
"Pak saya ke kamar lama sebentar, soalnya mau ngambil piama. Kebaya ini tidak nyaman bila di bawa tidur," pinta Lala.
Tangan Lala terus meremas paperbag di belakang tubuh nya, ia sangat takut sekali jika Dimas melihat apa isi dari paperbag tersebut. Tatapan Dimas terus mengarah pada benda yang di sembunyikan oleh Lala, ia masih ingin tahu tentang benda apa yang di pegang.
"Apa benda itu sesuatu yang buruk?" tanya Dimas.
Sebenarnya Dimas tidak masalah jika Lala tidak ingin ia tahu tentang benda yang di sembunyikan nya, tapi ia hanya takut bila benda itu berupa teror atau lainnya. Ia sungguh tidak ingin Lala kembali pada rasa takut yang berlebihan seperti dulu.
"Iya," jawab Lala mengangguk.
Dimas menatap Lala dengan serius, "Coba lihat itu benda apa?" tanya Dimas ingin tahu dan ingin mengambil nya.
Lala menjauh dan menggeleng, "Jangan pak, ini buruk. Tapi enggak seburuk itu juga," Lala sendiri bingung harus berbicara seperti apa. Hingga menjelaskan nya saja ia merasa sulit.
"Apa itu benda teror?"
"Bukan Pak, ini kado dari Tari," jelas Lala.
Dimas mengangguk, ia tidak ingin Lala merasa tertekan atau pun takut. Hingga Dimas tidak ingin banyak bertanya lagi, karena benda yang di sembunyikan oleh Lala bukan teror ataupun benda ancaman lainnya. Dimas tidak lagi memaksa untuk tahu, bagaimana pun ia ingin Lala nyaman saat bersama nya.
"Pak saya keluar dulu," pamit Lala dan secepat kilat ia sudah keluar dari kamar dengan membawa paperbag di tangannya.
Dimas merasa lucu dengan tingkah Lala, padahal baru saja ia berbicara. Tapi sekarang Lala sudah keluar begitu saja.
Lala yang kini sudah masuk ke kamar lamanya langsung duduk di lantai dan bersandar pada daun pintu, tangannya masih memegang paperbag yang membuatnya ketakutan sampai harus melarikan diri. Padahal bagian utama pada tubuhnya masih terasa sakit.
"Ya ampun Tari, kamu kenapa sih harus ngasih yang beginian," gerutu Lala.
Dengan cepat Lala memasukan paperbag itu kedalam lemari, setelah itu ia mengganti kebayanya dengan piama yang terlihat lebih nyaman.
"Huuuufff..... akhirnya segar juga," kata Lala, "Balik ke kamar pak Dimas enggak ya?" tanya Lala yang kini berada di depan pintu kamar, ia terlihat ragu untuk membuka pintu.
Krang!!!
__ADS_1
Suara benda terjatuh cukup membuat Lala terkejut.
Jegerrrr!!!!
Terdengar suara petir bersama dengan kilatnya, dan setelah itu hujan turun dengan derasnya. Tidak lama kemudian lampu juga mati, hingga membuat Lala ketakutan dan mulai panik. Ternyata kunci pintu terjatuh dan ia tidak bisa keluar karena pintu masih terkunci.
"Hiks....hiks....hiks....." Lala duduk di sudut kamar sambil menutup telinga, karena suara petir yang terus saja menggelegar semakin kencang. Di tambah lagi Lala sejak dulu memang takut pada kegelapan.
Lima menit berlalu Dimas mulai melepas jas dari tubuhnya, dan membuang nya asal. Saat lampu padam ia langsung bangun dari duduknya dengan gerakan cepat, karena Lala belum juga kembali ke kamarnya, ia yang sudah menyalakan lilin mulai keluar dari kamar.
Dimas memutar gagang pintu kamar Lala, tapi tidak bisa karena terkunci, "Lala!!!"
Tok tok tok.
Dimas mengetuk pintu kamar dengan kencang, karena ia berharap Lala dapat mendengar dari dalam sana sebab suara hujan cukup kencang.
"Lala!!!!"
Tok tok tok tok.
Brak!!!
Kunci pintu terlepas, ia masuk dan mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Lala.
"Hiks.....hiks....hiks....."
Dimas mendengar suara, dan itu adalah tangisan Lala.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Dimas yang kini berjongkok di hadapan Lala, kemudian ia memeluk Lala dengan erat.
"Pak, tadi ada yang jatuh. Enggak tahu itu apa. Atau jangan-jangan itu Mas Dimitri yang datang seperti dulu Pak?!" seru Lala ketakutan, bahkan keringat dingin mulai meluncur dari tubuhnya.
"Dia tidak akan bisa masuk ke rumah ini lagi seperti dulu, tidak apa ada aku," kata Dimas, "Kamu tenang," pinta Dimas.
__ADS_1
"Tapi Pak," Lala menatap sekitarnya dan merasa sangat takut.
"Tidak ada apa-apa, kau istri ku. Dia tidak bisa mengambil mu dari ku, dia pun tidak punya hak atas diri mu. Aku yang sekarang berhak, tidak usah takut aku akan selalu melindungi mu percaya pada ku," pinta Dimas sambil melihat wajah Lala dengan penerangan lilin yang barusan di bawa Dimas.
"Janji ya Pak, jangan kasih saya ke Mas Dimitri,' lirih Lala.
"Iya, kau milik ku. Tidak ada yang bisa mengambil mu dari ku," kata Dimas yang terus berusaha meyakinkan Lala, "Ayo bangun," pinta Dimas.
Lala mengangguk sambil menatap sekitarnya, dengan rasa was-was.
"Tidak ada apa-apa," kata Dimas lagi.
Lala mengangguk dan kedua nya berjalan menuju kamar Dimas, yang juga sekaligus sudah menjadi kamar Lala.
Dimas meletakkan lilin di tangannya pada meja, kemudian ia ingin mengambil ponselnya dari jas.
"Pak jangan pergi," Lala dengan cepat memeluk Dimas.
"Tidak, aku hanya mengambil ponsel," kata Dimas.
Lala menggeleng, karena ia tidak mau di tinggal.
Jegerrrr!!!
"Aaaaaa....." teriak Lala.
"Tidak papa," Dimas kembali memeluk Lala dengan erat, "Ya sudah ayo kita tidur," kata Dimas membawa Lala naik ke atas ranjang, padahal ia ingin mengambil ponselnya dan menghubungi satpam.
Tapi mau bagaimana lagi, prioritas utama Dimas kini adalah Lala. Pertama kalinya Dimas dan Lala tidur satu ranjang dalam satu selimut, bahkan Lala memeluk Dimas dengan sangat erat.
Tidak lama kemudian Dimas merasa jika nafas Lala sudah mulai beraturan, dan bersamaan dengan itu lampu kembali menyala dengan terangnya. Mata Dimas menatap wajah Lala yang ternyata sudah tertidur pulas di pelukan nya, bibir Dimas tersenyum bahagia karena kini sudah memiliki Lala dengan seutuhnya.
Hingga mata Dimas mulai berfokus menatap bibir merah merona milik Lala, perlahan ia mulai mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir itu. Tangan Dimas memegang tangan Lala dan mengecupnya beberapa kali, namun ia malah menemukan hal lainnya. Di pergelangan tangan Lala terlihat ada warna keuangan seperti nya itu karena kekerasan, dan itu karena dirinya sendiri.
__ADS_1
"Maaf," lirih Dimas dengan penuh penyesalan, andai ia malam kemarin tidak melakukan itu pada Lala mungkin Lala tidak akan seperti ini, "Aku akan menebus nya, aku akan berusaha untuk membahagiakan mu," kata Dimas lagi dengan penuh penyesalan.
Sedetik kemudian Dimas merasa hawa mulai memanas, padahal di luar sana hujan turun begitu deras. Ia berusaha tenang dan sadar, tapi sulit sekali, "Panas!!!!Sial.....!" umpat Dimas.