
Matahari mulai terbenam, dan Rika kini sudah berada di parkiran kampus. Rasanya hari ini sangat menyedihkan, selain mata kuliah yang membosankan ia juga tidak memiliki teman. Tari yang sibuk mengurus bayi twins, dan Lala yang entah dimana. Tapi Rika yakin jika kini Lala tengah bersama dengan Dimas, karena Dimas juga tidak ada di ruangan nya.
"Ya ampun, nasib gue gini amat ya," kata Rika yang kini duduk di samping motor matic kesayangannya, "Lala lu di mana sih?" gumam Rika, dan ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Dimas. Namun sayang tanpaknya Dimas tidak menjawab panggilan tersebut, mungkin ia terlalu sibuk dengan istri bocahnya, "Kemana sih, di telpon enggak di angkat!!" kesal Rika, sebenarnya Rika tidak mau tahu tentang Dimas. Tapi ia hanya ingin memastikan apakah Lala ada bersama dengan Dimas, itu saja. Sebab Lala masih dalam tahap penyembuhan dan juga masih dalam incaran Dimitri, tapi Rika juga tidak terlalu pusing sebab ia tahu pasti Kakaknya Dimas selalu membayar orang untuk menjaga Lala diam-diam.
Sementara tidak jauh dari Rika seorang pria dengan kaca mata hitam tengah menatap Rika dengan penuh arti, "Perjuangan segera di mulai," gumam Sandy dengan semangat.
Rika mulai berdiri dan naik ke atas motor miliknya, ia juga tidak lupa memasang helm dan mulai menyalakan mesin motor nya. Setelah di rasa cukup, Rika mulai menarik gas dan motor mulai melaju. Namun belum beberapa meter Rika terpaksa harus menghentikan laju motor nya, lalu ia turun. Dan benar saja, "Sialan! kempes lagi!!!" kesal Rika.
Rika kembali membuka helm miliknya, dan ia mengusap wajahnya. Hari ini sangat melelahkan sekali dan ia sedang malas juga untuk mendorong motor nya, lagi pula tukang tambal ban juga cukup jauh dari kampus.
"Hey," Sandy yang melihat Rika duduk di atas rerumputan juga ikut berjongkok.
Rika langsung memasang senyum miring, "Dasar jailangkung!" gerutu Rika, dan membuang pandangannya ke arah yang lain.
Sandy tersenyum saat melihat Rika yang jutek, tapi itulah sisi lain dari Rika yang di sukai oleh Sandy.
"Hay Mas Sandy!!!" sapa seorang wanita yang melewati dirinya dan Rika, wanita itu terlihat tersenyum padanya dan bahkan menyapa dirinya.
Sandy tersenyum, tanpa membalas sapaan wanita tersebut. Padahal baru kemarin mereka bertemu itu pun karena wanita itu adalah kekasih teman Sandy, dan kini sudah menyapa dengan suara manja. Sandy lebih tertarik pada wanita jutek yang kini duduk di rumput, sambil menatapnya sinis.
"Apa lihat-lihat!" ketus Rika.
"Hehehe......" Sandy tertawa kecil melihat bocah di hadapannya.
"Ketawa lagi," geram Lala.
"Sandy?" panggil seorang pria.
"Bimo, apa kabar?" sapa Sandy tersenyum, dan ia berdiri agar sejajar dengan Pak Bimo.
__ADS_1
Pak Bimo melihat Rika yang duduk di rerumputan, kemudian ia melihat Sandy kembali, "Ini juga dari yang kesekian San?" tanya Bimo menggeleng, karena ia tahu Sandy itu sangat Playboy, "Yang ini jangan main-main San, kecuali lu enggak tahu siapa Kakak nya!" lanjut Bimo terkekeh.
Rika yang duduk di atas rumput masih tidak mengerti jika ia tengah menjadi bahan pembahasan, karena menurutnya tidak penting dan sangat tidak menarik.
"Ini serius dan calon istri!" jawab Sandy dengan pasti.
"Calon istri?" tanya Bimo terkejut, "Artinya sudah dapat lampu hijau dari Dimas," kata Bimo lagi.
Rika baru sadar ternyata ia yang tengah menjadi topik pembahasan, kemudian ia berdiri, "Siapa yang calon is...."
Sandy langsung menutup mulut Rika, "Kita duluan ya Bimo, soalnya dia lagi ngambek," kata Sandy dan langsung memasukkan Rika kedalam mobilnya.
"Hati-hati," kata Bimo sambil geleng-geleng kepala melihat Sandy dan Rika.
Sandy ikut masuk kedalam mobil, dan ia mulai melajukan mobilnya agar Rika tidak bisa turun.
"Ish.....dasar gila!!!" seru Rika dengan kesal, "Berhenti aku mau turun!!!"
Rika menggeleng, karena banyak sekali preman yang berlalu lalang di sana.
"Ayo turun!" kata Sandy.
Rika menatap Sandy, dan kembali menatap keluar. Karena Sandy terus menatapnya akhirnya Rika memberanikan diri untuk turun, sedangkan hari sudah cukup sore.
Sandy mengira jika Rika tidak akan turun, dan ia tidak serius untuk menyuruh Rika turun.
Rika terus berjalan di sisi jalanan, dan ia berusaha untuk mencari taxi ataupun ojek yang bisa mengantarkan nya pulang. Namun tiba-tiba ada seseorang preman yang menarik tasnya dengan paksa.
"Lepas!!" seru Rika.
__ADS_1
Dengan cepat kaki Sandy menendang tangan preman tersebut, dan ia memukuli nya sampai memar, setelah itu preman itu langsung berlari tanpa membawa tas milik Rika.
Dengan cepat Rika mengambil tasnya, dan ia menatap Sandy. Ingin bilang terima kasih tapi Sandy sangat menjengkelkan, tidak bilang terima kasih Sandy sudah menolongnya.
"Sama-sama," kata Sandy, tanpaknya Sandy dapat membaca dari exspresi Rika saat ini.
Rika terkejut, karena Sandy dapat menebak isi otaknya.
"Kenapa?" tanya Sandy lagi.
"Ish...." Rika menghentakkan kakinya, dan ia pergi dari hadapan Sandy. Setelah beberapa langkah Rika kembali berbalik kebelakang, namun Sandy tidak ada di sana, "Kemana perginya?" gumam Rika, "Jangan-jangan hantu," kata Rika mulai bergidik ngeri, sedangkan suara azan sudah berkumandang dan ia belum juga sampai di rumah. Rika cepat-cepat berbalik dan ingin berlari, namun tiba-tiba ada Sandy di hadapannya. Rika yang terkejut dan berhenti mendadak tanpa sengaja menabrak Sandy.
Buk!!!
"Aduh....." ringis Rika karena ia terjatuh dan terduduk di sisi jalanan, sedangkan Sandy hanya berdiri santai di hadapan nya. Rika yang masih terduduk menatap ke atas, "Dasar aneh, muncul tiba-tiba!!!" kesal Rika.
Sandy diam sambil tersenyum, bocah di hadapannya selain cantik juga terlihat keras kepala. Sandy mengulurkan tangannya, namun Rika menepis tangan Sandy dan cepat-cepat berdiri sambil tangannya menepuk dress-nya yang sedikit terkena abu.
"Ini sudah gelap, ayo aku antar pulang. Takut nya kamu di jahatin orang, kalau hanya tas mu yang di ambil tidak masalah....tapi kalau....." Sandy menggantung kata-kata nya karena mungkin Rika sudah mengerti, "Baik kalau kau tetap menolak, aku pergi."
"Aku ikut!!!" Rika cepat-cepat masuk ke dalam mobil Sandy, dan kini ia duduk manis di dalam sana.
Sandy yang masih berada di luar mobil tersenyum, karena Rika akhirnya mau di ajak pulang bersama nya.
Sampai di rumah, Sandy memarkirkan mobilnya, "Tidak ingin bilang sesuatu?" goda Sandy.
"Terima kasih," kata Rika agar Sandy puas, dan dengan cepat Rika membuka pintu mobil lalu turun secepat mungkin.
Sandy kembali menyalakan mesin mobilnya dan pergi, Sandy terus tersenyum karena satu langkah lebih dekat dengan Rika, "Tidak sia-sia aku buat ban motor matic nya itu kempes."
__ADS_1
*
Jan lupa like dan Vote.