Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 99


__ADS_3

Lala diam sambil terus menyendok nasi goreng, beberapa kali ia terus mengisi piring.


"La?" Rika menatap Lala dengan penuh tanya, rasanya cukup aneh saat melihat porsi makanan Lala yang cukup banyak.


Lala terus mengunyah nasi pada mulutnya, sambil beralih menatap Rika. Mulut yang penuh membuatnya tidak bisa berbicara.


"La kamu masih sadarkan?" tanya Rika dengan hati-hati, "Maksud aku, kamu enggak biasanya begini," imbuh Rika lagi.


"Adek," Mama Yeni menegur Rika, karena menurutnya wajar saja jika wanita hamil makan dengan porsi yang banyak.


"Em, lagi," Lala tidak bisa berbicara lagi, mulutnya yang penuh membuat hanya bisa menggeleng saja.


"Sayang, Rika bener lho.....kamu serius makan sebanyak itu?" timpal Dimas.


Dimas juga merasa aneh, tetapi tidak berani bertanya. Namun saat Rika bertanya ia juga mengutarakan pertanyaan.


Lala meletakan sendok di tangannya pada piring, kemudian menatap Dimas dengan tajam,.


"Kalau Aa takut abis uang karena Lala makan banyak, Lala enggak akan makan lagi. Lala cari uang sendiri," seketika Lala bangun dari duduknya.


"Sayang," Dimas mendadak panik, berdamai dengan Lala begitu sulit, bahkan sampai saat ini saja tidak ada yang benar di mata Lala jika ia berbicara.


"CK!"


Lala langsung pergi tanpa perduli pada Dimas yang terus memanggil dirinya.


"Karma di bayar tunai!" ejek Mama Yeni.


Dimas menatap kesal pada Mama Yeni, bahkan seakan bahagia dengan penderitaan.


"Mama apasih!" kesal Dimas sambil meneguk air putih.


"Mama tahu Lala tidak ketus, tapi Dia begitu karena bawaan bayi yang mungkin sedang balas dendam ke kamu!"


Dimas meninju udara, lalu pergi. Dari pada mendengar ejekan Mama Yeni yang tiada hentinya.


Entah berapa banyak lembaran tisu yang habis, tetapi mulai dari ambang pintu sampai di atas ranjang hanya ada tisu yang berserakan.


"Sayang, maaf."


"Maaf....maaf! Lala mau cari uang sendiri saja, Lala enggak akan makan uang Aa lagi!"


"Sayang bukan begitu."


Ponsel Dimas berdering, seketika ia menuju ruang kerja karena ada Arka yang sudah datang.


Dimas melihat Arka duduk dengan santai, wajah lesu Dimas begitu terlihat. Kemudian duduk di sofa saling berhadapan dengan Arka.


"Lemas banget, abis berapa ronde?' seloroh Arka.


"Ronde apaan? Sampai sekarang Lala selalu emosi bila melihat ku!" Dimas mengetuk dahi dengan jemari berharap bisa mengurangi rasa pusing nya.

__ADS_1


"Memangnya kau tidak mengikuti saran ku?"


Dimas mulai melihat Arka dengan serius, "Apa kau serius dengan kata-kata mu?" Dimas mulai penasaran, jujur saja saat ini Dimas ingin Lala tidak terus menganggap nya musuh.


Arka bersandar dengan santai, "Kau pikir aku bercanda?" tanya Arka kembali, "Aku serius, aku sudah sangat berpengalaman kalau masalah istri hamil."


Dimas semakin tertarik, seketika ia mencondongkan tubuhnya kearah Arka, "Kasih tips, buat meluluhkan hati istri saat marah?"


"Kalau aku mendengar keluhan mu pagi tadi, aku yakin istri mu sedang ingin," Arka menyatukan kedua telapak tangannya, "Kalau di tolak, kamu terus dekati. Biarpun dia maki-maki diem aja, tetap fokus pada Dia. Keluarkan rayuan maut. Lama-lama juga Dia mulai luluh, setelah itu di jamin dia yang paling ganas," jelas Arka, karena selama ini ia tidak pernah gagal dalam meluluhkan hati istri bocahnya.


"Ok....gue mau nyoba!"


Dimas langsung pergi, meninggalkan Arka dengan penuh kesal. Sengaja datang ke rumah Dimas karena ingin membicarakan perihal proyek, dan juga rencana menjebak Dimitri. Tetapi sampai di sana ternyata Dimas hanya meminta tips membuat istrinya jinak.


"Anak buah sialan!" gerutu Arka sambil meninju udara.


Langkah kaki Dimas terus menuju kamar, memutar gagang pintu dengan perlahan. Melihat Lala yang sepertinya akan segera pergi, melihat pakaian yang sudah tapi.


"Mau kemana?"


"Kampus!"


Dimas langsung menutup pintu kamar, kemudian menguncinya, "Ide bos mesum akan aku coba," kata Dimas dengan suara yang sangat kecil. Kemudian kembali melihat Lala, "Sayang, baru kemarin kau keluar dari rumah sakit. Sebaiknya istirahat saja ya sayang," tawar Dimas.


"Ogah!"


"Bukankah suami mu ini dosen mu?"


"Masa bodo!"


"Sayang, kita jalan-jalan gimana?" tawar Dimas sambil bersandar pada daun pintu secepat mungkin, agar istrinya tidak bisa pergi.


Lala mendesus, ia ingin menggeser Dimas. Tapi Lala juga sedang tidak ingin bersentuhan dengan Dimas.


"Sayang, tidak baik keluar rumah tanpa ijin suami," tambah Dimas sambil berusaha meluluhkan hati Lala.


"Terserah!"


"Sayang, Aa pengen tidur sambil di peluk kamu."


"Udah siang!"


Dimas cepat-cepat memeluk Lala, dan tidak perduli akan penolakan Lala. Sekalipun Lala terus mengeluarkan kalimat cacian, tapi tidak sedikitpun Dimas terpancing.


"Sayang kangen," Dimas langsung mengangkat Lala dan membawanya ke atas ranjang.


"Ish!" Lala meronta-ronta ingin di lepaskan.


"Aa, kangen banget."


"Apa sih, dasar gila!"

__ADS_1


"Iya Aa tergila-gila pada mu sayang," tangan Dimas langsung mengelus perut istri nya, sesuai dengan tips yang di berikan oleh Arka, "Teori udah, tinggal praktek. Gampang," batin Dimas.


"Aa apasih," Lala mendorong dada bidang Dimas, tetapi Dimas berusaha menjadi kebal karena Lala pun sepertinya menerima.


"Anak Papi," Dimas mengecup perut Lala sampai beberapa kali.


Karena hanya mulut Lala yang komat kamit, Dimas merasa di atas angin saat suara Lala yang berusaha menahan suara manja nya.


"Aa, apasih!"


"Enggak ada apa," jawab Dimas santai, "Memang nya kenapa?" goda Dimas sedikit menjauh agar melihat wajah Lala.


Dengan gerakan cepat Lala turun dari atas ranjang, tetapi Dimas juga tidak kalah cepat.


"Ayo mau kemana?"


Lala mengibas-ngibaskan tangannya, sambil tersenyum sinis.


"Mau kemana cantik?" Dimas mengusap kepala Lala, dengan berdiri di daun pintu agar istrinya tidak bisa keluar.


"Apasih!"


Dimas menaik turunkan alis nya, semakin merasa terhibur melihat istrinya yang kesal padanya. Bahkan Dimas juga merasa sudah menyia-nyiakan kesempatan selama ini.


Karena dulu keinginan Dimas adalah seorang wanita dewasa, yang mengerti akan dirinya.


"Kenapa aku baru sadar ternyata selama ini aku memiliki bidadari yang sangat cantik ya," goda Dimas.


Blush!


Seketika rasa panas bercampur perasaan malu datang, wajah Lala seketika memerah karena sudah tidak sanggup dengan godaan Dimas.


"Merah."


Lala langsung memukul tangan Dimas yang mencolek dagunya.


"Hehehe....." Dimas terkekeh geli, istrinya terlihat marah tapi juga malu karena godaan nya, "Kamu mau kuliah?"


"Iya!"


"Kuliah atau di peluk seharian, di ajak jalan-jalan. Kalau enggak salah ada pasar malam apa ya?"


Lala terdiam dan mulai menimbang penawaran Dimas, sebenarnya masih terasa gengsi. Tetapi ia juga ingin pergi.


"Ya udah, kuliah saja ya sayang ku," Dimas berpura-pura akan pergi.


"Aa," Lala langsung memeluk Dimas, hingga tidak bisa pergi kemana-mana.


"Ide dari senior manjur," gumam Dimas penuh kemenangan.


"Aa, Lala sama Aa aja deh," kata Lala dengan manja, sambil terus melingkarkan tangannya di pinggang Dimas.

__ADS_1


"Yakin?"


"He'um," Lala mengguk-mangguk seperti bocah yang tengah merayu sang Ibu.


__ADS_2