Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Terpaksa


__ADS_3

Dari semenjak kemarin Lala masih saja penasaran tentang keberadaan Rika saat ini, bahkan Dimas benar-benar membuat Rika sulit untuk di ketahui keberadaan nya. Apa lagi ponsel dan juga laptop milik Rika sudah di ambil oleh Dimas, entah sampai kapan. Namun, Dimas tanpaknya benar-benar tidak ingin Rika terus memiliki hubungan khusus dengan Sandy.


Pandangan mata Lala menatap Dimas yang duduk di kursi kerjanya, ia berdiri di depan sebuah ruangan kerja Dimas dengan perasaan ragu. Sejenak ia menutup mata dan mengingat tentang Sandy yang memohon bantuan nya, rasanya hati Lala kembali tergerak. Kemudian tiba-tiba bayangan wajah Rika yang selama ini selalu meminta bantuannya juga tidak kalah membuat hatinya bertekad untuk membantu Rika bersatu dengan Sandy. Apa lagi saat mengingat Rika adalah orang yang ada saat ia tengah terluka. Lala kembali menarik nafas dan kembali membuka matanya. Dengan menguatkan perasaannya dan mencoba untuk merayu Dimas.


Tok tok tok.


Tangan Lala mengetuk pintu, hingga Dimas mulai melihat ke arahnya. Perlahan Lala masuk dan berdiri di depan meja kerja Dimas, "Aa, Lala pengen di peluk," pinta Lala, sebenarnya Lala malu. Tapi inilah cara agar bisa mendapatkan info dari Dimas tentang keberadaan Rika.


Dimas tersenyum, ia menarik lengan Lala kemudian membawa istri nya untuk duduk di pangkuan nya. Tangan Dimas melingkar di pinggang nya, dengan wajah yang menelusup masuk pada tengkuk Lala.


"Huuuufff....." Lala merasa Dimas sudah bisa di ajak untuk berdamai, ia mulai yakin sedikit lagi ia akan tahu tentang keberadaan Rika, "Aa, Lala pengen tidur sama Aa," pinta Lala lagi.


Dimas merasa aneh, tapi kemudian ia mengangkat tubuh kecil istrinya dan membawanya ke kamar. Perlahan tubuh Lala mulai di letakan di atas ranjang dengan hati-hati, dan Dimas juga ikut naik sambil perlahan berbaring di samping Lala.


"Aa," panggil Lala, jantungnya sudah berdegup kencang. Akan tetapi ia harus berusaha lebih keras lagi, dengan cepat Lala memiringkan badannya dan memeluk Dimas dengan erat, "Aa, Lala kangen sama Rika. Boleh ya Aa antar Lala ketemu Rika," kata Lala yang mulai memberanikan diri untuk berbicara tentang tujuannya.


Dimas langsung duduk, ia sangat tidak ingin Lala tahu. Karena itu nantinya bisa sampai pada Sandy.


"Aa," Lala juga ikut duduk dan memegang pundak Dimas.


Dimas menatap Lala dengan mata yang tajam, "Biarkan dia di sana, kau tidak harus tahu. Aku masih kecewa pada mu," jawab Dimas dengan datar, kemudian ia segera turun dari atas ranjang dan berjalan ke arah pintu.


"Aa, Lala hamil," kata Lala dengan tiba-tiba.


Dimas yang memegang gagang pintu merasa terkejut, ia mengurungkan niatnya untuk keluar. Lalu berbalik melihat Lala yang juga tengah menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Aa, Lala pengen ketemu Rika," lirih Lala.


Dimas kembali berjalan ke arah Lala, ia langsung memeluk Lala dengan erat, "Kamu hamil?" tanya Dimas.


Tidak ada lagi wajah marah saat Lala mengatakan kalimat yang membuatnya seketika tersenyum dengan lebar, bahkan ia kini melupakan rasa marahnya pada Lala. Dimas terus mengecup wajah Lala dengan bergantian bahkan sampai berulang-ulang, ia benar-benar masih sangat terkejut dengan apa yang di dengar. Kemudian Dimas memeluk Lala dengan erat, "Kita periksa ke dokter ya," ajak Dimas.


"Em," wajah Lala seketika terlihat ragu, ia mulai bingung.


"Sayang, ayo Aa sudah tidak sabar," pinta Dimas yang kini berdiri dan memegang lengan Lala.


Lala meneguk saliva, ia perlahan berdiri sambil menahan perasaan yang tidak karuan.


"Kamu hamil tahu dari mana?" Dimas masih terlalu bahagia, dan ia merasa mungkin Lala juga baru mengetahuinya hingga baru memberitahukan kepada dirinya saat ini, "Tapi itu tidak perlu, kita ke dokter sekarang. Aa sudah tidak sabar."


Dimas menggaruk kepalanya, ia merasa bodoh karena terlalu bahagia, "Iya juga, Aa lupa ternyata sudah gelap dan besok saja," Dimas berjongkok dan memeluk perut Lala yang terlihat masih datar, "Anak Papa," Dimas terus mengecupnya, seolah ia tengah mengecup bayinya.


Lala menggigit bibir bawahnya, dan menegangkan mata bercampur perasaan takut.


"Sayang besok kita ke dokter ya," pinta Dimas lagi.


Lala masih terdiam dengan rasa takutnya, Dimas terlihat begitu bahagia, "Lala cuman pengen ketemu sama Rika," lirih Lala dengan suara yang pelan.


Dimas kembali berdiri dan menimbang keinginan Lala, saat melihat wajah Lala yang terlihat memohon ia langsung mengangguk, "Kamu mau ketemu sekarang?" tanya Dimas.


Lala tersenyum, tampaknya Dimas sudah memperbolehkan dirinya untuk bertemu dengan Rika. Dengan cepat Lala langsung memeluk Dimas, "Makasih Aa," ucap Lala dengan bahagia.

__ADS_1


"Semua untuk anak kita."


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam kini Dimas dan Lala sampai di tempat tujuan, di mana Rika kini berada.


"Bogor," gumam Lala, ia turun dari mobil bersama dengan Dimas, "Rika di sini Aa?"


"Ayo, dia ada di dalam," Dimas menarik lengan Lala, dan membawa masuk ke dalam.


Lala mengambil ponselnya, ia mengirimkan alamat keberadaan nya kini pada Sandy. Karena saat Sandy menemuinya mereka sempat bertukar nomor ponsel.


"Sayang ayo masuk," Dimas terus menarik Lala, sampai akhirnya keduanya berhenti di depan pintu kamar, "Aa tunggu di sofa," Dimas tidak ingin masuk, ia tidak akan tega melihat adik yang terus menangis. Hingga Dimas lebih memilih untuk duduk di sofa ruang keluarga.


Lala mengangguk, ia perlahan memutar gagang pintu dan mendorong nya dengan perlahan. Dari celah pintu yang terbuka ia melihat Rika duduk sambil menangis di dalam sana, dengan langkah yang berat Lala perlahan masuk.


Rika mulai tersadar ada yang masuk, awalnya ia menebak jika itu adalah Dimas. Namun, ternyata itu adalah Lala, "La," Rika langsung turun dari atas ranjang dan memeluk Lala dengan erat, "Tolong aku ya La, aku enggak bisa jauh dari Mas Sandy," pinta Rika dengan suara bergetar, serta air mata yang terus saja berlinang.


Lala mengangguk, tampaknya Rika dan Sandy memang saling mencintai. Namun, semua terhalang karena restu Dimas, "Aku yakin, Kak Dimas cuman mau yang terbaik buat kamu," jawab Lala.


"Aku enggak bisa hidup tanpa dia, aku mau mati aja," ancam Rika.


"Rika kamu ngomong apa? Aku bakalan bantu kamu, tolong jangan katakan itu lagi," Lala memeluk Rika dengan erat, ia berjanji akan membantu Rika dan juga Sandy agar bisa bersama.


"Makasih ya La, aku mohon banget," pinta Rika lagi dengan memohon.


"Iya."

__ADS_1


__ADS_2