Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 127


__ADS_3

Malam itu benar-benar Sandy dikerjai habis-habisan oleh tiga pria sableng yang bahagia melihat wajahnya tersiksa.


"Waktunya sahur yuk," dengan santainya Dimas bangun dari duduknya dan segera berjalan menuju meja makan.


Arka dan Radit juga ikut berdiri lalu pergi berjalan menuju meja makan.


Bagaimana dengan Sandy?


Sandy hanya diam dan melihat ketiga pria menjengkelkan itu seakan tidak memiliki kesalahan apapun pada dirinya.


"Sandy!" Suara Mama Yeni mengejutkan nya, tersadar ternyata dirinya sendiri yang masih berada di ruang kerja Dimas.


"Iya Ma," Sandy segera bangun dan ikut menyusul yang lainnya.


Waktu makan sahur di mulai, belum juga Sandy duduk di kursi meja makan tapi Rika sudah meletakan sendok di tangannya.


Tidak lama kemudian Rika berdiri dan dengan cepat ia pergi tanpa memakan makanannya terlebih dahulu.


Bahkan sampai meninggalkan suara yang cukup nyaring karena, suara kursi yang terseret.


"Rika," Mama Yeni merasa putri sudah keterlaluan dan ia ingin sekali menegur.


"Ma," Sandy menegur Mama Yeni, menurutnya tidak baik jika berdebat di waktu makan.


Dengan terpaksalah Mama Yeni diam lalu, duduk kembali dan memulai makan sahur dengan baik.


"Sandy, Mama tidak tahu kenapa Rika bisa begitu tapi, dari awal Mama Sudah ingatkan bukan?" Tanya Mama Yeni dengan perasaan was-was.


Bagaimana pun Mama Yeni adalah seorang ibu, sudah pasti akan terus mengkhawatirkan keadaan anaknya.


Apa lagi Rika menikah di usia yang sangat muda dengan sipat kekanak-kanakan yang belum bisa dewasa sama sekali.


Mama Yeni pun takut jika Sandy tidak kuat akan kelakukan putrinya dan malah berpisah, anaknya akan menyandang gelar janda dalam usia remajanya.


"Mama, tidak usah memikirkan hal aneh-aneh," Dimas tahu kini Mama Yeni sedang tidak baik-baik saja, maka dari itu ia ingin mengingatkan sang Mama.


"Mama takut Dim," jawab Mama Yeni.


"Resiko, sudah di ingatkan dari awal tapi si-gila ini tetap ngotot!" Senyum miring Dimas mengarah pada Sandy.


"Sandy enggak papa Ma, Mama jangan pusing-pusing memikirkan pernikahan Rika sama Sandy," Sandy juga meyakinkan Mama Yeni jika tidak akan ada yang terjadi di dalam pernikahan, seperti pikiran buruk Mama Yeni.


Sandy bukan anak baru gede lalu menikah, usianya sudah sangat matang dan juga sudah terbilang dewasa.


Apa lagi membuat istri kanak-kanak nya menjadi dewasa, pasti sebentar lagi bisa.

__ADS_1


Jangan lupa Sandy adalah seorang psikiater, mengerti dengan keadaan Rika dan tau cara menghadapi istri bocahnya.


"Kamu harus sabar ya, Sandy, Mama takut nanti kalian pisah."


"Enggak Ma, sekarang makan dulu ya."


Sandy mengerti dengan perasaan Mama Yeni, 'pisah dari mana? Sandy cinta mati sama Rika Ma' batin Sandy.


Selesai dengan makan sahur semua mulai membubarkan diri, satu-persatu mulai meninggalkan kursi meja makan.


Kecuali Sandy yang masih duduk di tempatnya.


"Kamu ke kamar aja, di sebelah kamar Dimas kamar kamu sama Rika," kata Mama Yeni tersenyum lembut.


Di samping kamar Dimas?


Sandy menarik napas dengan berat, kapan bisa membawa istrinya pergi dan tinggal di rumahnya.


Kesal dirinya seperti menumpang di rumah mertua bersama ipar karena, tidak mampu membiayai istrinya sendiri.


Tapi, tidak masalah, Dimas bukan orang baru dalam hidupnya.


Mereka sudah bersahabat cukup lama dan tidak perlu terlalu canggung.


"Sandy, kamu tidur ke kamar, Mama tahu dari acara semalam kamu tidak tidur sama yang lainnya," Mama Yeni kembali menyadarkan Sandy yang tengah melamun.


Lihat saja ketiga pria gila sahabatnya itu, mereka kini malah tidur karena semalam tidak tidur.


Bahkan tanpa ada kata basa-basi pada dirinya, meninggalkan nya seakan menjadi manusia paling tidak berguna.


Sandy berjanji akan membalas setelah waktunya tiba.


Kini Sandy berdiri di depan pintu kamar, jelas tertulis nama wanita pujaan hati di depan pintu kamar.


Sandy pun yakin itu adalah kamar istrinya tetapi, masih bingung bagaimana cara berhadapan dengan Rika mengingat istrinya tengah marah padanya.


Dengan menarik napas terlebih dahulu Sandy mencoba memutar gagang pintu dan mendorong dengan perlahan, menatap Rika yang kini tengah menangis dengan duduk di sisi ranjang nya.


Sandy perlahan masuk lalu, menutup pintu kembali, setelah itu perlahan kakinya melangkah menuju ranjang dan berdiri di hadapan Rika.


Rika baru tersadar ada Sandy di hadapannya, dengan segera ia berdiri dan pergi begitu saja, bahkan Rika keluar dari kamar meninggalkan Sandy.


Setelah keluar dari kamar Rika langsung menuruni tangga dan ternyata ada Mama Yeni yang berdiri di sana.


"Rika, Mama mau bicara."

__ADS_1


Rika terdiam dan kembali berbalik menatap Mama Yeni walaupun wajahnya terlihat begitu kusut.


"Kamu tidak boleh begitu sama Sandy, dia itu suami kamu sekarang," Mama Yeni berusaha menegur putrinya.


"Rika enggak ngerasa," jawab Rika ketus.


"Rika, kamu itu kesannya tidak pernah di ajarkan sopan santun oleh Mama dan Papa," geram Mama Yeni.


"Rika, enggak mau nikah nya begini! Menikah apa ini, Rika enggak ngelakuin apa-apa sama Mas Sandy, kenapa di paksakan menikah!"


Rika masih sama memiliki alasan untuk menentang setiap kata yang keluar dari mulut Mama Yeni.


"Rika, kamu tidak boleh begitu."


"Udahlah Mama bilang aja ke Mas Sandy buat jatuhin talak ke Rika! Enggak papa Rika jadi janda!"


Plak!!


Tangan Mama Yeni melayang di wajah putrinya.


Wajah Rika terbawa ke samping, seketika ia memegangi pipinya yang terasa sakit.


Mama Yeni pun menatap tangannya, rasa sesal mulai terasa dan ia kesal pada dirinya sendiri.


Rika perlahan kembali menatap Mama Yeni dengan air matanya yang menetes.


"Rika enggak tahu, Rika yang anak Mama atau dia!"


Rika menunjuk ke arah pintu kamarnya di mana Sandy sudah berdiri di sana.


"Rika, Mama minta maaf," Mama Yeni benar-benar menyesal sudah melayangkan tangannya pada wajah putri bungsunya.


"Pertama kalinya tangan Mama menamparku dan ini karena mu!" Rika menatap Sandy penuh kemarahan.


"Rika Mama minta maaf," Mama Yeni berusaha untuk memegang lengan Rika.


Rika cepat-cepat kembali masuk kedalam kamar nya lalu, mengunci pintu dan tidak mengijinkan siapa saja masuk kedalam kamar nya termasuk Sandy.


"Rika," Mama Yeni berusaha untum mengetuk pintu kamar Rika, berharap Rika mau menemui dirinya.


"Ma, biarkan dulu, jangan memaksa semua harus selesai saat ini karena, dia sedang marah," Sandy berusaha untuk menenangkan Mama Yeni.


Mama Yeni mengangguk dan tidak lagi mengetuk pintu kamar Rika.


"Kenapa Mama bodoh sekali," Mama Yeni benar-benar menyesal karena telah melayangkan tangannya.

__ADS_1


***


Jangan lupa like dan Vote.


__ADS_2