Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Makanlah biar kuat


__ADS_3

Rika dan Tari langsung saja masuk ke kamar Dimas dan Lala, bahkan keduanya masuk tanpa permisi. Masih sama seperti dulu, Rika dan Tari memang seperti nya merasa kamar itu milik umum jadi mereka merasa bebas. Tanpa perlu ijin.


"Lalat sayang!!!!" seru Rika.


"Darling.....good night...." seru Tari yang tidak kalah hebohnya.


Lala yang duduk di sisi ranjang seketika tersentak, lehernya langsung memutar dan melihat Tari juga Rika semakin berjalan ke arahnya.


"Caelah manten baru lagi nungguin ya?" seloroh Tari.


"Tau nih, Kakak Ipar tambah cakep aja," timpal Rika lagi.


Lala kini memang tidak terlalu banyak bicara, bahkan ia lebih banyak diam. Sebab ia masih dalam masa pemulihan akibat trauma rumah tangga yang ia alami sebelumnya, tidak seperti dulu yang ceria dan cerewet. Dan sekarang pun sama ia hanya menatap kedua sahabatnya dengan sedikit malu.


"Manten baru malu-malu...." Rika langsung ikut duduk di sisi ranjang bersebelahan dengan Lala.


Tari juga tidak mau kalah, ia duduk di sebelah nya lagi. Hingga akhirnya Lala yang berada di tengah-tengah.


"Kalian berdua apasih heboh banget," ujar Lala yang tidak ingin di goda sahabat nya, karena ia akan sangat malu sekali.


"Caelah yang udah kagak sabar!" kata Tari asal, "Tapi lu makan dulu gih....." Tari menunjuk makanan yang di bawa Rika, beberapa saat lalu ia letakkan pada meja.


"Iya, dari pagi ku belum makan kan?" timpal Rika, "Kesian noh....ponaan gue!" kata Rika asal.


Lala langsung melihat Rika, sahabatnya itu memang sangat suka membuatnya bersemu malu, "Rika aku nangis ya," kata Lala yang tidak kuat dengan godaan Rika.


"Jangan dong, belum di apa-apain juga!" kata Rika lagi.


"Sekali lagi kamu ngomong aku nangis beneran," ancam Lala dengan serius, sebab ia tidak kuat menahan godaan Rika.


"Ya udah makan," Rika bangun dan ia menarik lengan Lala untuk pindah duduk di sofa, "Ayo makan sendiri atau di suapin AA Dimas?" seloroh Rika lagi, tanpaknya kini ia memiliki bahan untuk mengejek Lala.


"Yang ngejekin jomblo!" kesal Lala.


Wajah Rika langsung terlihat masam, karena apa yang dikatakan oleh Lala sangat benar sekali.


"Emmmmfffp....." Mentari menahan tawa karena Rika yang mendadak kalem.


"Napa lu?!" kesal Rika pada Tari.


"Lu yang kenapa?" tanya Tari balik, "Kena mental!" lanjut Tari lagi.

__ADS_1


"Sialan lu," Rika mengusap wajahnya, dan di antara mereka bertiga hanya dirinya yang menyandang status jomblo.


"Pak Bimo ada di kampus!" kata Lala mengingat dosen killer namun masih jomblo akut.


"Iya juga ya, tapi ogah.....masa iya sisa lu!" kata Rika, mengingat pak Bimo sangat menyukai Lala.


"Emang makanan sisa?" celetuk Tari.


"Aku makan ya?" kata Lala, dan ia mulai makan. Memang dari pagi tadi ia tidak makan satu butir nasi pun. Karena insiden yang ia alami sungguh membuatnya lupa walaupun hanya untuk menyuap sesuap nasi.


"Makan lah, biar kuat," kata Tari.


"Kuat?" tanya Lala dengan polosnya, ia menatap Tari dengan bingung.


"He'um...." Tari mengangguk, karena Lala masih dalam mode polos jadi Tari mulai memperjelas, "Kuat main kuda-kudaan!"


Rika dan Lala langsung menatap Tari, karena tanpaknya otak Tari sudah sangat dewasa sekali.


"Parah lu Tar!" kesal Rika.


"Mulai hari ini lu enggak boleh dengar pembicaraan orang tua, enggak baik buat anak-anak kayak lu!" kata Tari pada Rika.


Sedangkan Tari dan Rika terkejut melihat Lala tertawa, hal yang sangat mereka rindukan. Dengan cepat Tari dan Rika memeluk Lala.


"Kamu ketawa lagi?" tanya Tari sambil terus memeluk Lala.


"Kita kangen banget Lala yang dulu," tambah Rika yang juga memeluk Lala.


Lala terharu karena ternyata Tari dan Rika sangat memperhatikan dirinya, bahkan sampai begitu ingin melihatnya tersenyum kembali.


"Ini karena kalian, karena kalian aku bisa tersenyum. Makasih...." kata Lala.


"Aku punya sesuatu untuk kamu," Tari melepas pelukan nya begitu juga dengan Rika.


Lala juga sudah selesai makan, ia meneguk air mineral yang juga barusan di bawa bersama dengan nasi oleh Rika.


"Lu beli apaan Tar?" tanya Rika.


"Aku beli sesuatu, ini itu baju dinas," Tari mengambil paperbag yang tadi di letakan di atas ranjang, dan membawanya mendekat pada Lala dan Rika yang duduk di sofa. Tari juga ikut duduk di sofa dengan Lala yang berada di tengah.


"Baju dinas?" tanya Lala bingung.

__ADS_1


"La, dari dulu Sampek sekarang mode loading lambat lu kagak ilang-ilang ya? Bahkan udah di dewasain juga!" kesal Tari dan ia mulai memberikan paperbag nya pada Lala.


Lala yang penasaran mulai menatap paperbag di tangannya, dan perlahan tangan nya mulai bergerak memasukan tangan untuk mengambil isi dari isinya. Mata Lala melebar sempurna, karena ternyata yang di maksud baju dinas oleh Tari adalah baju lingerie.


"Enggak.... enggak...." dengan cepat tangan Lala mengembalikan nya pada Tari.


"Di balikin aku sedih lho...." ancam Tari.


"Mmmmfffffpp...." Rika menahan tawa, karena wajah Lala yang mendadak panik, "Udah terima aja, itung-itung bahagiain suami," celetuk Rika.


"Tapi ini bukan baju," tangan Lala mengambil satu lingerie, dan melihatnya, "Gimana bisa ini di sebut baju. Apa nya coba yang di tutupin. Percuma juga di pakek," wajah Lala terlihat melas sambil menatap lingerie pada tangan nya, "Itu baju sarang laba-laba kali ya," tambah Lala lagi.


"Harus pakek lho ini, awas kalau enggak!!!" ancam Mentari lagi.


"Tapi Tar," Lala masih mencoba untuk menawar, tapi tanpaknya Tari tidak ingin di tolak.


"Rika kita keluar yuk, kasian manten baru mau ya itulah....." kata Tari sambil terkekeh geli.


"Yuk," Rika menurut saja. Ia ikut keluar bersama dengan Tari.


"Rika, Tari," panggil Lala dari dalam kamar.


Rika dan Tari tidak perduli, keduanya malah melambaikan tangan dengan senyuman. Sampai akhirnya Rika pintu hingga tertutup.


Lala mendesus dan ia tidak tahu harus memakai pakaian yang tidak cukup bakal itu atau tidak, tidak lama kemudian pintu kembali terbuka. Lala yang memunggungi pintu merasa ada yang masuk, ia yakin itu Tari fan Rika yang kembali masuk.


"Tar aku....." Lala langsung berbalik, dan ternyata yang datang bukan Rika atau pun Tari melainkan Dimas yang kini berstatus suami nya.


Dimas menarik sebelah alis matanya, karena orang yang masuk adalah ia bukan nama-nama yang di sebutkan Lala.


"Pak Dimas," kata Lala lagi, setelah itu ia sadar dengan apa yang tengah ia pegang. Dengan cepat Lala kembali memasukan tiga lingerie yang ia pegang pada paperbag, dan ia meletakan nya ke belakang. Agar Dimas tidak melihat.


"Apa itu?" tanya Dimas.


"Em......." Lala ingin sekali meremas wajah Tari dan Rika saat ini, karena benda aneh itu kini pasti Dimas menertawakan dirinya pikir Lala.


"Kau menyembunyikan sesuatu?"


Glek.


Lala menggeleng, dan ia kini benar-benar merasa tegang.

__ADS_1


__ADS_2