Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 157


__ADS_3

Satu Bulan Kemudian.


Huuueekkk Huuueekkk.


Kepala Rika terasa pusing, sudah beberapa hari ini merasa tubuhnya lelah sekali. Tetapi, ia memilih diam dan tidak memberitahu kepada siapapun.


Hingga Sandy memergoki istrinya tengah muntah-muntah.


"Kamu kenapa?" Tanya Sandy sambil memijat tengkuk Rika.


Huuueekkk Huuueekkk.


Rika terus mentah dan memegang Sandy dengan erat, takut tubuhnya terjatuh karena, semakin sulit untuk mempertahankan keseimbangan.


"Sayang," Sandy segera mengangkat tubuh Rika hingga membaringkan di atas ranjang, "bentar ya, coba Mas. Periksa," Sandy segera memeriksakan keadaan Rika.


Selesai memeriksa Rika, segera keluar dari kamar tanpa bicara satu patah katapun.


Seketika Rika bingung dengan suaminya tersebut, tidak biasanya Sandy seperti itu.


Rika merasa tak memiliki kesalahan hingga membuat kecewa tetapi, mengapa Sandy malah bersikap dingin.


Seketika ia keluar dari kamar, menyusul Sandy entah kemana perginya.


Sampai di teras ia melihat Mama Yeni, dan Bunda Jihan.


"Bunda, lihat Mas Sandy barusan keluar rumah?" Tanya Rika.


"Lihat, tadi Sandy buru-buru banget pergi, baru saja," jawab Bunda Jihan.


"Kemana ya Bunda?" Tanya Rika lagi penasaran.


"Bunda nggak tahu, memangnya dia nggak pamit sama kamu?" Malah Bunda Jihan yang bertanya karena, bingung.


"Enggak," wajah Rika terlihat lesu, seketika kembali masuk dengan perasaan kecewa.


Kembali ke kamar mengambil ponsel untuk menghubungi Sandy.


Sayangnya tak ada jawaban hingga membuat Rika semakin kesal, akhirnya ia menangis dengan keras karena, kecewa pada Sandy.


Tok tok tok.


Lala mengetuk pintu, mendengar suara tangisan saat melewati kamar Rika membuatnya penasaran.


"Masuk aja!" Seru Rika dari dalam kamar.


Lala memutar gagang pintu dan segera masuk, ia melihat Rika menangis sambil duduk di atas lantai.


"Kamu kenapa?"


"Mas Sandy aneh, dia pergi maen pergi aja nggak pakai pamit!" Kesal Rika sambil mengacak rambutnya.


"Nggak papa, dia kan. Sedang nyiapin acara buat surprise ulang tahun kamu malam nanti," kata Lala tanpa sadar.


"Surprise?" Tanya Rika terkejut.

__ADS_1


"UPS!" Lala menutup mulutnya seketika, kenapa malah ceroboh dan mengatakan semua itu.


Lala seketika masuk dan menutup pintu, Rika pun semakin penasaran karena, bibir Lala yang keceplosan dalam berbicara.


"Aduh, Rika maksud aku nggak gitu!" Lala berusaha mengelabui Rika, tapi, apa daya Rika sudah mendengar.


Rika tersenyum bahagia saat mendengar kata-kata Lala, tau kini ternyata Sandy tengah mempersiapkan sesuatu untuk dirinya.


"Rika, jangan bilang ke Sandy kalau aku udah keceplosan," Lala sangat ketakutan sekali, ia memang terlalu bodoh hingga mudah sekali berbicara.


"Iya, tenang aja. Aku pura-pura nggak tau," Rika mengerti dengan ketakutan Lala, dan malah membuat moodnya seketika berubah bahagia.


"Janji ya," pinta Lala lagi.


"Tenang semua aman."


***


Malam harinya Rika sudah tahu rencana Sandy untuk memberikan surprise tetapi, tetap tenang seakan tak tahu apa-apa tentang itu semua.


Matanya di tutupi kain berwarna hitam, setelah di minta memakai dress indah berwana putih bertaburan payet indah.


Sampai di sebuah gedung, penutup mata Rika di buka.


Rika melihat sekelilingnya gelap, perlahan lampu di nyalakan satu persatu. Hingga akhirnya menerangi sekitarnya, sebuah kue ulang tahun begitu besar di hadapannya.


Sekalipun sudah tahu akan kejutan itu tetapi, Rika tetap tergangnga akan kemeriahan nya, tak menyangka jika Sandy bisa memberi kejutan yang luar biasa.


"Makasih Mas," satu butir air mata Rika menetes, tak ada kata yang lebih tinggi dari pada itu.


Tak ada yang bisa di lakukan nya selain terharu akan ketulusan cinta seorang Sandy.


"Benarkah?" Sandy tersenyum mendengar kata maaf dari Rika.


"Mas, ish!" Rika kesal pada Sandy yang mengejek dirinya.


"Siapa bilang, buktinya Mas bakalan jadi Daddy," kata Sandy sambil terkekeh melihat wajah kesal Rika.


Rika terdiam menatap wajah suaminya dengan penuh tanya.


"Daddy?" Tanya Rika.


"Ya, Mommy!" Goda Sandy.


Rika menganggap suaminya sedang gila, terlalu banyak berhadapan dengan orang gila membuatnya ikut gila juga.


"Mas, lagi kumat ya?"


"Kamu sedang hamil sayang!" Kata Sandy.


Rika terdiam mematung.


Hamil.


Apa itu benar?

__ADS_1


Rika tak percaya dengan ini semua.


"Selamat anak Mama," Mama Yeni mengecup dahi Rika.


"Selamat Ayang aku," Lala juga memeluk Rika.


"Selama ya beib!" Mentari juga memeluk Rika dengan penuh kebahagiaan.


Rika masih merasa bingung, jika biasanya seorang wanita hamil yang mengatakan kehamilannya. Tetapi, kaki ini malah ia yang di beritahu dan membuatnya bingung.


"Mas, Rika hamil?" Tanya Rika dengan jelas.


"Iya," sabab Sandy tak lepas dadi senyum bahagia.


Air mata Rika menetes, tak menyangka bisa menjadi sedikit berguna untuk Sandy.


Dirinya yang selama ini merasa hanya sebuah beban bisa memberikan sedikit kebahagiaan, Sandy memang selalu memeluk perutnya saat ia sedang terlelap menginginkan dirinya untuk segera mengandung.


"Makasih ya," Sandy memeluk Rika dengan bagian, bertapa bahagianya keluarga kecil mereka dengan kehamilan Rika.


"Bunda juga mau di peluk dong," Bunda Jihan pun tak kalah bahagia, memiliki cucu adalah impiannya selama ini.


"Bunda selamat ya, bakalan jadi Oma," Rika memeluk mertuanya dengan erat, meluapkan bertapa dirinya begitu bahagia.


"Kalian tinggal sama Bunda ya."


"Iya," Rika mengangguk setuju.


Dirinya sudah sembuh sedangkan Bunda Jihan juga tinggal sendirian di rumah, tentunya Rika tidak akan menolak.


"Sayang kita nggak ada rencana nambah?" Bisik Dimas.


Lala menatap suaminya dengan penuh tanya, Lala dengan otak lemotnya tak akan mengerti jika hanya di berikan sebuah kode.


"Nambah apa Aa?" Tanya Lala.


"Nambah adik buat Dila," jelas Dimas.


"Dila kan belum punya adik kok udah di tambah?"


"Ya, justru itu. Kita bikin adik buat Dila."


"O, gitu ayo...." kata Lala dengan polosnya, setelah itu ia baru tersadar dengan ajakan Dimas, "Aa, Lala batu 40 hati tapi udah mau bikin adik buat Dila, nggak mau!"


Dimas tak kehilangan akal, ia mulai berbisik pada Lala.


"Kan kita bisa nyetak anak yang mirip kamu sayang," bujuk Dimas.


"O, iya, bener Ya AA," Lala langsung mengangguk setuju, "semuanya Lala mau-"


Mulut Lala langsung di bekap oleh Dimas, bertapa lambatnya otak istri kesayangannya itu sehingga hampir keceplosan ingin mengatakan mengadon bayi selanjutnya agar mirip dirinya.


"Malu, kalau ngomong ke orang-orang," bisik Dimas.


"Hehehe...." Rika mengangguk dan baru tersadar, "maksud Lala, ayo potong kuenya," Lala berusaha mengelabui keluarganya.

__ADS_1


"Ya ampun hampir saja kue besar ini terabaikan," Mama Yeni pun menatap kue besar yang indah di siapkan oleh Sandy.


Potong kue pun di mulai, dan menikmatinya dengan rasa bahagia.


__ADS_2