Kurebut Suami Kakakku

Kurebut Suami Kakakku
Petaka Indah


__ADS_3

Ecca perlahan lahan membuka pintu kamarnya dan masuk ke pintu kamar yang satunya dimana ia menyimpan bajunya.


Ia pun langsung membuka pintu lemari pakaiannya dan membuka bathrobe yang ia kenakan. Setelah memakai bยฎa dan ce|ana da|am dengan warna hitam yang senada, Ecca tidak kunjung memakai bajunya.


Ia justru bingung memilah dan memilih dress mana yang akan ia kenakan hari ini karena ia ingin tampil cantik di depan King Bee nya.


Ecca tidak sadar jika sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikannya mulai dari melepas bathrobenya.


Belva yang sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil menunggu Ecca selesai memakai baju, justru mendapatkan bonus yang membuatnya harus menelan ludahnya kasar.


"Aku lebih suka melihatmu memakai dress yang berwarna hijau alpukat," tukas Belva menyebutkan warna dress yang saat ini ada di tangan kiri Ecca.


Suara Belva barusan membuat Ecca sangat terkejut dan langsung berbalik sambil menutupi tubuhnya dengan dress yang belum sempat ia kenakan.


"Bee!" pekik Ecca membulatkan matanya. "Dari kapan kau disana?" tanya Ecca.


Dengan santai Belva menjawab sambil turun dari atas ranjang dan mendekat ke arah Ecca yang hanya mengenakan bยฎa dan ce|ana da|am.


"Aku di sini sejak keluar dari kamar yang ada di sana!" jawab Belva sambil menunjuk ke arah kamar dimana tadi ia menurunkan Ecca dari gendongannya.


Blush!


Rona merah di wajah Ecca Sudah seperti kepiting rebus yang baru saja diangkat dari pancinya. Sudah pasti Belva melihatnya tanpa busana pagi ini meski dari belakang.


"Pagi ini kau benar-benar sangat mengujiku, Ecca," ucap Belva sambil mengikis jaraknya dengan Ecca.


Kali ini Ecca tidak bisa berkutik, ia tidak mungkin mendorong tubuh Belva untuk menjauh karena nantinya Belva justru bisa melihat tubuhnya yang bagian depan.


Ecca memejamkan matanya saat wajah Belva mulai mendekat ke wajahnya. Degub jantungnya terasa bertalu-talu terlebih saat hembusan nafas Belva mulai menyapu wajahnya.


"Kenakan dress mu, sayang dan aku akan menunggumu di luar," bisik Belva membuat tubuh Ecca kembali meremang.


Belva pun tersenyum dan menjauhkan wajahnya dari Ecca. Perlahan Ecca membuka matanya dan


Cup!


Kecupan singkat Belva mendarat di pipi kiri Ecca.


"Sangat cantik dan 5ek5i," bisik Belva lagi sebelum keluar meninggalkan Ecca.


"Iiiih! Bodoh! Bodoh! Bodoh!" rutuk Ecca sambil mengenakan dressnya.


"Kenapa gak ngeliat dulu sih tadi kalo ada Bee disini?!"


"Ck, aku fikir tadi dia nunggu di ruang tamu!"


"Aaaarrrrgghhh! Gimana ini mamiii!" gerutu Ecca sambil menghentikan kakinya di lantai.


Sedangkan Belva saat ini sedang mengatur nafasnya yang sedari tadi seperti tertahan melihat kecantikan tubuh wanita yang sebentar lagi menjadi istrinya.


Satu botol air mineral kini habis sudah membasahi kerongkongannya yang terasa sangat kering.


"Aku hampir saja tidak dapat menahan diriku sendiri!" gumam Belva sambil memijit keningnya.


"Huuuh! Benar benar sangat indah!" ucap Belva dimana bayang-bayang Ecca masih terus menari-nari di pelupuk matanya.


"Aku tidak jamin bisa menahan diriku sendiri jika petaka indah ini datang untuk kedua kalinya!"

__ADS_1


Tangan Belva langsung membuka kalender di ponselnya dan mengetikkan pesan untuk papa mamanya.


โœ‰๏ธ Belva


Papa, Mama, lamarkan Ecca untukku sepulang dari Jogja ya ๐Ÿ™


โœ‰๏ธ Papa Dion


Mendadak amat? Kamu gak macem macem sama Ecca kan? ๐Ÿ˜ 


โœ‰๏ธ Belva


Aku hampir khilaf, Pa. Dan aku tidak menjamin bisa menahan nya lagi atau tidak ๐Ÿ˜”


โœ‰๏ธ Papa Dion


Hadeuuh, gini nih reportnya punya anak bujang tua ๐Ÿ˜ช. Papa akan urus surat-surat kalian untuk menikah. Tapi ingat!! Jangan rusak anak orang sebelum dia menjadi milikmu.


โœ‰๏ธ Belva


Siap Pa ๐Ÿ™‹โ€โ™‚๏ธ


Setelah berbalas pesan dengan papanya, Belva melihat ke pintu kamar Ecca yang tidak kunjung terbuka.


"Queen Caa!" panggil Belva dan akhirnya pintu kamar Ecca pun terbuka.


Balutan dress warna hijau alpukat yang melekat di tubuh Ecca dengan style rambut yang sengaja Ecca gerai membuatnya tampak sangat cantik.


Lagi-lagi bayangan tubuh Ecca yang masih menari-nari di pelupuk mata Belva membuat sesuatu miliknya kembali terasa sesak.


"Belum," jawab Belva sambil menggelengkan kepalanya.


"Mau dimasakin apa? Aku juga belum makan," tanya Ecca lagi.


"Duduk aja sini!" Belva menepuk tempat duduk di sampingnya. "Aku udah pesen makanan via online."


Ecca pun mendekat ke arah Belva dan duduk di sampingnya.


"Lain kali, perhatikan sekeliling dulu kalau mau..."


"Oh iya, Bee. Aku faham kok. Gak perlu dibahas lagi," Ecca memotong kalimat Belva sambil terus menundukkan kepalanya.


"Kalau lagi di rumah sendiri, jangan lupa kunci pintunya. Bahaya loh sayang!" ucap Belva lagi sambil mengusap kepala Ecca dengan sangat lembut.


"Untung saja tadi yang masuk, aku. Gimana kalo orang lain coba?"


Ecca hanya menganggukkan kepalanya tanpa menimpali ucapan Belva.


Belva pun merapatkan tubuhnya dan menyandarkan kepala Ecca di dadanya.


"Anak yang dikandung Nuna bukanlah anakku." Belva mulai membahas masalah kemarin yang membuat Ecca pergi meninggalkannya.


"Malam pertama ku dengan Nuna di Mansion, aku justru tidak tidur sama sekali di sofa kamarnya. Mataku terus terjaga sepanjang malam. Bahkan saat itu aku sedang memikirkan mu, Queen Ca."


Kali ini Ecca men9ulum senyumnya saat mendengar cerita Belva.


"Memikirkan apa?" tanya Ecca sambil melingkarkan tangannya memeluk perut Belva.

__ADS_1


"Aku mengandai-andai jika yang aku nikahi bukanlah Nuna, melainkan adiknya."


"Sudah tentu pasti aku sangat bahagia malam itu. Aku terus saja berfikir tentangmu, sayang. Gadis cantik yang sedari dulu duduk di dalam singgasana hatiku."


"Kau tahu apa yang aku fikirkan saat itu?"


Ecca langsung menggelengkan kepalanya.


"Kira-kira gadis cantik idamanku ini mau tidak ya menerima Lamaran ku saat Status ku berubah menjadi duda perjaka?"


Lagi-lagi cerita Belva membuat Ecca men9ulum senyumnya dan semakin men9encan9kan pelukannya.


Tangan Belva pun bergerak memegang dagu Ecca dan mempertemukan kedua netra mereka.


"Kira-kira mau tidak menerima Lamaran duda perjaka yang ada di hadapanmu, sayang?" tanya Belva lagi membuat Ecca salah tingkah.


"Mau!" jawab Ecca yang suaranya begitu terdengar 5ek5i di telinga Belva. Kali ini Belva semakin tidak dapat menahan gemuruh di dalam dadanya.


Jika kemarin ia berfikir untuk mencium bibir Ecca setelah menikah nanti. Saat ini tidak lagi karena ia sudah sangat ingin mencicipinya.


Perlahan ia mengusap bibir Ecca dengan ibu jarinya sambil mendekatkan wajahnya. Ecca sendiri tidak memberi penolakan sedikit pun dan iya justru memejamkan matanya menantikan bibir Belva mendarat di bibirnya.


Tin! Tin!


"Paket makanan atas nama Belva!" teriak kurir makanan di depan rumah membuyarkan semuanya.


Ecca yang salah tingkah langsung menggeser tempat duduknya dari Belva.


"Emm, aku keluar dulu ya!" ucap Belva sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


โ˜˜๏ธโ˜˜๏ธโ˜˜๏ธ


Sepertinya kali ini mereka memang belum diijinkan Author untuk mendarat ๐Ÿ’‹ ๐Ÿ™๐Ÿ˜‚


Sambil menunggu kelanjutannya, mampir dulu yuk ke Novel bestie aku yang dijamin ceritanya keren Dan menarik banget.


Author : Asri Faris


Judul Novel : Rahim Sengketa



Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan


Rate 5 bintang ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ


Like ๐Ÿ‘


Comment ๐Ÿ’ฌ


Subscribe โค๏ธ


Vote ๐Ÿ’ž


Gift ๐ŸŒนโ˜•๐Ÿ’บ


Dan Tonton iklannya ๐Ÿ“น๐Ÿ“ฝ๏ธ juga ya

__ADS_1


__ADS_2