
Selesai makan, Ecca langsung mengambil laptopnya di kamar dan membawanya ke depan televisi. Namun setelah meletakkan laptopnya di atas meja, Ecca kembali lagi ke kamar untuk mengganti bajunya.
Setelah mengganti baju, Ecca menyisir rambut panjangnya dan mengikatnya. Tak lupa Ecca memoles sedikit wajahnya dan menyemprotkan sedikit parfum di bajunya.
Kini penampilan Ecca Sudah benar-benar siap untuk bimbingan skripsi dengan dosennya.
Belva yang melihat Ecca keluar dari kamarnya dan berjalan ke depan TV pun langsung menelan ludahnya kasar. Leher jenjang Ecca yang terekspos sempurna membuat Ecca semakin terlihat cantik dan sangat meng go da.
"Maaf Pak Belva, boleh saya minta alamat email anda? Skripsinya akan saya kirim untuk bapak teliti via email."
Permintaan Ecca seketika membuyarkan lamunan Belva yang masih terpana dengan penampilan Ecca.
"Apa kau sengaja untuk meng go da ku, Queen Ca?" tanya Belva sambil menatap Ecca dari atas sampai bawah.
"Meng go da anda?" Ecca mengulang kalimat Belva sambil memperhatikan penampilannya sendiri.
'Perasaan aku pakai blouse panjang dan celana panjang yang tidak ketat sama sekali. Bagaimana bisa aku dibilang sedang meng go da Mas Belva?' tanya Ecca dalam hati.
"Memangnya apa sih yang sebenarnya buat Pak Belva ter go da?" tanya Ecca kemudian.
"Tentu saja parasmu, Queen Ca," jawab Belva dengan berbisik dan membuat Ecca kembali me re mang.
Belva pun kemudian duduk di atas karpet dan menyalakan laptop Ecca sambil mengayunkan tangannya meminta Ecca untuk mendekat.
"Sini, Ca. Tunjukkan saja dimana file skripsimu biar aku baca di sini!"
Ecca pun langsung mendekat dan duduk di samping Belva. Tangannya langsung mengarahkan kursor untuk membuka file skripsinya.
"Ini pak!" tunjuk Ecca dan tangan Belva pun langsung melingkar seperti memeluk Ecca dari belakang memegang mouse yang kini masih dipegang oleh Ecca.
"Aku sudah sempat membaca yang bab ini, Queen Ca. Bukankah kamu sudah hampir selesai mengerjakan bab 4?" tanya Belva sambil memandang ke arah Ecca.
Kedua netra mereka kini bertemu dan menyiratkan perasaan yang sama.
'Mas Belva, aku gak sanggup untuk menjauh jika Mas Belva terus menerus membuatku terbawa dalam perasaan cinta yang lebih dalam lagi seperti ini,' batin Ecca yang tersampaikan lewat Sorot mta Ecca saat ini.
"Jangan pernah mencoba untuk menjauh dariku Queen Ca, jika sebenarnya rasa cintamu semakin dalam untukku!" pinta Belva dengan lembut.
"Tapi, Mas. Aku sudah punya pa.."
"Bisma Sanjaya itu bukan pacarmu, Queen Ca. Dia hanya lelaki yang sudah lama menyukaimu dan gagal kencan karena kau sendiri yang menggagalkannya dengan alasan pusing. Bukankah begitu?"
Ecca terhenyak mendengar penjelasan Belva yang membuatnya tidak bisa berkilah sedikit pun.
"Bisma sendiri sudah menceritakan semuanya padaku jika dia tidak ingin memaksamu untuk membalas cintanya, terlebih kamu masih MENCINTAI LELAKI DI MASA LALU YANG KINI SUDAH MENJADI MILIK ORANG LAIN," lanjut Belva ddeengan penekanan di akhir kalimatnya.
Ecca langsung memalingkan wajahnya dari tatapan Belva.
"Maaf Pak, kita saat ini sedang bimbingan skripsi. Saya harap bapak bisa memposisikan diri bapak sebagai dosen pembimbing saya bukan sebagai..." Ecca terdiam tidak melanjutkan kalimatnya.
"Bukan sebagai apa Queen Ca?" tanya Belva.
Ecca terdiam sambil memikirkan kalimat apa yang harus ia katakan untuk melengkapi ucapannya tadi.
"Emm, bukan sebagai kakak ipar saya."
Belva mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban dari Ecca.
"Tidak ada ipar yang sedekat ini, Caca!" bisik Belva sampai hembusan nafasnya begitu terasa menyapu ce ruk le her Ecca.
"Paak!" Ecca mendorong tubuh Belva agar sedikit menjauh darinya.
__ADS_1
"Saya serius ingin bimbingan skripsi dengan bapak. Tolong jangan permainan mahasiswi tingkat akhir seperti saya ini!" pinta Ecca yang sudah semakin panas dingin berada di dekat Belva.
"Oke!" jawab Belva sambil menggeser tubuhnya dan mengecek skripsi Ecca yang sudah hampir selesai.
Kali ini Ecca sedikit bernafas lega saat Belva mulai serius membaca skripsinya.
'King Bee!'
'Rasanya seperti mimpi, perasaanku dibalas begitu hangat olehmu. Bahkan aku seperti susah bernafas saat berada di dekatmu,' batin Ecca dalam hati sambil terus memperhatikan Belva yang sedang berkutat di depan laptopnya.
Ecca terus saja memandangi Belva yang selalu tampak gagah dan sangat tampan di matanya.
"Kajian teori yang kamu kembangkan dalam penelitian kamu, saya rasa cukup bagus. Tinggal penerapannya dengan kasus yang saat ini sedang diteliti." jelas Belva sambil terus menggerakkan kursor di laptop Ecca.
"Pendaftaran wisuda masih 5 bulan lagi dan tentunya seorang Rebecca pasti bisa lulus dengan cepat dalam semester ini," ucap Belva lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
Ecca yang masih terpana memandangi lelaki tampan di depannya sama sekali tidak menyahut apa yang sedang dikatakan oleh Belva barusan.
Belva pun menoleh dan tersenyum saat mandapati Ecca tengah memandangi dirinya.
"Apa aku terlihat begitu tampan di matamu, Caca?" tanya Belva sambil menyelipkan rambut Ecca dei belakang telinganya.
"Eh, maaf pak! Saya jadi melamun!"
"Bagaimana tadi skripsi saya pak?" tanya Ecca salah tingkah.
"Lupakan saja dulu tentang ini! Bagaimana jika kita membicarakan tentang kita berdua?" ajak Belva dan Ecca langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak bisa, Pak! Kita masih dalam mode bimbingan skripsi," tolak Ecca yang enggan membahas hal pribadi dengan Belva.
"Kita ubah modenya sedikit saja. Ada beberapa hal yang ingin aku ceritakan padamu Queen Ca. Dan kali ini aku benar-benar mengharapkan bantuan darimu."
Belva pun akhirnya menceritakan jika klien yang saat ini sedang dibantu olehnya adalah Hendy Carlson yang berniat menggagalkan perceraian dengan istrinya.
Usaha Belva kali ini berhasil saat mediasi pertama dan gugatan cerai dari Wita sudah dicabut.
Ecca langsung bernafas lega mendengar cerita dari Belva. Setidaknya, perbuatan kakaknya masih bisa dimaafkan karena mereka akhirnya tidak jadi berpisah.
"Ini adalah berita yang sangat baik, Mas."
"Tapi, aku sangat menyesal saat mendengar Wita sudah mengusirmu dari rumah Naya. Kamu tidak salah sama sekali dalam masalah ini, Ca!"
Ecca langsung mengerutkan dahinya, "Darimana Mas Belva tau?"
"Ck, itu tidak penting! Yang jelas aku akan minta Wita untuk meminta maaf denganmu suatu saat nanti," jelas Belva yang langsung ditolak oleh Ecca.
"Tidak perlu, Mas. Kak Wita sangat wajar marah denganku karena kakakku yang telah membuat rumah tangganya hancur!" cegah Ecca.
"Tapi kau tidak pantas menerima hukuman dari apa yang Nuna lakukan!" balas Belva yang masih tidak terima Ecca disakiti.
"Tidak masalah, yang penting Kak Nuna bisa belajar dari masalah ini dan berubah menjadi wanita yang baik!"
"Kau tahu Mas Belva, bahkan Kak Nuna juga sudah mengatakan kepadaku jika dia bertekad akan menjadi istri yang baik untukmu," jelas Ecca panjang lebar.
"Dan itu tidak akan pernah terjadi, Caca. Aku tidak mencintainya sama sekali. Aku hanya mencintaimu, dan hanya kau lah yang pantas menjadi istriku!"
Deg!
Ucapan Belva kali ini membuat Ecca tidak tahu harus menjawab apa.
"Apa kau tega melihat lelaki yang kau cintai harus menderita karena hidup dengan wanita yang sama sekali tidak dicintainya?" tanya Belva dan Ecca pun langsung menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Belva kini menggenggam kedua tangan Ecca, "Jadi, apa kau mau berjuang bersamaku, Queen Ca, untuk hidup bersama dan menuju kebahagiaan yang sebenarnya? " tanya Belva.
Wajah Ecca langsung merona dan pipinya mulai terasa panas. Perlahan Ecca menganggukkan kepalanya dengan malu-malu dan tentunya membuat Belva sangat bahagia.
Ia pun langsung memeluk wanita yang ada di hadapannya dengan sangat erat.
Tangan Ecca pun tergerak untuk membalas pelukan Belva.
"Ku mohon, bertahanlah dengan situasi yang belum memungkinkan saat ini! Aku berjanji akan menguak semua kebohongan Nuna depan Mami dan juga keluargamu!"
Lagi-lagi Ecca menjawab ucapan Belva dengan anggukan kepalanya.
Kini keduanya saling meluapkan perasaan mereka lewak pelukan. Sayangnya, tiba-tiba Ecca membuyarkan keromantisan mereka berdua.
"Lalu, bagaimana dengan skripsi saya, Pak Belva?" tanya Ecca yang masih ada dalam pelukan Belva.
Belva melepaskan pelukannya dan menangkupkan kedua tangannya di pipi Ecca.
"Panggil aku dengan baik, Queen Ca! Aku tidak mau terlihat tua di depanmu!" pinta Belva.
"Mas Belva!"
Belva langsung menggelengkan kepalanya.
"Yang lain!"
"Emm, King Bee!"
Lagi-lagi Belva menggelengkan kepalanya.
"Lalu apa dong?" tanya Ecca kemudian.
"Just call me, Bee!" pinta Belva.
Ecca pun menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan,
"Bee..." panggilan Ecca terdengar begitu mes ra di telinga Belva.
Belva langsung tersenyum dan mendekatkan bibirnya ke bibir Ecca. Namun, cepat-cepat Ecca menahan bibir Belva dengan ibu jarinya.
"Kau sudah berjanji bukan untuk tidak menciumku sebelum kita menikah, Bee?" tanya Ecca mengingatkan apa yang tadi sempat dikatakan oleh Belva.
๐๐๐
Lanjut nanti malem lagi ya readers setia aku. Masih sore soalnya.
Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan
Like ๐
Comment ๐ฌ
Favorit โค๏ธ
Vote ๐
Gift ๐นโ๐บ
Dan Tonton iklannya ๐น๐ฝ๏ธ juga ya
Terima kasih
__ADS_1