
Tap tap tap.
Langkah kaki Mama Yeni semakin terdengar saat kakinya yang melangkah perlahan semakin mendekati kamar Dimas. Sebenarnya tidak biasanya Mama Yeni menghampiri Dimas sepagi ini langsung ke kamar nya, namun saat melihat mobil milik Zea yang ada di halaman membuat Mama Yeni bingung. Apalagi saat ia bertanya pada satpam tentang Dimas yang semalam di bawa pulang oleh Zea dalam keadaan tidak sadar, di tambah lagi Zea yang tidak kunjung keluar dari rumah. Artinya malam tadi Zea menginap dirumahnya, namun Mama Yeni tidak melihat keberadaan Zea di kamar tamu. Hingga kini ia menuju kamar Dimas, mungkin Zea pulang. Tapi sungguh Mama Yeni sangat penasaran.
Tangan nya mulai terangkat mengarah pada gagang pintu, perlahan tangan Mama Yeni bergerak dan pintu perlahan terbuka karena perlahan Mama Yeni mendorong nya.
Kejutan yang luar biasa, Dimas tertidur pulas dengan seorang wanita yang cukup ia kenal. Kaki Mama Yeni terasa bergetar, ini sungguh di luar dugaan nya. Tidak menyangka jika dua orang yang tidak terikat tali pernikahan kini tidur di atas ranjang yang sama. Bahkan satu selimut yang sama, keringat Mama Yeni semakin meluncur bebas. Saat melihat potongan-potongan pakaian yang berserakan di lantai, tidak usah di jelaskan semuanya sudah sangat jelas sekali.
Amarah yang perlahan membuncah tidak dapat terbendung lagi, dengan cepat Mama Yeni mengambil teko yang terisi air penuh yang di sediakan di atas meja. Dalam sekejap air yang terisi penuh pada teko tersebut mulai habis tertumpah, karena mengguyur dua orang yang tadinya terlelap. Dua orang yang bukan pasutri itu terasa terusik, muka keduanya basah. Bahkan sampai refleks terduduk, karena terkejut.
"Apa yang kalian lakukan!!!" tanya Mama Yeni dengan geram, "Menjijikan!!!" kata Mama Yeni masih dalam kemarahan yang tidak bisa di hindarkan.
Dimas dan Zea mulai melihat sekitarnya, bahkan kini keduanya saling melihat satu sama lainnya.
"Apa yang kalian lakukan?!" geram Mama Yeni lagi, "Ini sangat menjijikan, menikah tidak mau. Tapi kalian berdua melakukan hal yang kotor ini, bahkan di dalam rumah ku!" bentak Mama Yeni.
Dimas merasa kepalanya masih cukup pusing, ia tidak bisa mengingat dengan baik apa yang sudah terjadi semalam, satu hal yang ia ingat saat masih sadar. Ia di antarkan oleh Zea untuk pulang, setelah itu Dimas sudah tidak mengingatnya sebab obat itu mulai menguasai dirinya.
"Apa yang kau masukan pada minuman ku!!" Dimas menatap Zea dengan tajam.
Zea dengan wajah melasnya tentu saja tidak terima dengan apa yang di tuduhkan oleh Dimas, apa lagi di hadapan Mama Yeni, "Kamu kalau ngomong hati-hati!" jawab Zea yang memberikan peringatan, sebab ia tentu saja tidak ingin di sudutkan.
__ADS_1
"Cukup!!!" teriak Mama Yeni, "Pakai pakaian kalian, ini sangat menjijikkan. Semua harus di bicarakan!!! Dimas. Kalian berdua saya tunggu di bawah, dan Papa harus tahu ini semua," ujar Mama Yeni lalu ia pergi, meninggalkan Dimas dan Zea berdua di dalam kamar.
Dua puluh menit kemudian, Dimas dan Zea kini sudah berada di ruang keluarga. Terlihat Adithama sudah menunggu dengan wajah dinginnya, Adithama adalah Ayah kandung dari Dimas Adithama, (Mohon maat temen-temen, kalau ada yang bingung, karena nama belakang Dimas Othor ganti ya. Karena yang kemarin sulit)
Tatapan Adithama yang dingin seakan menyiratkan bertapa ia sangat membenci apa yang di lakukan oleh Dimas dan Zea, dua orang yang tidak terikat tali pernikahan dengan tidak sopan nya melakukan hal bejat di dalam tempat tinggal nya. Ini sangat di luar pikiran Adithama. Bahkan logika pun sulit di menerima nya. Apa lagi saat istri nya tadi menceritakan apa yang sudah terjadi, sungguh membuat hati terasa tidak bisa sakit.
"Kenapa???!!" tanya Adithama secara langsung, kini ia hanya menatap Dimas yang duduk di sofa sambil tertunduk. Tanpaknya ia masih mencoba mengumpulkan kepingan demi kepentingan ingatan yang perlahan sudah menghilang.
Brak!!!
Adithama yang kehilangan kesabaran seketika memukul meja, hingga membuat Dimas, Zea dan Mama Yeni terkejut.
"Pa ada apa sih?"
"Zea lu ngapain pagi-pagi begini udah di rumah gue?!" tanya Rika, tidak ada lagi panggilan Kakak seperti saat dulu. Karena Rika sudah terlanjur kecewa saat Zea dulunya memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahan nya dengan Dimas secara sepihak.
Zea hanya menunduk, apa yang ia pikirkan saat ini mungkin tidak ada yang tahu. Namun wajahnya menyimpan keresahan yang sangat dalam. Hingga ia hanya bisa meremas kedua tangannya dengan saling bergantian.
"Jawab Zea apa yang sudah kalian lakukan?!" tanya Mama Yeni yang sudah tidak sabar, ia masih berharap jika tidak adanya yang terjadi di antara keduanya.
"Mama kok nannya gitu sih?" rasa penasaran Rika semakin besar, saat ini ia butuh jawaban yang pasti.
__ADS_1
Tidak ada satu patah kata pun juga yang keluar dari mulut Zea maupun Dimas, sampai akhirnya terdengar suara tangisan Zea.
"Hiks....hiks....hiks...."
"Kalian akan menikah secepatnya!" tegas Adithama tanpa ingin di bantah.
Dimas seketika menatap Adithama, sulit di pahami. Tapi untuk saat ini ia hanya bisa diam tanpa menjawab, sambil ia juga akan mencari tahu tentang hal yang sebenarnya terjadi.
"Kok nikah sih Pa?" tanya Rika lagi.
"Itu karena mereka berdua berani berbuat tidak senonoh di dalam rumah Papa!!! Mereka harus menikah!" kata Adithama lagi setelah itu ia bangun dari duduknya, lalu pergi meninggalkan yang lainnya di ruang keluarga.
"Hiks....hiks....hiks...." kali ini tangis Mama Yeni pecah, ia tidak menyangka jika anaknya Dimas bisa berbuat begitu hina, "Mama kecewa sama kamu Dimas, kamu tidak menghargai Mama!"
"Ma ini semua ada penjelasan nya," kata Dimas yang mencoba membela diri.
"Rendah sekali rasa malu kalian berdua, sampai melakukan ini di dalam rumah ku sendiri!" setelah mengatakan itu Mama Yeni juga langsung pergi.
"Rika," Lala yang kini berada beberapa jarak dari sahabat nya itu mulai memanggil nama itu.
Rika mengangguk sambil menatap Lala, sebenarnya Rika masih ingin tahu tentang banyak hal. Tapi sepertinya tidak untuk saat ini.
__ADS_1
"Yuk, kita naik motor aku aja ya," tawar Rika.
Lala mengangguk, matanya kemudian menatap Dimas. Entah mengapa kedua mata itu tiba-tiba bertemu. Namun sesaat kemudian Lala memutuskan pandangan lalu pergi dengan begitu saja.