Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 102


__ADS_3

Sandy terus berjalan mencari kamar mandi, selain ingin muntah juga ingin mencuci wajahnya yang terasa sedikit panas.


Tetapi tanpa di sengaja malah berpapasan dengan Rika yang datang dari arah yang berlawanan.


Rika sedikit terkejut melihat Sandy, tetapi ia memilih untuk menunduk agar tidak bertemu pandang.


Lewat begitu saja seakan keduanya tidak pernah saling mengenal, tanpa ada yang menyapa dari salah satu nya.


Huuuufff.


Rika menarik napas panjang, seakan baru saja udara sudah tidak berpihak pada nya karena kehadiran Sandy berada di dekatnya.


"Kenapa?" tanya Lala saat melihat raut wajah aneh Rika.


"Tau nih anak, udah kayak jumpa setan aja!" imbuh Mentari.


"Emangnya kenapa?" tanya Rika bingung.


"Wajah kamu kenapa? Aneh banget!" gerutu Lala.


"Caelah Kakak Ipar, lu sekarang galak amat sih?" ujar Rika.


"Berhenti pakai bahasa lu gue, bisa dijitak aku sama Kak Dimas mu," kata Lala memberikan peringatan.


Sekalipun Lala kini terlihat galak tetapi, rasa hormat nya pada Dimas tidak berkurang. Mungkin jika berdua saja mulutnya bisa berbicara sesukanya tapi, tidak di hadapan orang-orang di luar sana.


"Tau nih anak, kamu tau?" tanya Mentari.


"Enggak!" jawab Rika dengan enteng.


Peltak!


Mentari langsung menyentil jidat Rika.


"Sakit!" kesal Rika.


"Makanya dengerin!" geram Mentari.


"Ap-" leher Rika bagaikan tercekik, karena Sandy kembali melewati mereka.


Mentari dan Lala juga merasa bingung, seketika mereka mengikuti arah pandang Rika.


Keduanya langsung tahu mengapa Rika mendadak diam dan setelah Sandy berlalu tanpa satu patah kata pun Lala dan Mentari mulai menatap Rika.


"Jadi nggak kita jalan-jalan malam ini?" tanya Lala.


Lala tidak ingin mengejek Rika dengan Sandy begitu juga dengan Mentari, karena keduanya tidak ingin membuat Rika semakin bersedih.


Sekalipun Rika hanya terlihat diam tetapi, Lala dan Mentari tahu perasaan Rika.


"Jadi dong, besok kan kita udah puasa," jawab Mentari menunjukkan raut wajah bahagia.


"Ayo lah," Lala langsung merangkul kedua sahabatnya dan berjalan menuju ruang kerja Dimas, menemui dua pria yang akan membawa mereka jalan-jalan.

__ADS_1


"Kakak," Mentari langsung masuk dan bergelayut manja di lengan suaminya.


Sekalipun keduanya sudah memiliki dua bayi kembar tetapi, kemesraan tidak pernah berkurang. Apa lagi keduanya terus seperti pengantin baru, karena baby twins selalu bersama Oma nya.


"Aa, jadi jalan-jalan nggak?" tanya Lala dari ambang pintu.


Dimas tersenyum lembut, kemudian mengangguk, "Kamu ganti baju dulu, pakai jaket, ini sudah malam," ujar Dimas.


"Siap bos," Lala dengan bahagia menuju kamar, mengganti baju dan memakai jaket sesuai dengan perintah Dimas.


Kali ini Dimas dan Arka memutuskan untuk pergi hanya dengan menggunakan satu mobil saja, agar membuat suasana menjadi lebih berbeda.


"Lala, aku enggak usah ikut kali ya," kata Rika dengan ragu.


Rika sebenarnya ingin ikut tetapi, saat Sandy juga ikut membuatnya merasa tidak nyaman dan mungkin keputusan yang tepat adalah tidak ikut.


Lala dan Mentari menunjukkan wajah kecewanya, "Harus ikut!" tegas Lala.


"Tapi aku enggak enak badan," kata Rika memberi alibi.


"Bohong!" timpal Mentari sambil menarik Rika untuk masuk kedalam mobil.


Dengan terpaksa Rika ikut juga sebab, terlalu sulit untuk menolak.


Sandy mengemudikan mobil, dengan Rika yang duduk di sampingnya.


Arka duduk di kursi bagian tengah bersama dengan Mentari.


Lala dan juga Dimas duduk di kursi paling belakang, dengan tangan Dimas yang terus menerus berada di perut Lala.


Sekalipun Mentari melihat ke depan bukan melihat Lala yang duduk di jok paling belakang, tetap saja Lala tahu maksud dari pertanyaan Mentari.


"Lumayan lah, rasanya juga ngeri-ngeri sedap," celetuk Lala.


"Ahahahhaha," Mentari tertawa lucu, sambil melihat Rika yang duduk begitu tegang berusaha agar berjauhan dengan Sandy.


"Hareudang," tambah Lala lagi.


"Ahahahhaha," tawa Rika dan Lala seketika menggelegar.


"Sayang," tegur Dimas.


Lala merasa memiliki ide, mungkin terdengar konyol tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba.


"Aa," wajah Lala terlihat masam.


"Apa?" tanya Dimas.


Lala menatap mata Dimas begitu juga dengan sebaliknya, akan tetapi semakin lama Lala semakin mendekat hingga Dimas menutup mata menantikan wajah Lala yang semakin mendekati.


Setelah berjarak beberapa inci Lala tidak lagi mendekat, hanya saja malah menatap Dimas dengan wajah bingung.


Dimas cukup lama menunggu sampai akhirnya membuka mata, dan melihat jarak wajah kedua nya sangat dekat.

__ADS_1


"Aa kenapa?" tanya Lala bingung.


"Memangnya kenapa?" tampaknya otak Dimas juga tidak bisa bekerja sebagai mana biasanya, hingga harus ada pertanyaan konyol yang terlontar dari bibir nya.


Lala kesal dam langsung menarik bibir Dimas.


"Sakit."


"Biarin!"


"Dasar!" gumam Dimas, "Terus kamu ngapain maju-maju?"


Lala langsung menjauh dan memicingkan matanya.


"Maaf," Dimas takut, dengan refleks langsung memeluk Lala sambil tersenyum renyah. Takut istri nya malah marah, cukup jera saat Lala terus saja marah padanya.


Lala mendekatkan mulutnya pada telinga Dimas, "Lala lagi pengen liat Rika sama Sandy gandengan. " Bisik Lala. Sesaat kemudian Lala menjauh sambil melihat raut wajah Dimas.


Dimas menatap dengan datar kemudian kembali mendekati Lala agar tidak ada siapa pun yang mendengar kata-kata mereka, "Jangan aneh-aneh, Sandy itu sedang masa percobaan," bisik Dimas.


Lala mangguk-mangguk, artinya Dimas sudah memberikan restu pada Sandy untuk mendekati Rika. Hanya saja Dimas sedang ingin melihat seperti apa kesungguhan Sandy.


"Aa, tapi Lala serius pengen lihat mereka gandengan," rengek Lala.


"Siapa yang gandengan?" tanya Mentari karena suara Rika yang cukup kencang.


Sampai akhirnya mobil terparkir di sebuah pasar malam yang begitu meriah. Tiga wanita dan tiga pria turun dari atasnya.


"Aa, Lala pengen lihat Sandy sama Rika gandengan," rengek Lala lagi dan suara keras dengan manja sambil menunjuk Rika yang berdiri tidak jauh dari nya.


Glek.


Rika mendengar dengan jelas keinginan Kakak iparnya, tetapi justru membuatnya merinding.


"Lala, jangan aneh-aneh!" Tegur Rika dengan mengeratkan giginya.


Lagi pula Rika juga tidak mudah untuk bergandengan tangan dengan Sandy, mengingat mereka adalah mantan kekasih apa lagi Sandy yang kini terlihat sangat dingin.


"Aa," mata Lala berkaca-kaca memohon pada Dimas.


Hal yang tidak bisa membuat Dimas dalam ke kerasnya pendirian, apa lagi rasa bersalah saat Lala pendarahan membuatnya merasa takut.


"Biasanya kalau tidak di turuti bahaya, bisa ngiler," timpal Mentari seakan menambah bumbu menjadi semakin panas.


Dimas hanya diam saja, tidak mungkin meminta Sandy untuk menggandeng adiknya, "Ayo," Dimas langsung membawa Lala berjalan masuk menuju pasar malam.


"Tunggu dulu, Lala mau lihat Sandy sama Rika gandengan," rengek Lala lagi.


Dimas hanya diam saja, tetapi ia pun tidak marah jika Sandy menggandeng adiknya. Mengingat pasar malam sangat ramai dan takut banyak preman yang malah berbuat tidak senonoh.


Mentari langsung menarik Rika mendekati Sandy, kemudian memegang tangan Sandy dan keduanya saling berpegangan.


"Awas kalau di lepas, aku nangis di tengah keramaian ini," ancam Lala.

__ADS_1


"Sayang kenapa kamu memegang tangan lelaki lain?" geram Arka cemburu.


__ADS_2