
Jika Lala semalam tertidur lelap di pelukan Dimas, maka lain halnya dengan Dimas. Dimas dari tadi malam mati-matian menahan gejolak aneh yang membuatnya seakan tidak karuan, beberapa kali ia mengecup bibir Lala tapi Lala tidak terbangun sama sekali. Sebab kemarin malam Lala bukan tidur karena memang mengantuk, tapi karena pengaruh obat yang ia telan. Dan itu sangat tidak membuatnya segar setelah terbangun, malahan ia merasa lelah dan tubuhnya sakit.
"Eeeemmmmm......" Lala mulai terbangun karena cahayanya matahari yang mulai masuk melalui celah-celah kecil, perlahan kelopak mata nya bergerak dan ia membuka matanya. Ternyata Dimas tengah menatap dirinya.
Dimas miringkan tubuhnya, dan menjadikan sebelah tangannya sebagai penopang kepalanya.
"Pak Dimas!!!" Lala terkejut dan ia dengan refleks langsung bangun dan meloncat dari atas ranjang.
Buuuk!!!
Lala yang buru-buru turun sampai terjatuh ke lantai, "Aduh....." Lala merasa sakit pada bagian bokongnya.
Dimas juga cepat-cepat bangun karena sedikit panik, "Kenapa meloncat?" Dimas mengulurkan tangannya, untuk membantu Lala bangun.
Lala menolak, dan ia berdiri tanpa bantuan Dimas. Dengan susah payah Lala berdiri dengan tegak, "Bapak kenapa tidur di kamar saya?" tanya Lala dengan nada panik.
Dimas memundurkan kepalanya, dan ia merasa aneh dengan pertanyaan Lala, "Apa otak mu baik-baik saja?" tanya Dimas.
"Bapak kok ngomong begitu?!" tanya Lala lagi.
"Coba lihat sekeliling mu, apa ini kamar mu?" tanya Dimas balik yang ingin mengerjai Lala, "Sekarang saya yang bertanya kenapa kau di kamar ku, lalu tidur di atas ranjang ku?" tanya Dimas penuh intimidasi, sebenarnya Dimas ingin tertawa melihat exspresi wajah Lala. Tapi ia tahan, dan hanya ia yang boleh mengerjai istri bocahnya.
Lala tersadar dan menatap sekitar nya, "Jadi ini kamar bapak?" tanya Lala dengan bodohnya, "Tapi saya kenapa di sini?" tanya Lala lagi.
"Saya tidak tahu!" Dimas mengangkat bahunya seolah tidak tahu apa-apa, "Atau?" Dimas mencondongkan tubuhnya pada Lala, dengan tatapan penuh selidik.
Lala menggeleng, "Enggak Pak, saya kayaknya mimpi terus jalan ke sini!" kata Lala yang berusaha mencari alasan, "Tapi......" Lala mulai menatap Dimas dengan bingung, karena ia mulai tersadar.
"Tapi?" tanya Dimas balik.
Dimas mengambil ponselnya dan menunjukan fhoto saat kedua nya melangsungkan ijab Kabul semalam.
"Jadi ini bukan mimpi?" tanya Lala lagi.
Dimas masih diam menyaksikan exspresi Lala yang menggemaskan itu, wajahnya yang terkejut dan malu karena kebodohannya sendiri sungguh terlihat menggemaskan. Dimas menarik kedua pipi Lala.
"Auuuu....." teriak Lala, "Sakit Pak!"
"Berarti ini nyata, dan kau semalam memeluk ku sampai pagi!" kata Dimas.
Wajah Lala memerah karena menahan malu, ia mencoba melihat wajah Dimas tapi sedetik kemudian ia kembali menunduk.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Dimas semakin mendekati Lala.
Lala mundur selangkah demi selangkah, tubuhnya bergetar hebat karena takut.
Buk!
Tanpa sadar ia terjatuh di atas sofa, karena kakinya tersandung.
"Aaa....." teriak Lala.
Awalnya hanya ingin mengerjai Lala saja, tapi lama kelamaan perasaan Dimas semakin menuntut dan ia langsung menindih tubuh mungil Lala tanpa jarak.
"Sial! Kenapa jadi begini," gumam Dimas yang tidak lagi bisa menahan hasrat.
"Pak Dimas....." keringat dingin mulai meluncur dari tubun Lala, ia benar-benar takut sekali. Apa lagi setelah kemarin malam Dimas meniduri dirinya dengan paksa dan kasar meninggalkan rasa takut yang cukup besar, "Jangan Pak....hiks ...hiks ...hiks...." Lala yang sudah di bawah kungkungan Dimas tidak lagi bisa bergerak, ia hanya menangis karena takut. Sebenarnya Lala tidak masalah jika Dimas ingin meminta haknya, tapi Lala takut jika Dimas kasar padanya.
Dimas tersadar akan Lala yang ketakutan, ia cepat-cepat bangun begitu juga dengan Lala yang dengan cepat-cepat duduk. Nafasnya masih memburu dengan tubuh berkeringat.
"Tidak apa-apa," Dimas memeluk Lala dengan erat dan seperti biasanya pelukan Dimas adalah suatu ketenangan untuk La, hingga Dimas selalu melakukan itu saat Lala tengah ketakutan atau panik seperti ini.
"Pak jangan kasar ya, saya sudah tidak sanggup," lirih Lala. Tubuh mungilnya, sudah tidak lagi mampu menahan kekerasan fisik maupun mental. Karena apa yang terjadi padanya sudah membuatnya hampir gila.
"Maaf," kata Dimas sambil terus memeluk Lala, ada rasa bersalah yang terus saja ia rasakan. Andai saja ia tidak meminum obat jahanam itu pasti Lala tidak akan takut saat ia ingin menyentuh, tapi jika tidak karena obat itupun ia tidak bisa memiliki Lala seutuhnya seperti sekarang. Dimas benar-benar di Landa kegelisahan yang cukup berat, "Tidak apa, saya janji tidak akan kasar," ujar Dimas sambil menjauhkan Lala sedikit darinya, "Senyum dong, dulu juga kamu yang goda saya?" seloroh Dimas.
"Benarkah?" tanya Dimas sambil terkekeh.
"Pak Dimas!!!" seru Lala karena Dimas mengejek nya.
"Iya ibu Dimas," jawab Dimas sambil terkekeh geli.
"Hiks.....hiks.....hiks....." Lala menangis karena tidak sanggup dengan ejekan Dimas.
"Ahahahhaha......" Dimas tertawa melihat wajah Lala yang lucu dan menggemaskan, "Karena kau sudah menjadi istri ku panggil aku sayang!" kata Dimas.
"Ish bapak apasih!" kesal Lala dengan malu.
"Morning kiss....." Dimas menunjuk pipinya dan meminta Lala untuk mendekat.
"Bapak apasih!" Lala semakin merasa aneh dengan permintaan Dimas.
"Ayo cepat!"
__ADS_1
"Enggak mau!" tolak Lala.
Dimas diam dan menjauhi Lala, ia berpura-pura marah pada Lala.
"Pak Dimas jangan marah dong, maksud Lala enggak gitu," Lala mulai panik dan tidak tahu harus bagaimana.
Dimas menunjuk bibirnya, dan memberikan isyarat pada Lala.
Glek.
Lala meneguk saliva, dan menimbang permintaan Dimas. Karena takut Dimas marah akhirnya Lala mendekat dan dengan terpaksa mengecup bibir Dimas.
Cup.
Tapi Dimas malah menahan tengkuk Lala yang ingin menjauh, hingga ciuman itu berubah menjadi gigitan yabg terasa panas dan menuntut.
Lala ingin menjauh tapi tidak bisa karena Dimas masih menahan tengkuk nya, karena perlahan Lala merasa tenang dengan cepat Dimas duduk di sofa dan ikut menarik Lala yang akhirnya terjatuh di atas tubuh Dimas.
Namun saat bersamaan Mama Yeni yang takut jika Lala tidak sarapan pagi lagi seperti kemarin langsung menuju kamar, dengan tangannya membawa nampan. Dan dengan santai memutar gagang pintu, karena jam sudah menunjukan pukul 09:00 pagi.
Clek.
Pintu terbuka, dan ia melihat Dimas dan Lala tengah bercumbu mesra.
Krang!!!!
Napan bersama isinya langsung terjatuh dan berserakan di lantai.
Lala dan Dimas tersadar dan cepat-cepat Lala bangun dari atas pangkuan Dimas.
"Tante?" kata Lala panik.
"CK...." Dimas sangat kesal karena ada pengganggu.
Kaki Mama Yeni bergetar hebat, dan ia masih sangat terkejut, "Dimas, Lala maaf!"Ama Yeni langsung berlari keluar karena malu.
Lala mengusap wajahnya, "Pak saya mandi dulu," pamit Lala dan ia juga pergi menuju kamar lamanya karena pakaiannya ada di sana.
"Sial!" kesal Dimas dan entah untuk yang ke berapa kalinya, "Dasar Mama!!!" umpat Dimas, kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi, dan melihat sabun, "Maaf sabun aku sudah tidak tergoda pada mu!"
*
__ADS_1
Mana reader setia yang minta Othor up, nih Othor kasih. Jangan lupa Vote ya.