
"Eccaaa!" teriak Naya menghambur memeluk sahabatnya.
"Aku seneng deh ngeliat kamu baik baik aja. Dari kemarin aku nungguin kamu di kampus. Susah banget sih, Ca dihubungi," gerutu Naya yang mendekap Ecca dengan sangat erat.
"Sorry Nay, ponsel aku sejak malam itu kehabisan daya. Trus lupa deh mau kasih kabar ke kamu kalo kemarin aku gak ke kampus."
"Oh iya, kamu tumbeh udah sampe kampus sepagi ini?" tanya Ecca sedikit tidak percaya Naya bangun pagi.
"Jelas bisa dong, Ca. Aku kan mau ngajuin judul ke Kepala Jurusan. Temenin yuk!" ajak Naya yang langsung mengamit lengan Ecca masuk ke dalam kantor fakultas.
๐๐๐
Di Kota yang lain, Nuna sedang menunggu travel datang menjemputnya di teras rumah.
Papa dan mama Mertuanya sudah kembali ke rumah mereka tadi malam dan kini Nuna masih ditemani Maminya yang baru akan kembali ke Mansion saat Nuna sudah dijemput oleh travel.
"Mami seneng banget loh Nuna lihat perubahan kamu setelah menikah dengan Belva. Semakin santun dan pintar menyesuaikan diri untuk belajar menjadi istri dan ibu yang baik."
Mami Aleya memuji sikap Nuna yang benar-benar berubah 180 derajat setelah menikah dengan Belva.
Nuna yang tadinya tidak pernah diam di rumah, kini justru sering terlihat di rumah terlebih saat dirinya mulai mengabarkan kandungannya kepada semua orang.
"Ternyata keputusan mami dengan Dea untuk menjodohkan kalian berdua sama sekali tidak salah. Kau benar-benar membuat Mami bangga memilikimu, sayang."
Lagi-lagi Mami Aleya memuji putri sulungnya sambil mengusap lembut kepala Nuna.
"Makasih banyak ya, Mi. Udah selalu sabar menghadapi tingkah Nuna yang urakan dulu," balas Nuna sambil memeluk maminya.
Tak lama kemudian, travel yang dipesan oleh Nuna pun tiba. Setelah berpamitan dengan maminya, Nuna pun masuk ke dalam travel dan melambaikan tangannya ke arah Mami Aleya.
Sambil menikmati perjalanan ke Jogja, Nuna memainkan ponselnya dan mencoba menghubungi Hendy.
'Aku masih berharap bisa kembali dengan mu, sayang!' batin Nuna sambil mendial nomor ponsel Hendy.
Sayangnya kali ini Nuna sama sekali tidak bisa terhubung dengan Hendy.
'Sial! Dia bahkan sudah memblokir nomor ponsel ku!' umpat Nuna dalam hati sambil mengusap wajahnya kasar.
Kali ini ATM berjalan Nuna benar-benar sudah tidak bisa diandalkan lagi. Saat Hendy berhenti mengirimkan uang untuk Nuna, ia tidak lagi berkumpul di luar rumah dengan genk sosialitanya.
Beberapa orang dari teman genknya sudah menanyakan kabar dirinya yang tidak pernah lagi muncul di bar ataupun di Club malam. Dan Nuna hanya memberi alasan jika kehamilannya kali ini membuatnya enggan untuk pergi.
Padahal jauh di lubuk hatinya, Nuna benar-benar masih saagta menginginkan untuk berkumpul dengan teman genknya.
โ๏ธโ๏ธโ๏ธ
Setelah menempuh sekitar 4 jam perjalanan, Nuna kini sampai di Apartemen Belva.
Namun, karena ia sudah siap untuk memberikan kejutan untuk Belva, akhirnya ia pun tidak memberi kabar sama sekali jika dirinya sudah sampai di Apartemen Belva.
"Lantai 7 nomor 17," gumam Nuna sambil mengamati kartu yang diberikan Papi Dion untuk membuka apartemen Belva.
__ADS_1
Perlahan Nuna pun masuk ke dalam lift dan memencet tombol angka 7. Di fikirannya kini hanya dipenuhi berbagai cara untuk menaklukkan Belva.
Saat pintu lift terbuka, Nuna pun segera mencari letak apartemen Belva dan masuk ke dalamnya.
"Wow, lumayan juga apartemennya," gumam Nuna sambil menarik kopernya masuk.
Karena tubuhnya terasa sangat lelah, Nuna pun merebahkan tubuhnya di sofa dan tanpa menunggu waktu yang lama, ia pun tertidur.
โ๏ธโ๏ธโ๏ธ
Sedangkan di sisi lain, Ecca yang sudah selesai mengurus beberapa syarat sidangnya di Kampus pun kini bergegas menuju ke firma Belva.
"Habis ini mau kemana, Ca?" tanya Naya. "Aku anter yuk," tawar nya lagi.
"Gak usah, Nay. Aku naik ojol ajah."
"Udah, jangan nolak deh. Yuk buruan!" Naya menarik tangan Ecca menuju ke parkiran motor.
Akhirnya Ecca pun diantar Naya menuju ke BQ Law Firm.
"Aku langsung pulang ya, Ca!" pamit Naya saat Ecca Sudah turun dari motornya.
"Okey, makasih banyak ya, Nay!"
Ecca melambaikan tangannya ke arah Naya sampai Naya tidak lagi terlihat. Ia pun bersiap untuk masuk ke kantor Belva yang sama besarnya dengan yang ada di Semarang.
Namun sayangnya, saat Ecca membalikkan badannya ia justru menabrak tubuh seseorang yang berdiri tepat di belakangnya.
Brukkk!
"Segitu kangennya ya sama aku?" tanya Belva.
"Baru setengah hari gak ketemu aja udah kangen minta dipeluk, ya sayang?"
Pertanyaan Belva kali ini membuat Ecca cepat-cepat menjauh dari Belva sambil merapikan pakaian yang dikenakannya.
"Ini di kantor, Bee. Jangan macam-macam!" gerutu Ecca kesal.
'Ck, bisa-bisanya sih Bee bertingkah konyol seperti itu! Padahal saat ini posisinya ada di depan kantornya.'
Saat Ecca sedang mengumpat tingkah Belva dalam hatinya, tangannya langsung di tarik oleh Belva menuju ke parkiran mobil.
"Kita mau kemana, Bee?" tanya Ecca saat Belva membukakan pintu mobil untuknya.
"Masuklah dulu ke dalam, nanti aku akan memberitahukanmu kemana kita akan pergi," jawab Belva.
Ecca pun menuruti perintah dari Belva dan langsung memasang seat beltnya saat sudah di dalam mobil.
"Kita akan menyewa suatu tempat untuk beberapa hari ke depan sampai kepentinganmu di kampus selesai."
Ecca sedikit tidak habis fikir dengan apa yang saat ini difikirkan oleh Belva, karena menurutnya itu sangat buang2 uang. Terlebih Belva sudah memiliki apartemen.
__ADS_1
"Emm, kenapa tidak di apartemen saja, Bee? Bukankah katamu aku bisa satu kamar dengan Kak Nuna?" tanya Ecca yang sangat paham dengan tujuan Belva menyewa suatu tempat.
"Aku hanya malas bertemu dengannya, lagi pula ini tidak begitu jauh dari kampus!" Jelas Belva sambil menggerakkan mobilnya menuju gang yang ada di belakang kampus Ecca.
Kini mobil Belva pun berhenti di salah satu perumahan tipe medium yang jika dilihat dari depan kemungkinan ada dua kamar di dalamnya.
"Tidak masalah bukan jika kita tinggal di sini untuk sementara waktu?" tanya Belva yang belum turun dari mobilnya.
"Jika hanya aku saja yang tinggal, tidak masalah Bee."
"Hanya saja jika kita berdua yang tinggal disini, aku justru takut di gerebek warga karena status kita bukanlah sepasang suami dan istri."
"Pasti banyak orang yang mengira kita kum pul ke bo, meskipun padahal kita tidak melakukan apa-apa."
Penjelasan Ecca kali ni membuat Belva sedikit terhenyak. "Benar juga, katamu sayang. Kenapa aku tidak terpikirkan sampai ke situ ya?"
Belva kembali mengemudikan mobilnya untuk mencari tempat penginapan yang lain.
Tempat kedua yang ia datangi saat ini sedang penuh.
Tempat ketiga, suasananya sudah sangat cocok dengan Ecca dan juga Belva. Hanya saja mobil Belva harus terparkir di tepi jalan karena penginapan tersebut sudah full dengan bangunan."
"Aku lapar Bee, kita makan dulu yuk!" ajak Ecca menuju ke arah kedai sederhana yang tidak jauh dari situ. .
Keduanya langsung memesan makanan dan minuman. Sambil menunggu, Ecca pun mulai buka suara.
"Apa di Firma sebesar itu tidak ada ruang kosong untukku?" tanya Ecca sambil menunggu pesanannya datang.
"Sebenarnya di ruangan ku ada sebuah kamar yang biasa aku gunakan untuk beristirahat. Hanya saja kamar itu tidak cukup besar untuk kita berdua, sayang."
"Kalau begitu, lebih baik cukup aku yang dicarikan kost sementara dan Mas Belva bisa menginap di kantor bukan?"
Belva sedikit tidak setuju dengan pendapat Ecca kali ini. Karena sebenarnya Belva sendiri yang merasa tidak ingin jauh dari Ecca.
"Emm, begini saja. Queen Ca tidur di kamar dan aku akan tidur di sofa ruang kerjaku. Bagaimana?" tawar Belva.
Ecca pun mengangguk setuju. Akhirnya selepas makan siang, mereka pun kembali ke firma milik Belva.
๐๐๐
Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan
Like ๐
Comment ๐ฌ
Favorit โค๏ธ
Vote ๐
Gift ๐นโ๐บ
__ADS_1
Dan Tonton iklannya ๐น๐ฝ๏ธ juga ya
Terima kasih