Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 112


__ADS_3

Lala meletakkan tangannya di dada, air mata jatuh begitu saja. Seketika lututnya terasa lemah terduduk di lantai dengan perasaan campur aduk.


"Ayah..." pelan dan terasa tercekat karena shock membuatnya bingung.


Atmaja kini duduk di kursi roda ada di hadapannya, Lala tidak tahu dan bingung mengapa Atmaja sudah berasa di sana.


"Sebenarnya Aa ingin memberikan mu kejutkan setelah pulang dari pasar malam tetapi," Adam mengangkat bahunya mengingat kejadian naas tanpa bisa di hindari.


Lala seketika menghambur memeluk Atmaja, harta yang paling berharga dalam hidupnya.


"Ayah."


Tangis Lala pecah seiringan dengan pelukan hangat penuh kerinduan antara anak dan seorang Ayah yang sangat disayangi nya.


Keduanya saling melepaskan rindu, mendekap hangat satu sama lainnya setelah sekian lama tak bertemu, dengan rasa gundah gulana memikirkan salah satunya.


Penyemangat dalam setiap napas, kekuatan dalam setiap rintangan.


"Ayah sangat merindukan mu."


"Lala juga rindu banget sama Ayah," tidak henti-hentinya Lala mengusap air mata kebahagiaan, air mata kerinduan yang terbentang jarak dan keadaaan kini di pertemukan dalam ruangan penuh kebahagiaan dan kehangatan.


"Ayah juga."


Raut wajah bahagia terpancar dari semua bibir, seiring senyuman yang mulai bermekaran mengganti kepahitan yang perlahan memutar.


"Kamu katanya sedang mengandung cucu Ayah?" Tanya Atmaja penuh bahagia.


Lala mengangguk, "Maaf ya Yah, Lala nikah enggak ijin dari Ayah dulu," lirih Lala dengan perasaan bersalah.


"Siapa bilang?" Tanya Atmaja bingung.


"Kan memang begitu."


"Tapi Dimas sudah ijin sama Ayah," tutur Atmaja menunjuk Dimas yang berdiri tidak jauh dari Lala.


Lala seketika memutar leher 80 derajat menatap Dimas.


Dimas menatap arah lainnya dan tidak ingin membalas tatapan Lala.


Seketika Lala merasa memiliki banyak pertanyaan untuk Dimas.


"Tapi Ayah bahagia," tutur Atmaja lagi dengan menggenggam tangan putrinya begitu erat.


"Iya Yah, Lala bersyukur karena Ayah sudah kembali. Tapi, kapan Ayah kembali?"


"Tadi malam, dan Ayah menunggu mu dari tadi malam."


"Yah, Lala ke kamar dulu ya. Mandi, dan ganti baju. Lala juga sangat lapar."


"Iya."


***


"Aa, gimana sih! Katanya Ayah enggak tahu tentang pernikahan kita. Tapi tahu-tahu udah dapat ijin!!!" Cerca Lala dengan pertanyaan.


"Keadaan nya waktu itu sulit, Ayah juga belum sembuh sepenuhnya dan kami berbicara hanya lewat sambungan telepon," jelas Dimas.


Lala masuk ke dalam kamar mandi dan Dimas juga ingin menyusul tetapi, Dimas kalah cepat daun pintu tertutup padahal satu langkah lagi sudah bisa mandi bersama istri nya.


"Sayang!!!!" Seru Dimas dengan suara keras berharap Lala membukakan pintu untuk dirinya.


"Bulan puasa!!!" Sahut Lala dari dalam.

__ADS_1


Dimas menepuk dahinya, hampir saja lupa dengan bulan suci ramadhan.


Bahkan untuk hari ini ia tidak berpuasa karena tidak sahur dan terlalu banyak insiden di hari ini, akan tetapi esok hari Dimas akan berpuasa sampai hari kemenangan tiba.


Lala keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk di tubuh nya, perut yang sedikit membuncit membuat otak Dimas tidak baik-baik saja.


"Mandi!"


Plak!!!


Lala menepuk tangan Dimas yang ingin menyentuh gundukan ajaib milik nya.


"Iya, iya!!!"


Dimas mengacak rambut dan menunjukan wajah kesalnya sambil kakinya berlalu masuk kedalam kamar mandi.


Lala tersenyum geli mengingat keanehan Dimas barusan, entah mengapa Dimas yang kini menikahinya sangat berbeda dengan Dimas yang dulu.


Lala ingat saat dulu mengejar-ngejar Dimas, jangankan senyuman jawaban Dimas saja tidak lebih dari menyakiti hatinya. Tetapi, walaupun begitu perasaan cinta Lala tidak serta berubah.


Sekalipun bentakan yang terucap tapi, Lala tetap saja tersenyum tidak karuan.


Lalu setelah menikah semua berbanding terbalik, Dimas yang aneh, yang banyak maunya, cemburu setingkat dewa dan yang paling harus di garis bawahi adalah Dimas yang sangat mesum.


"Sayang Aa udah wangi belum?" Tanya Dimas menggoda Lala setelah keluar dari kamar mandi.


Sejak kapan Dimas tidak tampan?


Wangi?


Tentu!


Sampai saat ini pun masih saja Lala begitu menggilai Dimas, bahkan tidak pernah pudar sedikit pun perasaan nya.


"Apa?" Dimas memperhatikan dirinya.


Tubuhnya tegap, berotot, dada bidang dengan perut kotak-kotak.


"Ganteng-ganteng enggak puasa?" Pekik Lala.


"Sayang bukan enggak mau puasa, tapi kita mandi aja baru sekarang lihat itu jam!" Dimas menunjuk jam dinding, "jam 10 pagi Markonah!"


"Ahahahhaha..... Aa nikah sama Markonah," Lala tertawa saat Dimas menyebutnya Markonah, Dimas yang dingin kini berubah menjadi pelawak.


"Iya, iya!!!"


Sekalipun Dimas menunjukan wajah masam nya tetapi dalam hati ia bahagia melihat senyuman istrinya yang begitu lepas.


"Uhuk-uhuk!!!!" Lala terbatuk-batuk.


"Azab istri durhaka sama suami!" Ejek Dimas.


Lala meneguk air mineral dan rasa di lehernya perlahan membaik.


"Biarin!"


Lala seketika berjalan menuju almari dan memakai pakaiannya.


"Sayang, besok sudah puasa. Sedikit saja ujungnya lah ya," pinta Dimas sambil melingkarkan tangannya pada pinggang Lala.


"Iya, ujungnya masuk cuman ujungnya ya," ejek Lala.


Lala mendadak bergidik saat menyadari pembahasan nya dan Dimas.

__ADS_1


"Ini bulan puasa Aa, jangan aneh-aneh. Kalau pun enggak puasa tetapi kalau di dalam bulan suci ramadhan tidak boleh," ujar Lala.


"Kan cuman ujungnya," goda Dimas lagi.


"Pakai pakaian! Brisik!" Lala mengambil pakaian bersih dari almari dan meletakan di atas ranjang.


"Pakaikan!"


Lala mendesus bertapa suaminya semakin aneh tetapi, hati Lala sedang bahagia saat kepulangan Atmaja hingga tidak mempermasalahkan keinginan suaminya.


"Mana tangannya adik bayi," seloroh Lala.


Dimas memberikan nya dan Lala perlahan mengancing kemeja suaminya.


"Ini harus dipakai ya, ini sabuk pengaman!"


"Ahahahhaha......" Dimas kali ini yang tertawa melihat istrinya menyebut pakaian dalam pengamanan.


"Pakai!"


"Iya Ibu Dimas, tapi pakaikan!"


"Ya ampun ini suami atau anak!" Gerutu Lala sekalipun begitu ia tetap memakaikan nya untuk Dimas.


"Jangan di pegang ini bulan puasa!" Celetuk Dimas.


Ya ampun untuk kali ini saja Lala ingin meminta ampun, "Tadi di suruh, sekarang?!" Wajah Lala berapi-api menatap Dimas geram.


"Ya ampun ini apa?" Dimas mendekatkan wajahnya dan ingin mengambil sesuatu, tetapi anehnya malah kecupan yang mendarat di kening Lala.


"Ish!!!" Wajah Lala bersemu merah, kala Dimas bisa membuatnya sehari saja tanpa bunga yang bermekaran di sekelilingnya.


Tidak ada.


Dimas terlalu tampan, terlalu baik, terlalu manis saat tersenyum hingga hati Lala selalu luluh pada setiap perlakuan Dimas yang menatapnya penuh cinta.


"Jangan menangis, kalau mau nambah bilang!!"


"Mama!!!!" Teriak Lala sambil beralih membuka pintu.


"Apa?" Tanya Mama Yeni.


Degh!


Dimas juga langsung keluar dan melihat Mama Yeni di luar sedang berada di depan pintu kamar Rika yang bersebelahan dengan kamar Dimas.


"Lala minta di cium Ma, padahal enggak boleh kan bulan puasa!"


"Enggak!" Lala menggeleng.


Dimas memutar balikan fakta, dan membuatnya malu sampai di ubun-ubun.


"Nanti malam Aa tidur sendiri, Lala mau tidur sama Ayah!"


"Sayang!" Wajah Dimas frustasi menatap Lala yang sudah pergi.


"Mampus!" Ejek Mama Yeni dan ia pun segera masuk ke kamar Rika.


"Sayang!!!!"


***


Emak-emak cakep terutama yang berdaster, tolong like dan Vote.

__ADS_1


__ADS_2