Kurebut Suami Kakakku

Kurebut Suami Kakakku
Amukan Nuna


__ADS_3

"Bee, Kak Nuna telfon aku."


Ecca memperlihatkan ponselnya ke arah Belva saat mereka baru saja sampai di ruang kerja Belva.


"Biarkan saja, lebih baik kau istirahat karena besok pagi kau harus kembali melakukan penelitian bukan?" jawab Belva yang tidak mau Ecca terus menerus memenuhi keinginan Nuna.


"Tapi Bee, Kak Nuna sekarang sedang kelaparan."


Lagi-lagi Ecca memperlihatkan pesan masuk dari Nuna.


๐Ÿ“ฉ Nuna


Dek, kakak lagi di jogja nih. Kakak laper banget kangen sama masakan kamu. Kamu bisa gak masakan buat kakak malam ini di Apartemen Mas Belva? Nanti kakak kasih alamatnya.


"Nuna sudah masak malam ini, Queen Ca. Lihat saja ini!"


Belva memperlihatkan rekaman CCTV apartemennya yang ada di ponselnya. Betapa terkejutnya Ecca saat melihat kakaknya terekam dari layar CCTV sedang mengenakan pakaian yang sangat kurang bahan.


"Bilang saja dengan Nuna jika besok setelah dari kampus kamu akan ke Apartemen. Sekarang sudah malam, Ecca!" perintah Belva dan Ecca pun langsung menganggukkan kepalanya.


"Okey, kalo begitu aku masuk ke kamar dulu ya. Have a nice dream, Bee!"


Ecca pun melangkah masuk ke dalam kamar yang ada di dalam ruang kerja Belva. Sedangkan Belva pun terus saja mengekori Ecca.


"Bee?!" Ecca mengerutkan dahinya saat melihat Belva ikut masuk ke dalam kamar dengannya.


"Queen Ca, apa kau tega membiarkanku tidur di luar?" tanya Belva.


"Lalu?"


"Biarkan aku tidur di sini bersamamu. Aku berjanji tidak akan melakukan sesuatu yang melampaui batas kita," ucap Belva membuat Ecca memutar bola matanya malas.


Bagaimana mungkin ia akan tidur bersama lelaki yang belum ada ikatan apa-apa dengannya dalam satu kamar dan bahkan di atas ranjang yang sama.


"Kalau begitu, aku saja yang tidur di luar dan kau bisa tidur di kamar Bee," balas Ecca memberikan saran.


"Jangan sayang! Baiklah, aku saja yang tidur di sofa. Aku masuk hanya mau mengambil selimut saja," ujar Belva dengan wajah yang bersungut-sungut.


'Hemm, Caca benar-benar memegang teguh prinsipnya. Dan aku tidak berhasil untuk menggoyahkannya,' gumam Belva dalam hati.


"Oh iya, Bee. Aku ingin tidak ingin banyak orang yang tahu tentang hubungan kita berdua. Tetaplah bersikap dingin saat bersamaku di depan banyak orang karena aku lebih nyaman seperti itu," pinta Ecca.


"As you wish, sayang. Asalkan jangan batasi ruang gerakku saat berdua saja denganmu," balas Belva.


Setelah mengambil selimut dan bantal, Belva pun keluar dari kamar dan Ecca pun segera beristirahat karena hari ini begitu melelahkan baginya.


๐Ÿ„๐Ÿ„๐Ÿ„


Keesokan harinya, Ecca sudah siap di depan ruang meeting karena hari ini Belva akan memperkenalkan Ecca dan juga Bisma sebagai pegawai magang yang sedang mengerjakan skripsi.


"Ecca!" panggil Bisma yang baru saja datang.


"Kamu di sini juga?" tanyanya lagi dengan Sorot mata yang berbinar.


"Iya Mas. Ternyata firma ini merupakan cabang dari firma Quiero yang ada di Semarang," jawab Ecca.

__ADS_1


"Mas Bisma penelitian di sini juga ya?"


"Iya, Ca. Dan kemarin aku juga sudah diterima sebagai pegawai training disini."


"Waaah, keren. Selamat ya Mas." Ecca mengulurkan tangannya di depan Bisa dan tentu saja langsung disambut oleh Bisma.


Keakraban Ecca dan Bisma pagi ini tidak lepas dari pengawasan Belva. Dadanya langsung bergemuruh menahan rasa cemburu melihat kedekatan mereka berdua.


Terlebih saat Ecca terlihat mengulurkan tangannya terlebih dulu di depan Bisma.


Dirga yang paham dengan situasi ini pun langsung mendekat ke arah Ecca dengan Bisma dan mempersilahkan keduanya untuk masuk ke dalam ruang meeting terlebih dahulu sembari menunggu pegawai yang lainnya.


Saat Ecca, Bisma dan Dirga hendak masuk ke dalam ruangan, terdengar suara perempuan memanggil nama Belva dan membuat mereka bertiga menghentikan langkah mereka.


"Mas Belva sayaaang!" panggil Nuna yang langsung menghambur memeluk Belva.


"Akhirnya aku bisa ketemu sama kamu, aku kangen banget sayang," ucap Nuna meluahkan rasa rindu nya yang tertunda sejak tadi malam.


Cepat cepat Belva melepaskan pelukan Nuna dan mengingatkannya bahwa saat ini mereka sedang di kantor.


"Jangan bersikap seperti ini, Nuna. Kau tahu kan, ini kantor!" jelas Belva geram, terlebih saat menangkap sorot mata Ecca yang sangat tajam memandang ke arahnya.


"Aku harus segera meeting. Kau bisa menungguku di sini ataupun di kantin!" jelas Belva sambil berlalu melewati Nuna begitu saja.


"Huft, dia benar-benar mengacuhkan aku!" gerutu Nuna sambil menuju keke kantin.


Pagi ini ia memang belum sarapan sama sekali karena setelah mandi ia bergegas menuju BQ Law Firm.


Satu jam sebelumnya,


"Halo pa, bisa papa kirimkan alamat kerja Belva?" tanya Nuna saat panggilannya tersambung.


"Dia tidak pulang ke apartemen semalam padahal aku sudah menyiapkan kejutan untuknya."


"Kalau dia tidak pulang, berarti pekerjaannya benar-benar menumpuk di kantor. Lebih baik jangan diganggu daripada kau justru datang Dan mengacaukan pekerjaan putraku, Nuna!" balas papa Dion di ujung panggilan.


"Baiklah, jika papa memang tidak mau memberitahu aku!" balas Nuna merajuk.


"Lebih baik aku menelfon mama Dea dan menceritakan siapa dibalik gagalnya kekalahan tender mama Dea!" ancam Nuna kemudian.


"Ck, apa kau tidak ada cara lain untuk mengancamku!" pekik papa Dion geram. "Tunggu saja, aku akan mengimkan alamatnya untukmu!"


Papa Dion pun memutuskan panggilan secara sepihak. Seutas senyuman langsung tercetak di bibir Nuna kali ini.


"Aku tidak akan mengancam papa mertua sendiri jika kau berpihak denganku seperti ini," gumam Nuna saat membaca pesan dari papa Dion yang berisi alamat kantor Belva.


Kini Nuna menikmati sarapannya di kantin sambil menunggu Belva selesai meeting.


Dua jam berlalu, Nuna kembali jengah karena dia tidak pernah tau kapan Belva selesai meeting.


Akhirnya ia pun kembali ke ruangan dimana ia bertemu dengan Belva saat ia tiba di sini.


Sayangnya ruangan meeting itu ternyata sudah kosong sejak 15 menit yang lalu.


"Bukannya ada meeting ya di ruangan ini?" tanya Nuna kepada cleaning service yang kini sedang membersihkan ruangan.

__ADS_1


"Benar bu, dan rapat sudah selesai sejak 15 menit yang lalu," jawab cleaning service tersebut.


"Lalu dimana pak Belva?" tanya Nuna lagi sambil mengepalkan tangannya.


"Oh Pak Belva saya lihat langsung pergi tadi dengan asistennya." jawab cleaning service.


"Jika anda ingin bertemu dengan Pak Belva, sebaiknya anda membuat janji terlebih dahulu karena Pak Belva memang sangat sibuk dan jarang berada di kantor," jelas nya lagi membuat Nuna naik pitam.


"Kamu pikir aku orang lain, Hah?!" gertak Nuna sambil menendang ember cleaning service itu.


"Aku istrinya Belva! Untuk apa aku membuat janji terlebih dahulu hanya untuk bertemu dengan suamiku!"


Kemarahan Nuna dengan cleaning service kali ini membuat karyawan yang ada di dekat ruang meeting langsung mendekat.


"Ada apa ini?" tanya Pak Toni melihat kericuhan di ruang meeting. Terlebih saat lantai di ruangan tergenang air pel.


"Maaf, wanita yang mengaku istri Pak Belva ini tiba-tiba marah dengan saya. Pak Toni tenang saja, saya akan membersihkan ulang ruangan ini," jelas cleaning service tersebut.


"Istri Pak Belva?" tanya Pak Toni sambil mengerutkan dahinya.


'Sejak kapan pemilik firma menikah?' tanya Pak Toni dalam hati sambil memperhatikan Nuna dari atas sampai bawah.


'Istrinya udah hamil lagi, kenapa tidak ada informasi sama sekali ya dengan pernikahan Pak Belva,' batin Pak Toni saat melihat perut Nuna yang sudah membuncit.


"Maaf nyonya, saat ini Pak Belva memang sedang keluar kantor. Anda bisa menunggu di Lobby karena mungkin sekitar dua jam lagi beliau akan kembali," jelas Pak Toni.


"Dua jam lagi?" mata Nuna melotot saat mendengar ia harus kembali menunggu Belva dua jam lagi.


'Huft, jika bukan karena menunggu uang dari Belva, aku tidak akan seboring ini!' gerutu Nuna dalam hati.


"Antarkan saja aku ke ruangan suamiku karena aku lebih baik menunggunya di ruang kerjanya!" pinta Nuna membuat Pak Toni kali ini bimbang.


"Mohon maaf Nyonya, kami tidak bisa mengantar anda ke ruang Pak Belva karena di dalamnya banyak berisi berkas penting! Terlebih kami belum mengetahui kebenarannya jika anda adalah istri dari pak Belva." jelas Pak Toni.


Lagi-lagi penjelasan dari karyawan Belva kali ini membuat Nuna naik pitam.


Kali ini ia mengamuk di depan Pak Toni sampai salah satu karyawan akhirnya menghubungi nomor ponsel Belva dan memberi tahukan jika istrinya sedang mengamuk di kantor.


โ˜˜๏ธโ˜˜๏ธโ˜˜๏ธ


Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan


Like ๐Ÿ‘


Comment ๐Ÿ’ฌ


Favorit โค๏ธ


Vote ๐Ÿ’ž


Gift ๐ŸŒนโ˜•๐Ÿ’บ


Dan Tonton iklannya ๐Ÿ“น๐Ÿ“ฝ๏ธ juga ya


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2