
"Rika bangun."
Rika perlahan membuka mata dan melihat wajah panik Dimas, perlahan Dimas mendudukkan tubuh Rika di sisi ranjang Sandy.
"Kamu enggak papa kan?"
Bunda Jihan segera menyapukan minyak kayu putih pada tangan dan kaki Rika, merasa bersalah karena sudah membuat menjadi shock.
"Kamu minum dulu, buka puasa dulu," celetuk Mama Yeni sambil memberikan segelas air putih.
"Memangnya kamu belum buka puasa?!" Tanya Sandy terkejut.
Rika tidak menjawab ia hanya meminum air yang diberikan oleh Mama Yeni.
"Udah ya puasanya, makan cinta aja enggak akan kenyang," ejek Dimas.
"Kak Dimas!!!"
Rika seketika menangis karena Dimas malah mengejek dirinya.
"Makan tidak enak, tidur pun tak nyenyak ya Dek?!" Tambah Mama Yeni.
"Mama," Rika berseru dan malah semakin menangis seperti anak kecil.
"Sudah-sudah," Sandy menarik Rika kedalam pelukannya.
Plak!!!
Dimas memukul tangan Sandy.
"Ahahahhaha!!!" Semua tertawa karena Sandy seperti maling yang ketahuan.
"Belum boleh, belum sah!" Geram Dimas.
Sandy menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan dengan terpaksa urung memeluk Rika.
"Ya ampun, bagaimana nasib cincin ini," Dokter Anifah bersuara hingga akhirnya semua perhatian berpindah padanya.
"Rika, bagaimana. Apakah kamu mau menerima cincin pertunangan ini?"
"Caelah, pengen guling-guling, nyeker-nyeker," ejek Mentari.
"Ya ampun, kok Lala juga pengen ya," tambah Lala menatap Dimas.
"Alah, pengantin basi!" Pekik Mentari.
"Ahahahahah....." Lala tertawa merasa geli dengan tingkahnya barusan.
"Ayo Dokter Sandy," Dokter Anifah memberikan kotak cincin di tangannya.
Sandy mengambil alih dan memegang tangan Rika, memakaikan dengan perlahan di jari manis wanita yang sangat di cintai nya itu.
Suara tepuk tangan bergemuruh saat Sandy selesai melingkarkan cincin.
"Ayo Rika, giliran kamu tuh," Dokter Anifah memberikan nya.
Rika tertunduk malu.
"Ayo adik ipar ku, besok jangan sampai lupa lagi berbuka puasa. Entar pingsan lagi," seloroh Lala.
Rika benar-benar malu mengingat kekonyolan nya sendiri, bagaimana bisa ia tidak ingin memakan apapun saat berpikir jika Sandy dan Dokter Anifah memiliki hubungan.
"Rika, apa lagi? Atau kamu tidak ingin bertunangan dengan Sandy?" Tanya Bunda Jihan.
"Mungkin begitu Bunda," jawab Mentari.
Semua menatap Mentari penuh tanya, meminta jawaban yang pasti.
"Maunya langung nikah ya Rika!" Lanjut Mentari.
__ADS_1
"Mama!!!"
Rika kembali menangis karena malu, mengapa hari ini semua begitu bahagia menggoda dirinya.
"Ya ampun Dokter Sandy saya tahu penyebab anda sangat menyukai anak kecil, ternyata bocah itu sangat menggemaskan. Jika ada yang seusia kalian berikan satu untuk ku," ujar Dokter Dendi.
"Tidak ada, yang seperti ini limited edition Dokter Dandi," jawab Sandy terkekeh geli melihat tingkah Rika.
Beruntung ada banyak orang, jika tidak pasti ia sudah menggigit gemas bibir Rika saat itu juga.
"Sayang sekali," Dokter Dendi menunjukkan wajah kecewa hingga membuat yang lain tersenyum geli.
"Ayo Rika sekarang giliran kamu," pinta Bunda Jihan.
Rika perlahan memakaikan cincin di jari manis Sandy, di saksikan oleh banyak pasang mata yang ikut dalam bahagia.
Lagi-lagi suara tepuk tangan menggema ikut larut dalam rasa bahagia.
Setelah beberapa lama kemudian satu-persatu mulai mengundurkan diri sampai akhirnya Mentari dan Arka pun berpamitan pulang, mengingat baby twins yang tinggal bersama Omanya.
"Aku duluan ya, besok kita bukber ya," kata Mentari diiringi tawa kecil.
"Iya, Bunda setuju. Besok kita berbuka puasa di rumah Bunda, karena besok Sandy sudah mulai di rawat di rumah," jawab Bunda Jihan.
"Iya Bunda, Tari pasti dateng, Tari pamit ya semuanya."
"Hati-hati."
"Iya Bunda," Mentari kemudian menatap wajah Rika, "bobo yang nyenyak ya," celetuk Mentari.
Rika hanya diam tanpa berbicara, keadaan ini masih membuat shock bahkan berpikir jika ini adalah sebuah mimpi.
Andai ini mimpi maka Rika ingin tertidur saja, larut dalam bahagia di dunia mimpi.
Tetapi tidak.
"Kakak pulang duluan, jangan terlalu lama pulang. Supir menunggu mu di depan," kata Dimas.
"Iya Kak," Rika mengangguk dan menurut saja.
"Aku duluan ya beib!" Lala langsung memeluk Rika.
Keduanya berpelukan dengan erat.
"Kamu jahat!" Rika mengerucutkan bibirnya kesal pada Lala yang ikut mengerjai dirinya.
"Maaf," Lala tertawa bahagia, "aku duluan pulang ya," pamit Lala.
Lala sudah tidak kuat terlalu lama berdiri, hari ini ia mencoba berpuasa dan membuatnya cukup lelah mengingat usia kandungannya yang masih sangat muda.
"Mama juga pulang duluan ya," Mama Yeni juga berpamitan.
"Kok semua pada pamitan ke Rika, emang Rika enggak pulang?" Tanya Rika kebingungan.
"Kamu nanti saja pulangnya, temani Sandy dulu," jawab Mama Yeni.
Rika melongo, ada rasa takut bercampur horor.
"Ma, Rika baru tunangan lho.....Tapi kok udah enggak di kasih pulang?"
"Bukan enggak di kasih pulang Dek, mau kamu udah tunangan, udah nikah, kamu tetap bebas pulang ke rumah! Tapi kamu di sini dulu, nanti pulang setelah kami, paham?!"
Mama Yeni sendiri bingung mengapa anaknya masih sangat polos, mereka yang sudah dewasa tentu mengerti jika Sandy dan Rika butuh berdua berbicara.
Tetapi Rika malah kebingungan.
"Mama pulang dulu."
Terpaksa Rika mengangguk lemah, melihat pintu yang perlahan di tutup hingga tinggal Sandy yang kini menatap dirinya.
__ADS_1
"Masih pusing?" Pertanyaan Sandy memecahkan keheningan keduanya.
Mengawali pembicaraan sejak tadi hanya diam saja.
Rika tersadar masih duduk di atas ranjang yang sama, perlahan ia ingin turun tetapi, Sandy menahan lengan nya.
"Duduk saja, muka mu masih pucat," ujar Sandy.
Rika mengangguk dan memilih untuk menurut, kepalanya memang masih terasa pusing.
Tapi entah kenapa Rika merasa canggung dan tidak karuan, bukankah mereka sudah kenal baik bahkan sempat berpacaran.
"Kenapa tegang sekali? Senyum!"
Rika mencoba untuk tersenyum tetapi, rasa shock nya masih mengalahkan segalanya.
Sandy tersenyum dan mengelus kepala Rika, "Maaf ya, tadi ngerjainnya segitu banget."
"Mas bukannya tadi Dokter Anifah calon istri Mas?"
Rika membuang jauh-jauh rasa malu dan bertanya untuk merendam rasa penasaran.
"Siang tadi kamu ke mana?"
Sandy tidak tertarik membahas tentang wanita lain, apa lagi wanita yang sama sekali tidak penting bagi nya.
Tetapi Rika malah kesal karena Sandy tidak menjawab pertanyaan.
"Ish!"
"Kenapa harus membahas orang lain?" Sandy ingin sekali memeluk Rika tetapi ditolak.
"Mas apasih!" Rika kini sudah berbeda, tidak lagi mau di sentuh atau bahkan gilanya menyerahkan dirinya sendiri seperti saat dulu.
Bagi Rika harga dirinya adalah harga diri Dimas juga.
"Sayang, Mas tidak ada hubungannya dengan dokter itu, dan semuanya sudah di selesaikan siang tadi."
"Terus kenapa bisa kita tunangan malam ini?"
"Karena kamu cemburu!"
Glek.
"Mana ada!" Elak Rika.
"Dokter Anifah mana ya?"
"Ya udah Rika keluar, tunggu Dokter Anifah di sini!"
Sandy cepat-cepat memegang lengan Rika, "Kamu cemburu banget sih? Tapi cemburu tanda cinta," lanjut Sandy sambil menggoda Rika.
"Mas!"
"Ahahahhaha.......Sayang nya Mas nangis, jangan nangis enggak ada yang lain selain kamu."
"Bener?"
"Iya!"
"Enggak usah peluk-peluk juga!"
"Sedikit saja, sayang ya?"
Rika mengangguk dan Sandy langsung memeluk Rika dengan penuh cinta.
***
Ya ampun makasih udah di vote dan like
__ADS_1