Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Sahabat Selamanya


__ADS_3

Perlahan tangan Lala mulai bergerak, kelopak mata nya pun mulai bergerak. Dan sedetik kemudian mata nya mulai terbuka, walau masih terlalu sulit.


"Lala kamu udah sadar?"


Mentari tersenyum saat melihat Lala yang sudah sadarkan diri, bibirnya tertarik ke masing-masing sudutnya. Tapi tetap saja air matanya mengalir begitu saja, beberapa kali Mentari mencoba menahan air mata itu. Tapi sulit sekali, wajah Lala yang pucat seakan membuatnya semakin terluka.


"Kamu mau apa?"


Rika juga tidak kalah sedih melihat sahabatnya yang kini terbaring lemah, tidak pernah terlintas di benaknya melihat Lala kini begitu memprihatinkan. Lala yang selalu ceria seketika berubah menjadi wanita yang murung penuh air mata, karena luka yang begitu dalam. Dan bodohnya ia tidak pernah tahu tentang penderitaan sahabat nya sendiri.


"Tari.... Rika," kata Lala dengan suara lemahnya, ia cukup terkejut melihat dua sahabatnya di sana, "Kalian di sini?"


Mentari dan Rika menatap Lala, keduanya tidak kuasa menahan air mata.


"Hiks...hiks....hiks...."


Tangis Mentari dan Rika pecah dan keduanya dengan cepat memeluk Lala, perasaan Lala yang terluka juga ikut di rasakan oleh Rika dan Mentari.


"Aku enggak papa," ujar Lala dengan bibir yang bergetar, ia yakin kedua sahabatnya itu tahu tentang apa yang sudah ia alami sehingga keduanya menangis dengan begitu dalam.


"Kenapa kamu enggak bilang ke kita, kenapa kamu enggak cerita tentang penderitaan kamu?" tanya Mentari.


"Iya, kalau kamu cerita ke kita. Kita enggak mungkin enggak bantu kamu," timpal Rika.


Lala tersenyum, "Aku cuman mau buat diri aku sedikit berguna, karena selama ini aku selalu bisanya nyusahin Ayah. Aku cuman bisa senang-senang, ngabisin uang Ayah, dan inilah waktunya aku berguna buat Ayah," jawab Lala dengan bibir bergetar mengenang wajah mendiang sang Ayah, tapi kemudian ia juga mengingat saat dua preman yang melecehkan nya, "Tapi sayang Ayah udah enggak ada, aku masih saja jadi anak yang enggak berguna. Bahkan saat-saat Ayah sangat membutuhkan aku, aku enggak ada," tambah Lala lagi penuh luka.


"Ayah mu masih hidup," ujar Dimas.


Lala seketika mencoba untuk bangun, ia cukup terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Dimas.

__ADS_1


"Kamu enggak usah bangun," Rika menahan Lala untuk duduk, sebab ia tahu keadaan Lala masih terlalu lemah.


Lala tidak lagi mencoba bangun, sebab tubuhnya memang masih sangat lemah. Tapi ia menatap Dimas dengan wajah penuh tanya, "Pak jangan bercanda," bibir Lala bergetar bahkan tubuhnya mulai berkeringat dingin.


Dimas yang duduk di sofa menatap Lala dengan serius, "Aku tidak bercanda, Ayah mu sekarang berada di Jerman. Aku yang mengirim ke sana untuk pengobatan dan untuk menyembunyikan nya sementara waktu dari Dimitri," jelas Dimas.


"Bapak serius?"


"Iya, jangan menangis lagi. Dan kau harus berusaha sembuh agar bisa melihat Ayah mu ke Jerman," tutur Dimas berusaha meyakinkan Lala.


"Tapi Ayah sudah meninggal Pak, Ayah udah di makamkan. Jangan memberikan saya harapan yang nantinya membuat saya lebih terluka Pak," ujar Lala sambil terus menangis, karena ia yakin jika Dimas berusaha untuk memberikan suatu iming-iming hingga ia memiliki gairah untuk menjalani hidup.


"Tidak, saya tidak berbohong. Apa lagi memberi mu harapan," Dimas menunjukan ponselnya, ia memperlihatkan sebuah gambar, seorang pria yang belum sadarkan diri dengan tubuh yang dipasang banyak alat medis.


"Ini Ayah saya Pak?" tanya Lala tidak percaya, "Lalu siapa yang di kubur waktu itu?" sebenarnya Lala tidak punya nyali untuk banyak berbicara dengan Dimas, rasanya sangat malu sekali setelah perjanjian nya di malam itu. Tapi apa daya, saat ini Dimas mengungkapkan fakta yang cukup mengejutkan, hingga ia tetap menahan diri dan berusaha untuk tetap tenang.


Lala mengangguk, walaupun ia masih punya banyak pertanyaan tapi ia tetap diam. Sebab yang terpenting adalah Ayahnya ternyata masih hidup. Sejenak Lala berpikir jika ternyata Dimas mencarinya pasti untuk membayar apa yang sudah di berikan Dimas, tapi Lala pasrah saja andai pun Dimas benar memintanya untuk satu malam atau lebih Lala tidak akan mengingkari janjinya, ia sudah tidak lagi suci dan menurut nya tidak ada lagi yang harus di jaga. Lagi pula ini juga suatu pengorbanan demi Ayahnya, lantas apakah ia benar sudah tidak suci lagi? Dan apakah yang sebenarnya terjadi saat itu.


"Lala, kita sayang sama Lu," Rika langsung memeluk Lala kembali begitu juga dengan Mentari.


"Sssssttt......" Lala meringis, karena ia merasa sakit. Sebab kedua sahabatnya memeluknya dengan begitu erat.


Mentari dan Rika tersadar jika Lala tengah menahan sakit, hingga keduanya cepat-cepat menjauh.


"Sakit ya?" tanya Rika sambil mengusap air mata nya.


"Enggak papa," jawab Lala, ia kini tidak ingin menjadi wanita yang manja. Lala benar-benar ingin menjadi wanita tangguh yang tidak kenal mengeluh.


"Kita sahabat selamanya, kamu harus cerita ke kita apapun yang kamu alami," kata Mentari.

__ADS_1


"Iya, makasih ya," Lala tersenyum dan merasa bahagia karena memiliki dua sahabat yang setia.


Arka yang dari tadi hanya berdiri di depan pintu mulai melangkah masuk, dan ia duduk di sofa berdampingan dengan Dimas.


"Kamu kenapa La?" tanya Rika karena ia melihat Lala yang mendadak menjadi aneh.


Lala cepat-cepat mencabut selang infus nya, dan ia membuang selimut yang menutupi tubuhnya.


"Lala kamu kenapa?" tanya Mentari panik, dan ia berusaha menahan Lala agar tidak pergi.


"Hiks....hiks....hiks....." Lala terus menangis dan ingin berlari sejauh mungkin.


"Suster!!!" seru Dimas, sebab suster yang merawat Lala sudah datang.


Seorang suster langsung masuk, dan dengan cepat ia menyuntikan obat bius pada Lala. Seperti biasa setelah di suntikan obat bius Lala langsung jatuh tidak sadarkan diri, dan suster kembali memasang infus Lala yang barusan di lepas paksa.


"Lala Kenapa Sus?" tanya Mentari tidak sabaran.


"Tidak apa-apa, hanya saja kata dokter Vera pasien kemungkinan mengalami trauma pada suatu benda. Dan saat dia tidak bisa mengendalikan diri nya," jelas sang suster.


"Trauma?" Mentari menatap suster tersebut dengan penuh tanya.


"Iya, dokter Vera juga mengatakan itu. Dan itu akibat banyak lebam di tubuhnya, di akibatkan oleh ikat pinggang. Karena memang itu yang dilakukan Dimitri, bukan mulutnya saja yang berbicara tapi juga tangannya," jelas Dimas.


"Ya ampun La, aku enggak nyangka ternyata kamu begitu menderita. Tega sekali suami mu melakukan ini," Mentari tertunduk ia merasa iba akan keadaan sahabatnya.


*


Jangan lupa like dan Vote.

__ADS_1


__ADS_2