Kurebut Suami Kakakku

Kurebut Suami Kakakku
Tangga Darurat


__ADS_3

Selesai makan, Ecca langsung memutuskan untuk pulang ke apartemen. Dalam benaknya terus saja dipenuhi pikiran tentang dugaan yang dilontarkan Bisma tadi.


Sampai Ecca tidak sadar jika Bisma sudah menghentikan motornya di depan apartemen Belva.


"Ca, kamu mikirin omongan aku yang tadi ya?" tanya Bisma membuyarkan lamunan Ecca.


"Eh, udah sampai ya mas. Makasih ya udah anterin aku."


"Maaf ya, Ca kalo omongan aku tadi bikin kamu kepikiran."


"Aku gak mikirin itu kok, aku memang lagi capek aja Mas. Habis ini juga aku langsung istirahat," balas Ecca menyangkal ucapan Bisma.


Tak lama kemudian Dirga pun sudah muncul di belakang Ecca karena sebelumnya Bisma sudah memberi kabar jika mereka sedang dalam perjalanan menuju apartemen.


"Barang yang dicari udah dapet, Ca?" tanya Dirga.


"Sudah, Pak Dirga."


"Ya sudah, kamu istirahat gih! Besok masih harus berangkat kerja dan penelitian bukan?" ucap Dirga yang mulai naik ke atas motor Bisma.


"Oh, iya pak. Sekali lagi terima kasih yaa. Hati-hati di jalan," ucap Ecca sambil melambaikan tangannya.


Setelah motor Bisma tidak terlihat, Ecca pun berbalik dan mulai melangkah masuk menuju ke lift. Suasana apartemen malam ini sangat sepi dan membuat Ecca sedikit merinding.


Apalagi lampu yang di pasang sepanjang ia menuju ke pintu lift, bukan lampu yang terang, melainkan lampu temaram.


"Dih, sepi amat sih," gerutu Ecca.


Ting!


Pintu lift terbuka dan Ecca langsung masuk ke dalam sambil terus menggosok kedua tangannya untuk menepis rasa takut.


Baru kali ini Ecca merasakan gerakan lift terasa begitu lambat untuk sampai ke lantai tujuh. Sampai Ecca sedikit menahan nafasnya karena rasa takutnya kali ini semakin terasa.


Ting!


Pintu lift akhirnya terbuka. Ecca cepat cepat keluar dari lift dan mempercepat langkahnya untuk sampai di apartemen milik Belva.


Namun saat ia melewati pintu tangga darurat, tiba-tiba ada yang membekap mulutnya dari belakang. Ecca yang tidak bisa berteriak kini hanya mampu meronta ronta saat tubuhnya di angkat dan dibawa masuk ke pintu tangga darurat.


"Bee! Kau membuatku takut!" keluh Ecca saat bekapan mulutnya dan melihat King Bee berpindah di depannya.


"Kamu tuh kayak hantu tauk, yang tiba-tiba dateng mau nyulik aku!"


Tangan Ecca pun memukul mukul dada Belva kesal karena sudah diperlakukan seperti gadis yang diculik hantu.


"Emang ada hantu setampan aku?" tanya Belva memegang tangan Ecca yang terus memukulinya tanpa henti.


"Sudahlah, tidak perlu dibahas. Aku capek, mau istirahat!"


Ecca melepaskan tangannya yang saat ini di pegang Belva. Namun saat Ecca memegang gagang pintu tangga darurat, Belva pun langsung menahannya.


"Tunggu di sini sebentar saja, sayang. Aku rindu," ucap Belva sungguh-sungguh dan tentunya membuat hati Ecca meleleh.

__ADS_1


Entah kenapa ungkapan kerinduan Belva berhasil sedikit menghapus rasa kesal nya yang sudah menumpuk sedari tadi.


Namun seketika ingatan Ecca kembali dengan yang diucapkan Bisma tadi.


"Ck, rindu! Bilang aja mas Belva udah pu as kan sama kak Nuna. Makanya sekarang beralih sama aku?!" gerutu Ecca kesal.


"Emang aku ngapain sih, sayang? Aku sama sekali gak tertarik sama Nuna!" jelas Belva sambil mengusap kepala Ecca.


Wajah Ecca kini sedikit memerah mendengar penjelasan Belva, membuat Belva mengusap pipi merah Ecca dan mengangkat dagu nya ke atas hingga kedua netra mereka bertemu.


"Rasa cemburumu itu membuat aku semakin mencintaimu dan tidak akan melepaskanmu sedikit pun, Queen Ca!" ucap Belva sambil mengusap bibir tipis Ecca yang memerah dari sananya.


Usapan jari Belva di bibirnya membuat rasa kesal Ecca sirna seketika dan berganti dengar debaran yang sangat bergemuruh di dalam hatinya.


"Sepertinya aku tidak bisa menahan diriku untuk menunggu mencicipi ini setelah menikah nanti sayang."


Belva terus mengusap pelan bibir Ecca yang membuatnya sangat ingin menikmatinya.


"Apa boleh aku mencicipinya sekarang?" tanya Belva.


Blush!


Pipi Ecca kembali merona dengan ucapan Belva yang meminta izin darinya.


"Jangan, Bee!" tolak Ecca yang tentunya tidak sinkron dengan gejolak dalam hatinya yang sangat menginginkan Belva mendaratkan ciuman di bibirnya.


"Sebentar saja, aku tidak akan me|um@+nya, sayang. Aku hanya ingin menempelkan bibirku saja!" pinta Belva yang mulai melingkar kan tangannya memeluk Ecca dan memegang tengkuk leher wanita yang di cintainya.


'Apa ini karena King Bee tergoda dengan Kak Nuna tadi dan menahan has ratnya untuk tidak menyentuh Kak Nuna dan justru me lam pi askannya denganku?' tanya Ecca dalam hati.


Cup!


Kecupan Belva mendarat sempurna di kening Ecca.


"Aku masih bisa menahannya, Queen Ca." ucap Belva membuat nafas Ecca lega.


"Huuh, aku pikir Mas Belva sedang menahan has rat karena efek dari godaan kak Nuna tadi," tukas Ecca.


"Kau berfikiran terlalu jauh, sayang. Denganmu saja aku masih mampu menahannya."


"Nuna sama sekali bukan tandinganmu, Queen Ca. Karena kau jauh lebih baik dari kakak kandungmu sendiri," jelas Belva sambil mengusap rambut di kepala Ecca dan menyelipkan beberapa helai rambut Ecca di balik telinganya.


"Lain kali, jangan pergi kemana pun tanpa aku Ecca!"


"Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu. Tetaplah minta tolong, dan aku pasti akan mengantarkanmu."


"Jangan khawatir dengan tanggapan Nuna! Aku pastikan dia tidak akan berkomentar apa-apa," jelas Belva panjang lebar.


"Tapi aku tadi tidak pergi sendiri Bee," sanggah Ecca.


"Ya, aku tahu kau kali ini pergi dengan Bisma."


"Jika kemarin malam kalian pergi mencari penginapan dengan menaiki motor matic, kali ini aku sangat cemburu melihat calon istriku membonceng pria lain menaiki motor sport!" ucap Belva yang memperlihatkan Sorot matanya yang menahan kesal.

__ADS_1


Tangan Ecca pun langsung menggenggam tangan Belva dengan sangat erat.


"Bukankah aku yang seharusnya cemburu denganmu, Bee?"


"Kau diam saja digoda dengan kemolekan tubuh kak Nuna," gerutu Ecca dan langsung membuat tawa Belva langsung meledak.


"Ha ha ha... Kau lucu sekali sayang!"


Ecca langsung mengernyitkan dahinya, "Apanya yang lucu, Bee?!"


Belva mengamit pinggang Ecca dan mengajaknya duduk di tangga darurat. "Tubuhmu jauh lebih molek, sayang," bisik Belva membuat Ecca meremang.


Terlebih saat Belva mendaratkan ciumannya di tengkuk leher Ecca.


Cup!


"Aku sangat senang dengan aroma tubuhmu, sayang!" ucap Belva membuat jantung Ecca seperti berhenti berdetak sejenak dan kemudian ritmenya bertalu-talu kencang.


"Bee, jangan seperti ini!" rengek Ecca sambil mendorong tubuh Belva.


"Memangnya kenapa?"


Pertanyaan Belva membuat Ecca memalingkan wajahnya karena malu.


"Aku..."


Melihat sikap Ecca yang semakin mengemaskan, membuat Belva benar-benar tidak sanggup menahan dirinya.


Ia pun mendaratkan bibirnya tepat di bibir Ecca, dan me|um@+ ibu jarinya sendiri yang ada di antara bibir mereka.


Ecca hanya tersenyum dalam hati mendapati Belva yang mencari cara lain untuk melepaskan has ratnya.


'Disini aku sadar, Bee benar-benar akan memenuhi janjinya. Aku tidak beranjak dari sisimu, Bee dan akan terus berjuang bersamamu,' batin Ecca yang kemudian menyandarkan kepalanya di dada Belva setelah Belva melepaskan ciumannya di jarinya sendiri.


'Tidak semua kucing suka ikan asin, karena ada juga kucing yang memiliki selera makan yang tinggi seperti ayam, ikan salmon mungkin dan lainnya,' gumam Ecca dalam hati sambil menikmati kehangatan pelukan Belva.


☘️☘️☘️


Lah, kasihan amat dah ya si Belva di samain ama kucing. Trus Ecca ikan salmonnya gituh, apa malah jadi ayamnya?


Bukan ayam lah, ntar malah jadi ayam kampus lagi! #eh jadi kemana-mana ya.


Hari ini Author akan up 2 bab lagi ya.


Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan


Like 👍


Comment 💬


Favorit ❤️


Vote 💞

__ADS_1


Gift 🌹☕💺


Dan Tonton iklannya 📹📽️ juga ya


__ADS_2