
Rembulan menghilang, Mentari mulai menampakkan sinarnya. Waktu pun kembali berlanjut dengan segala keindahannya, seperti hari ini Dimas tengah bekerja. Setelah beberapa hari ini pekerjaan nya sedikit terganggu karena beberapa hal. Tidak bisa di pungkiri kini Dimas tersadar dari perasaan cinta yang sudah terukir di hatinya, tapi sejak kapan? Dimas benar-benar tidak tahu. Tapi benar saja kini ia lebih tenang saat paginya melihat wajah Lala yang masih tertidur lelap, walaupun sedikit terasa sakit sebab luka memar yang terlihat jelas pada tubuh Lala.
Tok tok tok.
Dimas tersadar dari pikiran nya, ia menyandarkan tubuhnya dan menatap arah pintu. Sejenak ia menghentikan pekerjaannya, ia menjauh dari laptop yang menjadi teman setia dalam bekerja.
Clek.
Pintu terbuka, dan seorang wanita menampakan dirinya, "Pak Dimas, maaf mengganggu. Tapi ada tuan Dimitri yang memaksa masuk," ucap seorang sekretaris wanita, dan sedetik kemudian tubuhnya terdorong ke depan. Dan seorang pria bertubuh tegap masuk dengan memaksa, matanya yang begitu tajam terlihat jelas tertuju pada Dimas.
Dimas menatap sekretaris nya, dan ia menggerakkan tangannya meminta sekretaris itu segera keluar.
"Permisi Pak," pamit sekretaris itu dan keluar.
Dimas kini beralih menatap Dimitri, tentu saja Dimas tahu tujuan Dimitri datang ke tempat nya bekerja. Tapi Dimas tetap diam saja seolah tidak tahu apa-apa.
Tap tap tap.
Langkah kaki Dimitri perlahan mulai mengarah pada Dimas, dan kini ia berdiri tepat di hadapan Dimas dengan meja yang menjadi pemisah antara keduanya.
"Di mana istri ku?!" tanya Dimitri dengan suara tertahan, karena kini ia tengah menahan amarah yang mulai sudah menguasai dirinya.
Dimas tersenyum miring, ia santai saja dengan memainkan bolpoin pada tangannya. Bahkan ia sebenarnya ingin tertawa melihat wajah Dimitri yang penuh dengan amarah.
"Jawab saya!!" Dimitri meletakan kedua tangan nya pada meja, dan tubuhnya sedikit condong pada Dimas.
"Hehehe....." Dimas tertawa kecil, karena ia benar-benar merasa lucu akan Dimitri.
__ADS_1
"Kau berani menertawakan saya!!!" geram Dimitri yang langsung menarik kerah jas Dimas.
Tubuh Dimas tertarik ke depan, dan wajahnya menatap wajah Dimitri. Namun sesaat kemudian Dimas melepas tangan Dimitri yang mencengkram erat kerah jasnya, kemudian Dimas merapikan kembali jas miliknya. Perlahan Dimas berjalan ke arah Dimitri, dan keduanya saling berhadapan.
"Tuan Alexander Dimitri seorang Presiden Direktur Alexander company," Dimas menjeda ucapannya dan tersenyum lucu, "Coba ulangi pertanyaan mu?" tanya Dimas.
Amarah Dimitri semakin meluap, karena Dimas sepertinya kini tengah mengejeknya. Ia kembali menarik kerah jas Dimas dengan erat, "Jangan main-main!" ujar Dimitri dengan amarah.
"Lepas," Dimas mendorong Dimitri agar menjauh darinya, "Saya ini tidak bermain-main! Saya hanya bertanya! Kau bertanya di mana istri mu pada orang lain?" Dimas tersenyum miring, "Biar saya jelaskan tuan Dimitri, yang pertama saya bukan Ayah, Ibu atau keluarga nya. Yang kedua saya ini bukan polisi yang mencari orang hilang, dan yang ketiga saya ini bukan anak buah mu yang bertugas menjaga istri mu, jelas!" kata Dimas dengan tegas.
"Saya tahu kau yang menyembunyikan istri saya! Katakan di mana dia. Atau kau habis di tangan ini!" ancam Dimitri.
"Saya ini hanya nyamuk tuan Dimitri, saya ini hanya nyamuk bagi mu. Sekali tepuk mati!" Dimas mengulangi kata-kata yang kemarin hari di ucapkan Dimitri dengan begitu angkuh padanya, "Lalu kenapa kau terlihat begitu emosi saat melihat saya! Apakah saya ini nyamuk yang berbahaya?"
Dimitri merasa Dimas sangat menganggap nya remeh, ia mulai melayangkan tangannya dan kini berada di udara. Namun dengan cepat Dimas menendang bagian dada Dimitri.
Dimitri terjatuh dan terhempas pada dinding, mungkin tendangan itu tidak seberapa. Tapi rasanya pasti sedikit terasa berdenyut.
"Saya bukan tidak mau berkelahi tuan Dimitri, saya sangat suka berkelahi. Tapi saya hanya ingin bertanding bila lawan sepadan, maksud saya yang sesuai usia. Saya tidak seperti mu, jagonya memukul wanita, tapi berkelahi dengan sesama pria kau kalah. Kau memukul wanita tentu saja tidak ada perlawanan, kalau kau lelaki cari juga kaki-laki," kata Dimas sambil tertawa kecil.
Dimitri kembali berdiri, tentu saja ia sangat terhina dengan kata-kata yang di ucapkan oleh Dimas, "Saya akan membuat mu menyesal, berlutut dengan memohon ampun!"
"Saya yang akan membuat anda menyesal, karena saya pun tidak akan pernah diam saja!" tantang Dimas.
"Cepat katakan di mana istri saya!"
"Saya tidak tahu, kalau pun tahu saya tidak akan pernah memberi tahu pada anda!" tegas Dimas.
__ADS_1
"Apa yang kau harapkan darinya, dia itu wanita yang sudah bersuami! Apa kau tidak bisa mencari wanita lain di luar sana?" Dimitri tahu Dimas pasti tahu dimana keberadaan Lala, hingga ia terus berusaha agar Dimas mau berbicara.
"Saya katakan tidak tahu, dan bukan urusan saya!"
"Lalu kenapa kau selalu ada di saat-saat di mana Lala berada?"
"Itu hanya kebetulan!"
"Katakan di mana dia? Apa lagi yang kau harapkan darinya, dia itu sudah tidak lagi wanita yang murni. Saya sudah mengambil nya, dan sudah menikmati nya" bohong Dimitri.
Dimas terdiam, sejenak ia memikirkan apa yang di katakan oleh Dimitri. Tapi itu bukan masalah bagi Dimas, karena Lala memang sudah menikah, "Itu bukan urusan saya, terserah kau mau berkata apa! Tapi karena kau wanita yang kau sebut istri itu di lecehkan di jalanan tengah malam. Dan kau masih menyebut dia itu istri mu?" Dimas menggeleng, "Seorang lelaki yang pantas di sebut suami adalah dia yang bisa melindungi wanita nya, yang bisa membuat wanita nya nyaman bukan membuat nya trauma!"
"Trauma di lecehkan?" tanya Dimitri bingung.
"Ahahahhaha.......kau bilang saya hanya nyamuk, dan kau adalah orang yang sangat berbahaya. Tapi baru sampai di sini kau sudah bingung!" ejek Dimas, "Baik lah tuan Alexander Dimitri, saya sedang sibuk karena saya ini orang susah jadi harus rajin bekerja ya, dan saya tidak punya banyak waktu. Pintunya ada di sebelah sana!" Dimas menunjuk arah pintu.
Dimitri mengepalkan tangannya, "Kau berani mengusik ku!"
"Iya!" kata Dimas dengan tegas, "Silahkan keluar!" titah Dimas lagi.
"Saya pastikan kau akan menyesal, karena sudah berani ikut campur dalam urusan rumah tangga ku, karena sudah lancang berbicara pada ku!" geram Dimitri dengan nada mengancam, bahkan jari telunjuknya mengarah pada wajah Dimas. Setelah mengatakan itu Dimitri pergi begitu saja.
Dimas tersenyum miring dan menatap pintu setelah Dimitri keluar, "Kita lihat siapa yang nantinya akan menyesal, kau pikir aku diam saja. Aku juga bisa bermain cantik, nyamuk!," gumam Dimas sambil tersenyum, karena Dimas tidak pernah lupa dengan kata-kata Dimitri yang menyebutnya hanya seekor nyamuk, "Jangan salah walaupun nyamuk tapi nyamuk DBD masih sangat meresahkan sampai saat ini!" ujar Dimas dengan rencana-rencana yang sudah tersusun rapi di otaknya.
*
Banyak Vote Othor lanjut.
__ADS_1