
"Apa hari ini dia berpuasa?" Tanya Radit.
"Iya," jawab Dimas.
"Sebaiknya mulai besok tidak usah karena, saat sedang puasa dapat membuat tubuh semakin dehidrasi. Selain karena perubahan hormon saat hamil, mual muntah saat berpuasa juga bisa disebabkan oleh penyakit asam lambung, agar tidak terjadi keluhan lain yang membahayakan Ibu dan janin." Jelas Radit.
Dimas mengerti dan mulai besok tidak akan mengijinkan Lala untuk berpuasa lagi.
"Apa lagi dia hamil di usia yang masih muda, banyak resiko, sebaiknya di jaga," tambah Radit lagi.
Setelah selesai memeriksa keadaan Lala, Radit segera berpamitan pulang. Karena, di rumah Rembulan juga sedang mengandung dan waktu bersama istrinya hanya di waktu malam saja.
***
"Besok tidak usah berpuasa," kata Dimas sambil mengganti piama istrinya dengan hati-hati.
Lala mengangguk, awalnya berpikir untuk berpuasa karena, kuat dan tubuh terasa sehat-sehat saja.
Namun, siapa sangka saat malam harinya ia langsung berkeringat dingin dan mual.
"Maaf ya Aa, Lala enggak ngerti soalnya. Terus Lala juga malu kalau enggak puasa," kata Lala dengan wajah pucat.
"Kenapa harus malu, Mama juga dulu mengalami nya. Dari pada membahayakan kesehatan kamu dan janinnya lebih baik tidak usah puasa," Mama Yeni menimpali.
Lala mengangguk mengerti dan mulai besok tidak akan berpuasa karena, keadaan nya yang malah menjadi perhatian.
***
Pagi harinya Rika kembali ke rumah Sandy, seorang bayi besar yang harus di rawat sampai sembuh.
"Assalamualaikum Bunda," Rika mulai berjalan masuk.
"Waalaikumusalam," Bunda Jihan sedang duduk di sofa, kemudian Rika mencium punggung tangan nya.
"Bunda lagi apa?"
"Bunda lagi membaca resep kue yang akan Bunda buat," jawab Bunda Jihan dengan senyuman.
"Em," Rika duduk di sebelah Bunda Jihan, memperhatikan setiap lembaran yang di perlihatkan padanya.
"Kira-kira kita buat kue apa ya?"
"Ini kayaknya enak ya Bunda," telunjuk Rika menunjuk salah satu kue yang menurutnya cukup mengunggah selera.
"Iya, tapi kamu mau kan bantuin Bunda?"
Bunda Jihan sangat menyayangi Rika, mulai dari tata cara bicara Rika yang sopan, sampai cara nya berhadapan saat bersama orang lebih tuan darinya.
Sehingga kedua seperti ibu dan anak perempuan nya jika sedang bersama.
"Iya, tapi Rika enggak pintar buat kue Bunda."
Rika cengengesan sambil menggaruk kepalanya.
Bunda Jihan malah terkekeh melihat wajah Rika.
"Gampang, nanti Bunda ajarkan. Asalkan kamu mau belajar, itu sudah cukup."
"Iya Bunda."
Sandy langsung duduk di sofa, saat mendengar suara Rika seketika itu juga menyusul ke ruang tamu.
__ADS_1
"Mas, gimana keadaan nya hari ini?"
Rika tidak akan mau duduk di samping Sandy bila ada Bunda Jihan, ia akan memilih menjauh.
Begitu juga dengan saat ini, Rika hanya duduk di samping Bunda Jihan dan menatap Sandy dari jarak cukup jauh.
"Hari ini Mas udah puasa, kan minum obat juga cuman pagi sama sore," jawab Sandy.
"Kalau Mas puasa artinya Rika libur dong, Rika pulang aja ya," Rika dengan senang hati bangun dari duduknya dan ingin berpamitan pulang.
"Hey, enak aja!" Gerutu Sandy.
Rika memanyunkan bibirnya dan kembali duduk dengan terpaksa.
"Kamu mau kemana? Pijitin nih!" Sandy meletakan kakinya di atas meja dan meminta Rika memijat dengan segera.
"Apasih!" Pekik Rika.
Bunda Jihan ingin sekali tertawa, Rika dan Sandy seperti anak kecil yang selalu terlibat cekcok.
Lihatlah sebentar lagi keduanya pasti akan berdamai.
"Memangnya kau mau kemana?"
"Mau ke mall, cari baju lebaran. Rika udah dapat transfer dari Kakak Dimas," jawab Rika dengan penuh semangat.
"Berapa uang yang di transfer Dimas?"
"Rp.100.000.000. kata Kak Dimas biar Rika enggak minta uang sama orang."
Rika begitu bangga mendapatkan transfer dari Kakak sulungnya, menurutnya itu cukup banyak tidak seperti biasanya.
"Biarin dari pada Mas!" Rika tersenyum miring menatap Sandy.
"Mas, kenapa?" Tanya Sandy dengan wajah serius.
"Tau ah!"
"Ahahahhaha....." Bunda Jihan tidak lagi bisa menahan tawa, Rika dan Sandy benar-benar membuatnya terhibur.
Sandy dan Rika seketika menatap Bunda Jihan dengan bingung.
"Bunda sakit, anaknya psikiater masa ya Bundanya sakit jiwa," ujar Sandy.
"Apa!!!" Bunda Jihan berdiri dan memukuli Sandy dengan buku resep.
"Bunda ampun!!!" Seru Sandy.
"Dasar kamu ya!!!"
Bunda Jihan berhenti memukuli Sandy, ia langsung melengos pergi.
Sandy mengusap kepala sisa-sisa hantaman emak-emak cakep itu membuatnya sedikit meringis.
"Apa?"
"Apa?" Tanya Rika bingung.
Sandy mengeluarkan kartu black card dari dompet nya dan memberikan nya pada Rika.
"Ambil!"
__ADS_1
Rika terdiam dan sambil menatap nya, kemudian ia kembali menatap Sandy dengan bingung.
"Ambil dan gunakan sesukamu," jelas Sandy untuk menjawab rasa bingung Rika.
"Enggak usah Mas, memangnya Mas enggak takut kalau Rika gunain suka-suka?"
"Kalaupun kamu belanja sesuka mu, uang Mas tidak akan habis," jawab Sandy dengan sombongnya.
Sebenarnya Sandy tidak sombong tetapi, ia sangat mencintai Rika jadi, apapun untuk Rika sama sekali tidak masalah bagi dirinya.
"Enggak usah deh Mas," Rika meletakan pada meja.
"Sayang, ambil. Kalau tidak Mas sedih."
"Kok sedih, aneh?"
"Ambil."
"Ok, siapa takut. Tapi kalau Rika belanja sesukanya jangan marah ya," mata Rika menatap Sandy penuh intimidasi.
"Iya," jawab Sandy santai.
Dalam hatinya sebentar lagi Rika harus jadi miliknya secepat mungkin tanpa menunggu sampai selesai kuliah, sampai kapan Sandy akan menunggu.
Usianya sudah matang, Rika baru semester awal dan Sandy juga takut jika Rika berpindah ke lain hati.
"Bereskan kamar Mas," titah Sandy.
"Ok," Rika tersenyum dengan memegang black card di tangannya.
Jiwa matre nya langsung meronta-ronta ingin berbelanja dengan sesukanya.
"Mas, nanti kita shopping ya."
"Iya, sayang."
Dengan langkah yang cepat Rika segera menaiki anak tangga, dimana kamar Sandy berada di lantai dua.
Selesai membereskan kamar Sandy, Rika merasa sangat lelah. Seketika ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang Sandy.
Terlelap dalam tidur dalam sekejap.
Sandy masuk kedalam kamar dan langsung naik keatas ranjang lalu memeluk Rika dengan erat.
***
Mama Yeni dan Bunda Jihan sepakat untuk membuat kue di rumah nya Bunda Jihan, hingga kini Dimas mengantarkan dirinya ke sana.
"Assalamualaikum Jeng."
"Waalaikumusalam salam," jawab Bunda Jihan dengan bahagia, "Ayo masuk."
"Sandy di mana Bunda?" Tanya Dimas sambil berjalan masuk, mengikuti dua wanita paruh baya di hadapannya.
"Tadi di sini," Bunda Jihan menunjuk sofa, "sekarang di kamar mungkin."
"Kalau Rika? Apa Rika tidak ke sini?"
Dimas sudah mentransfer uang untuk adiknya, jadi Dimas berpikir mungkin Rika langsung berbelanja kebutuhan lebaran di mall.
"Iya ya, tadi Rika sama Bunda di sini, mungkin di belakang," kata Bunda Jihan yang tidak ambil pusing.
__ADS_1