
Rika sudah mendengar semuanya dari bibir Sandy, bahkan ia percaya sepenuhnya kepada Sandy tanpa ada perasaan ragu lagi.
"Mas, Rika turun dulu ya," pamit Rika dan ingin segera turun dari mobil Sandy, karena Sandy sudah mengantarkan dirinya sampai di depan kampus.
"Sayang," Sandy begitu berat untuk membiarkan Rika turun, sebab ia sudah ingin terus bersama dengan Rika, "Setelah masalah ini selesai kita menikah ya," pinta Sandy.
Rita mengangguk setuju pada kata-kata Sandy, agar keduanya bisa terus saling melengkapi satu sama lainnya, "Rika turun ya Mas, takut telat," Rika menatap jam yang melingkar pada pergelangan tangannya.
"Tunggu dulu," Sandy lagi-lagi menahan lengan Rika.
Rika mendesus kesal, dengan malas Rika kembali melihat Sandy, "Ada apa lagi Mas?" tanya Rika, "Takutnya Rika telat," geram Rika.
"Janji ya jangan tinggalkan Mas," pinta Sandy lagi.
"Iya, kan dari tadi udah Rika bilang."
Sandy mengangguk, dan ia mulai melepaskan tangan Rika.
"Ini beneran Rika udah boleh turun kan?" tanya Rika agar lebih jelas, karena dari tadi ia ingin turun tapi Sandy selalu menghalangi dirinya.
"Jangan dulu," kata Sandy sambil menunjuk bibirnya.
Rika memicingkan matanya, kemudian ia mencoba mendekatkan wajahnya. Namun, sedetik kemudian Rika kembali mundur.
"Enggak ada papa kok Mas," kata Rika dengan polosnya.
"Ya ampun, apa dia sok polos atau benar-benar polos," gumam Sandy.
"Mas ngomong apasih?" samar-samar Rika mendengar mulut Sandy seperti mengomel, tapi ia juga tidak mendengar dengan jelas.
"Ini yang ini," Sandy lagi-lagi menunjuk bibirnya agar mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Apasih enggak jelas banget!" Rika langsung mengambil sebuah buku yang terletak pada dasboard, dan meletakkan nya pada wajah Sandy, "Dah ah...Rika mau turun!" Rika langsung turun dan menutup pintu mobil, kemudian ia langsung masuk.
Sandy menggaruk kepalanya, karena Rika yang tidak tahu akan apa yang ia mau, "Apa dia tidak paham ya? Aku kan minta sedikit sarapan pagi," gerutu Sandy dan ia mulai menyalakan mesin mobilnya lalu pergi menuju rumah sakit.
Setelah Sandy pergi Dimas mulai memarkirkan mobilnya, kemudian ia melihat Lala yang duduk di samping nya.
__ADS_1
"Hatcii....." Lala berulang kali menggosok hidungnya, karena pagi ini ia sudah berulangkali mandi dan itu demi adik iparnya Rika.
Dimas tersenyum melihat istrinya yang terus saja bersin-bersin, "Pagi ini kau sangat menggoda, apa kau sangat candu pada suami mu yang tampan ini?" goda Dimas sambil mencolek dagu Rika.
Wajah Lala seketika memerah, semua itu ia lakukan karena Rika.
"Sering-seringlah mencari pahala ya sayang," kata Dimas lagi.
"Aa ish...." Lala langsung mengibaskan tangan Dimas, karena wajahnya yang sudah memerah menahan malu. Bayangkan saja pagi ini ia dengan sengaja mengajak Dimas beribadah, dan itu baru terjadi di pagi hari ini.
"Tapi Aa suka, kau manis sekali. Nanti malam jangan lupa pakai gaya terbaru ya," Dimas langsung turun dari mobil, ia sebenarnya masih ingin menggoda istri bocahnya. Tapi waktu sudah tidak mengijinkan dirinya untuk terus bersantai berlama-lama.
Saat di kampus Lala dan Dimas seakan tidak saling mengenal satu sama lainnya, jika pun mereka kenal hanya saling bertegur sapa seperti dosen dan mahasiswa lainnya. Rencana Dimas masih sama, yaitu mencari keberadaan Dimitri yang masih terus ada di sekitar Lala dengan penyamaran yang cukup tersembunyi.
"Hatcii...." Lala langsung duduk di kursi dengan Rika yang berada di sampingnya.
Rika melihat Lala yang terus saja bersin-bersin, bahkan sampai mengenai wajah nya, "Jorok banget sih!" kesal Rika kemudian ia menjadikan baju Lala sebagai lap untuk wajahnya.
"Ini gara-gara kamu!" jawab Lala yang tidak mau kalah.
"Karena aku harus bikin Kak Dimas mu itu hanya fokus pada ku, tanpa memikirkan mu! Dan kau bisa berangkat ke kampus dengan kekasih mu itu!" jelas Lala dengan kesal.
"Mmmmfffffpp..." Rika menutup mulut sambil terus menahan tawa.
"Puas?" sergah Lala.
Rika seketika menghentikan tawanya dan memeluk Lala dari samping, "Terima kasih banyak sayang ku," kata Rika sambil terus memeluk gemas.
"Aduh udah dong," Lala langsung melepas dirinya karena Rika memeluknya sangat kuat, "Remuk aku gara-gara Kakak mu itu, apa kau tahu!" geram Lala.
"Caelah, dulu aja kamu ngebet banget pengen sama Kakak aku. Sekarang kok malah begini? Udahlah istri Soleha itung-itung berbakti sama suami," kata Rika lagi dengan wajah bahagia, karena bantuan Lala ia bisa berangkat ke kampus di antar Sandy.
Seorang dosen datang, semua mulai diam dan menatap ke depan termasuk juga Rika dan Lala.
"Aku kok ngerasa ada yang beda," bisik Rika pada Lala.
"Apa?" tanya Lala dengan suara pelan dan matanya hanya melihat Dimas yang berdiri di depan sana.
__ADS_1
"Wangi banget, bau shampoo ini kayaknya," celetuk Rika sambil cekikikan.
Lala dengan refleks langsung melihat Rika, kemudian ia berbisik, "Habis satu botol shampoo, gimana enggak wangi."
Rika langsung melebarkan matanya saat mendengar jawaban Lala, ia ingin sekali melihat Lala tertawa, apa lagi Rika melihat sahabatnya yang sudah mulai ceria lagi seperti saat dulu.
"Enakan di atas apa dibawah?" tanya Rika asal.
Lala merasa Rika kini tengah menantang dirinya, "Dimana-mana enak, apa lagi kalau depan jomblo kayak kamu."
Rika langsung tersenyum sinis, "Sorry sayang, aku udah punya pacar," jawab Rika dengan angkuhnya.
"Sombong amat, baru juga pacar!" Lala langsung mengetuk kepala Rika.
"Aduh, enggak suaminya enggak istri nya sama aja!" gerutu Rika.
"Ehem......" Dimas mulai berdehem karena dari tadi ia melihat Rika dan Lala terus berbicara, "Saya tidak suka ada yang tidak mendengar ketika saya sedang bicara! Silahkan keluar!" Dimas menunjuk pintu keluar pada Rika dan Lala.
Rika dan Lala saling melihat, keduanya merasa kesal pada Dimas.
"Maaf Pak," kata Lala dengan wajah takut.
"Ngapain minta maaf, entar di rumah kamu enggak usah mau kalau dia minta ibadah," bisik Rika kesal.
Mata Lala melebar saat mendengar bisikan Rika, ia hanya menatap Dimas yang berdiri di depan sana. Tentu saja Lala tidak berani berbicara seperti yang di ajarkan oleh Rika, karena ia sangat menghargai Dimas sebagai seorang suami.
"Kenapa masih di sini! Cepat keluar!" kata Dimas lagi.
"Maaf Pak," kata Lala dengan wajah ingin dikasihani.
"Kenapa dia semakin manis, dan aku jadi gemas," batin Dimas, wajah Dimas memang datar. Tapi ia sedang menahan tawa melihat wajah istrinya yang lucu, karena tidak tega akhirnya Dimas tidak lagi meminta Rika dan Lala keluar, "Setelah kelas selesai datang keruangan saya!"
"Huuuufff....." Lala menarik nafas dengan berat dan menatap Rika.
"Mmmmfffffpp....." Rika menutup mulut dengan kuat, ia tahu Lala sepertinya akan di hukum lagi.
"Kau akan mendapatkan hukuman nanti," batin Dimas.
__ADS_1