
Belva memandu jalannya mediasi antara Wita dengan Hendy. Wita terus saja bersikukuh ingin bercerai dengan suaminya.
Namun karena Belva terus memberikan beberapa gambaran akibat dari perceraian mereka, Wita mulai berfikir ulang. Terlebih Hendy sudah berjanji untuk berubah dan tidak mengulangi kesalahannya lagi.
Akhirnya mediasi pertama dianggap sukses dan keduanya tidak jadi bercerai.
Setelah persetujuan antara kedua belah pihak tertulis hitam di atas putih, Belva pun segera bergerak menuju ke kampus karena ia sudah berjanji untuk tiba di sana saat makan siang.
"Jika Hendy dan Wita sudah berdamai seperti ini, aku pastikan Nuna pasti sudah tidak akan mendapat banyak fasilitas lagi dari Hendy," gumam Belva sambil mengemudikan mobilnya.
Benar saja dugaan Belva, ponselnya langsung berdering dan tampak panggilan masuk dari Nuna.
"Ada apa?"
"..."
"Apa pentingnya memberi kabar denganmu?"
"..."
"Aku sibuk dan tidak terpikirkan tentang itu!"
"..."
"Uang? Bukankah dari awal kau pernah mengatakan jika aku tidak perlu memberikan uang untukmu bukan?"
"..."
"Cih, tidak perlu banyak berakting untuk menjadi istri yang baik untukku, Nuna. Simpan saja mimpimu itu! Untuk masalah uang nanti aku fikirkan lagi, aku sedang banyak pekerjaan."
Panggilan antara keduanya pun kini terputus secara sepihak oleh Belva. Dan tentunya sikap Belva kai ini membuat Ecca sangat geram.
"Aaaarrrrgghhh!" teriak Nuna kesal sambil melempar ponselnya ke atas kasur.
"Hari ini benar-benar sial!"
"Setelah istri Hendy marah denganku, aku jadi tidak mendapatkan kiriman uang lagi dari suaminya. Padahal saat ini aku juga sedang mengandung benih yang Hendy tanam," gerutu Nuna kesal.
Beberapa hari yang lalu di Hotel Carlson,
Nuna sengaja berkunjung ke ruangan Hendy untuk meminta sesuatu. Seperti biasa, Nuna memang selalu masuk ke ruangan Hendy tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Nuna memang semakin tampak menggoda dengan perut yang mulai membuncit. Biasanya kedatangan Nuna ke ruangannya langsung disambut dengan ciuman panas oleh Hendy.
Namun kali ini berbeda, saat Nuna duduk di pangkuan Hendy, Hendy justru mengesampingkannya.
"Sayang, aku butuh uang. Ada tas keluaran terbaru yang ingin aku beli," pinta Nuna sambil terus mengusap dada Hendy.
"Aku kali ini tidak bisa terus kau pe ras Nuna!" gertak Hendy membuat Nuna terkejut.
Baru kali ini Hendy menggertaknya dengan nada yang kencang. Nuna pun turun dari pangkuan Hendy dan bergerak menjauh.
__ADS_1
"Kenapa Mas Hendy membentak aku? Apa salah aku, Mas?" tanya Nuna.
Tiba-tiba saja dari belakang ada yang menarik rambut Nuna dan menjambaknya dengan kencang.
"Jadi kamu ya, yang selama ini jadi selingkuhannya Mas Hendy!"
"Dasar j@l@ng karatan! Bisa-bisanya kamu menggoda suami orang!"
"Dasar murahan! Begitu tidak lakunya kah dirimu di pasaran sampai kau jual dirimu dengan suamiku!"
"Jika membunuh diperbolehkan, maka detik ini juga ingin aku bunuh dirimu agar penyakitmu tidak menular kemana-mana! Penyakit wanita murahan!"
Umpat Wita geram sambil terus menarik rambut Nuna.
"Awh! Sakit b^go!"
"Mas Hendy, tolong aku Mas! Perutku bisa kram ini. Kasihan anak Mas Hendy yang ada di perutku!" racau Nuna meminta pertolongan dari Hendy.
Mendengar Nuna berteriak minta tolong dan mengatakan kalau dirinya sedang hamil membuat Wita semakin geram. Ia pun melepaskan jambakannya dan menampar Nuna dengan sangat keras.
Plak! Plak!
Tamparan Wita mendarat mulus di pipi kanan dan kiri Nuna dengan sempurna.
"Apa kau bilang?! Hamil?!" Cecar Wita dengan memandang tajam ke arah Nuna.
"Ya, aku kini mengandung anak dari Mas Hendy. Dan Mas Hendy lebih pu as saat di ran jang bersamaku daripada dengan istrinya yang ternyata tidak pintar me mu as kan suaminya sendiri!" balas Nuna yang seketika membuat mata Wita berkaca-kaca.
"Dia tidur dengan banyak laki-laki, dan aku hanya dijebak olehnya. Percayalah! Anak yang dikandungnya belum tentu anakku!" jelas Hendy Carlson memberi penjelasan.
Duarrr! Ucapan Hendy membuat Nuna sangat terkejut kali ini. Ia tidak menyangka jika kali ini Hendy justru tidak mengakui anak yang sedang ia kandung.
Padahal selama ini, Hendy terus memberikan perhatian yang melimpah ruah untuknya karena anak yang ia kandung.
"Mas, apa yang kau katakan?! sudah jelas ini anakmu! aku hanya berhubungan denganmu saja Mas," timpal Nuna sambil berjalan mendekat ke arah Hendy.
"Kalian benar-benar menjijikkan!" teriak Wita mulai meneteskan air matanya.
"Aku akan pulang ke rumah papa dan melayangkan gugatan cerai untuk mu!" tunjuk Wita ke arah Hendy dan siap berbalik keluar dari ruang kerja suaminya.
Hendy yang hendak mengejar suaminya pun langsung dicegah oleh Nuna untuk tidak pergi. Nuna terus saja menghalangi langkah Hendy sampai Wita berlalu begitu saja.
"Jangan gila Nuna! Aku tidak ingin bercerai dengan istriku!" gertak Hendy kesal mendapati Nuna yng masih menghadang nya.
Tidak mungkin ia mendorong Nuna untuk menjauh darinya mengingat kini Nuna tengah berbadan dua.
"Kenapa Mas? Bukannya kau lebih mencintai aku dari pada Wita?!"
Hendy kini membuang nafasnya kasar dan menatap Nuna dengan intens.
"Aku tidak akan pernah memberikan cintaku kepada j@l@ng sepertimu, Nuna! Aku masih normal untuk memberikan cintaku kepada wanita yang baik-baik seperti Wita!"
__ADS_1
"Dan kau hanya mainan yang sudah membuatku bosan! Lebih baik kau angkat kaki secepatnya dari ruanganku karena mulai hari ini kau dipecat!" jelas Hendy yang kemudian keluar dari ruangannya meninggalkan Nuna yang masih terpaku di sana.
Deg!
Nuna sungguh tidak menyangka mendapat hinaan seperti itu dari laki-laki yang setiap waktu mengisi hari-harinya. Tanpa terasa air mata Nuna mulai jatuh membasahi pipinya.
"Ini hanya mimpi kan?! Ini pasti hanya mimpi dan tidak mungkin nyata!"
Setelah kejadian di ruangan Hendy, Nuna mulai mengarang cerita jika ia mengajukan surat pengunduran diri untuk fokus menjadi istri dan ibu yang baik.
๐๐๐
Nuna yang sampai saat ini belum tahu dimana keberadaan Belva pun mencari cara agar bisa menemui Belva.
Tiba-tiba ia pun keluar dari kamarnya dengan menangis tersedu-sedu.
Kebetulan Mama Dea baru saja pulang dari berbelanja dan langsung mendekat ke arah menantunya.
"Kamu kenapa nangis Nuna?" tanya Mama Dea sambil mengusap punggung menantunya.
"Nuna kangen sama Mas Belva, Ma. Gak kuat kalo harus jauh-jauhan kayak gini sama Mas Belva," isak Nuna sambil merengek.
"Ya Ampuun, kirain ada apa. Kalo kangen ya mending nyusul aja ke Jogja, beres kan? Lagi pula kankamu udah gak kerja," timpal Mama Dea yang kemudian beranjak melewati Nuna dan menyusun belanjaan nya di kulkas.
'Ooooh, jadi Mas Belva ke Jogja ya ternyata.' batin Nuna bersorak gembira.
"Tapi Nuna belum pernah pesan travel ke Jogja, Ma. Lagi pula Mas Belva juga sibuk dan belum bisa pesan kn travel untuk Nuna," rengek Nuna lagi yang terdengar seperti bayi besar.
Mama Dea menghela nafasnya pelan dan kemudian mengambil ponselnya.
"Ya udah, kamu mau ke jogja kapan?" tanya Mama Dea yang siap memesankan travel untuk Nuna.
"Besok pagi ya, Ma!"
"Makasih banyak ya, Mama. You're the Best!" ucap Nuna langsung memeluk ibu mertuanya.
๐๐๐
Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan
Like ๐
Comment ๐ฌ
Favorit โค๏ธ
Vote ๐
Gift ๐นโ๐บ
Dan Tonton iklannya ๐น๐ฝ๏ธ juga ya
__ADS_1
Terima kasih