
Plak.
Rika langsung menampar kuntilanak sesuai dengan apa yang di ajarkan oleh Sandy.
"Aaaaaa!"
Teriak Rika yang juga ketakutan, seketika ia berbalik dan memeluk Sandy dengan erat. Menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Sandy, berusaha berlindung dari rasa takutnya.
Degh!
Sandy mendadak terdiam, pelukan hangat Rika seakan begitu terasa hingga membuat hatinya bergetar.
Akan tetapi Sandy berusaha tenang dan melihat kuntilanak yang terkapar di lantai.
"Lihat," Sandy membalikkan tubuh Rika dengan paksa ingin menunjukkan kepada Rika bertapa Kuntilanak jadi-jadian itu tidak bisa melakukan apapun selain hanya menakut-nakuti saja.
"Mas!!!"
Rika menggeleng, sambil menutup mata dengan erat.
"Buka matanya sebelum Kuntilanak gadungan nya melarikan diri!" kata Sandy dengan nada memaksa.
"Enggak!" Rika menggeleng dan tetap menutup mata.
"Kalau tidak buka mata, kamu tinggal di sini sendiri!"
"Jangan!" dengan cepat Rika membukanya mata, tetapi tidak melihat kuntilanak yang barusan menjadi korbannya di hadapannya.
Huuuufff.
Rika menarik napas dengan berat, dan merasa sedikit lebih lega.
"Kamu tidak lihat, saat kuntilanak itu terkapar, sayang sekali," kata Sandy.
"Terkapar Mas?" Rika bingung dan menatap Sandy dengan terkejut.
"Em, tapi kau tidak melihatnya. Sangat di sayangkan!" kata Sandy dengan lesu.
Sandy kembali memutar tubuh Rika, berjalan maju mencari pintu keluar.
"Kalau setelah ini ada yang lewat, kalau kau tidak menamparnya! Kau sendiri di sini."
"Mas, apasih ngancam nya gitu amat," kata Rika merasa putus asa.
Rika terus melangkah, sesekali terdengar suara tangisan, tertawa, lalu suara-suara aneh lainnya. Tetapi, tidak untuk di pedulikan kakinya terus melangkah fokus pada tujuan mencari pintu keluar.
Andai saja Rika tahu rumah hantu begitu menyeramkan, tentu saja ia tidak akan meminta untuk masuk. Di tambah lagi Rika geram akan Mentari yang tidak bersama nya, entah Mentari berada di dalam rumah hantu juga atau tidak.
Dengan cepat mengibaskan tangannya, lalu kembali berpikir jernih.
Rika tengah merasa tegang, dan berusaha tetap tenang tiba-tiba ada pocong yang berdiri di hadapannya dengan meloncat tiba-tiba.
"Cepat!" kata Sandy.
Plak!!!
Plak!!!
Dua kali Rika menampar pocong jadi-jadian.
__ADS_1
"Buka mata atau sendirian!" tanya Sandy dengan tangan yang melepas Rika.
"Buka mata," dengan cepat Rika memegang tangan Sandy dan melihat ke arah depan.
Pocong itu berdiri dan cepat-cepat pergi.
Rika berbalik menatap Sandy dengan bingung.
"Kenapa?" tanya Sandy.
Padahal ia tahu bertapa Rika begitu kebingungannya.
"Mas?" Rika menatap Sandy. Tetapi tangannya menunjuk pocong jadi-jadian yang perlahan bangun lalu melarikan diri ketempat yang cukup gelap.
Tetapi belum selesai dari keterkejutan nya tiba-tiba Rika mendengar suara benturan.
"Mas?" tanya Rika lagi.
"Gelap, mungkin pocongnya terbentur," kata Sandy sambil terkekeh.
"Hah," Rika ternganga mendengar penjelasan Sandy.
"Pocong enggak ada harga diri," seloroh Sandy.
"Pocong gadungan ya Mas?"
"Iya."
Rika mangguk-mangguk dan merasa tidak lagi takut, karena sudah terbukti apa yang di katakan oleh Sandy benar.
"Masih takut?" tanya Sandy.
"Enggak," Rika menjawab dengan pasti.
"Em," Rika merasa malu dan melepaskan tangan Sandy dengan perlahan.
"Kuntilanak!" seru Sandy menatap ke depan.
"Mas," Rika dengan cepat kembali memeluk Sandy.
"Katanya tidak takut," ejek Sandy.
Huuuufff.
Rika perlahan menjauh dan merasa malu, "Mas bohong ya?" kesal Rika sampai beberapa kali memukul lengan Sandy karena kesal.
"Ayo kita cari jalan keluarnya," Sandy menunjukan arah yang di rasa jalan keluar.
"Mas, tapi pegangan aja ya," pinta Rika.
"Bukan muhrim!" ejek Sandy.
"Iya tahu," Rika membuang rasa malunya jauh-jauh tangannya dengan erat memegang lengan Sandy.
Keduanya terus saja berjalan, tetapi tidak ada lagi satupun kuntilanak maupun pocong jadi-jadian. Bahkan suster ngesot dan hantu jadi-jadian lainnya yang lewat untuk menakut-nakuti seperti sebelum nya.
"Mas, kok udah enggak ada yang lewat? Hantunya?"
"Hantunya udah pada trauma sama kamu," jawab Sandy asal.
__ADS_1
"Trauma? Memangnya hantu bisa trauma?"
"Bisa, ini buktinya. Besok-besok jangan sok ngajak kalau enggak berani."
Rika tersenyum kecut, awalnya Rika merasa seru jika masuk ke dalam rumah hantu bersama Dimas, Arka, Mentari, Lala dan dirinya. Apa lagi ada Dimas tidak mungkin ia ketakutan, tetapi yang terjadi justru sebaliknya, Rika masih beruntung ada Sandy. Jika tidak ia mungkin sudah pingsan sejak tadi.
"Mas," Rika mendadak bersorak dengan ria, bahkan dengan refleks berbalik dan meloncat sambil memeluk Sandy, "Mas pintu keluar!!!!" seri Rika.
Sandy hanya diam, karena keterkejutan nya.
"Mas!!!" seru Rika lagi.
Sandy mengangguk dengan senyum kecut.
Sedetik kemudian Rika menyadari kebohongannya, dengan rasa canggung mulai menjauh dari Sandy.
"Em...." Rika tersenyum kecut dan merasa tidak enak.
"Ayo keluar," Sandy langsung berjalan keluar meninggalkan Rika masih dalam pikiran bodohnya.
Rika juga tidak ingin terus-menerus berada dalam rumah hantu yang menyeramkan, hingga dengan cepat ia menyusul Sandy keluar.
Huuuufff.
Rika menarik udara sebanyak mungkin, untuk memenuhi oksigen yang terasa sempat habis karena takut.
Saat Rika berjongkok. Tiba-tiba ada minuman yang disodorkan kepada nya, Rika menatapnya dan perlahan memutar leher ke kanan melihat Sandy yang memberinya sebotol minuman.
"Mau minum tidak?" Sandy menggerakkan tangannya, hingga minumannya juga ikut bergerak.
Rika mengambilnya dengan perlahan, dan meneguknya. Dengan rasa dingin yang cukup menyenangkan membuat diri menjadi lebih baik.
Karena sudah sangat lelah, akhirnya Rika duduk di atas tanah, "Lala sama Tari di mana ya?" Rika perlahan memutar leher menatap orang-orang yang tengah berkerumun, tetapi tidak ada orang yang ia cari di sana.
Sampai akhirnya Rika terdiam dan berfokus menatap boneka berwana putih, dengan gerakan cepat Rika berdiri dan mendekati.
"Pak boneka yang itu," Rika menunjuk dari jarak jauh.
"Ini Neng?"
"Iya Pak, harganya berapa?" tanya Rika dengan raut wajah bahagia.
"Rp.300,000 Neng."
Rika baru tersadar, tas kecil miliknya yang biasa di pakai tertinggal di rumah.
Dengan wajah lesu Rika terpaksa mengembalikan nya lagi, "Enggak jadi Pak, ternyata uang saya ketinggalan."
"Tunggu Pak," Sandy mengambil alih bonekanya, dan memberikan kepada Rika.
Dengan perlahan Rika mengambilnya, sebenarnya sedikit ragu karena takut Dimas marah padanya. Tetapi, Rika juga sangat menyukai bonekanya.
"Ambil," kata Sandy lagi.
Rika menggeleng, "Enggak usah Mas."
"Nanti kau bisa membayarnya," kata Sandy agar Rika mau mengambilnya.
Rika mengangguk setuju, dengan cepat mengambil alih dari Sandy.
__ADS_1
"Berarti Rika minjam uang Mas," kata Rika dengan senyuman.
Sandy memberikan uang pada penjual, lalu menatap Rika yang tengah tersenyum bahagia.