
Lala menatap dari teras mobil milik Dimas langsung melaju pergi tanpa menunggu dirinya seperti biasa.
Awalnya Lala berpikir jika Dimas kembali hanya menjemput dirinya untuk berangkat bersama ke kampus, akan tetapi ternyata tidak. Dimas kembali hanya karena ada barangnya yang tertinggal, setelah itu langsung pergi.
"Lala," Mama Yeni menepuk punggung nya, hingga membuat tersadar dari lamunannya.
"Ma, Lala ke kampus dulu ya."
Lala berjalan menuju pintu gerbang, menumpangi taxi dan membawanya ke kampus. Hati tidak sedang baik-baik saja, akan tetapi masih mencoba untuk tetap tenang.
Turun dari taxi, kepala yang terasa pusing perlahan membuat keseimbangan mulai berkurang. Sampai akhirnya Lala terjatuh di depan gerbang kampus, telentang dengan tidak sadarkan diri.
Sandy tanpa sengaja melihat Lala, awalnya Ia hanya ingin melihat Rika dari kejauhan. Akan tetapi yang di temui justru lain. Dengan cepat membawa Lala ke rumah sakit, melakukan penanganan secepat mungkin. Agar tidak ada yang akhirnya di sesalkan.
Tubuh lemah Lala berbaring, wajahnya terlihat semakin pucat. Berulang kali Sandy mencoba menghubungi Dimas, tetap tidak satu kali pun membuahkan hasil. Sandy tidak lantas menyerah begitu saja, kini ia berusaha untuk menghubungi Rika. Nihil, Rika malah sudah memblokir nomor ponsel nya.
"Dokter Sandy," seorang dokter wanita ber-tag Anggita Tifani mulai mendekati nya.
Sandy yang tengah fokus pada gawatnya mulai menatap Dokter cantik milik CEO di hadapannya.
"Ya Dok?"
"Pasien hamil 4 Minggu, akan tetapi ada zat kimia yang mengganggu kandungannya. Apa pasien istri Anda?"
"Bukan Dok, Dia istri sahabat saya. Tadi saya menolongnya, lalu membawanya ke rumah sakit," jelas Sandy.
"Kalau begitu tolong hubungi suaminya Dokter, karena sepertinya ini ada masalah yang cukup serius."
"Baik Dok."
Lala mulai mengerjapkan mata, melihat sekitarnya dengan jelas. Merasa asing dan bingung, sampai akhirnya Sandy mendekat pada nya.
"Syukurlah kalau kamu sudah sadar," kata Sandy dengan senyum.
"Aku di mana?" tanya Lala dengan suara lemahnya.
"Kamu tadi pingsan, jadi aku larikan ke rumah sakit," jelas Sandy, "Sekarang hubungi Dimas ya, berulangkali aku menghubungi tapi sulit," Sandy menunjukan wajah kecewa, dan terlihat putus asa.
Lala mengerti dengan apa yang terjadi antara Sandy dan Dimas, akan tetapi Ia juga tidak menemukan ponselnya. Sepertinya ponsel miliknya terjatuh entah dimana.
"Aku minta maaf, sadar aku salah. Tapi Terima kasih kau sudah banyak menolongku."
Lala mengangguk, tubuhnya masih terlalu lemah. Sehingga sulit untuk bergerak.
Malam harinya Lala hanya terdiam, sesekali rasa mual menghampirinya. Sandy menyediakan sebuah wadah untuk di gunakan Lala saat muntah, sebab tidak mungkin Ia memapah Lala kedalam kamar mandi. Lagi pula sudah pasti Lala juga menolak.
__ADS_1
Pagi harinya wajah Lala terlihat lebih baik, mungkin karena cairan infus yang sudah masuk kedalam tubuh nya.
"Saya ingin pulang Dok," pinta Lala pada dokter yang kini merawat dirinya, mengingat semalaman tidak pulang bisa membuat Dimas marah padanya.
Dokter tidak mengijinkan Lala untuk pulang, sampai akhirnya Dokter terpaksa mengijinkan. Karena Lala yang terus memaksa.
Tubuh lemah dengan memegang kepalanya, Lala mencoba berdiri tegak. Menatikan taxi lewat dan bisa membawanya untuk pulang. Akan tetapi tiba-tiba ada seorang pria yang menghampiri nya.
"Sayang."
Suara yang terdengar tidak asing, akan tetapi Lala berharap itu bukan suara seseorang yang membuatnya trauma.
"Dimitri."
Dengan cepat Lala berlari sekencang-kencangnya, akan tetapi sulit untuk berlari. Tangannya di cengkram erat.
Buk!
Tiba-tiba seorang pria datang dan langsung menendang dada pria yang tengah menarik paksa lengan Lala.
"Kau siapa? Berani sekali ikut campur!" Dimitri berusaha untuk berdiri, walaupun sambil memegangi dadanya.
"Kau yang siapa? Berani sekali kasar pada wanita!" tantang Sandy.
Lala hanya terdiam, tubuhnya semakin bergetar hebat karena ketakutan.
Tangan Dimitri kembali mencoba memegang lengan Lala, akan tetapi dengan cepat Sandy menendang tangan Dimitri. Hingga tangan Dimitri tidak bisa menyentuh Lala.
"Sial!"
Dimitri tidak mau mengalah, sulit sekali mendapatkan Lala di saat Dimas sedang lengah. Apapun caranya Ia masih tetap berusaha untuk mendapat Lala kembali.
Buk!
Buk!
Pertarungan kembali terjadi, banyak orang yang mulai berkerumun. Hingga akhirnya Sandy berhasil menendang perut Dimitri berkali-kali.
"Kau!"
Dimitri terjatuh di atas trotoar, memegangi perutnya yang terasa sakit. Berusaha merekam wajah Sandy dalam memorinya agar bisa membalaskan sakitnya kini.
Dengan cepat Sandy menarik Lala masuk kedalam mobil, Ia tahu keadaan Lala tampaknya tidak baik-baik saja dan itu terjadi karena melihat pria barusan. Sandy tidak berani memberikan obat penenang, mengingat kandungan Lala yang sedang bermasalah. Akhirnya ia melajukan kendaraannya hingga sampai di depan pintu gerbang rumah Dimas.
"Terima kasih," kata Lala, wajahnya terus menyiratkan kepanikan. Sesekali matanya menatap arah lainnya, seperti sedang was-was.
__ADS_1
"Cepat masuk," titah Sandy, ia takut jika nantinya pria paruh baya sebelumnya kembali menyusul Lala.
**
"Dimas, Lala dari semalam tidak pulang. Apa kau tahu Dia di mana?"
wajah Mama Yeni terlihat sangat panik, khawatir akan keadaan Lala.
"Tidak pulang?" tanya Dimas kembali, karena semalam tidur di ruang kerjanya. Hingga tidak tahu jika Lala tidak kembali.
"Assalamualaikum," Lala berjalan masuk, matanya melihat Mama Yeni dan Dimas yang berada di ruang tamu.
Dimas tersenyum miring, melihat Lala baru kembali pagi-pagi begini.
"Lala, kamu dari mana?" tanya Mama Yeni dengan panik.
"Tidak usah bertanya Ma, Dia bebas mau kemana saja kalau Dia mau," timpal Dimas.
Lala tertunduk, tidak tahu harus menjawab kata-kata Dimas seperti apa. Tapi hatinya juga terlalu sakit saat melihat Dimas begitu cuek padanya.
"Ma, Lala ke kamar dulu."
Rika yang mendengar suara Lala langsung menyusul Lala.
"Lala kamu dari mana?" Rika langsung menepuk pundak Lala, padahal Lala sedang mendorong pintu kamar untuk masuk.
Perlahan Lala berbalik, tapi tiba-tiba tangannya berusaha menggapai tubuh Rika. Ia melihat kebawah, merasa ada yang janggal.
"Sssssttt...." Lala merasa semakin sakit.
Rika menatap arah pandang Lala, "Darah," kata Rika dengan ketakutan.
Sedetik kemudian Lala mulai kehilangan kesadaran, Rika juga tidak mampu menopang tubuh Lala.
"Lala!!!" teriak Rika saat melihat sahabatnya terkapar tidak sadarkan diri, "Kak Dimas!!!! Mama!!!!" teriak Rika dengan sekencangnya.
"Dimas, Lala!" wajah Mama Yeni panik.
Dengan cepat Dimas berlari, di susul Mama Yeni tidak kalah panik.
"Lala bangun!!!!" teriak Rika histeris.
"Lala," Dimas melihat cairan merah yang keluar dari tubuh Lala, seketika ia mulai panik dan ketakutan.
"Dimas, Lala pendarahan. Cepat bawa ke rumah sakit. Atau dia bisa keguguran," ujar Mama Yeni panik.
__ADS_1
"Keguguran?"
"Cepat Dimas!!!"