
Waktu makan malam tiba, semua duduk di kursi meja makan dengan bahagia. Kini semua terasa sempurna seiring dengan kembalinya keharmonisan keluarga besar.
Jika yang lainnya sibuk menikmati makan malam dengan melempar candaan maka lain halnya dengan Rika, dari tadi matanya tak bisa di ajak berkompromi dengan baik.
Bahkan saat ini saja menelungkupkan kepalanya di atas meja makan.
"Sayang, makan," Sandy mengusap punggung Rika dengan penuh kelembutan.
Semua juga tahu mengapa Rika begitu, tapi tak ada yang berani mengejek karena Adithama dan Atmaja masih duduk di meja makan, mungkin setelah Adithama bangun semua akan segera membuka bibir yang sudah gatal mengejek Rika.
"Bagaimana keputusan sidang Dimitri?" Adithama berbicara serius pada Dimas.
"Dia di vonis hukuman mati Pa, tapi dia punya satu permintaan juga," jawab Dimas.
"Permintaan?" Tanya Adithama.
"Dia mau bertemu dengan Zira," Dimas menatap Atmaja, Ayah mertuanya yang juga masih tinggal bersama dengan keluarga besarnya karena, Dimas tak mengijinkan Atmaja untuk tinggal sendirian mengingat kini pun Atmaja masih berjalan menggunakan tongkat.
Lala terdiam saat Dimas menyebutkan nama Zira, sekalipun keduanya bukan saudara kandung tapi Lala sangat menyayangi Zira dan juga Sarika.
"Jangan sedih, Aa, bakalan cari Zira dan Ibu Sarika," Dimas mengusap kepala Lala dengan penuh kasih sayang.
"Janji ya, Aa," pinta Lala penuh harap.
"Iya, Sayang," Dimas tersenyum pada Lala.
"Apa Ayah tidak ingin kembali ke perusahaan?" Tanya Dimas pada Atmaja.
Atmaja memiliki beberapa perusahaan cukup besar di bidang batu bara dan perumahan tetapi, kini semua itu di pegang kendali penuh oleh Dimas.
Akan tetapi Atmaja terlihat tak pernah bertanya apa lagi mengusiknya, Dimas kadang merasa tak enak mengingat ia bukanlah pemilik sebenarnya.
"Perusahaan itu sudah hancur di tangan Ayah, dan kamu yang membangkitkan nya kembali. Ayah di rumah saja menikmati masa tua, keinginan Ayah cuman mau rumah Ayah kembali, terlalu banyak kenangan di rumah itu," ujar Atmaja.
"Ayah, belum boleh kembali ke sana. Kecuali Ayah sudah sembuh total, lagi pula Lala nanti tidak akan tenang, apa lagi Lala sedang menantikan kelahiran anak pertama kami. Jadi Ayah di sini dulu bersama kami," jawab Dimas.
"Iya, Tuan Atmaja. Kita tinggal bersama saja, jika tidak untuk selamanya minimal sampai cucu kita lahir dan anda sehat," imbuh Adithama yang mengerti akan perasaan besanya itu, tentunya ada rasa tak enak. Tapi mereka semua bahagia bisa tinggal bersama.
"Iya tuan Adithama," Atmaja mengangguk setuju, apa lagi Lala akan segera melahirkan.
"Kalau begitu kita bercerita di tempat lainnya, kita bisa berbicara bisnis."
Adithama dan Atmaja bangun dari duduknya, keduanya pergi menuju ruang keluarga sambil bercerita bisnis atau beberapa pengalaman.
"Rika, kamu makan dulu. Kamu sudah nyenyak ya?" Tanya Mama Yeni.
__ADS_1
"Ya ampun Rika, kami semua hampir selesai makan kamu malah tidur," Lala geleng-geleng kepala karena, Rika yang lucu.
"Hay, Hay selamat malam," sapa Mentari yang baru saja datang bersama Arka.
"Ayo makan," Mama Yeni tersenyum menunjuk kursi meja makan.
Arka dan Mentari langsung duduk, bersama yang lainnya.
"Mana bocah tampan ku?" Tanya Lala, bermaksud menanyakan Sean dan Satya bocah imut anak dari Arka dan Mentari.
"Hari ini mereka sama Oma, asik main," jawab Mentari.
"Kalau dia nggak di bawa kalian ngapain datang, bosan tau lihat wajah kalian mulu!" Gerutu Lala.
"Ya, ya, ya," Mentari kesal tapi mau bagaimana lagi mereka semua memang sangat menyayangi Sean dan Satya, sampai akhirnya mata Mentari melihat Rika, "tidur di kamar kali Rika."
"Ngatuk dia, di ajak lembur semalaman!" Timpal Lala.
"Ahahahhaha.........Parah, baru juga semalam Tari mah tiap malam biasa aja ya, Kak," tanya Mentari tanpa sadar pada Arka.
"Ini salah satu keanehan menikahi bocah!" Arka mengetuk kepala Mentari dengan gemas, istrinya itu sangat mudah sekali keceplosan kalau berbicara.
"Ahahahhaha......." yang lainnya tertawa melihat wajah kesal Arka.
"Berguru nih, Ama Tari, dia tiap malam lembur juga terlihat segar," ejek Lala.
"Sudah, sudah, jangan bahas ini lagi!" Dimas ikut menimpali.
"Iya, karena yang mengejek bisa terbongkar juga aibnya," ejek Sandy tau isi otak Dimas.
"Tumben psikiater ini ilmunya di pakai sebagaimana mestinya," seloroh Dimas.
"Memangnya biasanya enggak Aa?" Lala malah penasaran, hingga membuat yang lain tertawa dan Lala di buat kebingungan.
"Ahahahhaha......"
"Lala nanya salah ya?" Lala kebingungan dan menggaruk kepalanya.
"Enggak sayang, kamu nggak pernah salah. Kalau pun kamu salah maka di anggap benar," ujar Dimas.
"Ahahahhaha........" semua semakin tertawa mendengar jawaban Dimas.
"Aa, Lala ke toilet sebentar," Lala masuk ke dalam toilet dan beberapa saat kemudian kembali lagi.
Tapi belum juga beberapa menit ia sudah kembali lagi ke toilet begitu seterusnya hingga berulangkali dan membuat Dimas bertanya.
__ADS_1
"Kamu sakit perut?"
"Mules AA, dari tadi Lala mules tapi nggak buang air juga sampai sekarang," jawab Lala.
Sesaat kemudian ia kembali masuk ke toilet dan kembali lagi beberapa saat kemudian.
"Perlu ke rumah sakit?" Tanya Dimas sambil memberikan mineral pada Lala.
Lala meneguknya dan menggeleng, belum juga duduk beberapa menit ia sudah masuk kembali ke dalam toilet.
"Sayang," Dimas panik dan ikut menyusul Lala, menunggu di depan pintu toilet.
Lala keluar dengan wajah kesal, sebab mulesnya hilang lagi.
"Masih mules?" Tanya Dimas.
"Nggak," keduanya kembali bergabung duduk di meja makan bersama yang lainnya.
"Sudah sejak kapan melesnya?" Tanya Sandy, sekalipun ia adalah seorang dokter spesialis jiwa tapi pernah menjadi dokter umum sebelumnya dan tahu sedikit tentang kehamilan.
"Sejak siang tadi," jawab Lala dan ia kembali masuk ke dalam kamar mandi.
"Itu bukan mules ke toilet, seperti kamu sudah pembukaan," jelas Sandy.
"Pembukaan?" Dimas malah penasaran, "apanya yang terbuka?"
"Ahahahhaha........" Lala tertawa mendengar pertanyaan suaminya.
"Bukan Aa, maksudnya Lala udah mau lahiran," jelas Lala.
"Apa?!" Dimas panik dan segera berdiri, kemudian mengangkat Lala dengan cepat.
"Aa, tunggu mau ngapain?"
"Katanya kamu mau lahiran, jangan sampai jatuh, sebaiknya kita ke rumah sakit!!!" Jawab Dimas panik dan segera bawa Lala ke dalam mobil.
"Aa, tunggu, dengerin Lala dulu."
Dimas langsung menyalakan mesin mobilnya dan melajukan dengan panik.
"Apa dia sudah mau keluar," Dimas menghentikan laju mobilnya dan melihat ke dalam daster Lala, "apa kepalanya sudah keluar."
"Aa, diam dan tenang!"
"Gimana bisa tenang?"
__ADS_1
Tin tin tin.
Sandy dan Rika menyusul dengan mobil lainnya, belum juga 10 meter dari rumah terlihat mobil Dimas berhenti dan Sandy bersama Rika segera turun berjalan menuju mobil Dimas.