Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Yakin


__ADS_3

Lala mulai menimbang permintaan Sandy, entah mengapa ia sangat tersentuh dengan kata-kata Sandy yang terlihat begitu tulus. Namun, ia juga dapat melihat Dimas dengan wajah dinginnya, ia tahu perasaan suaminya kini tidak baik-baik saja.


"Aa," Lala berdiri di samping Dimas, ia juga bingung harus mengatakan apa, "Sandy....." Lala tidak lagi berbicara saat melihat wajah Dimas yang menatapnya begitu dingin.


"Ayo kita pulang," Dimas memegang lengan Lala dan kedua nya pergi.


Di dalam sebuah mobil, Lala hanya diam sambil sesekali ia melihat Dimas yang tengah mengemudikan mobilnya. Lala ingin sekali berbicara agar Dimas sedikit mengerti akan perasaan Sandy dan juga Rika. Namun, mengingat wajah Dimas yang masih saja dingin membuatnya tidak memiliki keberanian untuk berbicara.


"Ada apa sayang," Dimas mengarahkan tangannya pada kepala Lala, ia mengelus dengan begitu lembut. Sesaat kemudian Dimas kembali fokus mengemudikan mobilnya, tapi Dimas tahu Lala ingin berbicara padanya.


Sampai di rumah Dimas langsung membuka pintu mobil untuk Lala, dan keduanya berjalan masuk beriringan kedalam rumah. Mata keduanya langsung melihat Rika yang juga tengah berjalan keluar.


Dimas berhenti melangkah, begitu juga dengan Lala di sampingnya yang ikut melihat arah pandang Dimas pada Rika.


Rika juga dengan terpaksa berhenti melangkah, ia melihat Dimas yang tiba-tiba ada di hadapannya.


"Mau kemana?" tanya Dimas dengan suara dinginnya.


Rika sejenak menutup mata, kemudian ia kembali melihat Dimas, "Ke kampus Kak," jawab Rika dengan susah payah.


Dimas kini melihat kearah tangan Rika yang memegang ponsel, dengan cepat Dimas mengambil ponsel tersebut dan melihat chat terakhir di sana. Kemudian ia kembali melihat Rika, "Sejak menjadi kekasih Sandy kau sudah pintar berbohong!" Dimas tersenyum miring saat mengetahui jika Rika sudah memiliki janji dengan Sandy lewat chat yang baru saja ia baca pada ponsel Rika.


Rika menunjukan wajah putus asa, ia tidak mengerti mengapa hati Dimas begitu keras, "Kak," kata Rika dengan wajah melasnya.


"Kau akan tinggal di luar kota, sampai otak mu itu sadar!"


Tangan Dimas langsung menarik lengan Rika, ia segera membawa Rika menunju mobil.


"Kak, Rika enggak mau dibawa kemana pun," Rika terus berusaha melepaskan tangan nya dari Dimas, walaupun Dimas tidak akan semudah itu untuk melepaskan diri nya.

__ADS_1


Lala juga cepat-cepat berjalan menyusul Rika dan Dimas, "Aa," Lala memeluk lengan Dimas yang satunya, "Rika mau di bawa ke mana?" tanya Lala dengan mata yang berkaca-kaca.


Dimas sangat membenci situasi seperti ini, tatapan Lala sangat membuatnya lemah. Apa lagi tatapan Lala yang memohon membuatnya menjadi tidak tega. Namun, Dimas kembali melihat wajah Rika. Ia masih tidak rela jika adiknya akhirnya akan kecewa karena cintanya pada Sandy yang membuat penderitaan, Dimas tidak akan diam bila Rika terluka.


"Aa," pinta Lala lagi karena Dimas hanya diam saja.


Dimas berusaha menguatkan hatinya, dan tidak luluh pada wajah Lala, "Jangan lagi berusaha mengelabui Aa, apa kau mau jika Rika dapat lebih dari tamparan seperti beberapa hari yang lalu?" tanya Dimas.


Lala hanya diam, ia kemudian melihat wajah Rika yang memohon padanya. Lala juga tidak tega melihat Rika, ia sangat mengerti perasaan Rika saat ini. Mencintai seseorang, tapi tidak bisa bersama, "Aa, Lala mohon," lirih Lala.


"Kak," pinta Rika lagi.


"Cukup!"sergah Dimas, ia menatap wajah Rika, kemudian melihat wajah Lala, "Kalau bukan karena kau menolongnya untuk bertemu Sandy, Rika tidak akan merasakan hal seperti saat itu. Dan kau tahu bukan? Satu kampus sudah membicarakan tentang Rika!" geram Dimas.


Lala terdiam dan menunduk, ia berpikir jika Dimas tidak tahu akan hal itu, tapi ternyata ia salah besar.


Dimas memutari mobil, ia sejenak melihat Lala yang hanya berdiri tidak jauh dari mobil. Namun, sedetik kemudian Dimas langsung masuk dan duduk di kursi kemudi.


"Aa, Lala ikut," pinta Lala.


Dimas menyalakan mesin mobilnya, dan mulai melajukan mobilnya. Tanpa mengijinkan Lala untuk ikut bersama, sebab ia takut jika nantinya Lala malah memberi tahu pada Sandy kemana ia membawa Rika.


"Rika!!!" teriak Lala.


"Lala," Mama Yeni langsung memegang pundak Lala, ia melihat dari kejauhan tentang apa yang barusan terjadi. Sebenarnya Mama Yeni juga tidak tega pada Rika, tapi ia pun tahu semua keputusan ada pada Dimas. Bahkan Mama Yeni juga memahami perasaan Dimas yang takut jika adik kesayangan tersakiti.


"Ma," Lala langsung memeluk Mama Yeni dengan erat.


"Sudah, kamu jangan membuat suami mu semakin marah. Dia memang begitu kalau menyangkut Rika, karena Dimas juga trauma saat Papa kalian memilih wanita lain dan meninggalkan Mama. Dan Dimas tidak mau itu terjadi pada Rika," jelas Mama Yeni.

__ADS_1


Lala tercengang saat mendengarkan penjelasan Mama Yeni, ia masih sangat terkejut.


"Mama di tinggalkan Papa?" tanya Lala.


"Sebenarnya bukan di tinggalkan, tapi Papa kalian menikah lagi dengan cinta pertanyaan. Sedangkan Mama hanyalah wanita yang di jodohkan dengan Papa kalian, dan Mama hanya menerima saja," bibir Mama Yeni tersenyum, ia terlihat sangat kuat dalam menceritakan masalahnya pada Rika.


Lala menunduk, ia kini mengerti dengan perasaan Dimas. Namun, nuraninya tetap saja tidak tega pada Rika.


"Tidak semua lelaki jahat kan Ma?" tanya Lala.


"Tapi tidak semua lelaki juga baik kan Nak?" tanya Mama Yeni kembali dengan senyum lembut, "Mama masuk dulu ya, kamu juga masuk," Mama Yeni berbalik dan masuk.


Setelah Dimas pergi membawa Rika, Lala juga berniat masuk. Namun, tiba-tiba ada suara yang terdengar berbicara pada nya.


"Tunggu," kata pria tersebut.


Karena penasaran Lala mulai berbalik dengan perlahan, dan ternyata yang memanggilnya adalah Sandy. Ia menatap Sandy dengan penuh tanya.


"Bisa aku bertemu dengan Rika, aku mohon," pinta Sandy penuh harap.


Lala diam tanpa tahu harus berkata apa, ia mulai mengingat kata-kata Mama Yeni barusan. Tapi ia juga melihat wajah Sandy yang begitu menahan rindu yang sangat dalam untuk Rika, ia benar-benar dilanda dilema yang tidak bisa di pecahkan dengan mudahnya.


"Tolong," pinta Sandy lagi.


"Rika sudah di bawa suami ku, dan aku pun tidak tahu dia dibawa ke mana," jelas Lala, sebenarnya ia ingin sekali menolong Sandy tapi apa yang bisa dilakukan nya. Apa lagi mengingat wajah Dimas yang juga marah pada nya.


"Kemana?" tanya Sandy, ia bahkan sampai mengusap wajahnya beberapa kali, "Aku mohon, aku sangat mencintai nya," kata Sandy lagi dengan air mata yang mulai tumpah.


Lala terkejut melihat mata Sandy meneteskan air mata, ia yakin cinta Sandy memang sangat besar pada Rika.

__ADS_1


__ADS_2