
Dimas terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sesekali matanya melihat kaca spion sambil memastikan apakah ada yang mengikuti dirinya. Dimas merasa masih aman saja, walaupun begitu tapi ia tetap melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi. Sebab Dimas tidak ingin Dimitri berhasil membuntuti diri nya. Sesaat Dimas melihat Lala yang duduk di samping nya, tanpaknya Lala kembali tidak sadarkan diri. Keadaan nya yang masih sangat lemah membuat nya kehilangan kesadaran, sambil mengemudi Dimas mengambil ponselnya. Ia mencari kontak seseorang di sana. Kemudian mulai menghubungi orang tersebut, "Tolong kirimkan satu orang dokter ke rumah, jangan lupa segala alat medis. Karena Lala lebih baik di rawat di rumah," kata Dimas, setelah orang di sebelah sana menyetujui. Dimas langsung memutuskan panggilannya, dan ia kini kembali fokus mengemudikan mobilnya.
Beberapa menit kemudian, Dimas sampai di kediaman nya. Atau lebih tepatnya itu adalah rumah kedua orang tuanya, sebenarnya Dimas bisa saja membawa Lala pergi sejauh mungkin. Akan tetapi Dimas juga menimbang beberapa hal, mengingat Lala kini juga mengalami gangguan mental akibat sering nya mendapatkan kekerasan. Dan Dimas tidak tega bila melihat Lala terus larut dalam ketakutan nya, dan pilihan terbaik saat ini adalah Lala tinggal bersama kedua orang tuanya. Sebab ada Rika juga yang nantinya bisa menemani Lala setiap waktunya, dan itu bisa membuat keadaan Lala segera pulih.
Dengan cepat Dimas memarkirkan mobilnya, ia turun terlebih dahulu dan melihat satpam, "Kalau ada yang mencari saya bilang saya tidak di rumah," ujar Dimas.
"Iya tuan," jawab satpam tersebut.
Dimas langsung mengangkat tubuh Lala, tidak cukup sulit dan tidak terlalu membutuhkan tenaga yang extra karena tubuh Lala yang kecil memudahkan Dimas untuk mengangkat dengan mudahnya.
"Dimas."
Terdengar suara seorang wanita yang tidak lagi muda namun masih terlihat cantik, dia adalah Yeni. Yeni adalah wanita yang melahirkan serta membesarkan dua orang anak, yaitu Dimas dan juga Rika. Tapi hari ini ia bingung dan terkejut karena melihat Dimas pulang kerumah membawa seorang wanita, di tambah lagi wanita itu sepertinya tidak sadarkan diri.
Dengan cepat Yeni berjalan mendekati Dimas, ia penasaran dan ingin melihat siapa wanita yang di bawa Dimas, "Dimas kamu jarang pulang, sekali pulang kamu bawa perempuan. Kamu bawa siapa ini?" tanya Yeni penasaran, namun saat ia berdiri begitu dekat dengan Dimas. Yeni terkejut karena ia cukup mengenali siapa wanita itu, "Ini Lala kan Dim? Ini temennya Rika," kata Yeni sambil menatap Dimas penuh rasa penasaran, bahkan ia terlihat panik.
"Jangan sekarang ya Ma, nanti Dimas jelaskan. Sekarang Lala harus segera di tangani," ujar Dimas.
Yeni mengangguk mengerti, karena wajah Lala memang sangat pucat. Di tambah lagi Lala masih menggunakan pakaian rumah sakit, ada banyak pertanyaan. Tapi urung untuk di sampaikan, karena keadaan.
"Tapi harusnya di bawa ke rumah sakit, biar ada dokter," kata Yeni yang belum tahu tentang apa yang tengah terjadi.
"Ada dokter yang di kirim dari rumah sakit," Dimas langsung membawa Lala ke kamar tamu, dan membaringkan nya di atas ranjang.
__ADS_1
Tidak lama berselang seorang dokter datang dengan peralatan medis yang cukup lengkap, dan ia cepat-cepat memasangkan selang infus kembali pada tangan Lala. Karena sebelumnya Lala mencabut paksa selang infus nya.
"Anda yakin jika pasien di rawat di rumah saja?" tanya dokter Vera.
"Saya yakin, dan ini adalah pilihan yang terbaik. Saya minta anda untuk menutup rapat ini semua," ujar Dimas.
"Baiklah, saya permisi dulu. Nanti akan ada seorang perawat yang saya kirim dari rumah sakit, dia yang akan menjaga pasien sampai tidak lagi menggunakan infus. Dan saya pun akan datang saat waktu yang di butuhkan."
Dokter tersebut keluar dari kamar yang kini tengah di tempati oleh Lala, hingga Ia berpapasan dengan Rika yang baru saja pulang dari kampus.
"Dokter," Rika memanggil Dokter tersebut.
Dokter Vera berhenti melangkah, dan beralih menatap Rika, "Iya."
"Siapa yang sakit? Apa Mama? atau Papa saya dok?" tanya Rika semakin panik.
"Dokter enggak salah?" Rika terlihat panik, dan ia juga sangat bingung sekali.
"Sepertinya tidak, saya permisi," pamit dokter Vera.
Rika kini melangkah dengan cepat, ia penasaran apakah itu Lala atau hanya kebetulan namanya yang sama.
"Rika!"
__ADS_1
Rika berhenti melangkah dan ia melihat Mama Yeni, "Ma, siapa yang di rawat di rumah kita?" tanya Rika.
"Itu Lala, kamu lihat di kamar atas. Di sebelah kamar kamu," jawab Mama Yeni dengan tidak kalah panik.
"Lala Ma?"
"Iya."
Dengan langkah yang semakin cepat Rika segera menuju kamar yang di maksud oleh Mama Yeni, dengan cepat tangan nya memutar gagang pintu. Dan matanya melihat seorang wanita dengan keadaan yang sangat memprihatikan di sana, Lala tengah terbaring lemah dengan selang infus yang tertancap pada tangannya.
"Lala," Rika langsung berlari masuk, ia seketika memeluk Lala yang masih belum sadarkan diri, "Kamu kenapa La?" tanya Rika sambil menangis, "Kamu tadi kenapa pergi gitu aja?" kemudian Rika mulai melihat Dimas yang duduk di sofa, "Kak Dimas Lala kenapa? Apa ini karena Kakak?!" tebak Lala, kalau saja Dimas adalah penyebab semua ini tentu saja Rika tidak akan diam saja.
"Mulai sekarang Lala akan tinggal di sini, kamu harus jaga dia. Sekarang dia sedang sakit, karena over dosis obat keras. Jangan banyak bertanya, yang jelas Lala sekarang tidak baik-baik saja. Bahkan mentalnya juga terganggu," jelas Dimas.
Rika masih bingung dengan penjelasan Dimas, tapi kini matanya beralih menatap Lala. Dan ia melihat banyak memar pada lengan Lala.
"Lala," Mentari langsung saja masuk. Mentari adalah sahabat sejati dari Rika, dan juga Lala. Begitu pun saat ini, saat Arka memberitahu tentang keadaan Lala ia langsung menuju kediam Dimas, sebab ada Lala di sana.
Saat dokter Vera sibuk memasang selang infus, Dimas memang mengabari Arka. Jika ia tidak datang ke kantor dan menjelaskannya tentang Lala.
Arka tentu saja tidak mempermasalahkan nya, namun saat itu Mentari juga tengah bersama dengan Arka. Dan Mentari mendengar apa yang di bicara soal Lala, hingga ia terus meminta Arka untuk mengantarkan nya ke rumah kedua orang tua Rika ataupun Dimas.
"Tari," Rika juga langsung memeluk Mentari, yang tengah memeluk Rika.
__ADS_1
Mentari dah Rika seakan ikut merasakan apa yang di rasakan oleh Rika. Sakit yang dirasakan oleh Lala, juga sama menyakitkan untuk Mentari dan juga Rika.
"Lala kok kamu enggak cerita tentang keadaan kamu," kata Mentari penuh rasa sesal, sebab saat ia susah ada Lala yang selalu ada untuknya, namun saat Lala kesusahan ia malah tidak tahu, "Tari enggak mau tahu, tapi Lala harus cerai dari suaminya yang biadab itu!!" geram Mentari menatap Arka, sebab Arka suda menceritakan tentang Lala pada Mentari, sebab Mentari terus bertanya. Tentu saja tidak ada yang bisa di sembunyikan Arka dari Mentari.