
Setelah membersihkan dirinya, Ecca duduk di depan meja rias dan memeriksa uang yang ada di M-Banking miliknya.
"Hemm, kayaknya uang aku cukup nih buat nyewa penginapan atau kost sementara selama aku bimbingan di sini," gumam Ecca yang tanpa sengaja terdengar oleh Naya yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.
"Udah, gak usah mikirin macem-macem deh, Ca," ucap Naya sambil menepuk bahu Ecca.
"Kamu tahu kan, mama pasti marah banget kalo kamu malah cari tepat lain!"
"Mama aku tuh seneng banget kalo kamu di sini. Jadi aku juga gak kelayakan kemana-mana. Besok kita ke kampus bareng, deh. Aku juga ada janji sama dosen," timpal Naya.
Ecca dan Naya memang sudah dekat sejak semester 1. Kebetulan mereka satu kampus dan satu jurusan yang sama. Hanya saja kali ini Naya mengambil penelitian kasus hukum yang ada di Pengadilan Negeri Pusat.
"Aku besok ada janji dengan Dekan Fakultas pagi, Nay. Jadi aku naik busway atau ojek online juga bisa," balas Ecca yang tidak mau merepotkan Naya.
Terlebih ia paham betul jika sahabatnya yang satu ini sangat susah untuk bangun pagi.
"Paginya jam berapa, Ca? Aku pasti usahaain untuk bangun pagi deh," tukas Naya yang selalu mengatakan seperti itu. Namun pada akhirnya pasti Naya akan tetap meringkuk di dalam selimut.
"Jam 7 harus udah ada di kampus. Masalahnya Pak Dekan mau ganti dosen pembimbing aku dengan dosen baru, soalnya yang lama udah mau pensiun," jelas Ecca membuat Naya membelikan matanya.
"Gila! Pagi amat, Ca!"
"Emm, tapi aku bisa bangun jam 6 kok. Kamu enang aja ya, bsok pasti aku anterin ke kampus," tukas Naya begitu meyakinkan.
๐
๐
๐
Keesokan paginya, seperti biasa setiap Ecca menginap di rumah Naya, ia pasti membantu asisten rumah tangga Naya untuk menyiapkan sarapan.
Setelah sarapan sudah siap, Ecca kembali ke kamar Naya dan membersihkan dirinya. Namun, saat Ecca sudah selesai mandi, Naya tetap saja masih meringkuk di dalam selimut.
"Nay, jadi mau ke kampus pagi gak? udah jam 6 nih," tanya Ecca sambil menggoyangkan badan Naya berkali-kali.
"Ya udah kalo masih ngantuk, aku ke kampus duluan ya," bisik Ecca tepat di telinga Naya.
Naya perlahan mengerjapkan matanya, "Tunggu 5 menit lagi Ca, aku pasti langsung bangun!" balas Naya dengan suara seraknya khas orang bangun tidur.
"Udah, gak usah dipaksain Nay, kamu lanjutin aja bobok paginya! Lagi pula aku juga udah siap kok," balas Ecca yang sudah memakai tas punggungnya.
"Eits! Tunggu, dan jangan kemana-mana!" cegah Naya yang memaksa dirinya untuk bangun.
"Aku akan mandi kilat, dan mengantar kamu ke kampus sesuai dengan janji aku semalam!" ucap Naya yang langsung bangun dan mengamit handuknya.
Ecca hanya tersenyum dan kembali duduk di tepi ranjang Naya.
"Tumben banget sih tuh anak cepet bangun," gumam Ecca.
__ADS_1
Meskipun sudah bangun lebih pagi dari biasanya, tetap saja Naya sangat lama untuk membersihkan dirinya, memilih pakaian, dan juga berdandan.
Untung saja Ecca berinisiatif menyiapkan bekal sarapan untuk mereka berdua, karena jika Naya sarapan di rumah, sudah dipastikan Ecca pasti akan terlambat.
Naya mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata mengingat jam di Mansionnya sudah menunjukkan pukul 7 kurang 15 menit.
Untuk saja jarak Mansion Naya menuju ke kampus tidak begitu jauh. Mereka berdua pun sampai di depan kantor Dekan Fakultas Hukum tepat jam 7.
Sedangkan di depan kantor Fakultas hukum, sudah tampak seorang mahasiswa yang menanti kedatangan Ecca.
"Huft, on time kan, Ca! Apa aku bilang, aku tuh bisa ba . . ."
"Aku duluan ya Nay, kamu tunggu aja di Lobby," ucap Ecca memotong pembicaraan Naya dan buru-buru turun dari motor.
"Hai Ecca, apa kabar?" sapa Bisma, mahasiswa hukum semester 12 yang sengaja menunggu kedatangan Ecca sejak pagi.
"Baik. Aku lagi buru-buru nih. Duluan ya," balas Ecca sambil melambaikan tangannya dan menuju ke ruang Dekan Fakultas Hukum.
"Rebecca Marley Swan!" suara Dekan Fakultas menggema di selasar depan ruangannya memanggil nama Ecca.
Pak Robert tampak berkacak pinggang di depan ruangannya sambil menunggu kedatangan Ecca.
Tampang mengerikan Pak Robert kali ini membuat Ecca berlari kecil mendekat ke arah Dekan Fakultas nya itu.
"Sudah saya bilang, kamu harus tiba di kampus sebelum pukul 7. Kenapa kamu terlambat?!" tanya Pak Robert dengan nada menghardik.
Ecca pun mengikuti langkah Pak Robert yang masuk ke dalam ruangannya.
Bukan satu kali ini Ecca di tegur karena keterlambatannya. Dan lagi-lagi semua keterlambatannya karena sahabatnya, Naya.
Sebab itulah Ecca enggan menginap di rumah Naya jika ada jadwal kuliah. Paling jika weekend saja Ecca oversleep di rumah Naya.
Namun kali ini berbeda dengan biasanya. Skripsi dan sidang kelulusan Ecca untuk menjadi seorang sarjana hukum benar-benar sedang dipertaruhkan.
Sedangkan Naya yang baru saja memarkirkan motornya pun langsung mendekat ke arah Bisma.
"Mas Bisma Sanjaya, udah gak sabar ya pingin ketemu ama Neng Ecca?" ledek Naya menggoda Bisma.
Bisma memang menyukai Ecca sejak dari OSPEK Mahasiswa Baru. Sayangnya, Ecca sama sekali tidak peka terhadap perhatian Bisma selama ini kepadanya.
Ecca justru menganggap jika Bisma lebih suka dengan Naya karena mereka berdua sering terlihat bersama.
Padahal kebersamaan Bisma dengan Naya adalah karena Naya butuh informasi tentang teman dekat Bisma yang Naya suka, dan begitu pula sebaliknya.
"Kamu nih bukannya dateng lebih pagi, malah dateng telat begini! Kan udah janji mau ketemuan jam setengah 7, gimana sih kamu?" gerutu Bisma yang tampak kesal karena sudah menunggu Ecca sejak 30 menit yang lalu.
"Sorry Bro! Aku udah berusaha untuk on time loh. Tapi apa daya, mata ini susah untuk diajak kerja sama," tukas Naya tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Kebiasaan!"
__ADS_1
Bisma hanya geleng-geleng kepala melihat sahabat Ecca yang satu ini.
"Oh iya, Mas Bisma. Bebeb Arvind sekarang gimana kabarnya? Skripsinya udah kelar belum?" tanya Naya menanyakan sahabat Bisma yang sudah lama Naya taksir.
Bisma menghela nafasnya pelan dan kemudian menceritakan pada Naya jika Arvind sebentar lagi akan menikah dengan wanita yang sudah dijodohkan dengan dia.
"Serius, Mas?!" pekik Naya terkejut.
"Jangan ngeprank deh!"
"Diiih, serius banget aku. Cuma sampe sekarang dia belum bilang sama aku siapa cewek yang udah dijodohin sama dia," balas Bisma membuat Naya seperti hilang harapan.
Naya langsung terduduk lemas mendengar kabar dari Bisma. Pupus sudah harapannya selama ini untuk bersanding dengan lelaki yang sudah ia suka sejak praktek lapangan semester kemarin.
"Gak usah sedih, Nay. Lelaki yang tampan masih banyak bertabur di luaran sana. Bukan cuma Arvind aja." hibur Bisma.
"Ck, tapi cowok macho bermata biru kaya Bebeb Arvind kan jarang banget mas. Yah, untung aja aku belum terlalu bucin sama dia," timpal Naya yang kemudian membuka tas nya dan mulai menikmati sarapan yang disiapkan oleh Ecca.
"Yaelah, kirain nih bocah bakalan nangis darah denger gebetannya mau nikah." celoteh Bisma yang melihat Naya begitu menikmati masakan Ecca.
"Gak perlu lah terlalu baper begitu, mendingan nikmatin masakan Ecca, Kenyang dan Perut senang!"
Melihat Naya yang begitu menikmati sarapannya, membuat Bisma menelan ludahnya kasar.
"Bagi dong, aku juga mau cicip masakan calon istri aku nih!" pinta Bisma yang tentu saja tidak dituruti oleh Naya.
"Trus nanti Ecca sarapan apa dong?" tanya Naya sambil terus mengunyah nasi goreng seafood buatan Ecca.
"Bekal Ecca kasih buat aku, nanti aku akan pesenin sarapan buat Ecca, gimana?" tawar Bisma.
"Bilang sendiri ntar sama Ecca deh," balas Naya yang tidak mau ambil pusing dengan permintaan Bisma.
๐๐๐
Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan
Like ๐
Comment ๐ฌ
Favorit โค๏ธ
Vote ๐
Gift ๐นโ๐บ
Dan Tonton iklannya ๐น๐ฝ๏ธ juga ya
Terima kasih
__ADS_1