
"Tidak perlu terkejut seperti itu, Caca! Aku sangat faham jika kamu sedang berbohong denganku,"
Belva terus saja memojokkan Ecca dan memaksanya untuk berkata jujur. Sayangnya Ecca semakin kuat untuk mempertahankan pengakuannya jika Bisma adalah pacarnya.
"Tidak ada gunanya aku berbohong, Mas. Terima saja kenyataan ini! Bukankah sebelumnya sudah pernah aku katakan jika apa yang aku tulis dalam buku diary hanya masa lalu," jelas Ecca.
"Aku sangat mencintai Mas Bisma, jadi sebagai kakak ipar yang baik, aku mohon dukungan Mas Belva agar hubunganku dengan Mas Bisma sampai di jenjang pernikahan,"
Kali ini Belva tidak menyangka jika Ecca bersikukuh dengan argumennya. Akhirnya keduanya pun saling terdiam sampai mereka berdua tiba di apartemen Belva.
'Waah, ini apartemen mas Belva?' tanya Ecca dalam hati.
'Keren bangeeet, deket lagi sama kampus. Tahu begini kemarin aku ikut saja dengan Mas Belva. Aku kira kemarin dia akan mengajakku menginap di kamar hotel,' batin Ecca.
'Yaa Ampuun, kemarin aku bener-bener malu-maluin banget ya udah berfikiran terlalu narsis jika mas Belva mengajakku tinggal dalam satu kamar yang sama,' gerutu Ecca dalam hati merutuki kebodohannya.
"Ini kamar kamu," tunjuk Belva ke arah pintu kamar yang berhadapan dengan kamarnya.
"Istirahatlah! Kamu pasti lelah," ucap Belva yang kemudian masuk ke dalam kamarnya.
"Makasih Mas," tukas Ecca yang hanya dijawab dengan deheman oleh Belva.
Ecca segera masuk ke dalam kamar. Betapa terkejutnya Ecca saat melihat isi dalam kamarnya yang di desain feminim dengan warna purple kesukaan Ecca.
"Kenapa desain kamarnya hampir mirip kamar aku yang di rumah ya?" gumam Ecca mengingat desain kamar di mansion miliknya sendiri.
Ecca pun membuka kopernya untuk mengambil baju tidur karena ia segera ingin membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya.
Sayangnya Ecca tidak menemukan baju tidurnya satu pun di dalam koper. "Yaaah, aku lupa!" Ecca menepuk jidatny.
"Baju tidur kan semuanya aku titipin di lemari Naya."
"Emmmh, apa aku coba pinjem kaos atau piyama Mas Belva ya untuk malam ini?"
Ecca pun langsung keluar dari kamarnya dan menuju kamar Belva. Berkali-kali Ecca mengetuk kamar Belva dan tidak ada jawaban sama sekali dari dalam.
"Mas Belva!" teriak Ecca sambil terus menggedor kamarnya.
"Udah tidur ya? Ecca mau pinjem baju tidur nih!" teriak Ecca lagi.
Karena tidak ada jawaban dari Belva, akhirnya Ecca pun kembali ke kamarnya dan memutuskan untuk langsung membersihkan diri.
๐๐๐
__ADS_1
Di sisi lain, Belva yang baru saja mematikan showernya mendengar pintu kamarnya di ketuk oleh Ecca dan juga teriakan Ecca yang ingin meminjam baju tidur.
Belva pun bergegas mengeringkan tubuhnya dan memakai pakaiannya untuk meminjamkan baju tidur yang sekiranya cukup dikenakan oleh Ecca.
Sayangnya saat ia membuka pintu kamarnya, Belva tidak menemukan Ecca sama sekali. Akhirnya Belva pun memutuskan untuk masuk ke kamar Ecca dan meminjamkan baju tidurnya.
Tepat saat Belva masuk ke dalam kamar Ecca, ia harus menelan ludahnya kasar melihat Ecca yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Tubuh Ecca yang hanya dibalut handuk yang menutupi sebagian kecil tubuhnya, membuat deru nafas Belva bergemuruh tidak menentu.
Terlebih saat melihat tetesan rambut Ecca yang jatuh di bahunya, membuat box er Belva terasa sesak karena ada yang tertantang di bawah sana.
"Mas Belva belum tidur ya?" tanya Ecca sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Tadi Ecca mau pinjem baju tidur punya Mas Belva, baju Ecca ketinggalan di rumah Naya," ucap Ecca tanpa sadar dengan apa yang ia kenakan saat ini membuat Belva panas dingin.
Belva pun mendekatkan langkahnya ke Ecca sambil membawa baju tidur yang sudah ia siapkan untuk Ecca.
"Oooh, baju tidurnya ketinggalan ya di rumah Naya?" tanya Belva yang terus berjalan ke arah Ecca.
"He'em," Ecca menganggukkan kepalanya sambil berjalan mundur karena jaraknya dengan Belva semakin dekat.
"Trus kalo malam ini kamu jadi ke penginapan sama Bisma, kamu gak pake apa-apa dong? Apa seperti ini perilaku seorang mahasiswi hukum di universitas unggulan?" tanya Belva sampai membuat Ecca terpojok di dekat meja rias nya.
Tuduhan Belva kali ini membuat Ecca mendorong tubuh Belva agar menjauh darinya dan mengambil baju tidur yang kini Belva bawa untuknya.
Namun dengan cepat Belva menarik pergelangan tangan Ecca sampai Ecca berbalik dan menabrak dada bidang Belva.
"Kalau begitu, Mas simpulkan jika ini kali keduanya kamu menggoda Mas dengan memperlihatkan tubuh kamu Caca," bisik Belva sambil melingkar kan tangannya memeluk Ecca.
Blush!
Ecca langsung tersadar dengan keadaannya saat ini. Pipinya seketika merona, menahan malu dengan apa yang baru saja disimpulkan oleh Belva.
Bahkan Tubuh Ecca mulai me re mang saat ia dan Belva sudah tidak berjarak. Hembusan nafas Belva yang menderu terasa begitu hangat menyapu ce ruk leher Ecca.
"A - a - ku tidak bermaksud seperti itu Mas Belva," jawab Ecca sambil menyembunyikan wajahnya yang merona dalam dekapan Belva.
Ritme detak jantung Belva yang berdegub kencang, kini terdengar jelas di telinga Ecca dan membuat Ecca enggan melepaskan pelukan Belva yang mulai membuatnya nyaman.
"Mas tidak akan berfikiran buruk tentangmu, Caca. Mas hanya ingin kejujuran dari kamu, tidak lebih," pinta Belva sambil mengusap kepala Ecca yang masih sedikit basah.
"Sekarang gantilah baju mu! Mas tidak bisa menahan diri terlalu lama jika kita terus seperti ini, Caca! Mas takut khilaf!" ucap Belva yang kemudian melepaskan pelukannya terhadap Ecca dan mendorongnya menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
Setelah Ecca masuk ke dalam kamar mandi, Belva pun langsung berlari ke kamarnya untuk menuntaskan hasratnya yang tertahan hanya karena bersentuhan dengan Ecca.
"Oh My God, Ecca benar-benar hampir membuatku bertindak lebih jauh dengannya!" gumam Belva setelah menuntaskan apa yang ia tahan saat di kamar Ecca.
Sedangkan Ecca yang sedang mengganti bajunya, kini terus merutuki kebodohannya sendiri yang terbuai begitu saja dengan perlakuan Belva.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!"
"Harusnya tadi kamu menghindar dari Mas Belva Ecca!" rutuk Ecca sambil memandangi dirinya sendi di depan kaca.
"Bisa-bisanya sih malah hanyut dengan sikap hangat Mas Belva!"
"Kali ini kamu itu juga udah gak tau malu, menampakkan tubuh yang hanya berbalut haduk di depan kakak ipar mu sendiri!"
"Mana janji kamu, Ecca?! Inget!! Mas Belva itu kakak ipar kamu! Gak seharusnya kamu merebut dia dari Kak Nuna!"
Ecca terus saja menyalahkan dirinya di depan kaca. Setelah puas meluahkan rasa maunya atas sikapnya sendiri, Ecca pun masuk ke dalam kamarnya dan langsung berselimut.
Ia mencoba untuk memejamkan matanya, sayangnya bayangan Belva terus saja menari-nari di pelupuk matanya.
Entah kenapa kali ini Ecca merasakan mulut dan hatinya mengatakan hal yang berbeda.
Ketika mulut Ecca terus berkata bahwa tindakan Ecca benar-benar sangat tidak pantas dan memalukan. Hati Ecca justru mengatakan hal sebaliknya.
Rasa nyaman saat berada di dekat Belva benar-benar tidak bisa ia bohongi.
Tidak hanya itu, telinga Ecca juga menginginkan untuk mendengarkan musik terindah di dada Belva, dan bahkan tubuhnya kini juga begitu merindukan sentuhan dan dekapan Belva.
"Aaaarrrrgghhh! Sepertinya aku sudah gila!" pekik Ecca sambil menutup wajahnya dengan selimut.
๐๐๐
Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan
Like ๐
Comment ๐ฌ
Favorit โค๏ธ
Vote ๐
Gift ๐นโ๐บ
__ADS_1
Dan Tonton iklannya ๐น๐ฝ๏ธ juga ya
Terima kasih