Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 149


__ADS_3

Buat Kaka syantik pemenang giveaway, jangan lupa hubungi Author lewat


FB : Rembulan Munthe


Kalian bisa japri ya, chat Author. Agar pulsanya segera di proses, terima kasih.


Happy reading.


***


"Hey mau kemana?!" Lala dan Mentari menahan Sandy yang ingin masuk ke dalam kamar.


Sandy diam dan tampak curiga ada hal yang akan di lakukan oleh dua istri kesayangan dua sahabatnya itu.


"Kamu baru boleh masuk setelah, 30 menit kami masuk! Ingat ya!"


Lala dan Rika bergegas masuk dan mengunci pintu, seketika keduanya tersenyum melihat Rika yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Kalian kenapa?" Rika merasa horor dengan tatapan kedua sahabatnya.


"Tara!!!!" Mentari menunjukan sebuah lingerie berwarna merah menyala.


Rika merasa aneh dan bingung pada dua sahabatnya, dan ada apa dengan benda tembus menerawang itu.


"Ngapain kalian berdua, gila?" Rika tersenyum mengejek.


Lala berjalan mendekati Rika, begitu juga dengan Mentari.


"Kamu pakai ini!"


"APA!!!" Pekik Rika shock.


"Biasa aja kali!"


"Kalian gila ya?!" Rika menggeleng dan tentunya menolak keras.


Lala dan Mentari tidak serta kehilangan ide, malam ini Rika harus melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang istri.


Jadi keputusan sudah tepat, Lala dan Mentari akan memaksa Rika memakai baju dinas tembus menerawang tubuh tersebut.


"Pakai!"


"Enggak, kalian apa, sih!"


"Tari, enggak ada cara lain!" Kata Lala dan di angguki cepat oleh Mentari.


"Cepat ganti!" Seru Mentari sambil berusaha membuka dress Rika.


"Kalian jangan gila dong, masa iya aku pakai begituan! Buat apa coba?"


Tanpaknya Rika belum belum mengerti dengan maksud kedua sahabatnya.


"Ya ampun Rika, perut aku sakit banget," Lala menjauh dan memeluk perutnya.


Rika dan Mentari panik bukan kepalang, keduanya seketika berjalan cepat mendekati Lala.

__ADS_1


"La, kamu baik-baik aja kan?"


"Apa kamu mau lahiran?" Tanya Mentari tak kalah panik.


Lala mengkedipkan sebelah matanya pada Mentari, seketika itu juga Mentari tahu jika Lala tengah mengelabui Rika.


"Aku lagi ngidam, aku pengen Rika pakek ini," Lala menunjukan lingerie di tangannya.


Mata Rika membulat sempurna, shock tentu nya.


Sedangkan Mentari berusaha menahan tawa melihat raut wajah Rika.


"Kamu jangan gila!!" Rika tak percaya dengan keinginan Lala, "mana ada orang hamil ngidam beginian!"


"Tari, kamu juga pernah hamil kan? Tau dong rasanya ngidam kayak apa?"


"T-tau dong," Mentari juga bingung menjawabnya, tapi tetap mengatakan mengikuti permainan Lala.


Lala tersenyum penuh kemenangan, sambil menggerak-gerakkan lingerie di tangannya.


"Nggak mau ah!"


Rika tidak akan mau memakai itu, apa yang akan di pikirkan Sandy jika mendapati dirinya memakai pakaian kurang bahan itu.


"Aduh," Lala memegang perutnya dan meringis kesakitan lagi, "Rika, ini ponakan kamu yang minta, aduh sakit banget sih."


Rika berubah panik, dan bingung harus bagaimana karena, suara Lala semakin kencang menjerit kesakitan.


"Iya udah iya," terpaksa Rika menurut, lagi pula ia hanya memakai sampai Lala dan Mentari keluar dari kamarnya jika, kedua sahabatnya keluar maka cepat-cepat akan melepas dan mengganti pakaian yang lebih layak.


"Gitu dong."


"Ambil, atau aku yang memakainya pada mu!"


Rika menarik kasar lingerie yang di berikan oleh Lala, sejenak ia memandanginya rasanya sangat menjengkelkan.


"La?" Rika berharap Lala berubah pikiran, sejenak memohon sebelum benar-benar mengenakannya.


"Aduh sakit banget."


"Ya udah, iya, tunggu di sini!"


Rika segera masuk ke dalam kamar mandi dan memakai lingerie sesuai dengan permintaan Lala.


"Ya ampun, ponakan gue sama Emak Bapak nya kok ngeselin banget," Rika bergumam sambil keluar dari kamar mandi.


Tapi saat ia keluar tak melihat dua sahabatnya, yang ada justru Sandy yang masuk dan menatap dirinya.


"OMG!" Rika melebarkan matanya tersadar sudah dikerjai oleh dua sahabat semprol dan yang paling mengesalkan salah satu sahabatnya adalah Kakak ipar nya.


Rika tersenyum canggung, sambil menutup dadanya yang terlihat jelas. Rasanya sangat malu sekali.


"Kamu cantik banget, sih," Sandy tersenyum sambil berjalan ke arah Rika.


"Lala, Tari," Rika mengepakkan tangganya mengingat dua sahabatnya, sedetik kemudian berbalik dan ingin masuk ke dalam kamar mandi untuk bersembunyi.

__ADS_1


Sayangnya gerakan Rika terbaca oleh Sandy, tangannya memegang erat pergelangan tangan Rika.


"Kamu mau ke mana?"


Sandy tersenyum menatap tubuh istrinya, lingerie berwarna merah menyala itu benar-benar menggoda kelakiannya.


"Mas, ini......Ini gara-gara Tari sama Lala," Rika tak ingin dianggap menggoda, jadi mencoba untuk membela diri nya.


Sandy menarik Rika hingga memeluk bagian belakang tubuh istrinya, melingkarkan tangannya pada pinggang dan menyeludupkan wajahnya pada tengkuk Rika.


Menggigit kecil dan di pastikan ada tanda kepemilikan di sana.


"Mas, Rika nggak bohong."


"Kamu udah nggak sabar ya, atau kamu ingat waktu kita malam pertama di hotel?" Goda Sandy.


Wajah Rika memerah sempurna, mengapa bisa Sandy mengingatkan malam itu. Sialnya Rika pun sudah mengingatnya dengan jelas.


"Rika nggak ingat!"


"Kalau gitu, ayo di ulangi biar kamu ingat," bisik Sandy di telinga Rika.


"Mas, lepasin!"


"Mas, tahu kamu udah nggak tahan tapi pura-pura nggak mau biar Mas maksa kamu begitu kan?"


Rika ingin sekali menangis, mengapa suaminya itu gila dan tidak waras.


"Waktu kita belum nikah juga, dari dada ke atas udah Mas rasain," goda Sandy lagi.


"Waktu itu Rika khilaf!"


"Waktu kamu ngajak Mas kawin lari juga kamu minta?"


"Rika khilaf dan menyesal, waktu itu Rika nggak sadar!!!"


"Ayo Mas sadarkan sayang."


"Mas, mau ngapain?"


"Mau ngambil hak Mas, salah?" Tanya Sandy serius sambil memutar tubuh Rika.


Rika terdiam menunduk, rasanya sangat memalukan sekali. Tau bukan pertama kalinya tapi saat ini ia dalam keadaan sadar.


"Sayang?" Sandy menatap manik mata Rika, berharap tak ada penolakan dari istrinya, "4 Bulan Mas nunggu, itu lama dan menyiksa, boleh ya?" Pinta Sandy penuh harap.


Sial.


Tatapan Sandy bagaikan racun, perlahan Rika mengangguk.


Sandy tersenyum dan melahap bibir Rika dengan penuh nafsu dan sedikit kasar, sambil menarik Rika mendekati ranjang dan merebahkan tubuh istrinya dengan hati-hati.


Tangan Sandy tak tinggal diam, tangan itu memainkan dua gunung dengan ujung yang mulai menantang seakan minta untuk di jilat layaknya eskrim yang begitu nikmatnya.


Rika hanya mampu menutup mata merasakan tangan kadar Sandy, sekalipun bibirnya masih berusaha menahan desah nikmat karena, malu.

__ADS_1


Perlahan Sandy mulai menikmati dua benda kenyal, sudah lama sekali menanti saat-saat seperti ini dan kali ini sudah tak mampu lagi menahannya.


Tubuh Rika bergetar hebat, merasakan sensasi ini untuk pertama kalinya dengan sadar bahkan dengan rela.


__ADS_2