Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Jangan Dia


__ADS_3

Rika menyandarkan tubuhnya pada dinding, ia mengusap dada sambil merasakan apa yang kini tengah di rasakan oleh Lala. Rika ingin sekali masuk menyusul Lala, namun ia urungkan karena ingin memberikan ruang pada Lala untuk melepaskan tangisnya.


Dari celah pintu yang tidak tertutup rapat Rika melihat sahabatnya yang tengah terduduk dengan wajah yang menunduk, menangis pilu dengan sesal karena rasa yang tidak bisa bisa juga hilang.


Karena tidak kuat akhirnya kaki jenjang Rika perlahan menuruni anak tangga satu persatu, ia masih melihat Dimas yang berdiri di ruang tamu. Dengan amarah Rika langsung mendorong Dimas yang memunggungi dirinya.


"Kau sedang apa?!" kesal Dimas setelah melihat Rika lah orang yang tiba-tiba mendorong nya.


Rika menatap Dimas penuh kebencian, rasanya Rika sangat tidak rela bila Lala harus menanggung luka untuk kesekian kalinya. Matanya yang memerah dengan tangan tergantung namun terkepal, seakan mengatakan jika ia sangat kecewa pada Dimas.


"Apa kau punya hati?" tanya Rika dengan mendongkak agar melihat wajah Dimas yang juga tengah menatapnya.


"Maksud mu apa?!" tanya Dimas balik.


Mama Yeni yang melihat ada keributan antara kedua anaknya mulai berjalan mendekati Rika dan Dimas. Dan melihat apa yang sedang terjadi, tampaknya Mama Yeni tahu jika pertengkaran kakak beradik itu kini cukup serius.


"Lu masih nannyak Kak?!" tanya Rika kembali, "Lu tau kan Kak Dimas, kalau dari dulu Lala udah jatuh hati sama lu. Dan saat ini pun sama lu cuman bisa buat dia terluka!" kata Rika penuh amarah.


Mama Yeni cukup terkejut dengan kata yang keluar dari mulut Rika, sungguh ia tidak pernah tahu akan hal ini.


"Rika, maksud nya bagaimana Dek?"

__ADS_1


Mama Yeni tidak bisa lagi menahan rasa penasaran nya, hingga ia mulai bertanya agar tidak salah dalam menduga-duga.


Rika dan Dimas mulai tersadar ada yang lainnya selain mereka berdua di ruang tamu itu.


"Mama tahu kenapa Kak Dimas menolong Lala sampai detik ini?" tanya Rika pada Mama Yeni.


Mama Yeni menatap Dimas dengan penuh tanya, tapi tanpaknya Dimas tidak dapat menjawab. Hingga Mama Yeni kembali menatap Rika, berharap Rika dapat menjelaskan nya.


"Karena Kak Dimas benci sama Lala, sedangkan Lala sudah lama menaruh hati pada Kak Dimas!" jelas Rika dengan tegas.


"Tidak seperti itu!" timpal Dimas.


"Lalu seperti apa?! Karena kalau orang yang benar-benar mencintai kita akan terus bertahan dan berjuang. Dan tidak akan pernah membuat wanitanya tersakiti!" kata Rika menantang Dimas.


"Tau apa kau tentang tersakiti?!" tanya Dimas yang tidak ingin mengalah juga.


"Aku tidak tahu apa-apa tentang tersakiti, yang aku tahu aku sakit saat melihat sahabat ku di sakiti Kakak ku sendiri!" Rika masih menatap Lala dan sejenak terdiam, "Lalu apakah aku diam saat dia tersakiti?" tanya Rika lagi, "Tentu saja tidak!" Rika menggeleng dan kini ia tersenyum miring menatap Dimas, "Kenapa kau diam Kak, kau pikir aku tidak memperhatikan setiap gerak-gerik mu. Kau sayangi dia, kau beri dia harapan dan kau hempasan dengan sesuka mu. Andai aku yang di posisi nya apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan diam dan menjadi penonton saja?" tanya Rika.


Dimas diam dan tidak tahu harus berkata apa, ia masih terlalu pusing untuk memikirkan Zea. Dan tiba-tiba kini Rika membalas tentang Lala.


"Kau sekarang sedang membahas apa?"

__ADS_1


"Membahas kau yang hanya pecundang, apa maksud ku tadi di depan mantan pacar mu kau mengatakan kalau Lala calon istri mu? Otak di pakai, kau boleh mengatakan itu jika wanita tersebut tidak memiliki perasaan pada! Pakai otak!" Lala menunjuk kepalanya.


Kini Dimas mengerti maksud dari hal yang di bahas oleh Rika, "Tapi apa mungkin dia masih memiliki rasa yang sama seperti dulu?" tanya Dimas mengharapkan agar Rika memberikan jawaban.


"Kau banci Kak!" telunjuk Rika mengarah pada wajah Dimas, "Biar aku jelaskan! Lala sangat mencintai mu! Dia menolak banyak lelaki, kau tahu seperti apa angkuhnya aku, Lala dan Tari? Kami adalah wanita yang tidak mudah takluk pada satu pria, tapi semua berubah saat kami menemukan seseorang yang bisa bertaruh nyawa untuk kami. Begitu juga dengan Tari yang kini menjadi istri Pak Arka, dan Lala pun sama. Dia menjatuhkan harga dirinya. di hadapan lu, hanya karena cinta. Hanya karena ingin mendapatkan cinta mu! Tapi kau...." Rika menggantung ucapannya sambil menatap Dimas dengan sinis, "Kau tidak akan bisa melakukan apa yang ia lakukan terhadap mu, cinta nya besar Kak tidak ada bandingannya. Dan jangan sampai kau menyesal untuk yang kedua kalinya!" tegas Rika.


Rika menatap Dimas, kemudian kini menatap Mama Yeni. Setelah itu Rika berjalan beberapa langkah, namun tiba-tiba ia kembali berbalik, "Kau boleh menyakiti siapapun, tapi jangan dia!" ujar Rika lalu ia pergi dengan langkah yang cepat, meninggalkan Dimas dan juga Mama Yeni yang kini menatap punggung nya.


"Huuuufff...." Mama Yeni menarik nafas dan berjalan mendekati Dima, perlahan tangan Mama Yeni menyentuh pundak Dimas, "Mana tidak tahu ternyata semuanya begitu rumit, Ma tidak membela Rika, Lala ataupun kamu. Tapi apa yang di katakan oleh Rika benar, pastikan hati mu Nak, kasihan Lala. Andai kau memang tidak bisa mencintai nya sebaiknya kau jauhi dia, jangan beri dia harapan. Bila di hati mu ada dia, tolong yakinkan dia jika kau tidak ingin kehilangannya," Mama Yeni mengusap punggung Dimas, setelah itu Mama Yeni perlahan pergi meninggalkan Dimas.


Sulit dimengerti tapi semua terasa menyakitkan, ia benar-benar tidak sadar jika sudah menyakiti hati Lala. Perlahan kaki Dimas mulai melangkah pergi, keluar dari rumah dan mengemudikan mobilnya dengan laju yang sangat kencang membelah jalanan. Semua amarah ia lepaskan dengan menginjak pedal gas yang seakan membuat laju mobilnya semakin kencang.


Sampai akhirnya Dimas menghentikan laju mobilnya di sisi jalanan yang sangat sepi, Dimas turun dari mobilnya dan berdiri di sisi jembatan.


"Aaaaaagggk!!!!!!"


Rasanya sangat sakit saat menyadari jika ia sudah menyakiti hati seseorang yang cukup memiliki tempat di hatinya, maksud sebenarnya tadi tidak begitu. Tidak ada niat menyakiti Lala, tapi mengapa semua berubah seakan mengerikan dan menyudutkan nya.


"Aku tidak pernah berniat mempermainkan nya!!!" teriak Dimas.


Tidak tahu harus melakukan apa yang jelas kini ia merasa sulit, malam yang semakin larut. Udara yang semakin dingin dengan angin yang berhembus kencang, seakan mengerti dengan rasa yang tengah ia rasakan saat ini.

__ADS_1


__ADS_2