
Berhubungan karena kemarin-kemarin banyak libur hari ini Author grazy up.
***
"Lu, kenapa sih?"
"Ya, enggak papa," Rika tersenyum kecut mungkin apa yang dikatakan oleh Dino memang benar adanya, "Din, anterin gue ke rumah sakit ya."
"Ke rumah sakit? Ngapain, lu sakit?" Tanya Dino dengan rentetan pertanyaan.
"Anterin aja ya," pinta Rika lagi.
"Ke rumah sakit mana?"
***
Rumah sakit Fatimah, adalah salah satu rumah sakit terbesar di Jakarta.
Rika segera turun dari mobil Dino dan masuk bersama dengan Dino di sampingnya.
"Kita ngapain ke sini, apa nyokap di rawat di sini?" Tanya Dino masih dalam kebingungannya.
"Din," Rika berhenti melangkah begitu juga dengan Dino, "lu bisa jaga rahasiakan?"
Dino melihat wajah Rika yang serius hingga membuatnya semakin bingung.
"Maksud lu apa sih Rika?"
"Gue tanya lu bisa jaga rahasia kan?"
"I-iya, tapi, apa?" Dino merasa ada yang tidak beres hingga jantungnya mulai berdenyut kencang dan takut.
"Janji ya," pinta Rika lagi penuh harap.
"Iya, tapi apa?" Tanya Dino yang bisa saja di buat mati penasaran oleh Rika.
Rika mengangguk dan kembali berjalan, begitu juga dengan Dino yang ikut melangkah bersama nya.
Rika segera memasuki ruang dokter yang sudah memiliki janji dengan nya.
Dino juga masih ikut masuk, sekalipun masih dalam kebingungannya dan banyak pertanyaan yang ingin di utarakan.
"Selamat siang dok," sapa Rika dengan mengulurkan tangannya.
"Selamat siang, silahkan duduk."
__ADS_1
Dokter Miranda langsung melihat map yang di berikan oleh seorang perawat, dan membaca hasil pemeriksaan yang di lakukan beberapa hari yang lalu.
"Ini sudah pemeriksaan yang ke tiga dan hasilnya masih sama," ujar sang Dokter Miranda.
Rika menarik napas dengan berat, kali ini ia benar-benar pasrah pada keadaan.
"Dokter, ini maksudnya bagaimana?" Dino tidak lagi diam ia segera bertanya.
"Rika, menderita Leo kimia stadium 3," jelas Dokter Miranda.
Degh!
Dino terdiam seketika, tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulutnya.
***
Dino masih diam tanpa bicara, kini ia membawa Rika ke tempat favorit mereka ke sebuah taman di pingit kota dengan banyaknya permukiman warga pinggiran.
Keduanya duduk diam menatap sawah yang membentang, duduk di bawah pohon yang cukup rindang.
"Lu tau Dino, gue cinta banget sama seseorang tapi, mulai saat dokter memvonis bahwa gue terkena Leo Kimia gue mutusin buat mundur mencintai dia," suara Rika yang bergetar memecahkan keheningan di antara keduanya.
Dino tidak tahu harus bagaimana, ia hanya diam sampai menatap ke depan.
"Di sisa-sisa hidup gue, gue cuman mau lihat dia bahagia bersama wanita lain, udah itu aja," Rika tersenyum getir.
"Gue minta lu rahasia in ini ya, mereka enggak perlu tahu tentang ini, karena, cepat atau lambat juga aku akan mati di gerogoti penyakit ini," jawab Rika.
"Rika-"
"Aku mohon Din."
Dino hanya bisa mengangguk dan diam meratapi bertapa prihatin pada keadaan Rika.
"Awalnya aku juga enggak yakin, tapi, hasilnya sama aja, kamu dengan sendiri," Rika mengeluarkan tisu dari dalam tas kecilnya, tisu yang selalu ia bawa saat sedang mimisan, bahkan sedikit saja terjatuh seperti tadi kini tubuhnya sudah memar.
"Rika, apa enggak sebaiknya keluarga kamu tahu."
"Enggak Din, Mama sekarang udah mulai bahagia lagi semenjak Papa nikah lagi dengan mantan kekasihnya, Kak Dimas juga sama Lala sedang fokus sama calon anak mereka, Lala sering sakit-sakitan, aku enggak mau merepotkan mereka," jawab Rika.
"Terus, gimana dengan orang yang kamu bilang kamu sayang sama sama dia?" Tanya Dino.
Rika tersenyum kecut sambil mengingat wajah Sandy.
"Aku rasa dia udah bahagia juga," Rika mengingat saat-saat Tiara bersama Sandy, bahkan Tiara sendiri yang mengatakan jika Sandy adalah calon suaminya.
__ADS_1
Terasa menyakitkan, tapi Rika hanya ingin melihat orang-orang yang di cintai nya bahagia.
Keduanya kembali hening, duduk diam sambil menatap ke arah depan.
"Terus, gimana dengan pengobatan kamu selanjutnya?"
"Berobat seperti biasanya, pas lebaran kemarin Kak Dimas transfer uang nilainya lumayanlah dan aku gunain buat berobat, emang uangnya udah abis, mungkin nanti aku bisa minta transfer lagi dengan alasan yang pastinya buat poya-poya."
Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk mendapatkan uang, karena, black card dan ada beberapa ATM lainnya yang di berikan Sandy padanya tapi, Rika tidak ingin menggunakan uang tersebut mengingat sampai saat ini pun ia belum berhak karena belum menunaikan kewajiban nya sebagai seorang istri.
Rika masih berusaha untuk menerima apa yang sedang di alaminya, sehingga ia lebih memilih diam.
"Kita pulang yuk, ini udah sore," pinta Dino.
"Yuk," Rika juga segera bangun lalu keduanya masuk ke dalam mobil.
Dino hanya diam begitu pun dengan Rika, keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing, tidak ada lagi keceriaan seperti biasanya.
Rika yang cerewet kini berubah pendiam.
Rika turun dari mobil setelah Dino menghentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang rumahnya.
"Makasih ya Din."
Seperti biasanya Rika akan kembali pada wajah cerianya, dan melupakan segala kesedihannya yang tengah menusuk relung hatinya.
"Dek, kamu kemana sih, udah jam segini baru pulang, ingat kamu sudah punya suami," Mama Yeni tidak pernah bosan untuk mengingatkan anaknya mengenai status istri yang kini di sandang Rika.
"Ma, Rika makan dulu ya, lapar banget!" Rika langsung berlari masuk dan menuju dapur mencari makanan.
"Ya ampun anak itu, tidak ada sopan nya lagi pada Mamanya," gumam Mama Yeni kemudian ia juga ikut masuk menyusul Rika.
Mama Yeni melihat Rika duduk di kursi meja makan, menabtikan Art tengah membuatkan makanan untuknya.
"Ini Neng," Art meletakan sepiring nasi dan sayur bening serta telur ceplok, tidak biasanya Rika makan seperti itu.
"Mama masak soto kesukaan kamu, sama semur ayam, kok kamu enggak makan?" Mama Yeni menatap piring Rika.
"Masakan Mama enggak enak!" Jawab Rika kemudian ia langsung memakan makanannya.
"Rika, kamu makin hari makin enggak karuan banget sih?!" Mama Yeni tidak lagi mengenali putrinya, Rika kini jauh berbeda.
"Apasih Ma," Rika meneguk air putih, kemudian ia berdiri.
"Kamu gimana sama Sandy? Kamu itu udah punya suami! Jangan lupa itu, atau kamu mau pisah?"
__ADS_1
"Iya Ma, Mas Sandy udah punya calon istri baru, bilangin ya Ma, sebelum menikah lagi tolong ceraikan Rika dulu," setelah mengatakan itu Rika langsung pergi.
"Apa maunya anak itu, aku benar-benar tidak mengerti, dulu dia yang tergila-gila minta di nikahkan dengan Sandy?!"