
Malam ini, Belva menikmati makan malamnya sendiri tanpa menunggu Nuna pulang dari kantor. Tepat di suapan terakhirnya, terdengar suara Nuna yang baru saja sampai di rumah.
"Aku pulang!" teriak Nuna yang langsung menuju ke ruang makan.
Sebelumnya Nuna memang mengirim pesan kepada Belva jika malam ini dia sangat ingin makan sop ayam dan perkedel kentang. Ia pun langsung mengambil mangkok untuk menikmati sop ayam yang sudah ada di atas meja.
"Kenapa rasanya beda ya?" tanya Nuna pada Belva yang sudah menghabiskan makanannya.
"Ck, nikmati saja dan setelah itu istirahat," balas Belva beranjak dari meja makan.
"Ecca mana? Kok masakan dia beda banget sih gak kayak biasanya." tanya Nuna yang sangat hafal dengan masakan adik kandungnya.
"Pulang ke rumah papi, kasihan dia juga capek Nuna harus ngikutin keinginan kamu," balas Belva.
"Aku juga udah dapet asisten rumah tangga yang baru, mulai besok dia akan tinggal di sini mengurus rumah," jelas Belva sambil meninggalkan Nuna.
Nuna langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Ecca. Sayangnya panggilannya berulang ali tidak di jawab oleh Ecca.
Ia pun akhirnya naik ke kamar Belva. Betapa terkejutnya ia saat melihat Belva sedang mengganti kaosnya di depan lemari kaca.
Langkah Nuna terhenti sambil menelan ludahnya kasar, 'Gila! Aku baru sadar jika Belva se macho ini. Bahkan tubuhnya terlihat begitu...'
"Ngapain kamu masuk kamar aku?!" gertak Belva membuyarkan lamunan Nuna.
Belva pun segera memakai kaosnya dan mendekat ke arah Nuna.
"Apa kamu lupa kalo kamar kamu ada di sana?" tanya Belva menunjuk ke pintu kamar Nuna.
"Aku hanya mau minta diantar ke rumah papi," jawab Nuna sambil menarik tangan Belva.
"Ini sudah malam, Nuna. Lagi pula kamu mau ngapain di rumah papi?" tanya Belva sedikit meninggikan suaranya.
"Aku hanya ingin meminta Ecca kembali kesini," balas Nuna.
"Jangan berdalih ngidam untuk membawa Ecca kemari karena aku yakin kau hanya beralasan saja bukan?!"
Nuna kali ini terdiam. Dia kali ini membenarkan ucapan Belva. Memang kemarin ini ia begitu menginginkan masakan adiknya.
Namun, saat ini keinginan Nuna meminta Ecca tinggal bersamanya memang memiliki tujuan tersendiri.
Tiga tahun yang lalu, saat Ecca masih duduk di bangku SMA dan Nuna masih menjadi seorang mahasiswi. Nuna pernah dipergoki oleh adiknya sedang melakukan hubungan badan dengan pacarnya di dalam kamar.
Saat itu orang tua Nuna memang sedang pergi keluar kota, dan Ecca sedang sekolah. Makanya Nuna berani mengajak pacarnya untuk datang ke rumahnya dan mereka bergumul di dalam kamar.
__ADS_1
Namun karena Ecca sakit perut, ia akhirnya diantar pulang ke rumah. Suara Nuna di dalam kamar membuat Ecca penasaran dan kemudian membuka pintu kamar Nuna.
"Ya Ampun, kakaaaak!" teriak Ecca yang sangat terkejut melihat pemandangan di depan matanya dimana kakaknya dan juga kekasihnya itu tidak mengenakan apa apa.
Saat itu Ecca langsung berlari menuruni anak tangga. Karena kencangnya Ecca berlari, ia pun terjatuh tepat di anak tangga yang paling bawah dan kakinya terkilir.
Secara kebetulan juga, Papi dan Mami kembali pulang ke rumah karena saat itu mereka tertinggal pesawat.
"Ecca!" teriak papi dan maminya beriringan karena begitu terkejut putrinya terjatuh.
"Awh!" pekik Ecca saat hendak berdiri. Matanya langsung berkaca-kaca menahan rasa sakit di kakinya.
Papi Mario langsung mengangkat Ecca dan membawanya ke ruang tamu untuk memeriksa kondisi kaki Ecca.
Sedangkan Nuna yang mendengar teriakan papi dan juga maminya langsung kalang kabut. Ia pun segera mengenakan pakaiannya dan meminta pacarnya untuk bersembunyi.
Nuna berpura-pura keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga.
"Ada apa ini?" tanya Nuna.
"Kaki Ecca terkilir," jawab Mami.
"Lagi pula kenapa sih Ecca pake lari segala, sayang?" tanya Mami sambil memandang ke arah Ecca.
"Iya nih, kenapa udah tau mau turun tangga malah pake lari?" tanya Nuna mendekat ke arah Ecca dan melihat keadaan kaki Ecca.
"Biar Nuna panggilan tukang urut ya pi," tawar Nuna kemudian setelah melihat kaki adiknya.
Nuna pun bersiap untuk keluar dari rumahnya untuk memanggil tukang urut yang biasa dipanggil oleh maminya, namun papi Mario langsung menahannya untuk pergi.
"Tunggu Nuna, Papi yakin pasti ada sesuatu yang membuat Ecca berlari dan terjatuh,"
"Ecca, katakan pada papi dan Mami apa yang membuatmu berlari?" tanya Papi Mario kemudian.
Ecca yang kembali mendapat tatapan tajam dari Nuna pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Ecca memang gak hati-hati," jawab Ecca sambil menundukkan kepalanya.
Tapi papi Mario tidak tinggal diam begitu saja. Kini ia pun beralih memandang ke arah Nuna.
"Papi lihat motor pacar kamu ada di depan, sekarang dimana pacar kamu?" tanya papi membuat Nuna diam tidak berkutik.
Bruk!
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar ada yang terjatuh di luar. Papi pun langsung keluar dan mendapati pacar Nuna yang baru saja melompat dari balkon kamar Nuna.
Akhirnya Nuna dan pacarnya pun terkena amukan papi Mario. Dan sejak saat itu Nuna menyimpan dendam kepada Ecca.
Meskipun Ecca tidak mengatakan apapun yang ia lihat, tetap saja Nuna menyalahkan Ecca. Sejak saat itu, Nuna mulai tidak menyukai Ecca dan sangat ingin membalas dendam kepada adiknya.
Sayangnya, selepas lulus dari SMA Ecca justru memilih untuk melanjutkan kuliah di luar kota.
Saat ini Nuna mendapatkan waktu yang tepat untuk membalas dendamnya. Terlebih saat ia mengetahui jika Ecca pernah menyimpan perasaan khusus dengan Belva.
Ia sangat ingin membuat Ecca menderita. Sama seperti apa yang ia rasakan saat dimarahi papinya dulu.
Karena sejak kejadian itu, Nuna benar-benar dilarang untuk berpacaran. Terlebih saat papi Mario dan Om Dion berjanji akan menikahkan anak-anak mereka.
"Aku hanya tidak mau Ecca terlalu lelah jika berangkat bekerja dari rumah papi," tukas Nuna memberi alasan kepada Belva.
"Besok dia libur, jadi tidak perlu ke kantor lebih pagi," balas Belva yang baru aja menerima pesan dari Ecca jika besok ia ada kuliah online yang diadakan oleh kampusnya.
"Oh, baiklah. Kalau begitu besok sepulang kerja aku akan pulang ke rumah papi untuk membujuknya tinggal di sini," balas Nuna berbalik ke kamarnya.
Belva sendiri belum paham apa sebenarnya tujuan Nuna menginginkan adiknya tinggal di sini. Kali ini ia hanya mengedikkan bahunya dan kembali menutup pintu kamarnya.
"Aku harus membuat Ecca dibenci oleh Papi dan Mami!" gerutu Nuna sambil melemparkan tasnya.
"Sebaik-baiknya tupai melompat, pasti akan terjatuh pula. Begitu pula denganmu, Ecca. Sebaik-baiknya sikapmu, aku pasti akan membeberkan sikap burukmu, sebentar lagi," gumam Nuna sambil memegang buku kecil yang ada di tangannya.
☘️☘️☘️
Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan
Like ☑️
Comment 💬
Favorit ❤️
Vote 💞
Gift 🌹☕💺
Dan Tonton iklannya 📹📽️ juga ya
Terima kasih
__ADS_1