
Dimas kini tahu alasan mengapa Lala begitu tertekan, dan juga tidak bisa lepas dari bayang-bayang rasa takutnya. Karena ia pikir kesuciannya sudah direnggut paksa oleh pada dua orang bajingan jalanan saat itu, wajar saja ketakutan Lala tidak bisa hilang. Bagaimana pun itu adalah mahkota satu-satunya dalam hidup, dan di ambil oleh orang yang tidak bertanggungjawab.
Dimas masih menatap wajah Lala yang menunduk karena menangis, ada rasa bersalah di hatinya karena ia juga salah satu dari pria bajingan yang merebut paksa kesucian seorang wanita. Namun Dimas pun tidak berniat begitu, semua itu terjadi karena di luar dugaannya. Bahkan ia juga tidak menyangka bisa menjadi lelaki bejat.
"Aku minta maaf ya," kata Dimas lagi.
Lala tidak tahu harus menjawab apa, tapi semua terasa sangat menyakitkan sekali. Lala tahu jika ia masih mencintai Dimas, namun bagaimana dengan Dimas. Mungkinkah Dimas mencintainya, "Hiks.....hiks.....hiks......" tangisan Lala lagi-lagi pecah, mengingat Dimas pernah terang-terangan mengatakan tidak tertarik pada wanita seperti dirinya. Lala tidak ini lagi merasa tersakiti untuk yang kesekian kalinya.
"Hey," Dimas menangkup wajah Lala, manik matanya menatap bola mata milik Lala. Dimas tahu ada luka yang cukup dalam di sana, "Aku minta maaf, aku pun akan menikahi mu," tutur Dimas dengan yakin.
Lala kini juga menatap manik mata Dimas, mata yang di penuhi cairan bening itu mencari jawabannya di sana. Tapi tidak tahu Lala tidak mengerti akan jawabannya apa, hatinya masih terlalu sakit dan sulit untuk berdamai dengan keadaan yang terus membuat hidupnya dalam keterpurukan.
"Jangan menangis lagi," pinta Dimas lagi, "Aku mohon, jangan menangis lagi," kata Dimas lagi, "Apa kau mau aku nikahi saat ini juga agar yakin bahwa aku akan benar-benar bertanggungjawab?" tanya Dimas lagi, ia takut hal itu yang membuat hati Lala menjadi gundah.
Lala menggeleng dan melepas tangan Dimas yang menangkup wajahnya, "Tidak usah menikah Pak, aku tidak apa-apa," kata Lala tetap berusaha untuk kuat, untuk apa menikah lagi kalau harus berpisah kembali. Lala tidak ingin menjadi janda untuk yang ke sekian kalinya, apa lagi jika menikah lalu bercerai kembali dengan Dimas mungkin akan membuat nya benar-benar gila.
"Kenapa?" tanya Dimas, sambil ia menatap manik mata indah Lala.
"Aku tidak ingin bercerai untuk yang kedua kalinya," jelas Lala sambil mengusap air matanya dengan kasar.
Dimas terkejut dengan jawaban Lala, apakah Lala berpikir jika ia menikahi hanya karena apa yang sudah terjadi.
"Tidak usah menikah Pak, itu terjadi juga karena Pak Dimas tidak sadar. Dalam pengaruh obat, aku tidak apa. Mungkin jalan hidup ku memang sudah begini," kata Lala lagi.
Dimas hanya diam dan tidak menyangka Lala menolak untuk menikah, "Bagaimana kalau nantinya kau hamil?" tanya Dimas, "Aku tidak ingin anak ku terlahir sebagai anak haram."
Lala terkejut dengan kata yang di ucapkan oleh Dimas, ia memang tidak berpikir sampai di sana. Tapi percayalah Lala tidak ingin tersakiti lagi, menikah hanya membuat luka yang nantinya perlahan membunuh nya.
__ADS_1
"Aku tidak mau menikah," kata Lala lagi, "Hiks....hiks.....hiks....."
"Kenapa?" tanya Dimas sambil mengangkat kembali dagu Lala.
"Hiks....hiks....hiks....." Lala kembali menangis dan ia tidak tahu harus mengatakan apa, ia berdiri dan ingin mengambil obat miliknya.
"Sudah aku katakan jangan telan obat itu lagi!" Dimas membuang obat itu cukup jauh, dan memegang lengan Lala agar tidak bisa bergerak dan mengambil obat tersebut.
"Pak Dimas jahat.....hiks....hiks.....hiks.....aku tidak mau menikah!!!" seru Lala, "Aku tidak mau menikah lagi karena terpaksa!!!" teriak Lala kini ia duduk di lantai dengan rasa sakit yang sangat dalam, "Aku tidak mau nantinya jadi benar-benar gila!"
"Tapi aku tidak terpaksa menikahi mu!" tegas Dimas agar Lala mendengar.
Lala menggeleng, "Aku tidak mau, kalau bapak takut aku hamil lebih baik aku bunuh diri saja agar bapak tidak terbeban....aku tidak ingin menikah pak Dimas," kata Lala lagi.
Dimas mendekati Lala yang duduk di lantai sambil menunduk, ia berjongkok agar bisa lebih dekat dengan Lala.
Lala diam dan dengan refleks langsung menatap Dimas, pertanyaan Dimas terdengar aneh di telinga Lala.
"Jawab, apa kau tidak mencintai ku lagi?" tanya Dimas lagi, "Apa cinta mu yang dulu untuk ku sudah hilang?" lanjut Dimas.
"Itu tidak penting!"
"Itu penting!"
"Kenapa?!" tanya Lala.
"Karena aku me cintai mu!"
__ADS_1
Deg.
Lala sangat terkejut dengan kata yang di ucapkan oleh Dimas barusan, ini tidak mungkin pikir Lala. Lala sangat tahu jika Dimas tidak pernah mencintai dirinya, ia yakin kalau pun kata itu keluar dari mulut Dimas hanya karena rasa bersalah saja. Hingga ia ingin bertanggungjawab.
"Kenapa?" tanya Dimas sebab Lala hanya diam dalam menatap nya, "Kenapa diam, tanyakan jika ada yang ingin kau tanyakan! Kita akan menikah aku tidak siap jika harus kehilangan mu untuk yang kedua kalinya!" kata Dimas lagi.
Lala masih diam mematung, bahkan saat tubuhnya perlahan melayang di angkat Dimas pun ia tidak sadar. Karena ia masih terlalu terkejut dengan pengakuan Dimas barusan, dan kini Dimas membawa Lala masuk ke dalam kamarnya. Dengan perlahan Dimas meletakkan Lala di atas ranjang, "Nanti malam kita akan menikah," kata Dimas yang ikut duduk di sisi ranjang.
Lala mulai tersadar, ia mengusap air matanya yang berlinang begitu saja.
"Jangan menangis lagi, aku akan membahagiakan mu," tutur Dimas lagi, "Kita menikah ya?"
Lala diam tidak tahu harus mengatakan apa, setelah kata cinta yang di ucapkan Dimas sungguh membuatnya menjadi diam dan bingung.
"Jangan menangis lagi," Dimas kembali menarik Lala dalam dekapan nya, dekapan yang berusaha menenangkan wanita yang sangat ia cintai itu. Sesaat kemudian Lala menjauh, tangan Dimas dengan perlahan menyisir rambut Lala yang menutupi wajahnya. Hingga kini wajah cantik itu sudah terlihat dengan jelas, "Kenapa aku baru sadar dia secantik ini," batin Dimas. Perlahan tangan Dimas kembali bergerak menarik tengkuk Lala, dengan cepat ia melahap habis bibir yang terlihat merah merekah itu. Rasanya kini ia mulai menginginkan Lala lagi, saat ia melihat rekaman cctv bersama Lala seakan menantang jiwa kelakiannya kembali lagi.
"Sssssttt......" Lala tidak sadar mendesah tak kala tangan Dimas kembali bergerak liar, tidak ada penolakan, malah menerima sentuhan Dimas yang begitu membuatnya seakan melayang.
"Ehem!!!" terdengar suara deheman, pintu kamar yang terbuka lebar hingga menampakkan dengan jelas apa yang tengah terjadi di dalam sana.
Dimas menjauh karena sadar ada orang lain, "Kau istirahat ya, nanti aku bawakan makan," kata Dimas sambil membatu Lala untuk berbaring di ranjang.
Setelah itu Dimas keluar dan melihat Arka yang ternyata barusan berdehem, Dimas baru ingat saat ia menghubungi Arka dan memintanya datang ke Apartemen karena ia membutuhkan bantuan Arka.
"Pengen Khilaf aja padahal enak," gumam Dimas, yang kini perlahan menarik pintu kamar dan melihat Arka yang tengah menatapnya penuh intimidasi.
*
__ADS_1
Jangan lupa Vote, kalau enggak Othor mau bobo sok cakep aja.