
Lala terus saja tidak bisa tenang, semenjak kembali kerumah perasaan bersalah semakin terasa. Apa lagi pertama kalinya ia berbohong pada Dimas. Bahkan mengenai kehamilan yang selama ini sering di utarakan oleh Dimas, dan bertapa kecewa nya Dimas bila tahu dirinya kini tengah berbohong.
Ting.
Ponsel Lala berdering, ia membuka pesan tersebut dan membaca pesannya.
[Apa ini alamat keberadaan Rika,] Sandy.
Lala mulai menggerakkan jarinya untuk membalas pesan tersebut.
[Iya,] Lala.
Pesan terkirim namun, perasaan Lala semakin tidak karuan, kakinya berdiri tegak sambil menatap cermin yang terpasang begitu besar di hadapannya. Sesekali ia menggigit kukunya karena perasaan bersalah, juga ketakutan kebohongan yang ia ciptakan sendiri karena ingin menolong Rika. Kamar dengan begitu luas dengan bernuansa putih itu seakan menjadi saksi bisu atas keresahan yang tengah di rasakan oleh nya.
"Gimana kalau Aa Dimas tahu aku bohong," gumam Lala, ia mulai memijat dahinya yang terasa pusing.
Malam terus berjalan semakin larut, tetapi belum juga tanda-tanda Dimas masuk ke dalam kamar. Semenjak kembali ke rumah, Dimas langsung masuk ke ruang kerjanya, entah apa yang sedang di bicarakan antara Dimas dan juga Arka di sana. Akan tetapi perasaan Lala sedikit lega, karena ia sangat takut bila berhadapan dengan Dimas saat ini.
"Kalau besok Aa Dimas ngajak ke dokter, gimana ya," Lala terus berjalan mondar-mandir di depan cermin, ia masih sangat ketakutan karena besok Dimas akan membawanya ke dokter untuk memeriksakan kandungannya. Sedangkan saat ini ia tengah berbohong, bahkan ia masih datang bulan sampai saat ini juga, "Gimana kalau ketahuan, Aa Dimas pasti marah besar karena aku enggak sedang hamil," Lala tidak tahu lagi harus apa, ia benar-benar takut.
Dimas yang berdiri di depan pintu mendengar dengan baik apa yang barusan dikatakan oleh Lala, bahkan ia sangat terkejut jika ternyata Lala hanya membohongi dirinya untuk bertemu dengan Rika. Ada perasaan amarah, benci dan juga emosi yang tengah ia tahan. Tangannya yang menggantung terkepal dengan begitu erat.
Lala masih belum menyadari keberadaan Dimas, ia masih terus berdebat dengan pikirannya sendiri. Namun, sedetik kemudian ia berbalik dan menatap arah pintu.
Deg.
Dimas berdiri di sana, tapi semenjak kapan? Perasaan Lala mulai tidak karuan. Jantung nya mulai berdetak kencang dan juga tubuh yang mulai bergetar, dengan perasaan was-was ia mencoba untuk bertanya.
"Aa udah lama.....di....situ?" suara Lala bergetar dan juga terbata-bata, ia masih berharap jika Dimas tidak mendengar apa yang barusan ia katakan sendiri.
__ADS_1
Wajah Dimas hanya datar, kakinya berjalan mendekati Lala. Perasaan bahagia nya kini berubah seketika seakan di buat melayang tetapi dalam sekejap di jatuhkan.
"Aa," Lala mundur selangkah demi selangkah, tubuhnya mulai mengeluarkan keringat dingin. Tatapan Dimas terlihat begitu mematikan dan mungkin sedang menahan kemarahan yang begitu luar biasa, "Aa," lirih Lala dengan air mata yang mulai mengalir, sampai akhirnya tubuh nya membentur cermin dan ia tidak bisa lagi bergerak mundur.
Dimas berdiri di hadapan Lala dengan jarak begitu dekat, matanya memerah dan urat-urat pada tangannya mulai terlihat.
"Aa, kenapa?" tanya Lala berharap jika Dimas tidak mendengar apa yang barusan ia katakan.
Krang!
Tangan Dimas langsung meninju kaca yang berada di belakang tubuh Lala, hingga kacanya pecah dan belinya pun berserak dilantai.
"Aaaa....." teriak Lala takut sambil tangannya refleks menutup kedua telinganya.
Tangan Dimas kembali menggantung, bahkan mengeluarkan cairan berwarna merah. Cairan tersebut menetes pada lantai putih bersih, mungkin Dimas tidak merasakan sakit pada tangannya. Karena hatinya jauh lebih sakit saat ini.
Lala langsung berjongkok, ia baru pertama kalinya melihat Dimas yang seperti ini. Bahkan ia sendiri seperti tidak mengenali siapa suaminya, karena kemarahan ini terlihat begitu besar.
Lala hanya menggeleng sambil ketakutan, ia sadar ia salah. Hingga untuk menatap Dimas saja tidak memiliki keberanian.
"Jawab aku!" geram Dimas lagi.
"Maaf Aa, Lala enggak maksud bohong," lirih Lala dengan suara gemetaran dan juga perasaan takut.
"Kau sudah membuat aku kecewa!"
Dimas tidak ingin lepas kendali, hingga ia memilih untuk segera keluar dari kamar. Namun, Lala mengejarnya dan memegang lengan nya yang tengah meneteskan cairan merah.
"Aa, Lala minta maaf," air mata Lala terus saja tumpah, seiring dengan tangisan yang semakin kencang karena rasa bersalah.
__ADS_1
Dimas hanya menatap pada pintu kamar yang terbuka dengan lebarnya, perasannya masih sangat kecewa sekali.
Flashback on.
Setelah kembali dari Bogor, Dimas langsung menuju ruang kerjanya. Karena Arka menunggunya di sana perihal beberapa pekerjaan dan juga tentang keberadaan Dimitri yang sudah mulai menunjukkan titik terang, dan saat itulah Dimas dengan bangganya mengatakan pada Arka bahwa ia akan menjadi seorang Ayah.
"Istri ku hamil Bos, sebentar lagi aku juga akan mendapatkan predikat baru, Ayah!" kata Dimas dengan membusungkan dada nya.
Arka tersenyum dengan bahagia, "Selamat ya, kalau istri ku tahu kabar ini pasti sangat membuatnya bahagia," jawab Arka sambil mengulurkan tangannya.
Flashback off.
Dimas langsung menghempaskan tangan Lala, andai mereka menikah sudah bertahun-tahun dan belum memiliki keturunan tidak masalah untuk Dimas. Akan tetapi saat ini yang terjadi justru Lala yang membohongi diri nya.
"Sudah berapa kali kau menolong Rika? Tapi aku masih bisa memaafkan mu, tapi kali ini apa yang kau lakukan sangat keterlaluan. Kau memikirkan perasaan Rika, apa kau memikirkan perasaan ku?" tanya Dimas dengan wajah penuh kecewa.
Lala menunduk, sambil terus meneteskan air mata bersalah, "Maaf Aa, maaf," lirih Lala.
Mama Yeni yang mendengar suara keributan merasa penasaran, dengan segeralah ia menuju asal suara. Bertapa kagetnya ia melihat Lala yang tengah menangis dan juga Dimas yang tengah menahan marahnya. Sebenarnya Mama Yeni tidak ingin ikut campur dalam urusan anak menantunya, akan tetapi ia melihat ada cairan merah yang menetes cukup banyak. Dengan rasa was-was Mama Yeni berjalan menuju Dimas dan Lala.
"Dimas?" Mama Yeni menatap Dimas penuh tanya dan perlahan beralih menatap Lala yang tengah berjongkok sambil memegang tangan Dimas, "Lala, ini ada apa?" tanya Mama Yeni.
Dimas menendang pintu dengan kuat, setelah itu ia langsung keluar untuk melepaskan rasa amarahnya yang semakin membuncah. Dimas sedang berusaha mengendalikan diri, sebab jika tidak mungkin bisa saja Lala malah merasakan bertapa kasarnya tangannya.
"Aa," Lala masih berusaha untuk mengejar Dimas, tetapi Mama Yeni menahannya.
"Sudah, biarkan dulu Dimas sendiri."
"Mama Lala salah, Lala bilang kalau Lala sedang hamil untuk bisa ketemu sama Rika," kata Lala sambil menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
"Kamu tenang dulu."
Jangan lupa like dan Vote