Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Maksudnya


__ADS_3

Gelap menghilang terang menyambut dengan riang, semalam hujan cukup deras hingga pagi ini meninggalkan basah yang terasa menyejukkan. Hati yang gundah, perasaan yang lelah karena kerinduan yang semakin membuncah.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu seakan menyadarkan seorang pria yang tengah duduk di sisi ranjang sambil menatap pada jendela, tirai putih yang terbuka dengan lebarnya membuat mata seketika memandang kearah luar.


"Sandy."


"Ya Bunda?"


"Kamu tidak ke kantor?"


Sandy melihat Bunda Jihan sejenak, setelah itu ia kembali menatap lulus, "Sebentar lagi."


"Bisa Bunda bicara?"


Sandy sedikit menggeser posisi nya, agar Bunda Jihan bisa duduk di sampingnya.


Sejenak keduanya diam sambil menatap lurus ke depan, sampai akhirnya Bunda Jihan mulai menatap Sandy.


"Bagaimana hubungan mu dengan Rika?"


Pertanyaan itu sudah ada dalam pikiran Bunda Jihan sejak tadi malam, akan tetapi ia belum berniat bertanya kepada Sandy. Namun, pagi ini Bunda Jihan memutuskan untuk bertanya langsung. Karena, Bunda Jihan ingin melihat Sandy tidak pagi bergonta-ganti wanita.


Pertanyaan Bunda Jihan membuatnya tersenyum lembut, setelah itu ia melihat Bunda Jihan yang juga tengah melihat dirinya, "Sandy berjanji tidak akan nakal lagi kalau kami menikah," jawab Sandy.


Bunda Jihan mengangguk sambil memperhatikan raut wajah putra nya, ia sangat tahu perbedaan antara anak nya yang tengah berbohong atau pun jujur. Sekalipun kini Sandy sudah dewasa namun, Bunda Jihan tidak akan salah dalam menilai putra nya.


"Bunda harap kau tidak mengingkari nya."


***


Mobil Sandy melaju dengan kecepatan sedang, sampai di lampu merah ia berhenti sejenak. Setelah itu mobilnya kembali melaju, dan terparkir di sebuah rumah. Sejenak ia diam dan melihat keluar namun, ia tercengang saat melihat wanita yang mengaku mengandung anak nya tengah berjalan bersama seorang pria.


Sandy tersenyum sinis, ia langsung memutuskan untuk turun dari mobilnya dan berjalan ke arah wanita tersebut.


"Sandy?"


Azela tanpaknya cukup terkejut saat melihat keberadaan Sandy yang begitu saja ada di rumah nya, dengan gerakan cepat ia melepas tangan pria di sampingnya.


"Kenapa kau ada di sini?" tanya Azela dengan gelagapan.


"Kenapa kalau aku di sini?" tanya Sandy kembali, ia tersenyum dengan santai pada Azela.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu seorang pria paruh baya juga keluar dan melihat Sandy berada di rumah nya.


"Bagaimana apa kau datang untuk menikah dengan putri ku?" tanya pria itu dengan sinis.


Sandy juga tersenyum sinis, "Apa kau yakin anak itu anak ku?" Sandy sejenak diam sambil menatap pria paruh baya dihadapan nya, "Aku takut dia juga sedang bingung, benih siapa yang tumbuh di rahinnya," jawab Sandy sambil terkekeh.


"Kau menuduh anak ku rendahan!" sergah pria tersebut tidak terima.


Sandy beralih menatap pria yang berdiri di samping Azela, "Aku tidak tahu, kau bisa menyimpulkan sendiri," jawab Sandy lagi sambil terkekeh kecil.


"Sandy, ini anak mu!" seru Azela dengan penuh amarah.


"Lalu dia siapa?" tanya Sandy.


"Saya permisi," pria yang berdiri di samping Azela langsung pergi, karena tanpaknya ia tidak ingin ikut dalam keterangan.


"Ish!" Azela sangat geram pada Sandy, karena sudah membuat ketegangan di rumahnya.


"Tapi ada yang berbeda dari mu," Sandy menatap penampilan Azela yang lebih langsing dengan perut ratanya, "Em, kau sedang tidak mengandung," tebak Sandy.


Azela terdiam, ia mulai panik saat Sandy kini melihat perut ratanya.


"Kemana kandungan mu?" tanya Sandy lagi.


"Keguguran?" Sandy menatap Azela penuh intimidasi, "Keguguran atau kau yang menggugurkan nya?" tebak Sandy lagi.


Pirman tidak terima jika putrinya di tuduh demikian, ia mencoba menarik kerah kemeja Sandy.


"Jangan marah tuan, coba anda lihat. Lantas tanggung jawab seperti apa yang masih anda butuh kan?" tangan Sandy menunjuk perut rata Azela, "Anak anda sedang tidak hamil!" Sandy menepis tangan Pirman yang ingin memegang kerah kemeja nya, "Kita tidak ada urusan lagi, dan saya permisi," pamit Sandy dengan sinis.


"Sandy," teriak Azela memanggil nama Sandy dengan kencang, "Papa, Azela maunya sama Sandy," keluh Azela pada Pirman.


"Kau akan mendapatkan apapun yang kau inginkan," kata Pirman dengan yakin.


***


Ting.


Ponsel Rika bergetar, menandakan ada pesan yang masuk pada ponselnya. Cepat-cepat ia meletakkan sisir rambut yang tengah ia pegang, lalu beralih menatap ponselnya.


[Mas jemput,] Mas Sandy.


Rika sejenak diam sambil berpikir keras namun, tiba-tiba pintu terbuka.

__ADS_1


"Adik ipar, apa kau punya kapas pembersih wajah?" tanya Lala sambil melenggang masuk, bahkan tanpa ijin dari Rika. Akan tetapi Rika dan Lala tidak masalah, karena keduanya terbiasa melakukan hal demikian.


Seketika otak Rika kembali bekerja dengan baik, ia langsung membalas pesan dari Sandy.


[Tunggu Rika di taman kompleks,] Rika.


Setelah mengirimkan pesan, Rika beralih menatap Lala dengan senyuman.


"Aku tahu apa mau mu!" tebak Lala saat melihat senyuman Rika yang terlihat begitu cantik, sambil tangan Lala bergerak mengambil apa yang ia cari pada meja rias Rika.


Rika tersenyum saat Lala dapat membaca exspresi wajah nya, seketika ia memeluk lengan Lala, "Kau memang baik Kakak ipar," puji Rika.


"Kau saja yang baru sadar!" jawab Lala dengan angkuhnya.


Rika memutar bola matanya dengan jenuh, "Kau sudah kertularan sombongnya Kak Dimas, makanya jangan kebanyakan dekat sama dia!" celetik Rika.


"Kalau aku enggak dekat sama dia, kamu tidak bisa begini ya!" jawab Rika tidak mau kalah.


"Hehe...." Rika mangguk-mangguk, karena kata-kata Lala sangat benar, "Makanya aku setuju kamu pawangnya."


"Pawang-pawang, tapi ia juga ya," Lala mangguk-mangguk sambil berpikir.


"Apa nya yang ia juga?" tanya Rika penasaran dan tidak mengerti.


Lala memutar leher menatap Rika, "Ular Kakak memang butuh pawang!" seloroh Lala.


Plak!


Rika kesal dan langsung memukul pundak Lala, "Enggak kamu enggak Tari, sama aja. Otak kalian itu udah tercemar!" geram Rika.


"Em, yakin otak kamu masih polos," ejek Lala.


"Maksudnya?"


"Aku lihat lho.....kemarin sore kamu dan Sandy di...." mulut Lala langsung di tutup oleh Rika.


"Suuuttt...." Rika meletakan telunjuknya di depan bibirnya.


Lala tersenyum, "Tapi aku lihat apa?" tanya Lala lagi, ia kemudian menatap Rika penuh intimidasi, "Ayo.....?.Aku cuman ngomong asal lho tadi, tapi kayaknya?" ejek Lala.


Rika seketika merasa emosi, karena ternyata barusan Lala sedang menjebak dirinya dengan berpura-pura tahu.


"CK!" Lala berdecak, ia melihat Rika dengan mengejek, "Jangan kelewat batas ya, aku dulu sama Kak Dimas tidak ada melakukan hal aneh-aneh sebelum kami menikah, tapi memang waktu itu terjadi insiden tidak menyenangkan tapi itu bukan karena di sengaja. Dan belum tentu semua pria itu sama seperti Kakak mu yang bertanggungjawab!" kata Lala dengan yakin, kemudian ia keluar dari kamar Rika.

__ADS_1


__ADS_2