Kurebut Suami Kakakku

Kurebut Suami Kakakku
Arrived


__ADS_3

"Buat apa takut?" tukas Nuna tidak gentar sedikit pun meskipun nantinya dia pasti malu banget.


"Silahkan aja beberin semua yang Kak Nuna tahu!"


Nuna yang merasa dilecehkan oleh Ecca kali ini tidak tinggal diam. Ia pun bertekad untuk mempermalukan adik kandungnya sendiri saat ini juga.


"Belva, Dirga, perlu kalian tahu kalau sebenernya..."


"Sorry, Nuna! Kita gak mau denger cerita apapun dari kamu karena kita gak peduli sama sekali."


Belva memotong ucapan Nuna sambil memberikan earphone kepada Dirga.


"Dari pada kamu dengerin ocehan wanita yang gak jelas, lebih baik kamu dengerin lagu aja, Dirga!"


"Oh, iya pak Belva. Terima kasih banyak," balas Dirga memakai earphone milik Belva.


"Belva! Kamu tuh bener-bener ya! Gak bisa menghargai istri sendiri! Aku cuma mau bilang kalau dari dulu Ecca sebenarnya suka sama kamu!"


Apa yang ingin diucapkan oleh Nuna akhirnya keluar juga. Namun kali ini hanya Belva dan Ecca yang mendengarnya.


"Trus masalahnya dimana?!" tanya Belva sambil mengenakan earphone di telinganya. "Berita gak penting!"


Nuna sudah tidak dapat berkutik lagi saat ini. Tidak ada seorang pun yang membelanya, meski itu adik kandungnya sendiri.


Ecca menatap sedih ke arah kakaknya. Ia sendiri tidak menduga jika Belva benar-benar ada di pihaknya saat ini dengan caranya sendiri.


"Puas kamu ngeliat kakak dilecehkan kayak gini?!" gertak Nuna.


Ecca membuang nafasnya kasar. "Huh, kan kakak yang mulai duluan. Aku gak pernah ikut campur loh sama urusan kakak. Jadi kakak juga gak perlu ikut campur dengan urusan aku!" balas Ecca.


Kini keadaan kembali hening. Nuna memutuskan untuk menyandarkan kepalanya di headrest dan memakai kaca mata hitam nya, sedangkan Ecca dan Belva masih sama - sama sibuk berbalas pesan.


๐Ÿ“ฉ Belva


Jangan lupa ucapan terima kasihnya ya sayang. ๐Ÿ˜


๐Ÿ“ฉ Ecca


For what?!


๐Ÿ“ฉ Belva


Gak ngerasa nih udah dibelain sama calon suami sendiri?


๐Ÿ“ฉ Ecca


Iya deh iyaa. Thanks a lot, Bee ๐Ÿ˜Š


๐Ÿ“ฉ Belva

__ADS_1


Nanti kecupannya jangan lupa ya calon istriku sayang. ๐Ÿ˜˜


Lagi lagi Ecca tersenyum membaca pesan dari Belva. Nuna yang diam diam masih memperhatikan Ecca kini justru merasa panas seperti kebakaran jenggot.


'Siapa sebenarnya laki-laki yang saat ini dekat dengan Ecca. Bisa-bisanya Ecca tersenyum lepas seperti dan terlihat sangat bahagia.'


'Aku fikir Ecca akan susah move ON dari Belva dan akan terus menderita karena semua hasutanku. Ternyata aku salah!'


'Aku harus cari tahu siapa laki-laki yang saat ini dekat dengan Ecca. Ecca tidak boleh bahagia, terlebih di atas penderitaanku sekarang!'


Nuna yang terus mengoceh dalam hati melihat senyum Ecca pun lama-lama tertidur sampai mobil yang mereka tumpangi kini memasuki Tol Kota Semarang.


"Mas Belva, bisa antar aku ke pulang ke Mansion kan?" tanya Ecca. "Besok minggu aku ada janji sama temen. Hari Senin aku janji gak akan terlambat ke Firma."


Belva tidak langsung menjawab permintaan Nuna. Jauh dalam lubuk hatinya terasa sangat berat untuk jauh dari Ecca.


"Belva juga akan menginap di Mansion papi, karena aku juga sedang merindukan kamarku sendiri. Jadi kita semua akan pulang ke Mansion papi. Bukankah begitu Belva?" tukas Nuna tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu dengan Belva.


'Tawaran Nuna saat ini memang menggiurkan, dengan begitu aku bisa terus berada di dekat Ecca. Namun aku pasti akan tidur satu kamar dengan Nuna dan berakting totalitas di depan Papi dan Maminya seperti seminggu yang lalu,' gumam Belva dalam hati.


'Belum nanti jika Nuna kembali berencana untuk menjebak ku. Hemm, sepertinya kali ini aku harus mengalah untuk jauh dari Ecca weekend ini.'


"Maaf Nuna, aku ada janji dengan klien besok minggu. Jadi aku tidak bisa menginap di Mansion." jawab Belva membuat wajah Nuna pias.


Kekecewaan kini menyelimuti hati Nuna. Semua yang direncanakannya kini gagal total. Bahkan Belva sam sekali tidak memberikan ruang untuk berdua dengan sedikit pun.


Namun, Nuna juga tidak bisa protes dengan sikap Belva. Bisa-bisa Belva benar-benar tidak memberinya uang sama sekali jika ia melayangkan protesnya.


Belva hanya berdehem menjawab ucapan Nuna.


Tanpa menunggu lama, kini mobil mereka sudah sampai di Mansion.


Ecca turun dari mobil terlebih dahulu dan mengambil kopernya di bagasi.


"Cuma weekend aja kan menginap di Mansion Papi. Kenapa harus nurunin koper, Caca?" tanya Belva sambil mengerutkan dahinya.


"Barang yang aku butuhin ada di koper soalnya, Mas!" jawab Ecca.


"Ya udah, di ambil aja trus kopernya masukin lagi ke bagasi."


"Emmm, gak usah deh Mas. Besok kalo diantar papi bawa mobil aku bawa lagi kopernya."


Ecca tetap bersikeras untuk menurunkan kopernya dan membawanya masuk ke dalam Mansion.


Melihat putri bungsunya pulang, Mami Aleya langsung menyambutnya dengan sangat hangat.


"Ecca sayaaang, gimana bimbingannya? Lancar kan?" tanya Mami Aleya sambil memeluk Putrinya.


"Dosennya gak galak kan sayang? Trus gak menyulitkan kamu kan?" belum sempat dijawab oleh Ecca, Mami Aleya melontarkan pertanyaannya lagi.

__ADS_1


"Cuma Ecca doang nih yang disambut?" tanya Nuna yang baru masuk ke dalam Mansion dan memperlihatkan dengan mimik muka yang kesal.


"Loh, Kakak pulang juga yaa? Mami kira akan lama di Jogja," tukas Mami Aleya yang bergantian memeluk Nuna yang baru datang.


"Kebetulan tugas yang di sana sudah selesai dan besok ada meeting dengan klien di sini," jelas Belva sambil menyalami tangan mami mertuanya.


Belva memang lelaki yang sangat santun, tak ayal jika banyak orang yang simpatik terhadapnya.


"Aku kemarin sempat pendarahan dan masuk rumah sakit, Mi," celetuk Nuna.


"Untung saja Mas Belva cepat-cepat bawa aku ke rumah sakit. Kalau nggak, bayi aku bisa kenapa-napa."


Mami Aleya terkejut mendengar cerita Nuna. Cepat-cepat ia mengusap perut Nuna yang mulai membuncit.


"Kok bisa sih sayang? Kenapa bisa sampe pendarahan? tapi kamu gak terpeleset kan?" tanya Mami Aleya dan Nuna langsung menggelengkan kepalanya.


"Ya udah sini duduk dulu, biar dibuatkan minuman hangat untuk kalian."


Mami Nuna menuntun Nuna duduk di sofa, sedangkan Ecca langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Kehamilan trimester pertama memang rawan banget sayang untuk bepergian jauh," jelas Mami Aleya sambil mengusap perut Nuna.


"Tapi baru trimester pertama kok perut kamu udah buncit gini ya sayang?" tanya Mami Aleya.


Dug! Tiba-tiba tangan Mami Aleya merasakan tendangan kecil di perut Nuna.


'Aduh, gawat!' batin Nuna sambil menjauhkan tangan maminya pelan.


"Perut aku kan tebel, Mi. Apalagi sekarang ini aku lagi doyan makan. Jadi perut aku cepet banget buncitnya," kilah Nuna memberi alasan.


"Tapi tadi Mami..."


"Aduh, tiba-tiba perut aku agak mules nih, Mi. Nuna ke belakang dulu ya!"


Nuna cepat cepat menghindar dari mami Aleya agar maminya tidak terlalu menaruh kecurigaan kepadanya.


๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’


Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan


Like ๐Ÿ‘


Comment ๐Ÿ’ฌ


Favorit โค๏ธ


Vote ๐Ÿ’ž


Gift ๐ŸŒนโ˜•๐Ÿ’บ

__ADS_1


Dan Tonton iklannya ๐Ÿ“น๐Ÿ“ฝ๏ธ juga ya


__ADS_2