
Srek!!!
Dimas melemparkan sebuah kertas pada meja, tidak lupa sesaat kemudian ia mengambil bolpoin dari saku kemeja nya. Dan ia juga meletakkan nya di atas kertas barusan.
"Tanda tangan!"
Dimas duduk saling berhadapan dengan Dimitri, kedua terlihat saling menatap dengan tajam. Tidak ada tatapan persahabatan yang ada hanya tatapan tajam penuh kebencian.
Dimitri menatap kertas di hadapannya, tentu saja ia tidak akan mau menandatangani surat itu. Itu adalah surat cerai antara ia dan Lala, jika ia menanda tangani surat tersebut artinya ia sudah sah bercerai dari Lala.
"Kau punya dua pilihan, menandatangani kertas ini," Dimas menatap Dimitri dengan serius dan menjeda sejenak perkataannya, "Atau kau bisa terkena pasal berlapis, pertama kau sudah memanipulasi perusahaan Atmaja Bagaskara grup. Dan kekerasan fisik terhadap istri mu sendiri, sekaligus aku akan memanggil wartawan untuk mu ke sini. Dan bagaimana nasib perusahaan mu?" Dimas tersenyum miring penuh kemenangan, kemudian ia menjauh sambil melihat Dimitri dengan santai.
Satu minggu sudah berlalu, Dimitri di nyatakan masih hidup. Namun untuk kali ini ia tidak bisa lepas dengan mudah dari apa yang sudah ia lakukan, sebab lawannya kini cukup sepadan. Mungkin jika dulu Dimitri tidak akan mudah untuk terjerat hukum. Karena kekuasaan nya yang cukup besar, namun kali ini ia salah penilaian. Ia menyangka Dimas hanya seekor nyamuk yang tidak akan bisa melakukan apapun, namun ternyata Dimas cukup memiliki kekuasaan hingga berhasil menariknya kedalam jeruji besi.
"Aku tidak akan menceraikan nya!" tegas Dimitri.
Dimas tersenyum, ia mengambil ponselnya. Kemudian mencoba menghubungi pengacara yang kini mendampingi proses hukum yang di jalani oleh Lala.
"Halo, segera ajukan berkas-berkas visum, dan juga bukti-bukti penggelapan....." belum selesai Dimas berbicara Dimitri langsung mengambil bolpoin yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Tunggu!" kata Dimitri, sesaat kemudian ia langsung menggoreskan tinta pada kertas dengan bukti cerai yang sudah ia setujui.
Dimas tersenyum dan menatap ponselnya, "Itu hanya gertakan, tuan Dimitri karena aku tidak menghubungi siapapun," ujar Dimas tersenyum penuh kemenangan, sementara tangannya dengan cepat mengambil surat cerai yang sudah di tandatangani oleh Dimitri.
"Kurang aja!" geram Dimitri karena ternyata Dimas sedang membodohi dirinya, "Kau berani mempermainkan aku!"
"Hehehe...." Dimas tertawa kecil, "Selamat menekam di jeruji besi ini, dan sepertinya masa hukuman mu akan di tambah. Karena laporan bukti visum Lala dan juga berkas penipuan pada perusahaan tuan Atmaja Bagaskara sudah di terima oleh pengadilan negeri Jakarta, dan bersiap-siap lah Tuan Dimitri yang terhormat, masa tahanan mu cukup lama di sini...." ujar Dimas yang lagi-lagi menertawakan nasib Dimitri.
"Kau!!!" Dimitri tidak menyangka jika Dimas berhasil menarik dirinya pada tempat yang tidak pernah ia duga, selama ini ia bebas berbuat semaunya tanpa ada yang bisa mengalahkan.
"Ahahahahah......" Dimas tertawa lebar, "Jadilah tahanan yang baik, agar kau menjadi salah satu tahanan teladan dan lumayan lah bisa mengurangi masa hukuman mu mungkin selama satu hari," ejek Dimas lagi, "Satu lagi," Dimas kini menatap Dimitri dengan serius dan sedikit condong pada Dimitri dengan meja yang menjadi pembatas keduanya, "Kalau kau tidak bisa bersikap baik, atau masih berusaha mengganggu hidup mantan istri mu. Perusahaan mu akan hancur berkeping-keping! Aku pastikan itu jika kau berani!" kata Dimas.
"Huuuufff......" Dimas menarik nafas dengan panjang, karena ia sangat menyesal atas apa yang sudah terjadi pada Lala. Andai ia lebih cepat menyadari perasaan nya pasti kini ia sudah hidup bahagia bersama Lala, tanpa harus menyaksikan penderita Lala yang kini sangat membuatnya merasa bersalah. Namun sayang menyesal pun sudah tidak ada berguna lagi, hingga ia hanya berharap semoga Lala bisa segera sembuh dari trauma yang kini ia alami.
Dimas menatap jam yang ada di pergelangan tangan nya, ia melihat hari sudah cukup siang. Ia ingin menuju perusahaan Adithama group, ataupun sebelum nya nama perusahaan itu adalah Atmaja Bagaskara. Perusahaan itu memang sudah di rubah total oleh Dimas. Tidak ada niat Dimas untuk merebut perusahaan tersebut. Tapi itu harus di lakukan sampai Atmaja Bagaskara bisa memimpin kembali perusahaan itu, sebab jika tidak bisa saja ada orang yang memanfaatkan keadaan. Ataupun bisa saja Dimitri kembali merebut paksa perusahaan itu, hingga dengan terpaksa Dimas membuat semua aset milik Atmaja Bagaskara menjadi miliknya.
Flashback on.
Satu bulan yang lalu, sebelum Atmaja Bagaskara di bawa ke Jerman. Ia sempat sadarkan diri, saat itu Atmaja hanya menyebut nama Lala putri yang sangat ia rindukan, namun Dimas yang sudah bergerak cepat langsung menemui Atmaja.
__ADS_1
"Tuan Atmaja, bisakah anda menandantangani surat ini?" tanya Dimas, sebab selama ini ia sudah membuat berkas-berkas yang mengatakan jika ia adalah pemilik perusahaan Atmaja Bagaskara. Namun Atmaja Bagaskara tidak juga sadarkan diri, hingga saat Atmaja sadar ia tidak ingin membuang kesempatan itu.
Atmaja masih diam dan ia belum sepenuhnya sadar, kemudian ia menatap Dimas, "Lala di mana?" tanya Atmaja dengan suara lemahnya.
"Lala baik-baik saja, tapi anda tidak punya banyak waktu. Tolong tanda tangan surat ini," pinta Dimas, sebab ia tidak ingin anak buah Dimitri nantinya mendapati dirinya yang sedang berbicara dengan Atmaja.
"Tapi....." suara Atmaja semakin melemah, karena tentu saja ia tidak akan mau menandatangani sesuatu yang tidak jelas menurut nya.
Sementara Dimas tidak bisa menjelaskan nya saat ini, waktu yang singkat dan juga keadaan Atmaja yang tidak memungkinkan. Hingga akhirnya Dimas mengatakan jika Lala tengah dalam bahaya, jika ingin dia bebas maka Atmaja harus bisa di ajak kerjasama.
Atmaja tidak lagi banyak bertanya, ia pikir saat ini adalah putri yang memang bersama orang yang salah. Atmaja tidak ingin jika Lala terus menderita hidup bersama dengan Dimitri.
Flashback off.
Dimas tersenyum dan mulai menyalakan mesin mobilnya, ia melanjutkan nya di tengah jalanan yang cukup padat. Di sekitar nya hanya ada gedung-gedung yang menjulang tinggi, dan pepohonan yang tumbuh di sisi jalanan. Kini mobil Dimas memasuki gerbang rumah kedua orang tuanya, Dimas memarkirkan mobilnya dengan asal dan mulai memasuki rumah. Hingga matanya melihat seorang pria yang tengah duduk di sofa ruang tamu.
"Tuan Dimas Adithama," ujar pria tersebut menatap Dimas dengan remeh.
"Ternyata kau masih hidup," jawab Dimas dengan angkuhnya.
__ADS_1
"Berkat doa mu," kata pria itu lagi.