Kurebut Suami Kakakku

Kurebut Suami Kakakku
Go Home


__ADS_3

Keesokan paginya, Ecca kembali bangun lebih pagi dan langsung membuat sarapan untuk kakaknya. Karena semalaman Ecca tidur dengan perut kosong, pagi ini ia langsung mengisi perutnya lebih dulu dan menunggu Belva di ruang tamu.


"Pagi Ecca sayang," sapa Nuna yang baru keluar dari kamarnya.


Nuna yang sudah siap dengan pakaian kantornya dan riasan yang sedikit mencolok itu kini menuruni anak tangga bersama dengan Belva yang berjalan di belakangnya.


"Pagi," balas Ecca singkat sambil menyibukkan dirinya menyicil menyelesaikan skripsi.


"Sarapan yuk, dek!" ajak Nuna kemudian sebelum melangkahkan kakinya ke ruang makan.


"Udah barusan," lagi-lagi Ecca menjawab ajakan kakaknya dengan singkat tanpa memalingkan wajahnya dari layar laptop sedikit pun.


"Diiih, yang lagi serius ngerjain skripsi. Semangat ya!" ucap Nuna sambil menarik kursi makan untuk Belva.


"Nasinya mau seberapa sayang?" tanya Nuna kemudian.


"Udah segitu aja cukup," balas Belva.


Meski Ecca tidak melihat kemesraan kakaknya, namun suara perbincangan mereka masih terdengar jelas di telinga Ecca.


Akhirnya Ecca mengangkat laptopnya dan pindah duduk di teras rumah untuk melanjutkan skripsinya.


"Hari ini kamu harus bertekad penuh untuk melupakan Mas Belva, Ca. Dia bukan lelaki yang tepat untuk dicintai," batin Ecca mengingatkan dirinya sendiri.


Tak berapa lama, mobil jemputan Nuna pun tiba. Setelah menunggu beberapa menit, Nuna pun keluar dan melambaikan tangannya pada Ecca.


"Kakak duluan ya, dek," sapa Nuna yang hanya dibalas dengan deheman oleh Ecca.


Tepat saat mobil yang dinaiki Nuna mulai bergerak meninggalkan rumah, Belva pun keluar dan mengunci pintu rumahnya.


"Caca beneran udah sarapan?" tanya Belva sambil menyimpan kunci pintu rumahnya ke dalam saku jas.


"Udah!" jawab Ecca singkat tanpa memandang ke arah Belva sedikit pun.


Belva yang merasa sedikit aneh dengan sikap Ecca pun mulai mendekat dan meletakkan tangannya di kening Ecca.


Namun, belum sampai menyentuh keningnya, Ecca sudah terlebih dahulu menepis tangan Belva. "Mau apa?!" tanya Ecca ketus.


"Kamu gak lagi sakit kan, Ca?" tanya Belva kemudian.


"Gak!" lagi-lagi jawaban ketus keluar dari mulut Ecca.


"Buruan yuk, berangkat! Ecca gak mau terlambat," ucap Ecca sambil mendahului Belva.


Melihat sikap Ecca pagi ini ini membuat Belva sedikit gusar. Namun ia belum berani bertanya dengan Ecca apa yang membuatnya bersikap ketus pagi ini.


Perjalanan ke Firma Hukum Quiero memang hanya ditempuh sekitar 15 menit dan Belva mencoba untuk mencairkan suasananya dengan Ecca.


"Skripsinya udah sampai bab berapa, Ca?" tanya Belva sambil melirik Ecca yang kini sedang memainkan ponselnya di kursi belakang lewat kaca spionnya.


"Tiga!"

__ADS_1


"Ooh, ada yang perlu Mas Belva bantu gak?" tawar Belva yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Ecca.


"Gak ada!"


Belva mulai membuang nafasnya kasar sambil terus mengamati Ecca.


"Kamu habis nangis ya? Ada masalah apa?" tanya Belva kemudian.


Kali ini Ecca terdiam cukup lama dengan pertanyaan Belva. Jika ia menjawab 'tidak', sudah pasti Belva mengetahui kebohongan Ecca karena matanya masih terlihat bengkak akibat menangis semalam.


"Iya, Ecca capek!" jawab Ecca.


Mobil Belva kini sudah memasuki gerbang firma dan menuju ke tempat parkir. Namun saat Ecca hendak keluar dari mobilnya, Belva justru mencegahnya.


"Jangan keluar dulu, Ca!"


"Bilang sama Mas, apa yang saat ini jadi masalah kamu? Mas pasti akan bantu untuk memecahkannya." ucap Belva.


"Emang Mas Belva pikir masalahku balon hijau, yang bisa dipecahin gitu aja?" balas Ecca yang masih dengan nada ketusnya.


Mendengar jawaban Ecca membuat Belva keluar dari mobilnya dan kembali masuk di seat belakang. Kini Belva duduk tepat di samping Ecca.


Ecca yang sudah bertekad untuk melupakan perasaannya dengan Belva cepat-cepat membuka pintu mobil Belva untuk menghindar. Sayangnya gerakan Ecca kalah cepat dengan tangan Belva yang menarik lengannya dan memaksanya untuk tetap duduk.


"Caca kenapa sebenernya pagi ini?"


"Mas ada salah ya sama kamu?" tanya Belva dengan nada yang terdengar begitu halus di telinga Ecca.


"Okey, kali ini Mas minta maaf karena sudah membuat kamu kesal dan marah,"


"Tapi tolong kasih tau mas, dimana letak kesalahan Mas Belva?" pinta Belva yang sangat tidak nyaman dengan sikap Ecca pagi ini.


Ecca membuang mukanya dan terlihat enggan menjawab pertanyaan Belva. Tidak mungkin juga jika ia menjawab dengan jujur.


"Masa' iya aku harus jawab kalo aku kesel sama dia gara-gara Mas Belva mesra-mesraan sama kak Nuna. Yang ada Mas Belva malah ilfeel lagi sama aku," batin Ecca.


"Caca!" panggil Belva karena Ecca tidak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Ecca capek, Ecca mau pulang aja ke rumah Mami habis dari sini," jawab Ecca yang langsung membuka pintu mobil Belva dan keluar lebih dulu meninggalkan Belva.


Sedangkan Belva kini mengusap wajahnya kasar. Ia merasa sudah keterlaluan membiarkan Ecca yang masih sibuk mengurus skripsi, justru lelah mengurus rumah tangganya.


Meski Nuna hanya meminta Ecca memasak untuknya. Tetap saja itu sangat melelahkan bagi Ecca. Terlebih Ecca sangat tidak suka jika melihat sesuatu yang berantakan sedikit pun.


"Mulai hari ini aku harus segera mencari asisten rumah tangga," gumam Belva yang segera menghubungi agen penyalur asisten rumah tangga.


...☘️☘️☘️...


Seharian ini Ecca benar-benar selalu datar setiap menjawab pertanyaan dari Belva. Bahkan Ecca begitu terlihat jika ia menghindari kakak iparnya itu.


Sampai waktu menunjukkan jam kepulangan karyawan, Ecca pun bersiap-siap untuk pulang.

__ADS_1


"Langsung pulang atau mampir lagi, Ca?" tanya Ollyta yang sedang membereskan mejanya.


"Langsung pulang kak, hari ini aku pulang sama papi," balas Ecca yang sudah menghubungi papinya terlebih dahulu untuk tiba di firma sebelum jam 4.


Belva yang sengaja melewati ruangan Ecca pun mendengar jika mertuanya kali ini menjemput Ecca. Ia pun bergegas menuju ke lift dan menemui mertuanya terlebih dahulu.


"Apa kabar papi?" sapa Belva sambil menyalami tangan papi mertuanya yang sedang menunggu Ecca di Lobby.


"Hai Belva, Papi baik. Kamu apa kabar?" tanya papi Mario.


"Baik juga pi," jawab Belva. "Emm, Papi mau jemput Caca ya?"


"Oh iya, Ecca tiba-tiba minta dijemput papi hari ini. Emm, Ecca ngerepotin gak di rumah kamu?" tanya papi Mario yang langsung dijawab Belva dengan gelengan kepala.


"Gak ngerepotin sama sekali pi, malah Ecca sangat tanggap mengurus pekerjaan di rumah. Maaf ya pi, gara-gara Belva Ecca jadi kecapekan," ucap Belva yang merasa sangat tidak enak dengan papi mertuanya itu.


"Hari ini asisten rumah tangga Belva udah dateng, jadi Ecca tidak perlu repot lagi memasak untuk Nuna," jelas Belva yang merasa keberatan jika Ecca kembali ke rumah orang tuanya.


"Bagus dong Mas Belva, jadi Ecca gak perlu lagi kan tinggal di rumah Mas Belva," ucap Ecca yang baru sampai di lobby.


Ecca mendekat ke arah papinya dan langsung mencium tangannya.


"Ayo pi, kita pulang!" ajak Ecca menarik tangan papinya.


"Oke oke,"


"Belva, Papi duluan ya. Salam buat papa sama mama kamu," ucap papi Mario undur diri.


"Baik pi, nanti Belva sampaikan," balas Belva yang tidak bisa mencegah kepergian mertuanya dan juga Ecca.


"Ck, aku harus membicarakan ini dengan Nuna. Entah kenapa aku sangat berat melihat Ecca meninggalkan rumahku," gumam Belva.


...☘️☘️☘️...


Hari ini cukup sampai disini ya readers, besok insya Allaah up lagi.


Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan


Like ☑️


Comment 💬


Favorit ❤️


Vote 💞


Gift 🌹☕💺


Dan Tonton iklannya 📹📽️ juga ya


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2