagi bersembunyi di balik tubuh Dimas, seketika ia melangkah ke depan.


"Lala," Dimas mencoba untuk menarik lengannya.


"Dia tidak bersalah, lepaskan dia!" Pinta Lala semakin mendekat kearah Dimitri.


Bibir Dimitri tersenyum seketika karena merasa kemenangan ini benar-benar menjadi nyata, bahkan Lala pun sudah kembali pada dirinya.


"Sayang kemari lah," pinta Dimitri.


"Lepaskan Dia, dia tidak ada sangkut pautnya," pinta Lala lagi semakin mendekat ke pada Dimitri.


"Aku tidak akan melepas nya, kau pasti akan membohongi ku!"


"Baiklah, kalau kau tidak mau," Lala mundur selangkah menjauh dari Dimitri, "Pilihan mu hanya satu, pertama jika kau menghabisi dia maka kau pun tidak akan lolos," tangan Lala menunjuk sekiranya.


Ada banyak bodyguard yang baru saja di bawa oleh Arka.


"Beberapa menit lagi polisi juga akan tiba, kau pasti lenyap juga bersamanya," papar Lala.


Lala tidak ingin menjadi lemah dengan terus meratapi nasibnya dan bermandikan air mata, apa yang di rasakan oleh nya tidak seberapa dengan apa yang di rasakan oleh Sarika.


Saat mengetahui fakta tentang perjuangan Sarika membuat rasa takut Lala menghilang, tantangan demi tantangan bukanlah suatu hal yang bisa di taklukkan dengan mudah.

__ADS_1


Tetapi tidak juga untuk menyerah pada suatu keadaan, jika Sarika bisa melakukan pengobatan begitu besar lantas mengapa Lala tidak.


"Lihat, silahkan berpikir. Waktu mu tidak banyak," lanjut Lala lagi.


Dimitri mulai menimbang setiap ucapan Lala, dalam sekejap Dimitri melepaskan Rika dan menarik Lala menggantikan Rika menjadi sandra nya.


Saat itu pula Lala berbalik dan langsung melepaskan satu peluru tepat mengenai kaki Dimitri.


Semua terkejut melihat benda yang di pegang Lala.


Dimas tersadar ternyata Lala mengambil saat ia tengah dalam keadaan panik.


Dengan cepat Dimas menarik Lala karena takut terjadi hal buruk pada istri dan juga janinnya.


"Bedebah!"


Dimitri merasa tertipu tangannya masih memegang senjata api dan melepaskan timah panas ke arah Rika.


"Aaaaaaa....." teriak Rika menggema dengan begitu kencangnya.


Zdorr!!!!!!!


Rika tidak merasa apa-apa dengan perlahan ia membuka mata.


"Sandy!!!!"


Teriak Dimas.


Sandy meloncat dan mengorbankan diri hingga timah panas menusuk bagian perutnya.


Ukh!!!!!


Tubuh Sandy seketika terhempas di atas tanah dengan bersimbah darah.


Dengan cepat Arka meloncat naik keatas punggung Dimitri dan mengunci tangan Dimitri kebelakang hingga tidak bisa melawan.


Merebut senjata api yang masih di pegang Dimitri.


Seketika itu juga polisi datang dan meringkus Dimitri.


Awalnya Sarika ingin melenyapkan Dimitri dengan tangannya sendiri, akan tetapi Dimas tidak mengijinkan nya mengingat tangan Sarika terlalu suci untuk menjadi seorang penjahat.


Akan tetapi Dimas juga meyakinkan Sarika jika nyawa harus di bayar nyawa, dan Dimas akan memastikan hukuman yang di terima oleh Dimitri adalah setimpal.


Sarika mengangguk setuju, apa lagi saat Lala juga tidak mengijinkan nya. Ada rasa bersalah di hati Sarika saat menatap wajah Lala, hingga ia memilih pergi diam-diam agar tidak ada yang menyadari dirinya.

__ADS_1


*


Jangan lupa like dan Vote


__ADS_2