Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Keputusan


__ADS_3

Rika bangun pagi-pagi sekali, setelah itu keluar dari kamar karena kerongkongannya yang terasa haus. Ditambah lagi tidak makan dari kemarin membuatnya menjadi lapar, saat melewati kamar Dimas. Rika sejenak berhenti, tangannya perlahan memutar gagang pintu.


"Lala, aku masuk ya," kata Rika dari balik pintu yang sedikit terbuka.


Tidak ada jawaban dari dalam sana, Rika tetap masuk walaupun tanpa ijin dari Pemilik kamar. Mata Rika mulai mengedar, mencari Lala yang tidak juga ia temukan. Sampai matanya melihat pintu kamar mandi yang terbuka lebar, dan terdengar suara dari dalam.


"Hueekkkk..... hueekkkk......" Lala terus muntah tanpa henti, rasa mual dan tidak nyaman pada bagian perutnya cukup membuatnya terganggu.


"Lala, aku masuk ya," Rika berteriak agar Lala mendengar dari dalam sana, "Muka kamu pucat banget," ujar Risa sambil memegang pundak Lala.


Lala mencuci wajahnya dengan air keran, kemudian memperhatikan wajahnya pada cermin dengan ukuran cukup besar di hadapannya, "Aku enggak makan dari kemarin, makan yuk aku lapar banget," ajak Lala sambil mengelap wajahnya dengan handuk kecil.


Rika mengangguk, ia juga sangat lapar sekali. Keduanya segera keluar dari kamar lalu bersama menuju dapur.


"Masak apa Mbok?" tanya Rika.


"Nasi goreng Non," jawab Mbak Sum.


"Mbok tolong buatkan teh hangat ya, Lala masuk angin," pinta Lala.


"Iya Non, beres."


Lala menatap nasi goreng yang terlihat begitu lezat dihadapannya, kemudian ia mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang tidak muncul juga dari tadi malam.


"Kamu nunggu Kak Dimas?" wajah bersalah Rika terlihat jelas, bahkan kini merasa sangat tidak enak pada Lala, "Maaf ya La, aku minta maaf banget."


Lala tersenyum lembut, "Semoga Dia udah enggak marah sama aku, doa ya," pinta Lala penuh harap.


Rika mengangguk, "Kamu makan aja duluan, nanti tambah masuk angin," Rika menunjuk piring berisi nasi goreng, tepat berada di hadapan Lala.


"Ini Non, tehnya sudah siap di nikmatin."


"Makasih Mbok."

__ADS_1


"Selamat pagi," sama Mama Yeni.


"Pagi Ma," jawab Rika.


Mama Yeni tersenyum dan melihat kursi Dimas yang masih kosong, menandakan jika Dimas belum juga ikut sarapan pagi bersama mereka. Tetapi wajah Lala yang pucat lebih menjadi objek perhatian Mama Yeni, "Kamu Sakit?"


"Masuk angin Ma, kemarin Lala enggak makan," jawab Lala sambil memijat kepalanya yang sedikit pusing.


"Ya udah kamu makan saja ya."


Lala mengangguk, perutnya sudah tidak lagi bisa lagi diajak kompromi. Padahal masih ingin menunggu Dimas, dengan segera Lala menyendok nasi dan memakannya dengan cepat.


"La, segitu kelaparan nya?"


Mama Yeni dan Rika terlihat bingung, Lala yang biasa makan sedikit kini terlihat berbeda. Bahkan Lala sudah tambah dua kali.


"Aku lapar banget, serius," jelas Lala, kemudian meneguk teh hangat buatan Mbok Sum.


Mama Yeni mengangguk lemah, pikirannya mulai berkeliaran sambil menatap tubuh Lala yang lebih berisi. Bahkan dada Lala juga terlihat membesar, dengan wajah yang mulai berisi.


Mama Yeni kembali menampik pikirannya, karena sepertinya Lala tidak sedang hamil seperti dugaannya.


"Ada, nanti ambil di kamar aku ya," jawab Rika yang memulai makannya.


"Aku duluan ke kamar ya Ma," pamit Lala mulai berdiri dari duduknya.


"Kamu ke kampus?" tanya Mama Yeni yang memang masih melihat Lala dengan penuh tanya.


"Enggak Ma, Lala mau tidur aja. Lagian Lala belum dapat ijin buat keluar rumah, Lala takut Aa Dimas marah," Lala ingin sekali menangis bila mengingat Dimas, rasanya ia tidak bisa bila Dimas menjauhi dirinya seperti ini.


"Ya sudah, wajah kamu juga pucat begitu. Sebaiknya istirahat, jangan mikirin yang tidak-tidak. Dimas nanti pasti balik seperti biasa lagi ya," Mama Yeni berusaha meyakinkan Lala, jika semua akan baik-baik saja. Mengingat Lala pernah mengalami trauma rumah tangga.


"Lala ke kamar ya Ma," sambil berjalan menuju kamar, Lala terus mengusap air mata. Perasaannya sangat takut jika Dimas benar-benar meninggalkan dirinya lagi-lagi menjadi beban yang cukup dalam.

__ADS_1


"Ma, Rika ke ruangan Kak Dimas dulu ya," pinta Rika.


"Jangan, Kakak mu itu sedang marah. Kau tahukah? Dia tidak pernah marah, tapi jika Dia marah semua akan menjadi sasaran," Mama Yeni berusaha menahan Rika, karena sangat tahu seperti apa watak putra nya.


"Ma, Rika janji. Rika enggak akan buat Kak Dimas marah, Rika bakalan nurut, enggak kuat liat Lala pura-pura kuat. Padahal hatinya menjerit ketakutan karena rumah tangganya yang di ambang kehancuran, dan itu karena Rika," jelas Rika.


Mama Yeni mengangguk lemah, membenarkan apa yang barusan di katakan oleh Rika.


...


"Kak Dimas, Rika masuk ya."


Rika berdiri di depan ruang kerja Dimas, pintu terbuka lebar hingga bisa melihat Dimas dengan jelas didalam sana. Akan tetapi Dimas hanya diam tanpa menjawab, dengan memberanikan diri Rika masuk.


"Kak, Rika boleh minta ponsel Rika?" tanya Rika dengan ragu.


Dimas menarik laci, lalu tanpa bicara dan wajah yang datar meletakan ponsel Rika pada meja. Bahkan terlihat sekali Ia sudah tidak ingin perduli, sedetik kemudian Dimas mengambil laptop milik Rika dan memberikan nya pada Rika.


"Kak," mata Rika berkaca-kaca, ternyata baru sampai di sini saja sudah tidak sanggup. Apalagi jika benar keluar dari rumah dan tidak lagi bersama Dimas, "Kak Dimas, maafkan Rika," air mata yang di tahan perlahan tumpah dengan sendirinya, berulangkali kata maaf keluar dari mulutnya karena tidak ingin Dimas terus diam pada dirinya, "Kak, maaf," pinta Rika lagi sambil menangis, "Rika janji bakalan nurut, enggak akan ngebantah Kakak ataupun Mama," kepala Rika tertunduk, bukan hanya meminta maaf untuk Lala. Tapi Rika juga ingin memperbaiki hubungannya dengan Dimas, mengingat selama ini Dimas sangat menyayangi dirinya.


"Bukankah ini yang kau mau!" jawab Dimas dengan wajah datarnya.


Rika menggeleng dan langsung memeluk Dimas dari samping, "Enggak, maaf ya Kak. Rika enggak bakalan ada hubungan dengan Mas Sandy lagi, Rika janji."


Dimas mengangkat bahunya, seakan tidak perduli dengan apapun yang dikatakan oleh Rika, "Kau sudah besar, sudah pandai menjaga diri."


"Kak Dimas, Rika mohon maafkan Rika."


"Buktikan kata-kata mu tadi!" Dimas bangun dari duduknya lalu pergi.


Rika mengangguk, menatap Dimas yang sudah memunggungi dirinya. Hati Rika juga teramat sakit dalam mengucapkan kalimat janji yang barusan Ia ucapkan pada Dimas, meninggalkan Sandy memang harus di lakukan. Bagaimanapun apa yang dikatakan Dimas pasti yang terbaik untuk dirinya, selama ini juga Dimas selalu melakukan yang terbaik. Sudah pasti kali ini pun sama, dan Rika sudah bertekad. Keputusan untuk melupakan Sandy untuk selama-lamanya.


*

__ADS_1


Buat Kakak yang minta doble up, Othor up ni. Tolong like dan Vote.


__ADS_2