Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Pencuri


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan!!!" seru Rika dengan kesal.


Sandy masih terus menghimpit Rika, bahkan ia tidak melepaskan Rika sedikitpun.


"Lepas! Atau aku yang berteriak!!!!" ancam Rika sambil terus minta ingin di lepaskan.


Sandy tersenyum, bocah di hadapannya benar-benar sulit untuk di taklukkan. Rasa penasaran semakin besar, mengingat ia adalah pria tampan yang banyak digilai wanita.


"Berteriak saja, sekalian aku katakan kita harus segera menikah. Karena kau dan aku sudah," Sandy menggantung kata-kata nya, dan ia yakin Rika tahu maksud nya.


"Dasar gila!!!" geram Rika.


"Iya, dan menikahlah denganku!" pinta Sandy.


"Ahahahaha......" Rika semakin tertawa dengan kencang, saat mendengar permintaan Sandy, "Sepertinya kau sangat tidak laku, sampai-sampai kau begitu memaksa!!" ejek Rika.


Sandy terdiam mencerna kata-kata Rika, ada rasa kesal di dalamnya. Tapi entah mengapa Sandy memang sudah tertarik sejak awal pada Rika.


"Lepas!!!"


Sandy melepaskan Rika, sebab tidak ingin membuat Rika kesakitan karena ia yang terlalu kencang memegang lengan Rika.


"Lihat," tangan Rika menunjuk banyak orang yang tidak jauh dari mereka, "Begitu banyak orang di sini, kenapa harus aku yang kau ganggu!" kesal Rika.


Sandy tersenyum samar, karena Rika masih saja pada mode keras kepalanya. Andai saja Dimas langsung menyetujui ia menikahi Rika, sudah pasti Sandy langsung menikahi Rika karena ia takut Rika di ambil orang.


"Rika!!!" seru seorang pria.


"Ya ampun Rifki," Rika langsung tersenyum, sebab ia memang sedikit tertarik pada pria sebaya nya itu, "Hay," kata Rika dengan bahagia.


"Hey kau mau kemana?" Sandy langsung memegang lengan Rika, sebab Rika ingin berjalan mendekati Rifki.


Rika menatap tangan Sandy yang memegang lengannya, "Lepas!" Rika mencoba melepaskan tangan Sandy, tapi cukup sulit. Karena Sandy begitu erat memegang, "Apasih!!!" kesal Rika lagi.


"Tetap di sini!!!" tegas Sandy.


Karena Rika tidak juga mendekat padanya, akhirnya Rifki yang berjalan mendekati Rika. Dan ia melihat dengan jelas seorang pria tengah memegang erat lengan Rika, tapi Rifki tahu pria itu pasti tidak memiliki hubungan khusus dengan Rika. Karena ia sangat tahu jika Rika adalah seorang jomblo yang sangat sulit untuk di dekati.


"Apa kabar?" tanya Rifki tersenyum.


Rika tersenyum saat melihat senyum Rifki yang seakan membuatnya terasa melayang, "Baik," jawab Rika dengan bahagia.

__ADS_1


"CK.." Sandy membuang pandangannya, karena kesal pada Rika yang memberikan senyuman pada pria lain.


"Ke kantin yuk," ajak Rifki.


Rika seakan berbunga-bunga, saat Rifki mengajak dirinya ke kantin. Dengan cepat Rika mengangguk, tapi lengannya masih di pegang erat oleh Sandy.


"Hey, kenapa kau berani sekali mengajak calon istri ku!" kata Sandy.


Rifki cukup terkejut mendengar pernyataan Sandy barusan, "Calon istri?" tanya Rifki.


Mata Rika melebar sempurna, kemudian ia menggeleng karena tidak terima, "Hey kalau ngomong jangan...."


Cup.


Sandy langsung mengecup bibir Rika di hadapan Rifki.


"Jangan dekati calon istri ku!!!" bentak Sandy.


Rifki masih terdiam melihat Sandy yang menarik Rika pergi, bahkan ia seakan tidak yakin dengan apa yang barusan ia dengar.


Rika yang juga terkejut dengan kata-kata Sandy barusan perlahan tersadar, namun saat ia sadar ternyata sudah berada di dalam mobil Sandy.


Sandy perlahan memasang senyum miring, "Kau akan aku dapatkan, apapun caranya. Jangan pernah berdekatan dengan pria lain, atau aku pastikan dalam waktu dekat ini kita akan menikah!!" ancam Sandy.


"Pertama kau menabrak ku, kedua kau mengganggu hidup ku yang bahagia. Lalu kau mencium ku barusan, dan sekarang kau mengancam ku! Mau mu apa?" tantang Rika.


"Menjadi suami mu!" jawab Sandy dengan pasti


"Dasar gila, aku tidak ngerti mengapa ada psikiater butuh perawatan juga," gerutu Rika, "Kau itu sudah mencium ku, artinya kau sudah mengambil ciuman pertama ku! Padahal aku menjaganya untuk suami ku nanti!!!" geram Sandy.


"Oh ya?" Sandy tersenyum mendengar kata-kata Rika, "Berarti yang mengambilnya adalah orang yang tepat," Sandy mengkedipkan sebelah matanya.


"Dasar gila!!!" kesal Rika.


"Tenang saja, aku sudah mengambil ciuman pertama itu. Jadi Mas pasti akan bertanggung jawab sayang," kata Sandy lagi sambil mencolek dagu Rika.


Dengan cepat Rika mengambil tisu, dan mengelap bibirnya. Sampai dagunya, "Menjijikan!!! Pencuri," kesal Rika sambil melempar tisu tersebut pada Sandy, dan setelah itu Rika keluar dari mobil Sandy.


Sandy menatap Rika yang kini perlahan pergi, bahkan perlahan menghilang karena di telan kejauhan, "Dia sama saja seperti Kakaknya Dimas, cuek, jutek, judes," Sandy tersenyum penuh arti, "Tapi entah mengapa kau masih sangat menantang, dan aku sudah begitu yakin pada perasaan ku," gumam Sandy.


Rika yang kini kembali ke kelas mulai mengedarkan pandangannya, "Lala kemana sih?!" kesal Rika, "Pasti di ruangan Kak Dimas!!" tebak Rika.

__ADS_1


Rika kembali melangkah keluar, dan kakinya segera berjalan menuju ruangan Dimas untuk menemui Lala, sebab untuk saat ini ia membutuhkan seseorang untuk mendengarkan segala keluhan nya. Sambil berjalan menuju ruangan Dimas mulut Rika terus komat kamit mengucapkan sumpah serapah pada Sandy, "Demi apa coba? Bahkan dia ngambil ciuman pertama ku!!" kesal Rika dan ia mulai memutar gagang pintu.


Clek.


Pintu terbuka dan mata Rika langsung melihat Lala yang tengah duduk di atas pangkuan sang Kakak, bahkan keduanya tengah bercumbu mesra dengan saling membalas.


"OMG.....!!!!" seru Rika dengan refleks.


Dimas dan Lala seketika tersadar jika ada orang lain selain mereka di sana.


"Dasar tidak sopan!" kesal Dimas.


Lala langsung buru-buru turun dari atas pangkuan Dimas, bahkan ia langsung berjalan mendekati Rika.


"Hari yang sangat menyakitkan!!" gerutu Rika.


"Rika," Lala menggaruk tengkuknya dengan rasa malu.


Rika menatap Dimas, lalu kembali menatap Lala, "Kak, pinjem istri nya!! Untuk saat ini tolong hentikan dulu aktivitas panas mu itu, nanti malam akan aku kembalikan!!" kata Rika dan ia langsung menarik Lala pergi tanpa mendengar jawaban Dimas.


"Sulit sekali anak itu melihat Kakaknya bahagia, lihat saja saat liburan di Bali nanti. Akan ku kurung istri ku itu di kamar sepanjang hari," kesal Dimas.


Rika terus menarik Lala menuju kantin, dan kedua nya duduk di antara banyak nya orang.


"Gue kesel banget hari ini, dan lu harus harus dengerin gue!" tutur Rika.


Wajah Lala memerah, karena takut Rika membahas saat ia dan Dimas barusan.


"Tenang, gue enggak lihat. Cuman sedikit aja, dan pembahasan nya sekarang bukan itu," tebak Rika yang tahu tentang isi pikiran Lala saat ini.


"Enggak lihat, cuman dikit aja?" Lala mengulangi kata-kata Rika.


"Lupain, lu tau gue hari ini sial banget!!!" kata Rika yang mulai menceritakan kekesalannya pada Lala.


Ting.


Ponsel Lala bergetar, dan Lala langsung melihatnya sambil mendengar curhatan Rika.


[Sayang nanggung,] Aa Dimas.


Lala tidak membalas chat tersebut, ia kembali melihat Rika dengan jantung yang berdetak kencang karena chat dari Dimas yang seakan membuat nya panas dingin.

__ADS_1


__ADS_2