Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Nasib


__ADS_3

"Tidur nyenyak ya, jangan lupa peluk bonekanya," kata Sandy.


Rika mengangguk, "Makasih ya Mas, boneka nya."


"Rika," Sandy memegang tangan Rika, "Mas boleh minta nomor ponsel mu?"


Malam semakin larut, Rika kini sudah berada di dalam kamar. Sejenak Rika masuk ke kamar mandi lalu mencuci kaki, tangan, dan wajahnya. Selesai dengan mengganti dress dengan piama Rika langsung merebahkan diri di atas ranjang, kemudi ia menatap boneka berwana putih yang tadi di belikan Sandy untuknya.


Drettt.


Ponsel Rika bergetar, dengan cepat ia langsung mengambilnya. Dan membaca nama seseorang di sana. Setelah itu Rika langsung membuka Chat tersebut.


[Baca doa, sebut nama ku. Semoga kita bisa bertemu kembali di alam mimpi,] Mas Sandy.


Rika tersenyum saat membaca pesan dari Sandy, tapi entah mengapa hatinya terasa bergetar dan rasa bahagia itu muncul.


Rembulan kini berganti Mentari yang bersinar begitu indah, sepasang mata seorang wanita yang terlelap dalam tidurnya perlahan terbuka.


"Udah pagi," Rika seketika duduk dan mulai mengumpulkan nyawanya, setelah merasa lebih baik ia menyadari ternyata semalam tidur dengan memeluk boneka pemberian Sandy.


Dreett.


Ponsel Rika kembali berdering, dengan cepat ia kembali membuka chat tersebut.


[Jangan lupa baca doa, dan sebut nama ku,] Mas Sandy.


Rika mengusap wajahnya, ia merasakan Sandy benar-benar ingin lebih dekat dengan dirinya. Rika pun tidak ingin terus menerus memusuhinya, apa lagi mengingat Sandy sudah menolong dirinya.


Drettt....drettt.... dreett.


Kini panggilan masuk dari Sandy, sebab Rika tidak membalas pesannya.


"Halo Assalamualaikum," jawab Rika setelah panggilan terhubung.


Sandy tersenyum saat mendengar suara Rika yang begitu lembut di telinga, rasanya Rika sangat jauh berbeda sekali saat ini.


"Kamu sedang apa?" tanya Sandy di seberang sana, sebenarnya kini mereka tidak jauh. Hanya berjarak tiga kamar saja, dan entah apa yang di lakukan oleh Sandy hingga ia juga bisa berada di Bali.


Rika yang duduk kini menjatuhkan dirinya ke atas ranjang, kemudian ia juga tersenyum, "Rika baru bangun tidur Mas, belum juga gosok gigi, apa lagi mandi," jawab Rika.


Sandy tidak habis-habisnya tersenyum, karena jawaban Rika yang terdengar indah di telinga nya, "Enggak papa, kamu tetap cantik....mau gimanapun."

__ADS_1


Wajah Rika seketika memerah saat mendengar kata-kata sederhana namun terdengar indah, Rika kini tidur dengan terlungkup. Bibirnya tersenyum karena tengah merasakan indahnya kasmaran, Rika selama ini memang tidak pernah tahu rasanya seperti apa memiliki seorang kekasih. Sebenarnya ia pernah memiliki kekasih, hanya saja mereka sama-sama bersekolah di tempat yang sama. Dan pacaran seperti layaknya teman, sebab takut pada Dimas yang tidak pernah mengijinkan Rika untuk berpacaran.


"Kenapa diam?" tanya Sandy di seberang sana. Tanpa tahu perasaan Rika yang kini tengah menggebu, dengan rasa yang begitu indah.


"Mas, Rika mandi dulu ya. Mau sarapan juga," kata Rika yang ingin mengakhiri pembicaraan mereka.


Tok tok tok.


Terdengar suara ketukan pintu, dan Rika langsung memutuskan panggilannya dengan Sandy. Lalu ia cepat-cepat turun dari atas ranjang.


Clek.


Rika langsung melihat Lala dan Tari yang berada di depan pintu kamar nya.


"Rika sayang!!!" Tari dan Lala langsung memeluk Rika.


"Huuuufff....." Rika menarik nafas dengan panjang, "Kalian ngerasa nggak sih, gue itu terabaikan?" tanya Rika dengan malas.


Tari dan Lala seketika saling melihat satu sama lainnya, "Maaf ya Beb," kata Tari dengan tidak enak hati.


"Iya maaf, semalam itu aku udah minta ke kamar kamu. Tapi....." Lala merasa tidak enak hati, tapi ia juga tidak bisa menolak suaminya.


"Iya....iya....paham," Rika langsung memeluk kedua sahabatnya, ia tidak ingin membuat Tari dan Lala merasa bersalah. Lagi pula ada Sandy yang menemaninya.


"Tau nih senyum-senyum enggak jelas!" timpal Rika yang melihat keanehan pada Rika.


"Aku?" Rika menunjuk dirinya sendiri, dan ia juga sadar senyum-senyum tidak jelas.


Pagi ini mereka memutuskan untuk sarapan pagi bersama, duduk manis di kursi dengan keluarga lainnya.


"Sandy," panggil Mami Linda.


Sandy yang merasa bukan keluarga di antaranya ingin duduk di kursi lainnya, namun tiba-tiba Mami Linda memanggil dirinya.


"Ya Mi?" jawab Sandy.


"Kamu sarapan sama siapa? Sudah sini gabung," ajak Mami Linda.


Sandy mengangguk, ia tidak ingin menyiapkan kesempatan terbaik tersebut. Dengan sarapan bersama Rika juga tentunya.


"Rika, hari ini kita ke Yellow Bridge yuk. Pagi-pagi begini pasti indah sekali," ajak Tari.

__ADS_1


"Aku setuju," timpal Rika dengan bahagia.


"Kamu mau kan?" tanya Tari.


Rika mengangguk, dan ia semalam sudah pergi bersama dengan Sandy ke tempat tersebut. Tanpa sengaja ia melihat kesamping kanan, dan ada Sandy di sana yang juga tengah melihat dirinya. Sedetik kemudian tiba-tiba Sandy mengkedipkan matanya.


"Huuuufff....." Rika menarik nafas dan kembali menunduk, agar tidak melihat wajah Sandy yang bisa membuatnya tersenyum malu. Tapi jangan tanyakan wajah Rika saat ini, ia masih senyum-senyum saja sambil menunduk dan menyembunyikan wajahnya yang memerah.


"Rika, kamu kenapa sih?" tanya Lala bingung.


"Ehem....." Dimas berdehem.


Sarapan selesai, kini Lala, Rika, Tari, Arka dan Dimas pergi menuju beberapa wisata ternama di Bali.


"Rika ayo Selvi," ajak Tari.


Arka dan Dimas hanya menjadi penonton, ia hanya mengikuti kemauan tiga wanita tersebut. Lagi pula Dimas dan Arka tidak mungkin terus memeluk istrinya mereka, sebab mengingat Rika yang nantinya hanya sendiri saja.


"Kakak kok cuman Tari doang yang di foto!" geram Tari sebab ia berfose bersama Rika dan Lala tapi hanya m wajahnya yang tertangkap kamera.


Arka tersenyum, tentu saja ia tidak akan mau menjadi juru potret. Kecuali hanya untuk istri tercinta nya saja.


"Aa," Lala dengan wajah malu-malu mulai mendekati Dimas yang hanya berdiri diam.


Dimas menatap istrinya dan tersenyum, "Apa sayang?" jawab Dimas.


Lala menunduk dan merasa malu dengan panggilan Dimas barusan, setiap kali Dimas memanggilnya dengan kata sayang jantungnya terus berdetak dengan kencang.


"Lala boleh minta tolong?" tanya Lala dengan ragu.


"Cie....cie....." ejek Tari.


"Ehem....Ehem....." ejek Rika lagi, "Aa.....!" tambah Rika lagi.


Wajah Lala semakin memerah, karena kedua sahabatnya yang terlihat begitu usil.


"Minta tolong apa?" tanya Dimas dengan suara lembut.


Lala tersenyum dan memberikan ponselnya, "Bisa?" tanya Lala.


"Semua bisa kalau untuk mu," Dimas langsung mengambil alih ponsel Lala.

__ADS_1


"Cuitt....cuttt....." Rika langsung bersiul karena melihat keromantisan Dimas dan juga Lala, "Gimana nasib aku Tar," seloroh Rika.


"Ahahahhaha......" Tari tertawa lebar, "Tambahkan hati mu Rika!" celetuk Tari yang membuat tawa seketika pecah.


__ADS_2