
"Kenapa kau di sini?"
Suara Dimas menyadarkan Rika dari lamunannya, seketika itu juga langsung menatap Dimas.
"Enggak papa Kak," cepat-cepat Rika mengusap air matanya dan tersenyum pada Dimas seolah tidak ada yang terjadi.
Lala perlahan duduk di samping Rika, dan menatap mata sahabatnya yang sembab.
Tidak lama berselang Dokter Anifah keluar dari ruangan Sandy lalu ia pergi tanpa berbicara.
Dimas menatap bingung dengan apa yang kini terjadi, mengapa Rika menangis. Bukankah ia bahagia kini di ijinkan bebas bertemu Sandy kapan saja.
"Ayo masuk," kata Dimas sambil memegang lengan Rika.
"Rika di sini dulu ya Kak, Rika mau cari angin segar," tolok Rika sambil melepaskan tangan Dimas pada lengan nya.
Dimas mengangguk lemah, perlahan ia masuk tanpa membawa Rika.
Mata Dimas menatap Sandy yang duduk di atas ranjang, setelah menutup pintu dengan rapat kakinya berjalan ke arah Sandy.
"Apa kau dan Rika sedang bertengkar?" Tanya Dimas secara langsung.
Sandy seketika menggeleng sambil berpikir keras, mungkin ada kata-kata yang salah keluar dari mulutnya.
Tidak.
Tidak ada yang salah, bahkan barusan mereka tertawa bersama karena hal kecil.
Lalu, sekarang Dimas mengatakan mereka bertengkar. Bahkan Sandy juga bingung kemana perginya Rika.
"Lalu kenapa dia menangis?" Tanya Dimas lagi penuh selidik.
Tidak rela jika adik kesayangan nya tersakiti walaupun hanya seujung kuku pun, Dimas akan selalu ada untuk adiknya.
"Menangis? Rika menangis?" Sandy semakin bingung.
Benar-benar berusaha mengingat kesalahan nya akan tetapi ia masih tidak tahu.
"Dia di luar menangis dan saat aku bertanya dia berpura-pura baik-baik saja," jelas Dimas, "Siapa Dokter yang baru saja keluar dari sini? Apa dia Dokter yang merawat mu?"
Dimas sedikit menaruh curiga saat melihat seorang wanita yang berprofesi sebagai seorang dokter beberapa saat lalu keluar dari ruang rawat Sandy.
"Bukan, dia dokter yang menjenguk ku," jelas Sandy.
Dimas mengangguk mengerti, "Lalu kenapa adik ku menangis? Jangan main-main Sandy, jangan sampai aku mengirimnya keluar negeri dan kau tidak akan pernah bertemu dengan nya lagi!" Ancam Dimas.
"Dimas kau jangan kurang ajar ya!" Geram Sandy.
"Aku hanya mengatakan kalau kau main-main dengan adik ku!" Tegas Dimas.
"Aku rela menukar nyawa ku demi bisa bersamanya, bagaimana bisa kau mengatakan aku mempermainkan nya?" Tanya Sandy tidak mau kalah.
"Lalu masalah nya apa? Dari rumah dia terus tersenyum bahagia, sampai di sini aku malah melihat matanya sembab."
"Mungkin dia salah paham," Sandy mulai menyimpulkan bahwa Rika keluar dari ruangan itu karena mengira bahwa dirinya memiliki hubungan khusus dengan Dokter Anifah.
"Maksud mu?"
__ADS_1
"Barusan Dokter Anifah keluar dan mungkin dia berpikir-" Sandy mengusap wajahnya dan malas membahas mengenai Dokter Anifah.
"Aku memberikan mu pilihan dan kau harus memilih salah satunya!" Ujar Dimas.
"Pilihan apa?" Sandy menatap Dimas dengan perasaan was-was.
"Lupakan dia atau ikat dia dengan pertunangan, jika kau tidak bisa maka tinggalkan dia!" Papar Dimas.
Sandy tersentak, Dimas barusan mengatakan kalimat tunangan?
Apa telinga nya yang sudah rusak atau Dimas yang sedang salah berkata-kata.
"Aku serius! Karena kalau begini dia merasa bukan siapa-siapa dan menimbulkan banyak salah paham," jelas Dimas lagi.
Sandy tersenyum setelah mendengar penjelasan Dimas lagi, yakin telinga nya tidak salah mendengar jika apa yang di katakan oleh Dimas memang mengenai pertunangan.
"Dimas kau tidak sedang mabuk kan?"
"Sejak kapan aku suka mabuk-mabukan?"
Tatapan sinis Dimas tidak menjadi masalah bagi Sandy. Hal yang terpenting adalah Rika.
Restu Dimas adalah sebuah doa dalam setiap sujudnya.
"Dengan bertunangan dia tidak akan menganggap dirinya orang asing dan tolong jangan kecewakan dia, karena jika menyianyiakan dia aku lah orang pertama yang akan kau temui!"
"Terima kasih!"
Sandy langsung memeluk Dimas, pelukan persahabatan yang kini akan berubah menjadi keluarga.
"Rika," seru Mama Yeni mencari putri nya hingga ke kamar.
"Ya Ma?" Jawab Rika.
Mana Yeni melihat Rika tengah duduk di atas ranjang sambil berkutat dengan laptopnya.
"Kamu enggak jenguk Sandy Dek?" Tanya Mama Yeni perlahan duduk di sisi ranjang.
Rika sejenak menjauh dari laptop nya, kemudian menatap Mama Yeni.
"Kan udah Ma, siang tadi," Rika tidak ingin mengingat kejadian siang tadi, hanya fokus merawat Sandy karena balas Budi itu saja itu saja tidak lebih.
"Mama mau ke rumah sakit, kamu ikut juga," ajak Mama Yeni.
"Rika besok aja deh Ma, Rika lagi ngerjain tugas juga," Rika kembali beralih menatap laptopnya.
Jika biasanya Rika sangat bersemangat untuk bertemu Sandy tetapi tidak dengan saat ini.
Rika lebih memilih menghindar.
Takut tersakiti kini ia lebih memilih pandai-pandai menjaga hati.
"Ayo temani Mama," pinta Mama Yeni sambil menarik tangan Rika.
"Ma," Rika merengek dan tidak ingin ikut.
"Ayo cepat!"
__ADS_1
"Mama ngapain sih maksa Rika? Rika malas, besok Rika kan juga ke rumah sakit lagi Ma."
"Cepat ganti baju ini dan tidak ada alasan!"
Mama Yeni memberikan sebuah paperbag pada Rika.
"Ma?"
"Cepat, kamu mau nemenin Mama ke acara ulang tahun anak temen Mama!"
Dengan malas Rika terpaksa menuruti keinginan Mama Yeni.
Memakai sebuah dress yang terlihat pas dan tampak elegan di tubuh nya.
"Mama, ngapain sih harus pakaian beginian?"
Rika menunjuk dress yang kini melekat di tubuhnya, sedikit menjengkelkan dan tidak ingin memakainya sama sekali.
"Cepat pakai meka-up!"
Mama Yeni tidak ingin mendengar bantahan apapun dari mulut Rika.
"Enggak usah lah Ma!" Tolak Rika lagi.
"Cepat, atau Mama yang memakaikan nya!" Ancam Mama Yeni.
"Ish!" Rika menghentakkan kakinya dan segera berjalan menuju meja rias.
Tangan nya mulai memoles makeup tipis dan menatap dirinya di depan cermin.
"Ma, apa ada yang merayakan pesta ulang tahun di bulan puasa begini?" Tanya Rika.
"Cepat pakai ini," Mama Yeni kembali memberikan sebuah paperbag lagi.
Rika berjalan malas ke arah ranjang, mengambil heels yang barusan di lemparkan asal ke atas ranjang nya.
"Ma?"
Rika masih berusaha untuk membuat Mama Yeni tidak memaksanya untuk ikut, hati Rika sedang tidak ingin bertemu dengan orang lain di luar sana.
Saat ini Rika hanya butuh sendiri, berusaha berdamai dengan keadaan. Menerima kenyataan bahwa ia bukan siapa-siapa di dalam hidup Sandy.
Sekalipun menyakitkan.
"Ayo cepat dek, nanti kita telat!"
Mama Yeni segera menarik Rika keluar dari kamar.
"Ma ponsel Rika ketinggalan!"
"Tidak usah membawa ponsel!"
Dengan terpaksa Rika masuk ke dalam mobil setelah Mama Yeni mendorong dengan paksa.
"Ma?"
"Duduk!"
__ADS_1