
Sedangkan di ruang Dekan Fakultas, Ecca sedang panas dingin menunggu dosen barunya yang kini sedang berada di kamar mandi yang ada di ruangan Pak Robert.
Ecca terus saja menundukkan kepalanya tanpa berani mengangkatnya sedikit pun. Bahkan kini ruangan Pak Robert lebih seram daripada kuburan.
"Dosen pembimbing kamu kali ini adalah pemilik dari BQ Law Firm, firma paling berkompeten di kota ini," ucap Pak Robert.
Ecca faham betul firma yang baru saja disebutkan oleh Dekan nya itu. Namun informasi yang baru saja ia dengar membuatnya semakin tidak tenang dan was-was untuk bertemu dengan dosbing barunya.
"Beliau adalah dosen tidak tetap yang hanya membimbing penelitian mahasiswa terpilih dari kampus ini."
"Seharusnya kamu bersyukur menjadi mahasiswa yang terpilih kali ini, Rebecca. Bukannya malah terlambat," tukas Pak Robert geram.
"Benar-benar memalukan!"
"Maaf pak!" ucap Ecca karena hanya dua kata itu saja yang bisa ia katakan.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki yang mendekat ke rah Ecca dan membuat Ecca semakin berdebar-debar.
'Huft, aku bener-bener kayak lagi terlambat untuk menghadap presiden,' batin Ecca.
"Pak Belva, ini adalah salah satu mahasiswa yang akan anda bimbing untuk menyelesaikan skripsi," Pak Robert mulai memperkenalkan dosen pembimbing Ecca yang baru.
"Dan Rebecca, kenalkan ini Pak Belva Quiero, dosen pembimbing kamu sekaligus penguji pertama saat sidang nanti," jelas Pak Robert membuat jantung Ecca seperti berhenti berdetak.
'Pak Belva?! Belva Quiero?!' teriak Ecca dalam hati.
Perlahan Ecca mulai mengangkat kepalanya untuk memastikan siapa sebenarnya yang akan menjadi DosBing barunya.
Dada Ecca langsung terasa sesak saat melihat kakak iparnya kini duduk manis di depannya. Ruang sirkulasi udara dalam tubuhnya seolah teramat penuh dan membuatnya seperti susah bernafas.
'Gak mungkin! Gak mungkin kalo Mas Belva ternyata yang jadi DosBing aku! Ini bener-bener gak mungkin!' batin Ecca sambil terus menggelengkan kepalanya.
"Interupsi Pak Robert!" Ecca mengangkat tangannya dan siap untuk meminta ganti Dosen Pembimbing nya.
"Maaf Rebecca, sebentar lagi saya ada kelas dan kali ini saya juga tidak menerima Interupsi apapun dari kamu!" ucap Pak Robert yang tampak bersiap-siap untuk keluar dari ruangan.
"Kamu bisa langsung menyerahkan skripsi kamu dengan Pak Belva dan segera bimbingan hari ini juga!" perintah Pak Robert Sebelum meninggalkan ruangan.
"Tapi pak,"
Sanggahan Ecca barusan langsung dibalas dengan tatapan tajam oleh Pak Robert. "Jangan membantah atau kamu akan lulus tahun depan!"
Ancaman Pak Robert membuat Ecca langsung diam seribu bahasa.
"Mohon maaf Pak Belva, saya pamit dulu karena ada kelas pagi ini," ucap Pak Robert berpamitan kepada Belva.
__ADS_1
"Silahkan pak!"
Setelah Pak Robert keluar dari ruangannya, Belva langsung mengarahkan Ecca untuk ikut dengannya ke ruangan khusus di ujung selasar kantor Fakultas.
Ecca pun hanya diam sambil mengikuti langkah Belva ke ujung selasar. Saat hendak masuk ke dalam ruangan, betapa terkejutnya Ecca saat membaca nama Belva di pintu ruangan tersebut beserta dengan jabatannya sebagai Dosen Pilihan Kampus.
'Whatt?!! Dosen pilihan kampus? Kok aku gak pernah tahu ya kalo Mas Belva punya jabatan di sini?' tanya Ecca dalam hati.
Selama ini, ia memang tidak pernah mengetahui keberadaan Belva sama sekali. Meski ia begitu mengenal BQ Law Firm, tetap saja ia tidak pernah tahu jika pemiliknya dialah kakak iparnya sendiri.
Setelah masuk dan duduk di dalam ruangan Belva, Ecca langsung menyerahkan skripsi miliknya kepada Belva.
"Ini skripsi saya, Pak Belva," ucap Ecca.
"Pegang dulu skripsi kamu dan berikan saya garis besar masalah dan juga penyelesaiannya," pinta Belva.
Ecca pun langsung menjabarkan permasalahan yang sedang ia teliti berikut dengan penyelesaiannya secara padat dan jelas bahkan tanpa membaca sama sekali.
Kali ini Belva mengakui kecerdasan Ecca dalam menghafal pasal hukum dan kesesuaian dalam penerapannya. Penyampaian Ecca juga sangat luas dan mudah dimengerti.
Namun, bukan Belva namanya jika ia dengan mudahnya meloloskan Ecca begitu saja.
"Saya yakin, kamu pasti paham tentang sumpah profesi advokat bukan?" tanya Belva.
"Paham pak Belva," jawab Ecca dengan tegas.
"Saya berjanji bahwa saya dalam melaksanakan tugas profesi sebagai pemberi jasa hukum akan bertindak jujur, adil, dan bertanggung jawab berdasarkan hukum dan keadilan;
Jawaban Ecca membuat Belva tersenyum smirk, padahal menurut Ecca tidak ada yang salah sedikit pun.
"Apa ada yang salah pak?" tanya Ecca saat melihat senyum Belva.
"Yap,"
"Dimana letak kesalahannya?" tanya Ecca lagi sambil mengerutkan keningnya.
"Letak kesalahannya adalah point penting yang harus dipegang oleh seorang calon advokat muda yang sama sekali tidak kamu terapkan!"
Ecca langsung mengerutkan dahinya sambil memandang ke arah Belva.
"Yaitu kejujuran. Sampai kapanpun, jika kamu tidak bisa berkata dengan jujur, saya adalah orang pertama yang tidak akan meloloskan kamu menjadi seorang sarjana hukum ataupun advokat muda." jelas Belva membuat Ecca sedikit naik pitam.
"Apa sebenarnya maksud bapak kali ini?" tanya Ecca dengan nada yang mulai tinggi.
"Tolong, pak. Jangan kaitkan masalah pribadi saya dengan urusan kuliah seperti ini!" pinta Ecca dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Dengan kesal Ecca memasukkan skripsinya ke dalam tas dan bersiap keluar dari ruang Belva.
"Mohon maaf pak, saya belum siap untuk bimbingan hari ini," ucap Ecca yang kemudian undur diri dari hadapan Belva.
"Oke, silahkan hubungi saya kapan pun kamu siap untuk bimbingan!" balas Belva dengan santai.
Ecca pun keluar dari ruangan Belva dan segera menemui sahabatnya yang sudah menunggu di Lobby.
"Gimana DosBingnya Ecca?" tanya Naya yang langsung menyambut kedatangan Ecca.
"Gak Enak!" jawab Ecca singkat. Ia membuka botol minumnya dan meneguknya sampai berkurang setengah botol. Tampak kekesalan tersirat dari wajah Ecca.
"Sarapan dulu gih," tawar Naya sambil menyodorkan bekal makanan milik Ecca.
"Udah gak nafsu Nay, aku rasanya pingin nangis," rengek Ecca sambil mendorong bekal makanannya.
Ecca pun langsung memeluk Naya dan menangis sesenggukan dalam pelukan Naya.
Melihat perempuan yang dicintainya menangis, membuat Bisma sangat tidak terima. Terlebih mengingat Ecca selalu meraih IPK tertinggi, sangat tidak mungkin Ecca menemukan kesulitan dalam skripsi kecuali dosennya yang mempersulit Ecca.
"Siapa sih DosBing barunya?" tanya Bisma yang turut geram sambil mengepalkan tangannya.
"Bilang sama aku, biar di demo sekalian sama mahasiswa!"
Ecca langsung menggelengkan kepalanya. "Gak usah Mas, Aku gak papa kok!" balas Ecca yang sudah mulai sedikit tenang.
"Kita cari minum yuk, Ca! Biar agak adem," ajak Naya dan Ecca pun setuju.
Akhirnya mereka bertiga pun menuju ke kantin.
๐๐๐
Jangan lupa untuk dukung terus karya Author dengan
Like ๐
Comment ๐ฌ
Favorit โค๏ธ
Vote ๐
Gift ๐นโ๐บ
Dan Tonton iklannya ๐น๐ฝ๏ธ juga ya
__ADS_1
Terima kasih